登入"Ah... ahh..."
Suara desahan demi desahan sampai di pintu apartemen.
Galang langsung mendorong tubuh Seren ke dinding dingin koridor apartemen, menyambar bibir merona cewek itu dengan ciuman menuntut yang panas dan dalam.
Bagai haus di dalam ladang.
Tiga tahun, Galang tak pernah berhubungan dengan wanita.
Dan kini dia yang dimangsa, kenapa tak sekalian ia menjadi korbannya?
Napas mereka beradu berantakan di tengah remangnya ruangan.
Seren mendesah makin kencang di sela tautan bibir mereka, jemarinya menyusup ke sela rambut Galang, menarik kepala pria itu agar makin merapat tanpa membiarkan ada jarak tersisa.
Aroma alkohol bercampur parfum manis yang menguar dari tubuh Seren mendadak menjadi racun paling berbahaya bagi akal sehat Galang.
Lidah mereka membelit panas, meruntuhkan seluruh tembok pertahanan yang dibangun Galang berbulan-bulan belakangan ini.
Galang melepaskan ciumannya perlahan, menyisakan jarak beberapa senti saja.
Ibu jarinya mengusap bibir Seren yang bengkak dan basah, sementara matanya yang menggelap menatap lurus ke dalam manik mata cewek di depannya.
Napas Galang memburu tepat di atas wajah Seren. "Kamu yakin, Seren?"
Seren terkekeh manja, menyunggingkan senyum miring yang sengaja memancing. Tubuhnya yang terbalut gaun malam tipis itu makin menggeliat, merapatkan panggulnya hingga bagian bawahnya menggesek selangkangan Galang yang sudah mengeras sempurna di balik celana kainnya.
"Tidak apa-apa, Mas..." bisik Seren tepat di depan bibir Galang, suaranya terdengar serak dan pasrah.
"... punya aku sudah gatel banget dari tadi mau dimasukin kamu.”
Ucapan polos berbalut godaan liar itu sukses meledakkan sisa kendali diri Galang.
Pria itu menyambar pinggang Seren, mengangkat tubuhnya dengan mudah hingga kaki mulus Seren refleks melingkar ketat di pinggang tegapnya.
Seren mendesis pelan sewaktu Galang membawanya berjalan terburu-buru menuju kamar utama, melemparkan tubuh molek itu ke atas kasur busa yang empuk.
Galang tidak membiarkan Seren bernapas lega. Galang menyusul di atasnya, mengungkung tubuh cewek itu dengan kedua lengan tegapnya.
"Kamu yang bikin aku begini, Seren," desis Galang dengan suara rendah yang mengintimidasi.
Seren malah tertawa kecil, membiarkan tangannya mengusap dada bidang Galang yang naik turun tidak beraturan.
Tangan Galang bergerak cepat menarik ritsleting gaun Seren di bagian belakang.
Dalam hitungan detik, kain itu terlepas dan menumpuk di lantai, menyisakan Seren yang hanya mengenakan setelan lingerie renda berwarna merah menyala.
Mata Galang menggelap sempurna menyaksikan pemandangan di depannya. Kulit mulus Seren yang merona merah akibat efek alkohol tampak makin menggoda di bawah remang lampu kamar.
Galang merayap naik, menciumi leher jenjang Seren, meninggalkan jejak-jejak merah yang membuat cewek itu kembali mendesah hebat.
"Mmmh... Mas Galang... pelan-pelan..." cicit Seren sambil memejamkan mata, kepalanya menengadah menikmati sentuhan kasar tapi nikmat dari jemari Galang yang mulai menjelajahi pinggang hingga paha bagian dalamnya.
Galang melepaskan kemejanya sendiri kencang-kencang hingga kancing bagian atasnya terlepas. Dia melemparkan kemeja itu sembarangan ke ujung kasur.
Tubuhnya yang atletis kini sepenuhnya terekspos, membuat Seren yang sempat membuka mata menelan ludah susah payah melihat bentuk dada dan perut kencang pria kaku yang selama ini cuma memegangi kamera di studio.
"Mas... kamu ternyata..." kata-kata Seren terputus sewaktu tangan Galang merayap makin jauh, menyentuh bagian paling sensitif di balik kain lingerie tipisnya yang sudah terlampau basah.
"Ternyata apa, Seren?" bisik Galang kaku, napas panasnya berhembus di lekukan leher Seren. "Kamu pikir aku cowok lemah yang cuma bisa diam dipancing-pancing terus sama kamu?"
Jemari Galang menyibak kain tipis itu ke samping, merasakan suhu tubuh Seren yang meningkat drastis. Desahan demi desahan memenuhi kamar tidur yang makin memanas. Seren makin menggeliat pasrah, membiarkan Galang menguasai setiap senti tubuhnya tanpa perlawanan.
Namun, tepat saat Galang meraih celananya sendiri dan berniat melepas pengaman yang ada di dompetnya, gerakannya mendadak terhenti kaku.
Pria itu sudah memegang bungkus plastik kecil yang baru saja dia robek dengan giginya, berdiri terpaku di tepi kasur sembari menatap benda karet itu dan tubuh Seren secara bergantian.
Dahi Galang berkerut dalam. Raut wajahnya yang tadinya penuh gairah dan dominasi mendadak berubah menjadi sangat kebingungan, persis seperti anak kecil yang baru pertama kali memegang mainan rumit.
Seren yang sudah terkulai lelah dengan napas tersengal-sengal di atas kasur akhirnya membuka mata. Dia menatap Galang heran karena pria itu mendadak membisu dan berhenti bergerak.
"Mas... kenapa berhenti?" tanya Seren dengan suara serak menuntut.
Galang menelan ludah kaku. Dia menunduk, memegangi benda kecil di tangannya dengan canggung, lalu menatap Seren dengan raut polos tanpa dosa.
"Seren, ini masukinnya gimana?"
Dunia Galang seketika berhenti berputar. 'Jadi selama ini Rara pergi bukan atas kemauannya sendiri? Jadi selama ini dia sudah berkorban untukku?' "Siapa? Siapa yang menyuruhmu untuk pergi?" tanyanya dengan suara rendah.Rara menatap Galang sepersekian detik dengan senyuman manisnya.'Sepertinya Galang percaya dengan apa yang aku katakan,' batinnya senang."Siapa?" tanya Galang. Suaranya rendah. "Siapa yang mintamu pergi?"Rara menggeleng. Air matanya kembali jatuh. Air mata palsu yang membuat Galang yakin dengan apa yang ia katakan."Aku nggak bisa memberi tahumu, Lang," Rara menggeleng."Kenapa?" "Dia mengancam akan menyakitimu kalau aku berani buka mulut."Galang mengepalkan tangan. Dadanya terasa sesak, marah, dan kecewa. Ia juga merasa bersalah karena sudah membenci Rara selama tiga tahun ini.Sesaat kemudian, ponselnya bergetar di saku. Saat dilihat, nama Seren tertera jelas di layar. Tapi Galang mengabaikannya."Jadi... semua ini salahku?" gumam Galang.Rara langsung mendekat,
Setelah Rara benar-benar pergi, pemotretan dimulai kembali. Tapi kali ini suasananya lebih tenang dan tegang. Galang fokus memotret Seren. Sesekali ia memarahi Seren karena posenya yang tidak sesuai. Kehadiran Rara di studionya benar-benar mengubah mood Galang sepenuhnya. Ia jadi lebih pendiam, sensitif, dan sedikit emosional."Kamu niat kerja nggak sih? Masa pose gitu aja kamu ngga becus!" bentak Galang membuat Seren terkesiap."Loh? Ini kan posenya udah bener, Mas? Kamu kok jadi sensi kayak gini sih? Ngga profesional amat," lawan Seren mulai terpancing emosi karena sudah beberapa kali di bentak oleh Galang. Seren keluar dari ruang pemotretan, meninggalkan pekerjaannya yang masih menggantung.Galang diam. Para kru saling berbisik satu sama lain. "Kayaknya apa yang dikatakan Seren bener. Si bos kayaknya nggak stabil setelah kedatangan wanita tadi," bisik salah satu kru."Iya. Emang siapa sih wanita itu? Bisa-bisanya dia membuat si bos seperti ini?""Mungkin itu mantan tunangan yang u
Di hotel bintang lima, Rara duduk di tepi ranjang. Wajahnya kusut, sama seperti selimut putih di yang ada di sebelahnya. Wajahnya merah padam menahan amarah dan juga malu.Tangannya gemetar saat menekan nomor seseorang."Halo? Dita? Iya, ini gue," suara Rara serak. "Gue butuh bantuan lo skarang.""Bantuan apa Ra? tanya Dita dari seberang."Gue mau lo cari tahu tentang Galang sekarang juga. Cari tahu dia sekarang kerja dimana, alamat studionya. Terus.... cari tahu juga siapa cewek yang namanya Seren. Gue feelingnya kalau dia itu salah satu model Galang. Cari asalnya dimana, bacground keluarganya. Cari tahu semuanya. Gue mau tahu titik lemah cewek sialan itu."Dita diam sebentar. "Ini serius, Ra? Memang ada urusan apa lagi lo sama Galang? Bukannya kalian udah lama berakhir?""Gue serius. Serius banget malahan. Gue mau dalam satu jam kedepan lo kasih semua informasinya sama gue. Gue bakal transfer lima juta kalau semuanya kelar.""Oke. Satu jam kelar," jawab Dita cepat.Rara memutuskan p
Di saat yang bersamaan, Seren tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berfikir. Lima detik kemudian ia sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.Tok... Tok..."Mas Galang? Buka dong," rengeknya dari luar.Tidak ada jawaban. Yang ada hanya suara gemericik air mandi.Seren tersenyum tipis. "Oke. Aku masuk ya."KREKPintu pun terbuka.Uap panas langsung menyerang wajah Seren. Di dalamnya, Galang berdiri di bawah shower. Air mengalir dari rambut hitamnya, menuruni bahu bidang, punggung kekar, sampai ke....Seren menelan ludah."Seren," suara Galang rendah tapi mengancam. "Keluar!"Seren menelan ludah. Bukannya berbalik, Seren malah masuk tanpa ragu. Tanktop tipisnya langsung basah kuyup dan menempel di tubuhnya."Aku kedinginan," kata Seren polos. "Masa iya kamu tega membiarkan aku kedinginan sendirian?"Galang memejamkan mata. Menarik napas panjang. "Kamu....""Aku kenapa?" Seren mendekat, memeluk Galang dari belakang. Tubuh basahnya menempel ke punggung Galang. "Aku cuma mau nemenin ka
Galang refleks hendak merebut ponselnya. Tapi terlambat. Seren sudah keburu menekan tombol speaker.Di seberang sana, suara Rara langsung berubah. Dari yang sebelumnya manja, kini menjadi melengking, penuh selidik."SIAPA KAMU?!" bentak Rara. "Kenapa hp Galang ada sama kamu?! Berikan hp nya ke Galang sekarang juga!"Jantung Seren berdebar. Tapi wajahnya tetap tenang. Bahkan ia sengaja bersandar lebih dalam ke dada Galang. Merasakan hangat tubuh pria yang masih bertelanjang dada itu."Aku pacarnya Galang. Kamu siapa? Kenapa pagi-pagi begini gangguin pacar orang?" jawab Seren tenang. Nadanya dibuat semanis mungkin.Hening.Waktu seakan berjalan lambat sekali.Galang menatap Seren. Ia kaget, marah, tapi juga ada sesuatu yang lain. Mungkin lega?"Kamu.... kamu pasti bohong," suara Rara bergetar di seberang. "Galang nggak mungkin punya pacar. Dia... Dia kan.....""Dia kan apa?" potong Seren cepat. "Jangan bilang kalau dia masih nungguin kamu yang udah ninggalin saat dia sangat-sangat butuh
Pesan dari Rara masih terlihat jelas di layar milik Galang meskipun ia sudah menjauhkan benda itu dari pandangannya. Dengan hati yang kesal, Galang kembali meraih ponselnya dan mematikan layarnya.'Cih, bisa-bisanya dia kembali menghubungiku setelah pergi meninggalkan sakit yang seperti ini!' batin Galang mengumpat.Galang menghisap kembali rokok yang masih berada di sela jarinya, lalu mengepulkan asap putih yang ia keluarkan dari mulut dan hidungnya.Ia tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh Rara. Apakah ia menyesal? Atau ada hal lain yang mendorongnya untuk kembali. Tapi satu hal yang pasti, Galang tidak ingin terlibat lagi dengan wanita yang sudah membuatnya hancur berkeping-keping.Sesaat kemudian, pintu kamar terbuka pelan. Galang tidak menoleh, namun ia tahu itu Seren. Seren melangkah pelan tapi pasti, menghampiri Galang yang kini tengah menatap langit-langit dengan tatapan kosong.Model cantik itu menyelimuti tubuh Galang dengan selimut tipis yang baru saja ia bawa dari







