Share

Bab 25

Author: Ryu Lee
last update publish date: 2026-08-16 11:40:03

Sepanjang jalan, Yuda terus saja tersenyum sendiri. Momen di danau taman kota bersama Seren benar-benar hal yang baru baginya.

Sudah dua tahun dia tidak pernah merasakan tenang seperti ini. Dua tahun sejak calon istrinya pergi meninggalkan gaun pengantin yang ia desain sendiri.

Tangan Yuda masih bisa merasakan jejak tangan Seren waktu model cantik itu menarik tangannya menaiki kapal kayuh bebek tadi.

"Udah ayo.. Aman kok," suara Seren masih terus terngiang-ngiang di telinganya.

Mobilnya berhent
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 79

    Seminggu setelah Arka lahir. Rumah Mama Heny penuh tawa. Sepanduk "Aqiqah Arka Pratama" dipasang di halaman.Seren sehat. Arka gemuk. Galang tiap malam begadang gantiin popok. Yuda jadi om paling siaga. 24 jam standby. Mama Heny tiap hari masak 4 sehat 5 sempurna buat Seren.Sementara itu... Di rumah Randy, di kontrakan petakan Bekasi.Dikontrakan Randy..Rara duduk di lantai. Kipas angin bunyi berisik. Perutnya udah 7 bulan. Panas. Pengap. Randy kerja dari jam 7 pagi sampai jam 6 sore. Gaji 4 juta. Cukup buat makan dan bayar kontrakan 1.5 juta."Ibu mertua" Rara datang tiap hari. Cerewet. "Rara, itu cucian numpuk!" "Rara, masak dong. Masa aku terus." "Rara, jangan tiduran terus. Jalan biar lahirannya gampang."Malamnya Randy pulang capek. "Ra, makan." Rara: "Aku nggak nafsu." "Ya makan dikit lah. Demi anak." Rara melempar sendok. "Kamu tau nggak sih rasanya jadi aku?! Dulu aku dimanja! Sekarang aku disuruh nyuci pake tangan!"Randy menghela napas. "Ra... kita em

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 78

    Dua minggu setelah hasil DNA keluar. Suasana rumah Mama Heny udah agak tenang. Seren masuk 9 bulan. Perutnya udah besar banget. Jalan aja susah. Rara masuk 6 bulan. Perutnya mulai keliatan. Randy tiap minggu datang. Tapi cuma duduk di ruang tamu. Nggak pernah nginep.Galang fokus kerja dan nemenin Seren kontrol. Yuda yang ngurus rumah. Masak. Belanja. Nganterin Rara kontrol. Mama Heny tiap hari ngaji. Minta rumah ini cepet adem.Hari ini ada acara tasyakuran kecil. 7 bulanan Seren. Undangannya cuma keluarga dekat dan tetangga. 30 orang.Pagi harinya ..Dari jam 6 rumah udah rame. ART masak. Tenda di halaman. Seren pakai gamis sage green. Duduk di kursi pelaminan kecil. Galang di sebelah. Ganteng. Pakai koko.Rara pakai dress ungu. Sengaja agak ketat biar keliatan hamilnya. Yuda pakai kemeja putih. Sibuk kesana kemari. Mama Heny pakai mukena. Jadi tuan rumah.Tamu datang. Salaman. Foto-foto. "Selamat ya, Bu Seren. Sehat-sehat bayinya." "Alhamdulillah, Makasih, Bu."Ra

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 77

    Satu minggu setelah Rara pulang dari RS. Rumah Mama Heny kondisinya lebih tertib. Rara full bedrest di kamar. Nggak boleh keluar kecuali ke kamar mandi. Mama Heny yang masakin. Yuda yang nganterin makan. Seren yang nemenin ngobrol. Galang yang bayar semua.Tapi diantara mereka ada tembok. Tembok yang namanya "kebohongan".Hari H...Jam 8 pagi. Mobil sudah nunggu di depan. Tujuannya adalah Laboratorium DNA Pusat, Jakarta.Semua anggota rumah ikut kecuali Seren. Galang, Yuda, Rara, Mama Heny. Seren nggak ikut karena perutnya udah 8 bulan dan dokter nggak nyaranin.Di mobil hening. Rara duduk di tengah. Diapit Yuda dan Mama Heny. Tangannya dingin. Galang nyetir. Raut wajahnya datar. Tapi rahangnya mengeras."Sampai, Ma." kata Yuda pelan. Mama Heny mengangguk. "Bismillah."Mereka masuk. Ruangannya putih. Dingin. Ada bau alkohol. Petugas: "Yang mau tes siapa?" Galang: "Saya. Dan dia." nunjuk Rara. "Bayinya?" "Belum lahir, Bu." jawab Yuda. "Jadi kita tes darah ibu dan dar

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 76

    Tiga hari setelah HP-nya disita. Rumah Mama Heny rasanya kayak penjara buat Rara.Pagi disuruh sarapan bareng. Siang disuruh istirahat di kamar. Sore diawasi Yuda. Malam pintu dikunci dari luar.Galang sibuk WFH. Seren sibuk persiapan lahiran. Mama Heny sibuk ngaji. Nggak ada yang nanya kabar Rara. Nggak ada yang chat.Rara duduk di kasur. Nendang bantal. "Gila. Aku kayak tahanan."Dia liat jendela. Lantai satu. Ada pohon mangga. Otaknya langsung jalan.Jam dua malam. Semua tidur. Rara pelan-pelan buka jendela. Turun lewat dahan. Jatuh. Sakit. Tapi dia tahan.Dia lari ke ujung gang. Naik ojek online. "Tujuan ke Cafe Sudut Kota ya, Mbak?" "Iya, Mas. Cepat."Di cafe..Randy udah nunggu. Wajahnya panik. "Kamu gila? Kabur?" "Aku nggak kuat, Ran." Rara langsung peluk Randy. "Aku dikurung."Randy mengelus punggung Rara. "Udah, tenang. Kita kabur bareng aja. Ke Bandung. Ke rumah temen aku." Rara mengangguk. "Iya. Aku ikut."Mereka pesan tiket travel online. Jam 4 subu

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 75

    Pagi sekali, rumah Mama Heny masih sepi. Hanya suara burung dan mesin dispenser yang bunyi.Yuda duduk di meja makan. Kopi hitam di depannya. Matanya sembab. Semalaman dia nggak bisa tidur.Di kepalanya muter terus bayangan semalam. Rara masuk dari pintu belakang. Sama laki-laki. Pelukan."Yud, udah bangun?" suara Mama Heny dari dapur. "Iya, Ma." Yuda langsung berdiri. "Aku yang masak ya." "Nggak usah. Mama aja. Kamu istirahat." "Enggak, Ma. Aku pengen masak." Mama Heny mengangguk. Lalu masuk ke kamar buat bangunin Seren.Jam setengah tujuh. Semua udah duduk di meja makan. Galang datang dari ruang kerja. Kemejanya kusut. Rara turun paling terakhir. Pakai daster. Wajah pucat. Kayak kurang tidur."Selamat pagi semua." Rara tersenyum. Terlalu lebar. "Pagi." jawab Seren pelan. Galang cuma ngangguk. Sibuk scroll HP. Yuda menatap Rara. Lama.Rara merasa nggak nyaman. "Kenapa, Mas Yuda?" "Enggak." Yuda nyuapin nasi. "Sarapan dulu."Setelah sarapan, Galang langsung ke ruang kerja. K

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 74

    Sudah dua minggu sejak sidang cerai. Rumah Mama Heny lebih tenang. Tidak ada teriakan. Tidak ada banting pintu. Pagi hari jadwalnya Seren kontrol ke dokter kandungan. Siangnya Rara kontrol ke dokter umum karena katanya sering pusing. Sorenya Galang WFH dari ruang kerja. Malamnya Yuda yang masak.Semua berjalan seperti rumah biasa. Terlalu biasa sampai Rara merasa bosan.Dikamar Rara...Rara duduk di depan kaca. Perutnya sudah semakin membesar. Dia pakai dress longgar warna krem. Rambut disasak biar kelihatan rapi.HP-nya bergetar. Nama Randy tertulis disana.Chat masuk. Kamu jadi ketemu hari ini? Jadi. Jam dua. Di cafe deket RS Mitra ya," tulis Rara."Oke. Aku pesen tempat paling pojok," balas Randy cepat.Rara senyum. Dia hapus chat itu. Lalu buka laci, ambil dompet dan masker.Tok tok. "Mbak Rara, mau keluar?" suara ART. "Iya, Bu. Mau kontrol ke dokter. Bilang ke Mama ya." "Baik, Mbak."Rara keluar kamar dengan santai. Lewat ruang tamu, Mama Heny lagi nyuapin Seren buah. "Ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status