ログインMalam itu Galang sama sekali tidak bisa memejamkan matanya hingga jam pun sudah menunjukkan pukul satu, pukul dua, bahkan pukul tiga.
Otaknya terus berputar, kejadian di studio siang tadi berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Gesekan panas itu, denyut yang sudah tiga tahun tak pernah lagi ia rasakan kini tiba-tiba saja kembali ia rasakan. Sejak kapan miliknya bisa merespons lagi setelah bertahun-tahun divonis mati rasa? Tapi kenapa cuma karena tubuh Seren yang menempel, denyutan itu kembali terasa? Apakah ini akal-akalan Seren atau memang tubuhnya sudah muak dipaksa diam? Galang memukul bantalnya. Ia merasa frustasi. "Apakah gue sudah normal lagi? Tapi bagaimana kalau ini hanya sementara? Kalau besok mati lagi gimana? Rasa malu gue pasti naik jadi dua kali lipat," gumamnya berkicau sendiri. Hingga pukul empat pagi, Galang baru bisa benar-benar memejamkan matanya. Di dalam tidurnya, Galang bermimpi. Di dalam mimpinya, ia bisa merasakan dinginnya ruang rumah sakit yang menempel di kulitnya. Ia juga bisa mencium bau alkohol dan mendengar suara mesin medis. "Peluang sembuh Anda sangat kecil, Pak Galang," ucap dokter itu masih bisa ia dengarkan dengan sangat jelas. Sementara itu, di seberang ranjang, Rara duduk. Ia terlihat sangat cantik, tapi sudah tidak ada cinta dimatanya. Tangannya gemetar saat melepas cincin berlian pemberian Galang. "Maaf, Lang. Aku capek nungguin kamu, tapi sekalinya bangun, kamu bukan lagi sebagai laki-laki yang utuh, sedangkan aku butuh laki-laki yang normal. Laki-laki yang bisa memberikanku kepuasan batin. Laki-laki yang bisa memberikanku....." Rara tidak melanjutkan kata-katanya, tapi Galang paham kelanjutannya. Dengan langkah gontai, Rara melangkah keluar dari ruang inap Galang. Dan sejak hari itu Galang bersumpah kalau ia tidak akan berharap lagi kepada yang namanya perempuan. Sesat kemudian Galang bangun dengan keringat dingin. Ia melihat langit di luar masih gelap. Tinggal empat hari lagi projectnya bersama dengan Seren selesai. Setelah itu, ia berencana untuk hiatus. Ia mau menghilang ke gunung, jauh dari dunia modelling, dan jauh dari godaan. Pukul sepuluh pagi, bau kopi dan lampu studio mulai mengisi hari Galang. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Seren melangkah masuk dengan anggun. Hari ini penampilannya berbeda level. Kalau kemarin ia mengenakan lingerie merah, tapi hari ini ia mengenakan bikini hitam tipis. Bahannya minim sekali, hanya pas untuk menutupi yang penting saja di tubuhnya. Setiap langkahnya berhasil membuat kain yang ia kenakan itu menarik kulitnya. Dengan rambut yang di cepol asal dan lip tint yang merah, Seren terlihat begitu sangat menggoda sekali. "Selamat pagi, Mas Galang," sapanya manis. "Gimana tidurnya? Mas mimpiin aku nggak?" Galang memilih untuk tidak menyahutnya. Ia pura-pura sibuk memeriksa kamera yang ada di tangannya. "Kita langsung mulai saja. Tidak usah basa-basi." "Kaku banget sih, Mas," ledek Seren mengakak kecil. Ia berjalan ke sofa merah yang ada di tengah studio. Sofa yang sudah menjadi tempat favoritnya untuk menyiksa batin Galang. Klak-klik. Klak-klik. Suara shutter jadi satu-satunya suara selain napas mereka. Seren berpose miring, duduk, dan telentang. Semua angle sudah ia kuasai. "Ngomong-ngomong makasih ya buat kemarin," ucapa Seren saat Galang sedang mengganti lensa kameranya. "Mas Galang sudah menjadi pahlawan karena sudah menolongku dari tiang lampu itu." Galang menghela napas pelan. "Fokus!" "Aku serius. Aku nggak tahu kamu lupa atau tidak. Tapi aku benar-benar bersyukur," ucap Seren menatap Galang menggoda. Galang merasakan tatapan itu sampai ke dadanya. Tapi ia berusaha mengalihkannya. "Turunin pinggulmu dua senti, Seren." "Dua senti yang mana? Aku bingung nih," ucap Seren manja. "Sini ajarin aku dong, Mas." Galang menghembuskan napas kasar. 'Ini pekerjaan. Hanya pekerjaan, Galang,' batinnya sembari menurunkan kamera lalu berjalan ke sofa. "Geser ke kiri," gumamnya, tangannya hendak menyentuh pergelangan kaki Seren. Tapi Seren malah memutar badannya terlebih dahulu. KRETEK. Ujung tali bikininya menyangkut di kancing jeans Galang. "Aduh Mas..." pekiknya. Ia sengaja menempel sehingga dadanya menyentuh dada Galang. Dunia Galang berhenti sepersekian detik. Ia merasakan hangat, lembut, dan sedikit merasa berbahaya. "Taliku nyangkut," bisik Seren tepat di leher Galang. Galang mencoba untuk mundur, tapi malah semakin kusut. "Jangan bergerak, nanti lepas beneran," desis Seren malah memajukan sedikit pinggulnya. Studio mendadak menjadi hening. Hanya ada suara AC dan detak jantung Galang yang tidak karuan. "Bisa diem nggak?!" bentak Galang pelan. Jarinya gemetaran saat melepaskan kait itu. Tangan Galang tidak sengaja menyentuh kulit pinggang Seren yang terasa halus dan panas. Membuat Seren menggeliat kecil. "Tangan kamu dingin, Mas... bikin aku merinding saja," ucapnya sembari menurunkan tatapannya ke bibir Galang, lalu naik lagi dengan nakal. Galang panik. Semakin panik, semakin salah. KREK! Pengait depan bikininya jebol, membuat kain hitam tipis itu terbuka. "MAS TUTUP MATA!!!" teriak Seren langsung menutupnya dengan kedua tangannya. Wajahnya seketika berubah menjadi merah padam. Galang langsung reflek menutup matanya kencang. Tapi dari sela kelopak matanya, ia sempat melihat sekilas dan membuat otaknya nge-lag. Dengan mata yang masih terpejam, Galang melepas jaket denim yang ada di badannya lalu mengibaskannya ke depan. "Pakai ini. Buruan ganti bajumu!" ucapnya dengan suara serak. Hening. Saat Galang membuka mata, Seren sudah mendekap jaket itu dengan erat seperti anak kecil yang tertangkap basah. Muka dan telinganya memerah. Dia yang biasanya paling berani, sekarang malah tertunduk. Galang kembali ke meja. Jantungnya masih berdetak tak karuan. Tapi ada satu pikiran tolol yang menyangkut di kepala dan tidak mau pergi. 'Gundukan itu.... ternyata beneran sekenyal itu ya.'Ruangan itu langsung dingin. Bayi di gendongan Rara menangis makin kencang, seolah ia tahu ada bahaya yang baru saja masuk ke kamar itu. Rara langsung memeluk bayinya erat-erat, menatap Ibu Randy dengan mata yang sudah bengkak tapi tidak mau kalah. Mama Heny langsung berdiri di depan ranjang Rara, seperti benteng. Seren langsung berdiri di sampingnya. Galang langsung menarik kursi dan berdiri di dekat pintu, menghalangi pengacara itu untuk masuk lebih jauh. Hanya Randy yang masih berlutut di samping ranjang Rara. Ia tidak berani berdiri. Ia tidak berani menatap ibunya. Ia tidak berani menatap Rara. Ia terjepit di tengah-tengah dua wanita yang paling ia sayangi, dan keduanya sedang berperang untuk anak yang sama."Ibu," kata Randy, suaranya pecah. "Ibu baru saja pingsan di depan kontrakan. Tetangga bilang Ibu dibawa ke puskesmas. Kenapa Ibu bisa ada di sini? Ibu harus istirahat, Bu."Ibu Randy tertawa kecil. Tawa yang dingin, tawa yang membuat bulu kuduk Seren berdiri. "Pingsan?" kata
Randy tidak ingat bagaimana caranya ia sampai di rumah sakit. Ia hanya ingat, setelah ibunya menunjukkan foto Rara yang sedang memegang surat gugatan itu, dengan wajah yang hancur, kakinya langsung bergerak sendiri. Ia meninggalkan motornya yang masih terparkir di depan kontrakan, ia meninggalkan ibunya yang masih tersenyum dingin, ia meninggalkan pengacara itu yang masih memegang map coklatnya, dan ia berlari. Ia berlari membelah jalanan pagi yang ramai, berlari melewati gang, berlari melewati lampu merah, berlari sampai napasnya habis, sampai kakinya lemas, sampai bajunya basah oleh keringat. Yang ada di kepalanya hanya satu kalimat, kalimat yang ibunya katakan tadi, Rara pasti berpikir, kamu yang mengirim surat itu. Kamu yang mengkhianatinya lagi.Tidak. Ia tidak boleh membiarkan Rara berpikir seperti itu. Tidak untuk kedua kalinya. Semalam ia sudah diam saat ibunya menghina Rara. Pagi ini ia sudah pergi dan meninggalkan Rara sendirian di kamar. Ia tidak boleh membiarkan Rara berpi
Sekitar pukul sepuluh, motor Randy berhenti mendadak di depan gang. Gang menuju kontrakan miliknya. Ia hampir jatuh saat turun dari motor, karena kakinya gemetar dan napasnya ngos-ngosan. Ia berlari, setengah berlari, setengah tersandung, ke arah kontrakan satu-satunya milik keluarganya. Dan apa yang ia lihat di sana, membuat jantungnya seperti berhenti berdetak. Di depan kontrakan itu, masih ada dua orang laki-laki tadi. Satu masih memegang meteran, satu lagi masih memegang kamera, memfoto sudut demi sudut kontrakan yang sudah tua itu. Di depan pintu, ada sebuah papan kecil yang baru saja dipasang. Papan itu berisi pemberitahuan kalau kontrakan ini dijual, lengkap dengan nomor telepon yang bisa dihubungi.Randy membeku di depan papan itu. Tangannya gemetar. Papan itu nyata. Bukan ancaman lagi. Bukan gertakan semalam. Ibunya benar-benar sudah melakukannya."BU!" teriak Randy, suaranya pecah, serak karena semalaman tidak tidur dan menangis di lorong rumah sakit. Ibu Randy keluar dari d
Pukul 05.40 pagi. Langit di luar rumah sakit masih gelap kebiruan. Lampu lorong masih menyala. Bau obat masih sama seperti semalam, tapi sekarang bercampur dengan bau kopi sachet yang dibawa Seren dari kantin bawah. Di kursi lorong, Randy masih duduk di tempat yang sama seperti semalam. Ia tidak pulang. Ia tidak tidur. Bajunya kusut, matanya merah dan bengkak, rambutnya berantakan. Di tangannya, ponselnya sudah mati karena baterainya habis sejak jam tiga pagi.Di sampingnya, Galang tertidur sambil duduk, kepalanya bersandar ke dinding. Seren tertidur di bahu Galang, sambil memeluk Arka yang tertidur pulas di pangkuannya. Hanya Mama Heny yang tidak tidur. Ia duduk tegak, matanya menatap pintu ruang rawat Rara yang sudah dipindahkan semalam, tangannya terus mengelus tas kecil yang berisi baju bayi. Pintu kamar Rara terbuka pelan. Seorang perawat keluar, lalu menoleh ke Mama Heny. "Ibu, pasien sudah bangun. Bayinya juga sudah menyusu. Ibu boleh masuk, tapi jangan berisik, dan jangan ter
Pintu ruang bersalin itu tertutup lagi di belakang Randy. Suaranya pelan. Di dalam ruangan itu, bau obat dan bau darah masih kuat. Lampu di atas terang, terlalu terang. Di tengah ranjang, Rara terbaring lemah. Wajahnya pucat, rambutnya basah menempel di dahi, bibirnya kering. Di dadanya, bayi kecil itu masih tertidur, hangat, dengan tangan mungil yang mengepal di dekat pipi Rara.Rara membuka matanya perlahan. Ia mendengar langkah kaki. Ia menoleh. Dan ia melihat Randy. Randy berdiri di ujung ranjang, tidak berani mendekat. Matanya merah, air matanya masih jatuh, tangannya gemetar. Ia tersenyum, senyum yang dipaksakan, senyum orang yang berharap akan disambut dengan pelukan."Ra..." suaranya serak, hampir tidak terdengar. "Aku masuk... aku di sini... anak kita... laki-laki ya, Ra? Anak kita..." Ia melangkah maju satu langkah. Tangannya terulur, ingin menyentuh bayi itu. Ingin menyentuh tangan Rara. Tapi Rara tidak tersenyum. Rara tidak menangis bahagia. Rara menatapnya dengan tatapan
Beberapa minggu kemudian, saat jam menunjukkan pukul 02.17 dini hari. Rumah Mama Heny yang biasanya tenang, mendadak panik."Ma... Ma... sakit... perutku sakit banget, Ma..."Rara terbangun dengan keringat dingin membasahi seluruh wajahnya. Tangannya mencengkeram ujung kasur, napasnya pendek-pendek. Perutnya yang sudah besar mengeras, lalu mengendur, lalu mengeras lagi lebih kuat.Seren yang tidur di kamar sebelah langsung berlari masuk. Ia masih memakai piyama, rambutnya berantakan."Rara! Kamu kenapa?""Seren... tolong... kayaknya... kayaknya aku mau lahiran..."Galang keluar dari kamarnya dengan panik. Mama Heny sudah lebih dulu bangun, wajahnya tegang tapi tetap tenang. Ia langsung mengambil tas yang sudah disiapkan sejak seminggu lalu di dekat pintu."Galang, ambil kunci mobil. Seren, bantu Rara ganti baju. Arka biar Mama yang gendong sebentar."Di tengah kepanikan itu, Rara justru menangis. Bukan karena sakit, tapi karena takut."Ma... kalau anakku lahir... dia nggak punya ayah ya,







