LOGINSesi pemotretan hari terakhir akhirnya selesai juga. Galang tidak mengindahkan perkataan Seren kemarin. Menurutnya, ia sudah cukup banyak terlibat dengan perempuan itu akhir akhir ini.
Daripada membalas, lebih baik ia menjaga diri.
Malam ini, seluruh tim menggelar acara makan-makan di sebuah restoran untuk merayakan tuntasnya project majalahnya.
Suara denting gelas dan obrolan ceria memenuhi ruangan.
Direktur majalah menyampaikan sambutan hangat, dilanjutkan ucapan perpisahan serta terima kasih kepada seluruh kru dan model yang terlibat yang telah bekerja keras selama dua minggu terakhir.
Maklum, project ini termasuk project besar-besaran produk baru. Membakar uang bukan hal resiko untuk projek pertama.
Tapi ditengah keramaian, di sudut meja Galang duduk menyendiri.
Jemarinya memutar-mutar gelas berisi minuman dingin, menyesapnya perlahan tanpa berniat sedikitpun untuk melebur ke dalam keriuhan.
Pikirannya melayang, merasa lega karena tugas berat yang paling Galang hindari ini akhirnya selesai juga.
Tinggal menghitung jam sebelum ia benar-benar terbebas dari lingkaran ini.
Mulai besok, ia bisa kembali ke kehidupan normalnya, jauh dari jangkauan kamera dan gaun-gaun tipis yang menyiksa akal sehatnya.
Atau setidaknya ia bisa kembali menjadi Galang yang memotret jalanan.
Mendadak, sebuah bayangan tubuh menutupi cahaya remang di sampingnya.
Aris, kru yang kemarin sempat membuat emosinya, melangkah mendekat. Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sebelum mendudukkan diri di kursi kosong sebelah Galang.
"Lang... sori banget ya soal kemarin," bisik Aris pelan, suaranya hampir tenggelam oleh ramai.
"Omongan gue dan anak-anak kemarin emang ngawur banget. Sori kalau gak bener.”
Galang mengerutkan keningnya tipis lalu memutar kepala, menatap Aris kaku.
"Maksudmu?"
"Ya... soal kabar yang tidak-tidak yang bilang kalau lo masih perjaka…?" sahut Aris setengah berbisik, wajahnya tampak amat merasa bersalah dan tidak enak hati.
"Seren tadi sempat cerita ke anak-anak. Dia bilang kalau lo tuh sebenarnya agresif dan liar. Jadi kita semua sadar, gosip yang beredar kemarin itu cuma bohongan."
Mata Galang melebar seketika. Tenggorokannya mendadak terasa kering dan tercekat.
Perempuan itu beneran menyebarkan kebohongan gila hanya demi membungkam mulut-mulut lancang para kru?
Apa yang sebenarnya ada di dalam otak Seren sampai berani mengarang cerita serendah itu demi membela harga dirinya?
Galang tidak membalas sepatah kata pun. Ia memilih menghela napas berat, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri, lalu berdiri meninggalkan area meja menuju arah toilet untuk membasuh wajahnya yang terasa panas.
Air dingin yang membasahi wajahnya sedikit mengikis kekacauan di kepala Galang.
Pria itu menatap bayangannya sendiri di cermin, mencoba menata kembali detak jantungnya yang kacau.
Sudah lama tak ada yang menyentuh titik nadirnya.
Bahkan setelah mantan tunangannya yang meninggalkannya. Membuat Galang enggan akan tergoda.
Padahal dengan gaji Galang menjadi fotografer projek, cukup saja untuknya untuk menyewa wanita.
Tapi bagi Galang, itu buang buang uang.
Namun, saat dia melangkah keluar menyusuri lorong remang menuju arah luar restoran beberapa menit kemudian, pemandangan di depannya seketika menghentikan langkahnya.
Dua kru pria dari tim pencahayaan tampak berdiri mengimpit Seren di dekat pintu darurat yang sepi.
Kesadaran Seren terlihat sudah tersisa separuh akibat pengaruh alkohol.
Gaun malam bertali tipis yang melekat ketat di tubuh moleknya sedikit melorot di bahu, memperlihatkan kulit mulusnya yang merona merah.
"Udah, ikut kita aja. Kita antarkan balik ke apartemenmu, Seren," bujuk salah satu kru dengan cengiran yang terkesan melecehkan, sembari mendaratkan tangannya di pinggang mulus Seren.
Seren berusaha menepis pegangan itu dengan gerakan lambat, kepalanya terkulai lelah di dinding. "Nggak mau... lepasin, deh..."
"Halah, jangan jual mahal begitu. Katanya sama Galang aja kamu mau main," sahut kru satunya lagi sembari makin memajukan tubuhnya.
Tanpa berpikir panjang, Galang melangkah lebar.
Gerakannya begitu cepat dan tanpa suara.
Pria dengan kemeja katun hitam berlengan panjang yang digulung kaku hingga ke siku,
menyambar pergelangan tangan kedua kru itu secara kasar, lalu menghempaskannya kuat-kuat hingga tubuh mereka terdorong mundur menabrak dinding koridor.
Galang menarik tubuh rapuh Seren ke belakang punggung lebarnya. Ia berdiri tegap, menatap dua pria di depannya dengan kilatan mata yang amat dingin dan menusuk.
"Jangan mulai," desis Galang berat, suaranya penuh penekanan yang berbahaya.
Kedua kru itu menyengir, mencoba tertawa kaku untuk menutupi rasa terkejut mereka saat melihat postur Galang yang jauh lebih tinggi dan tegap.
"Yaelah, Mas Galang. Kita cuma berniat bantu, kok. Kasihan dia sudah mabuk berat begitu, ya gak Seren?”
Galang tidak membiarkan mereka menyelesaikan kalimatnya. Pria itu memutar badan, merangkul pinggang Seren erat-erat dan menarik tubuh hangat perempuan itu merapat sempurna ke dadanya.
Hembusan napas Seren yang beraroma alkohol manis terasa berhembus pas di leher Galang, sementara jemari lentur cewek itu refleks melingkar di pinggangnya, mencari tumpuan.
Galang memiringkan kepalanya sedikit, menatap kedua kru tadi dengan tatapan datar yang menakutkan.
"Kan sudah gue bilang, yang ini punya gue," ucap Galang dengan nada rendah namun penuh dominasi mutlak.
"Masih mau nyoba milik orang lain?"
Dua kru itu langsung bungkam seketika.
Suasana lorong mendadak hening, hanya menyisakan deru napas mereka berdua yang bersahut-sahutan.
Galang membuang napas kasar, merasakan bobot tubuh Seren yang makin terkulai rapuh dalam pelukannya.
"Mas... Galang...?" gumam Seren pelan dengan mata setengah terpejam.
Bibirnya yang dipoles lipstik merah menyunggingkan senyum tipis, seolah tahu betul siapa pria yang kini menopang tubuhnya.
"Aku... Ih Mas Galang...."
Galang menunduk melirik wajah merona di dadanya. Rasa penasaran yang sempat melintas di kepalanya beberapa hari lalu kini hadir kembali, jauh lebih kuat dan membakar isi dadanya.
Kebohongan yang disebarkan Seren seolah menjadi bahan bakar baru yang memprovokasi harga dirinya sebagai laki-laki.
"Aku punya kamu, ya?" bisik Galang tepat di telinga Seren, suaranya begitu serak dan dalam.
Seren cuma terkekeh manja, makin menyusupkan wajahnya di leher Galang tanpa menyadari bahwa pria kaku di depannya ini sudah benar-benar kehilangan kesabaran.
Galang mempererat rangkulannya di pinggang Seren, memapah langkah cewek itu menuju area parkir.
“Gimana, Seren? Mau buktikan omonganmu ke orang-orang. Kalau aku memang liar?”
Dunia Galang seketika berhenti berputar. 'Jadi selama ini Rara pergi bukan atas kemauannya sendiri? Jadi selama ini dia sudah berkorban untukku?' "Siapa? Siapa yang menyuruhmu untuk pergi?" tanyanya dengan suara rendah.Rara menatap Galang sepersekian detik dengan senyuman manisnya.'Sepertinya Galang percaya dengan apa yang aku katakan,' batinnya senang."Siapa?" tanya Galang. Suaranya rendah. "Siapa yang mintamu pergi?"Rara menggeleng. Air matanya kembali jatuh. Air mata palsu yang membuat Galang yakin dengan apa yang ia katakan."Aku nggak bisa memberi tahumu, Lang," Rara menggeleng."Kenapa?" "Dia mengancam akan menyakitimu kalau aku berani buka mulut."Galang mengepalkan tangan. Dadanya terasa sesak, marah, dan kecewa. Ia juga merasa bersalah karena sudah membenci Rara selama tiga tahun ini.Sesaat kemudian, ponselnya bergetar di saku. Saat dilihat, nama Seren tertera jelas di layar. Tapi Galang mengabaikannya."Jadi... semua ini salahku?" gumam Galang.Rara langsung mendekat,
Setelah Rara benar-benar pergi, pemotretan dimulai kembali. Tapi kali ini suasananya lebih tenang dan tegang. Galang fokus memotret Seren. Sesekali ia memarahi Seren karena posenya yang tidak sesuai. Kehadiran Rara di studionya benar-benar mengubah mood Galang sepenuhnya. Ia jadi lebih pendiam, sensitif, dan sedikit emosional."Kamu niat kerja nggak sih? Masa pose gitu aja kamu ngga becus!" bentak Galang membuat Seren terkesiap."Loh? Ini kan posenya udah bener, Mas? Kamu kok jadi sensi kayak gini sih? Ngga profesional amat," lawan Seren mulai terpancing emosi karena sudah beberapa kali di bentak oleh Galang. Seren keluar dari ruang pemotretan, meninggalkan pekerjaannya yang masih menggantung.Galang diam. Para kru saling berbisik satu sama lain. "Kayaknya apa yang dikatakan Seren bener. Si bos kayaknya nggak stabil setelah kedatangan wanita tadi," bisik salah satu kru."Iya. Emang siapa sih wanita itu? Bisa-bisanya dia membuat si bos seperti ini?""Mungkin itu mantan tunangan yang u
Di hotel bintang lima, Rara duduk di tepi ranjang. Wajahnya kusut, sama seperti selimut putih di yang ada di sebelahnya. Wajahnya merah padam menahan amarah dan juga malu.Tangannya gemetar saat menekan nomor seseorang."Halo? Dita? Iya, ini gue," suara Rara serak. "Gue butuh bantuan lo skarang.""Bantuan apa Ra? tanya Dita dari seberang."Gue mau lo cari tahu tentang Galang sekarang juga. Cari tahu dia sekarang kerja dimana, alamat studionya. Terus.... cari tahu juga siapa cewek yang namanya Seren. Gue feelingnya kalau dia itu salah satu model Galang. Cari asalnya dimana, bacground keluarganya. Cari tahu semuanya. Gue mau tahu titik lemah cewek sialan itu."Dita diam sebentar. "Ini serius, Ra? Memang ada urusan apa lagi lo sama Galang? Bukannya kalian udah lama berakhir?""Gue serius. Serius banget malahan. Gue mau dalam satu jam kedepan lo kasih semua informasinya sama gue. Gue bakal transfer lima juta kalau semuanya kelar.""Oke. Satu jam kelar," jawab Dita cepat.Rara memutuskan p
Di saat yang bersamaan, Seren tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berfikir. Lima detik kemudian ia sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.Tok... Tok..."Mas Galang? Buka dong," rengeknya dari luar.Tidak ada jawaban. Yang ada hanya suara gemericik air mandi.Seren tersenyum tipis. "Oke. Aku masuk ya."KREKPintu pun terbuka.Uap panas langsung menyerang wajah Seren. Di dalamnya, Galang berdiri di bawah shower. Air mengalir dari rambut hitamnya, menuruni bahu bidang, punggung kekar, sampai ke....Seren menelan ludah."Seren," suara Galang rendah tapi mengancam. "Keluar!"Seren menelan ludah. Bukannya berbalik, Seren malah masuk tanpa ragu. Tanktop tipisnya langsung basah kuyup dan menempel di tubuhnya."Aku kedinginan," kata Seren polos. "Masa iya kamu tega membiarkan aku kedinginan sendirian?"Galang memejamkan mata. Menarik napas panjang. "Kamu....""Aku kenapa?" Seren mendekat, memeluk Galang dari belakang. Tubuh basahnya menempel ke punggung Galang. "Aku cuma mau nemenin ka
Galang refleks hendak merebut ponselnya. Tapi terlambat. Seren sudah keburu menekan tombol speaker.Di seberang sana, suara Rara langsung berubah. Dari yang sebelumnya manja, kini menjadi melengking, penuh selidik."SIAPA KAMU?!" bentak Rara. "Kenapa hp Galang ada sama kamu?! Berikan hp nya ke Galang sekarang juga!"Jantung Seren berdebar. Tapi wajahnya tetap tenang. Bahkan ia sengaja bersandar lebih dalam ke dada Galang. Merasakan hangat tubuh pria yang masih bertelanjang dada itu."Aku pacarnya Galang. Kamu siapa? Kenapa pagi-pagi begini gangguin pacar orang?" jawab Seren tenang. Nadanya dibuat semanis mungkin.Hening.Waktu seakan berjalan lambat sekali.Galang menatap Seren. Ia kaget, marah, tapi juga ada sesuatu yang lain. Mungkin lega?"Kamu.... kamu pasti bohong," suara Rara bergetar di seberang. "Galang nggak mungkin punya pacar. Dia... Dia kan.....""Dia kan apa?" potong Seren cepat. "Jangan bilang kalau dia masih nungguin kamu yang udah ninggalin saat dia sangat-sangat butuh
Pesan dari Rara masih terlihat jelas di layar milik Galang meskipun ia sudah menjauhkan benda itu dari pandangannya. Dengan hati yang kesal, Galang kembali meraih ponselnya dan mematikan layarnya.'Cih, bisa-bisanya dia kembali menghubungiku setelah pergi meninggalkan sakit yang seperti ini!' batin Galang mengumpat.Galang menghisap kembali rokok yang masih berada di sela jarinya, lalu mengepulkan asap putih yang ia keluarkan dari mulut dan hidungnya.Ia tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh Rara. Apakah ia menyesal? Atau ada hal lain yang mendorongnya untuk kembali. Tapi satu hal yang pasti, Galang tidak ingin terlibat lagi dengan wanita yang sudah membuatnya hancur berkeping-keping.Sesaat kemudian, pintu kamar terbuka pelan. Galang tidak menoleh, namun ia tahu itu Seren. Seren melangkah pelan tapi pasti, menghampiri Galang yang kini tengah menatap langit-langit dengan tatapan kosong.Model cantik itu menyelimuti tubuh Galang dengan selimut tipis yang baru saja ia bawa dari







