共有

Bab 5

作者: Ryu Lee
last update 公開日: 2026-07-15 22:16:43

"Ah... ahh..."

Suara desahan demi desahan sampai di pintu apartemen.

Galang langsung mendorong tubuh Seren ke dinding dingin koridor apartemen, menyambar bibir merona cewek itu dengan ciuman menuntut yang panas dan dalam.

Bagai haus di dalam ladang.

Tiga tahun, Galang tak pernah berhubungan dengan wanita.

Dan kini dia yang dimangsa, kenapa tak sekalian ia menjadi korbannya?

Napas mereka beradu berantakan di tengah remangnya ruangan. 

Seren mendesah makin kencang di sela tautan bibir mereka, jemarinya menyusup ke sela rambut Galang, menarik kepala pria itu agar makin merapat tanpa membiarkan ada jarak tersisa.

Aroma alkohol bercampur parfum manis yang menguar dari tubuh Seren mendadak menjadi racun paling berbahaya bagi akal sehat Galang. 

Lidah mereka membelit panas, meruntuhkan seluruh tembok pertahanan yang dibangun Galang berbulan-bulan belakangan ini.

Galang melepaskan ciumannya perlahan, menyisakan jarak beberapa senti saja. 

Ibu jarinya mengusap bibir Seren yang bengkak dan basah, sementara matanya yang menggelap menatap lurus ke dalam manik mata cewek di depannya.

Napas Galang memburu tepat di atas wajah Seren. "Kamu yakin, Seren?"

Seren terkekeh manja, menyunggingkan senyum miring yang sengaja memancing. Tubuhnya yang terbalut gaun malam tipis itu makin menggeliat, merapatkan panggulnya hingga bagian bawahnya menggesek selangkangan Galang yang sudah mengeras sempurna di balik celana kainnya.

"Tidak apa-apa, Mas..." bisik Seren tepat di depan bibir Galang, suaranya terdengar serak dan pasrah. 

"... punya aku sudah gatel banget dari tadi mau dimasukin kamu.”

Ucapan polos berbalut godaan liar itu sukses meledakkan sisa kendali diri Galang. 

Pria itu menyambar pinggang Seren, mengangkat tubuhnya dengan mudah hingga kaki mulus Seren refleks melingkar ketat di pinggang tegapnya.

Seren mendesis pelan sewaktu Galang membawanya berjalan terburu-buru menuju kamar utama, melemparkan tubuh molek itu ke atas kasur busa yang empuk. 

Galang tidak membiarkan Seren bernapas lega. Galang menyusul di atasnya, mengungkung tubuh cewek itu dengan kedua lengan tegapnya.

"Kamu yang bikin aku begini, Seren," desis Galang dengan suara rendah yang mengintimidasi.

Seren malah tertawa kecil, membiarkan tangannya mengusap dada bidang Galang yang naik turun tidak beraturan. 

Tangan Galang bergerak cepat menarik ritsleting gaun Seren di bagian belakang. 

Dalam hitungan detik, kain itu terlepas dan menumpuk di lantai, menyisakan Seren yang hanya mengenakan setelan lingerie renda berwarna merah menyala.

Mata Galang menggelap sempurna menyaksikan pemandangan di depannya. Kulit mulus Seren yang merona merah akibat efek alkohol tampak makin menggoda di bawah remang lampu kamar. 

Galang merayap naik, menciumi leher jenjang Seren, meninggalkan jejak-jejak merah yang membuat cewek itu kembali mendesah hebat.

"Mmmh... Mas Galang... pelan-pelan..." cicit Seren sambil memejamkan mata, kepalanya menengadah menikmati sentuhan kasar tapi nikmat dari jemari Galang yang mulai menjelajahi pinggang hingga paha bagian dalamnya.

Galang melepaskan kemejanya sendiri kencang-kencang hingga kancing bagian atasnya terlepas. Dia melemparkan kemeja itu sembarangan ke ujung kasur. 

Tubuhnya yang atletis kini sepenuhnya terekspos, membuat Seren yang sempat membuka mata menelan ludah susah payah melihat bentuk dada dan perut kencang pria kaku yang selama ini cuma memegangi kamera di studio.

"Mas... kamu ternyata..." kata-kata Seren terputus sewaktu tangan Galang merayap makin jauh, menyentuh bagian paling sensitif di balik kain lingerie tipisnya yang sudah terlampau basah.

"Ternyata apa, Seren?" bisik Galang kaku, napas panasnya berhembus di lekukan leher Seren. "Kamu pikir aku cowok lemah yang cuma bisa diam dipancing-pancing terus sama kamu?"

Jemari Galang menyibak kain tipis itu ke samping, merasakan suhu tubuh Seren yang meningkat drastis. Desahan demi desahan memenuhi kamar tidur yang makin memanas. Seren makin menggeliat pasrah, membiarkan Galang menguasai setiap senti tubuhnya tanpa perlawanan.

Namun, tepat saat Galang meraih celananya sendiri dan berniat melepas pengaman yang ada di dompetnya, gerakannya mendadak terhenti kaku. 

Pria itu sudah memegang bungkus plastik kecil yang baru saja dia robek dengan giginya, berdiri terpaku di tepi kasur sembari menatap benda karet itu dan tubuh Seren secara bergantian.

Dahi Galang berkerut dalam. Raut wajahnya yang tadinya penuh gairah dan dominasi mendadak berubah menjadi sangat kebingungan, persis seperti anak kecil yang baru pertama kali memegang mainan rumit.

Seren yang sudah terkulai lelah dengan napas tersengal-sengal di atas kasur akhirnya membuka mata. Dia menatap Galang heran karena pria itu mendadak membisu dan berhenti bergerak.

"Mas... kenapa berhenti?" tanya Seren dengan suara serak menuntut.

Galang menelan ludah kaku. Dia menunduk, memegangi benda kecil di tangannya dengan canggung, lalu menatap Seren dengan raut polos tanpa dosa.

"Seren, ini masukinnya gimana?"

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 86

    Ruangan itu langsung dingin. Bayi di gendongan Rara menangis makin kencang, seolah ia tahu ada bahaya yang baru saja masuk ke kamar itu. Rara langsung memeluk bayinya erat-erat, menatap Ibu Randy dengan mata yang sudah bengkak tapi tidak mau kalah. Mama Heny langsung berdiri di depan ranjang Rara, seperti benteng. Seren langsung berdiri di sampingnya. Galang langsung menarik kursi dan berdiri di dekat pintu, menghalangi pengacara itu untuk masuk lebih jauh. Hanya Randy yang masih berlutut di samping ranjang Rara. Ia tidak berani berdiri. Ia tidak berani menatap ibunya. Ia tidak berani menatap Rara. Ia terjepit di tengah-tengah dua wanita yang paling ia sayangi, dan keduanya sedang berperang untuk anak yang sama."Ibu," kata Randy, suaranya pecah. "Ibu baru saja pingsan di depan kontrakan. Tetangga bilang Ibu dibawa ke puskesmas. Kenapa Ibu bisa ada di sini? Ibu harus istirahat, Bu."Ibu Randy tertawa kecil. Tawa yang dingin, tawa yang membuat bulu kuduk Seren berdiri. "Pingsan?" kata

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 85

    Randy tidak ingat bagaimana caranya ia sampai di rumah sakit. Ia hanya ingat, setelah ibunya menunjukkan foto Rara yang sedang memegang surat gugatan itu, dengan wajah yang hancur, kakinya langsung bergerak sendiri. Ia meninggalkan motornya yang masih terparkir di depan kontrakan, ia meninggalkan ibunya yang masih tersenyum dingin, ia meninggalkan pengacara itu yang masih memegang map coklatnya, dan ia berlari. Ia berlari membelah jalanan pagi yang ramai, berlari melewati gang, berlari melewati lampu merah, berlari sampai napasnya habis, sampai kakinya lemas, sampai bajunya basah oleh keringat. Yang ada di kepalanya hanya satu kalimat, kalimat yang ibunya katakan tadi, Rara pasti berpikir, kamu yang mengirim surat itu. Kamu yang mengkhianatinya lagi.Tidak. Ia tidak boleh membiarkan Rara berpikir seperti itu. Tidak untuk kedua kalinya. Semalam ia sudah diam saat ibunya menghina Rara. Pagi ini ia sudah pergi dan meninggalkan Rara sendirian di kamar. Ia tidak boleh membiarkan Rara berpi

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 84

    Sekitar pukul sepuluh, motor Randy berhenti mendadak di depan gang. Gang menuju kontrakan miliknya. Ia hampir jatuh saat turun dari motor, karena kakinya gemetar dan napasnya ngos-ngosan. Ia berlari, setengah berlari, setengah tersandung, ke arah kontrakan satu-satunya milik keluarganya. Dan apa yang ia lihat di sana, membuat jantungnya seperti berhenti berdetak. Di depan kontrakan itu, masih ada dua orang laki-laki tadi. Satu masih memegang meteran, satu lagi masih memegang kamera, memfoto sudut demi sudut kontrakan yang sudah tua itu. Di depan pintu, ada sebuah papan kecil yang baru saja dipasang. Papan itu berisi pemberitahuan kalau kontrakan ini dijual, lengkap dengan nomor telepon yang bisa dihubungi.Randy membeku di depan papan itu. Tangannya gemetar. Papan itu nyata. Bukan ancaman lagi. Bukan gertakan semalam. Ibunya benar-benar sudah melakukannya."BU!" teriak Randy, suaranya pecah, serak karena semalaman tidak tidur dan menangis di lorong rumah sakit. Ibu Randy keluar dari d

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 83

    Pukul 05.40 pagi. Langit di luar rumah sakit masih gelap kebiruan. Lampu lorong masih menyala. Bau obat masih sama seperti semalam, tapi sekarang bercampur dengan bau kopi sachet yang dibawa Seren dari kantin bawah. Di kursi lorong, Randy masih duduk di tempat yang sama seperti semalam. Ia tidak pulang. Ia tidak tidur. Bajunya kusut, matanya merah dan bengkak, rambutnya berantakan. Di tangannya, ponselnya sudah mati karena baterainya habis sejak jam tiga pagi.Di sampingnya, Galang tertidur sambil duduk, kepalanya bersandar ke dinding. Seren tertidur di bahu Galang, sambil memeluk Arka yang tertidur pulas di pangkuannya. Hanya Mama Heny yang tidak tidur. Ia duduk tegak, matanya menatap pintu ruang rawat Rara yang sudah dipindahkan semalam, tangannya terus mengelus tas kecil yang berisi baju bayi. Pintu kamar Rara terbuka pelan. Seorang perawat keluar, lalu menoleh ke Mama Heny. "Ibu, pasien sudah bangun. Bayinya juga sudah menyusu. Ibu boleh masuk, tapi jangan berisik, dan jangan ter

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 82

    Pintu ruang bersalin itu tertutup lagi di belakang Randy. Suaranya pelan. Di dalam ruangan itu, bau obat dan bau darah masih kuat. Lampu di atas terang, terlalu terang. Di tengah ranjang, Rara terbaring lemah. Wajahnya pucat, rambutnya basah menempel di dahi, bibirnya kering. Di dadanya, bayi kecil itu masih tertidur, hangat, dengan tangan mungil yang mengepal di dekat pipi Rara.Rara membuka matanya perlahan. Ia mendengar langkah kaki. Ia menoleh. Dan ia melihat Randy. Randy berdiri di ujung ranjang, tidak berani mendekat. Matanya merah, air matanya masih jatuh, tangannya gemetar. Ia tersenyum, senyum yang dipaksakan, senyum orang yang berharap akan disambut dengan pelukan."Ra..." suaranya serak, hampir tidak terdengar. "Aku masuk... aku di sini... anak kita... laki-laki ya, Ra? Anak kita..." Ia melangkah maju satu langkah. Tangannya terulur, ingin menyentuh bayi itu. Ingin menyentuh tangan Rara. Tapi Rara tidak tersenyum. Rara tidak menangis bahagia. Rara menatapnya dengan tatapan

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 81

    Beberapa minggu kemudian, saat jam menunjukkan pukul 02.17 dini hari. Rumah Mama Heny yang biasanya tenang, mendadak panik."Ma... Ma... sakit... perutku sakit banget, Ma..."Rara terbangun dengan keringat dingin membasahi seluruh wajahnya. Tangannya mencengkeram ujung kasur, napasnya pendek-pendek. Perutnya yang sudah besar mengeras, lalu mengendur, lalu mengeras lagi lebih kuat.Seren yang tidur di kamar sebelah langsung berlari masuk. Ia masih memakai piyama, rambutnya berantakan."Rara! Kamu kenapa?""Seren... tolong... kayaknya... kayaknya aku mau lahiran..."Galang keluar dari kamarnya dengan panik. Mama Heny sudah lebih dulu bangun, wajahnya tegang tapi tetap tenang. Ia langsung mengambil tas yang sudah disiapkan sejak seminggu lalu di dekat pintu."Galang, ambil kunci mobil. Seren, bantu Rara ganti baju. Arka biar Mama yang gendong sebentar."Di tengah kepanikan itu, Rara justru menangis. Bukan karena sakit, tapi karena takut."Ma... kalau anakku lahir... dia nggak punya ayah ya,

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status