LOGIN"Sesi kedua kita ubah setnya, ya. Latarnya dibuat lebih gelap dan hangat, supaya bayangan dan lekuk tubuh Mbak Seren terlihat jelas," ujar seorang kru sembari menggeser penyangga lampu.
Pemotretan pun berlanjut. Seren kembali memamerkan lekuk tubuhnya di depan latar baru, mencoba bersikap profesional seolah insiden bikini terlepas tadi tidak pernah terjadi.
"Bagaimana dengan pose ini, Mas? Oke gak?" tanya Seren sambil memiringkan badannya sedikit, membiarkan gaun tipisnya meliuk indah.
"Bagus... tahan sebentar," sahut Galang serak.
Jarinya sibuk menekan shutter, berusaha keras mengunci fokus pada kamera dan membuang jauh-jauh bayangan wajah merona Seren saat merapatkan jaketnya tadi.
Sesi foto akhirnya tuntas setelah beberapa jam yang terasa begitu menyiksa.
Suasana studio berangsur tenang ketika para kru mulai memindahkan seluruh hasil jepretan ke monitor besar untuk proses kurasi awal.
Galang memilih berdiri agak menjauh di dekat pintu ruang ganti, sibuk menyusun lensa cadangan ke dalam tas khususnya. Langkah kaki yang pelan dan teratur mendadak terdengar mendekat dari arah belakang.
"Mas, kamu pasti punya rahasia ya?" pancing Seren pelan, berdiri menyender santai di tepi kusen pintu.
Galang refleks menoleh, tangannya mendadak kaku sewaktu mengelap permukaan lensa.
"Rahasia apa?”
Seren meneliti jari-jemari Galang yang tampak sedikit gemetar. "Terus kenapa dari kemarin kamu tidak mau menyentuh atau merespons aku sama sekali? Apalagi kamu keliatannya liat punya aku
.. Jangan-jangan... kamu sukanya sama sesama jenis?"
Galang menghentikan usapannya, lalu menatap Seren secara datar. "Sesama jenis? Sepertinya kamu punya terlalu banyak waktu luang ya, Ser?”
Galang menghela napas berat, menunjuk lurus ke arah pintu keluar. "Sesi foto hari ini sudah selesai. Silakan rapikan barang-barangmu."
Seren melipat kedua tangannya di dada. Perempuan itu lalu melangkah pergi meninggalkan Galang, diiringi kekeh pelan yang sengaja ditahan.
Galang membereskan sisa perlengkapannya, lalu berjalan melangkah mendekati meja kurasi.
Di sana, tiga orang kru pria tampak berkumpul mengelilingi monitor berukuran besar. Tawa renyah yang terdengar dari mulut mereka terasa sangat menyebalkan di telinga Galang.
"Wah, gila sih. Bohay banget si Seren. Enak banget kalau bisa dipake," celutuk salah satu kru bernama Aris sambil menunjuk gambar di layar monitor.
Galang menghentikan langkahnya persis di belakang mereka, keningnya berkerut amat dalam.
"Bisa fokus kerja aja gak? Tugas lo pada bukan komentarin model.”
Aris cuma terkekeh santai tanpa rasa bersalah.
"Yah, Mas Galang kaku amat, sih. Lagian emang beneran mulus dan seksi, kan?"
"Lu udah pernah ngerasain Seren belum, Ris?" sahut kru lain di sebelahnya sambil menyenggol lengan Aris.
"Ya belum, lah! Dia mah jual mahal anjir. Susah banget dideketin," jawab Aris melengos.
Mendadak ketiganya memutar badan bersamaan. Mereka kompak menatap Galang yang berdiri kaku tepat di belakang mereka.
"Lang, lu kan seharian nempel ama dia. Enak gak sih si Seren?" tanya Aris penasaran.
Galang cuma diam menatap mereka kaku tanpa menunjukkan emosi.
"Apaan?"
"Ya enak tidak mainnya? Eh, tapi kata anak-anak, punya lu kan tidak bisa bangun, ya? Gimana mau main coba?" bisik Aris sambil tertawa mengejek bersama dua teman lainnya.
BRAK!
Galang memukul meja kayu di depannya kencang-kencang hingga layar monitor di atasnya bergetar hebat.
Tawa ketiga kru itu langsung terhenti seketika, dan suasana studio mendadak sunyi mencekam.
“Lo pada gak bisa kerja ya?”
Tiga kru di depannya langsung ciut. Aris menelan ludahnya susah payah, tidak berani berkutik melihat urat-urat di leher Galang yang menegang menahan amarah.
"Jangan sampe gue laporin direksi ya kelakuan lo semua. Gak profesional.” tegas Galang tanpa bernapas.
Tanpa menunggu balasan dari mereka, Galang menyambar tas kameranya dan berjalan lebar meninggalkan studio yang pengap itu.
Langkahnya terburu-buru menyusuri koridor gedung.
Dadanya naik turun tidak beraturan, menahan gelombang emosi yang campur adur antara emosi dan rasa malu yang menghantam isi kepalanya.
Tepat saat Galang melewati tikungan menuju lift, sebuah tangan bersemprot parfum manis mendadak menarik lengannya.
"Mas Galang, tunggu."
Galang menoleh kasar dan menemukan Seren berdiri di sana.
Perempuan itu sudah berganti pakaian biasa, namun tatapan matanya masih sangat tajam dan penuh rasa ingin tahu.
"Mas?" tanya Seren pelan, merendahkan suaranya agar tidak terdengar kru lain. "Makasih ya... yang tadi."
Galang terdiam membisu, menatap cewek di depannya kaku. Jadi, dari tadi Seren juga mendengar seluruh omongan murahan para kru.
"Makasih sudah marahin mereka. Tapi... omongan mereka soal kamu... itu tidak bener, kan?"
Napas Galang mendadak tertahan. Galang berusaha membuang muka, tapi Seren justru makin mengikis jarak di antara mereka.
"Mas Galang diam saja dari tadi," gumam Seren, matanya turun melirik ke arah celana jeans pria itu. "Padahal aku tahu sendiri... punyamu tidak ada masalah sama sekali."
Galang mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan gejolak aneh yang mendadak membakar dadanya.
"Bisa berhenti bahas itu?" desis Galang tertahan. "Bukan urusanmu," sahut Galang ketus, berusaha melepaskan pegangan tangan Seren di lengannya.
Tapi Seren justru makin mempererat cengkramannya. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Galang yang tampak membara.
"Mereka bilang... punyamu tidak bisa bangun. Kalau gak benar kenapa kamu marah banget?" gumam Seren, memperhatikan setiap perubahan reaksi di wajah Galang.
Galang terdiam.
"Kenapa? Kamu malu?" bisik Seren makin berani, mengikis jarak di antara mereka berdua sampai hembusan napasnya terasa di leher Galang. "Atau kamu marah karena tahu kalau kemarin... kamu emang bangun?"
Galang membeku di tempatnya. Kata-kata Seren seperti jarum suntik yang langsung mematikan seluruh saraf tubuhnya secara mendadak.
Seren tersenyum miring saat menyadari perubahan reaksi dari pria kaku di depannya ini. Seren tahu dugaannya tidak salah sama sekali.
“Jangan lancang," potong Galang berat, suaranya terdengar sangat serak dan dalam.
"Aku tidak lancang, Mas Galang," sahut Seren lembut. "Aku cuma mau membuktikan... apakah omongan mereka benar, atau mas mau dibuktikan lagi sama aku?”
Ruangan itu langsung dingin. Bayi di gendongan Rara menangis makin kencang, seolah ia tahu ada bahaya yang baru saja masuk ke kamar itu. Rara langsung memeluk bayinya erat-erat, menatap Ibu Randy dengan mata yang sudah bengkak tapi tidak mau kalah. Mama Heny langsung berdiri di depan ranjang Rara, seperti benteng. Seren langsung berdiri di sampingnya. Galang langsung menarik kursi dan berdiri di dekat pintu, menghalangi pengacara itu untuk masuk lebih jauh. Hanya Randy yang masih berlutut di samping ranjang Rara. Ia tidak berani berdiri. Ia tidak berani menatap ibunya. Ia tidak berani menatap Rara. Ia terjepit di tengah-tengah dua wanita yang paling ia sayangi, dan keduanya sedang berperang untuk anak yang sama."Ibu," kata Randy, suaranya pecah. "Ibu baru saja pingsan di depan kontrakan. Tetangga bilang Ibu dibawa ke puskesmas. Kenapa Ibu bisa ada di sini? Ibu harus istirahat, Bu."Ibu Randy tertawa kecil. Tawa yang dingin, tawa yang membuat bulu kuduk Seren berdiri. "Pingsan?" kata
Randy tidak ingat bagaimana caranya ia sampai di rumah sakit. Ia hanya ingat, setelah ibunya menunjukkan foto Rara yang sedang memegang surat gugatan itu, dengan wajah yang hancur, kakinya langsung bergerak sendiri. Ia meninggalkan motornya yang masih terparkir di depan kontrakan, ia meninggalkan ibunya yang masih tersenyum dingin, ia meninggalkan pengacara itu yang masih memegang map coklatnya, dan ia berlari. Ia berlari membelah jalanan pagi yang ramai, berlari melewati gang, berlari melewati lampu merah, berlari sampai napasnya habis, sampai kakinya lemas, sampai bajunya basah oleh keringat. Yang ada di kepalanya hanya satu kalimat, kalimat yang ibunya katakan tadi, Rara pasti berpikir, kamu yang mengirim surat itu. Kamu yang mengkhianatinya lagi.Tidak. Ia tidak boleh membiarkan Rara berpikir seperti itu. Tidak untuk kedua kalinya. Semalam ia sudah diam saat ibunya menghina Rara. Pagi ini ia sudah pergi dan meninggalkan Rara sendirian di kamar. Ia tidak boleh membiarkan Rara berpi
Sekitar pukul sepuluh, motor Randy berhenti mendadak di depan gang. Gang menuju kontrakan miliknya. Ia hampir jatuh saat turun dari motor, karena kakinya gemetar dan napasnya ngos-ngosan. Ia berlari, setengah berlari, setengah tersandung, ke arah kontrakan satu-satunya milik keluarganya. Dan apa yang ia lihat di sana, membuat jantungnya seperti berhenti berdetak. Di depan kontrakan itu, masih ada dua orang laki-laki tadi. Satu masih memegang meteran, satu lagi masih memegang kamera, memfoto sudut demi sudut kontrakan yang sudah tua itu. Di depan pintu, ada sebuah papan kecil yang baru saja dipasang. Papan itu berisi pemberitahuan kalau kontrakan ini dijual, lengkap dengan nomor telepon yang bisa dihubungi.Randy membeku di depan papan itu. Tangannya gemetar. Papan itu nyata. Bukan ancaman lagi. Bukan gertakan semalam. Ibunya benar-benar sudah melakukannya."BU!" teriak Randy, suaranya pecah, serak karena semalaman tidak tidur dan menangis di lorong rumah sakit. Ibu Randy keluar dari d
Pukul 05.40 pagi. Langit di luar rumah sakit masih gelap kebiruan. Lampu lorong masih menyala. Bau obat masih sama seperti semalam, tapi sekarang bercampur dengan bau kopi sachet yang dibawa Seren dari kantin bawah. Di kursi lorong, Randy masih duduk di tempat yang sama seperti semalam. Ia tidak pulang. Ia tidak tidur. Bajunya kusut, matanya merah dan bengkak, rambutnya berantakan. Di tangannya, ponselnya sudah mati karena baterainya habis sejak jam tiga pagi.Di sampingnya, Galang tertidur sambil duduk, kepalanya bersandar ke dinding. Seren tertidur di bahu Galang, sambil memeluk Arka yang tertidur pulas di pangkuannya. Hanya Mama Heny yang tidak tidur. Ia duduk tegak, matanya menatap pintu ruang rawat Rara yang sudah dipindahkan semalam, tangannya terus mengelus tas kecil yang berisi baju bayi. Pintu kamar Rara terbuka pelan. Seorang perawat keluar, lalu menoleh ke Mama Heny. "Ibu, pasien sudah bangun. Bayinya juga sudah menyusu. Ibu boleh masuk, tapi jangan berisik, dan jangan ter
Pintu ruang bersalin itu tertutup lagi di belakang Randy. Suaranya pelan. Di dalam ruangan itu, bau obat dan bau darah masih kuat. Lampu di atas terang, terlalu terang. Di tengah ranjang, Rara terbaring lemah. Wajahnya pucat, rambutnya basah menempel di dahi, bibirnya kering. Di dadanya, bayi kecil itu masih tertidur, hangat, dengan tangan mungil yang mengepal di dekat pipi Rara.Rara membuka matanya perlahan. Ia mendengar langkah kaki. Ia menoleh. Dan ia melihat Randy. Randy berdiri di ujung ranjang, tidak berani mendekat. Matanya merah, air matanya masih jatuh, tangannya gemetar. Ia tersenyum, senyum yang dipaksakan, senyum orang yang berharap akan disambut dengan pelukan."Ra..." suaranya serak, hampir tidak terdengar. "Aku masuk... aku di sini... anak kita... laki-laki ya, Ra? Anak kita..." Ia melangkah maju satu langkah. Tangannya terulur, ingin menyentuh bayi itu. Ingin menyentuh tangan Rara. Tapi Rara tidak tersenyum. Rara tidak menangis bahagia. Rara menatapnya dengan tatapan
Beberapa minggu kemudian, saat jam menunjukkan pukul 02.17 dini hari. Rumah Mama Heny yang biasanya tenang, mendadak panik."Ma... Ma... sakit... perutku sakit banget, Ma..."Rara terbangun dengan keringat dingin membasahi seluruh wajahnya. Tangannya mencengkeram ujung kasur, napasnya pendek-pendek. Perutnya yang sudah besar mengeras, lalu mengendur, lalu mengeras lagi lebih kuat.Seren yang tidur di kamar sebelah langsung berlari masuk. Ia masih memakai piyama, rambutnya berantakan."Rara! Kamu kenapa?""Seren... tolong... kayaknya... kayaknya aku mau lahiran..."Galang keluar dari kamarnya dengan panik. Mama Heny sudah lebih dulu bangun, wajahnya tegang tapi tetap tenang. Ia langsung mengambil tas yang sudah disiapkan sejak seminggu lalu di dekat pintu."Galang, ambil kunci mobil. Seren, bantu Rara ganti baju. Arka biar Mama yang gendong sebentar."Di tengah kepanikan itu, Rara justru menangis. Bukan karena sakit, tapi karena takut."Ma... kalau anakku lahir... dia nggak punya ayah ya,







