Share

Bab 6

Penulis: Ryu Lee
last update Tanggal publikasi: 2026-07-23 17:26:45

"Mas... kamu bercanda, kan?" bisik Seren, matanya mengedip beberapa kali melihat raut wajah Galang yang beneran kebingungan.

Seren mendadak membeku. Rasa hangat dan kepulan gairah yang sempat memenuhi kepalanya seketika menguap, berganti dengan rasa melayang yang aneh.

Galang memegang karet tipis itu dengan dua ujung jarinya, membolak-balik benda kecil tersebut di bawah remang lampu kamar.

Keningnya makin berkerut dalam, menyisakan guratan polos yang benar-benar kontras dengan tubuh tegapnya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 86

    Ruangan itu langsung dingin. Bayi di gendongan Rara menangis makin kencang, seolah ia tahu ada bahaya yang baru saja masuk ke kamar itu. Rara langsung memeluk bayinya erat-erat, menatap Ibu Randy dengan mata yang sudah bengkak tapi tidak mau kalah. Mama Heny langsung berdiri di depan ranjang Rara, seperti benteng. Seren langsung berdiri di sampingnya. Galang langsung menarik kursi dan berdiri di dekat pintu, menghalangi pengacara itu untuk masuk lebih jauh. Hanya Randy yang masih berlutut di samping ranjang Rara. Ia tidak berani berdiri. Ia tidak berani menatap ibunya. Ia tidak berani menatap Rara. Ia terjepit di tengah-tengah dua wanita yang paling ia sayangi, dan keduanya sedang berperang untuk anak yang sama."Ibu," kata Randy, suaranya pecah. "Ibu baru saja pingsan di depan kontrakan. Tetangga bilang Ibu dibawa ke puskesmas. Kenapa Ibu bisa ada di sini? Ibu harus istirahat, Bu."Ibu Randy tertawa kecil. Tawa yang dingin, tawa yang membuat bulu kuduk Seren berdiri. "Pingsan?" kata

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 85

    Randy tidak ingat bagaimana caranya ia sampai di rumah sakit. Ia hanya ingat, setelah ibunya menunjukkan foto Rara yang sedang memegang surat gugatan itu, dengan wajah yang hancur, kakinya langsung bergerak sendiri. Ia meninggalkan motornya yang masih terparkir di depan kontrakan, ia meninggalkan ibunya yang masih tersenyum dingin, ia meninggalkan pengacara itu yang masih memegang map coklatnya, dan ia berlari. Ia berlari membelah jalanan pagi yang ramai, berlari melewati gang, berlari melewati lampu merah, berlari sampai napasnya habis, sampai kakinya lemas, sampai bajunya basah oleh keringat. Yang ada di kepalanya hanya satu kalimat, kalimat yang ibunya katakan tadi, Rara pasti berpikir, kamu yang mengirim surat itu. Kamu yang mengkhianatinya lagi.Tidak. Ia tidak boleh membiarkan Rara berpikir seperti itu. Tidak untuk kedua kalinya. Semalam ia sudah diam saat ibunya menghina Rara. Pagi ini ia sudah pergi dan meninggalkan Rara sendirian di kamar. Ia tidak boleh membiarkan Rara berpi

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 84

    Sekitar pukul sepuluh, motor Randy berhenti mendadak di depan gang. Gang menuju kontrakan miliknya. Ia hampir jatuh saat turun dari motor, karena kakinya gemetar dan napasnya ngos-ngosan. Ia berlari, setengah berlari, setengah tersandung, ke arah kontrakan satu-satunya milik keluarganya. Dan apa yang ia lihat di sana, membuat jantungnya seperti berhenti berdetak. Di depan kontrakan itu, masih ada dua orang laki-laki tadi. Satu masih memegang meteran, satu lagi masih memegang kamera, memfoto sudut demi sudut kontrakan yang sudah tua itu. Di depan pintu, ada sebuah papan kecil yang baru saja dipasang. Papan itu berisi pemberitahuan kalau kontrakan ini dijual, lengkap dengan nomor telepon yang bisa dihubungi.Randy membeku di depan papan itu. Tangannya gemetar. Papan itu nyata. Bukan ancaman lagi. Bukan gertakan semalam. Ibunya benar-benar sudah melakukannya."BU!" teriak Randy, suaranya pecah, serak karena semalaman tidak tidur dan menangis di lorong rumah sakit. Ibu Randy keluar dari d

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 83

    Pukul 05.40 pagi. Langit di luar rumah sakit masih gelap kebiruan. Lampu lorong masih menyala. Bau obat masih sama seperti semalam, tapi sekarang bercampur dengan bau kopi sachet yang dibawa Seren dari kantin bawah. Di kursi lorong, Randy masih duduk di tempat yang sama seperti semalam. Ia tidak pulang. Ia tidak tidur. Bajunya kusut, matanya merah dan bengkak, rambutnya berantakan. Di tangannya, ponselnya sudah mati karena baterainya habis sejak jam tiga pagi.Di sampingnya, Galang tertidur sambil duduk, kepalanya bersandar ke dinding. Seren tertidur di bahu Galang, sambil memeluk Arka yang tertidur pulas di pangkuannya. Hanya Mama Heny yang tidak tidur. Ia duduk tegak, matanya menatap pintu ruang rawat Rara yang sudah dipindahkan semalam, tangannya terus mengelus tas kecil yang berisi baju bayi. Pintu kamar Rara terbuka pelan. Seorang perawat keluar, lalu menoleh ke Mama Heny. "Ibu, pasien sudah bangun. Bayinya juga sudah menyusu. Ibu boleh masuk, tapi jangan berisik, dan jangan ter

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 82

    Pintu ruang bersalin itu tertutup lagi di belakang Randy. Suaranya pelan. Di dalam ruangan itu, bau obat dan bau darah masih kuat. Lampu di atas terang, terlalu terang. Di tengah ranjang, Rara terbaring lemah. Wajahnya pucat, rambutnya basah menempel di dahi, bibirnya kering. Di dadanya, bayi kecil itu masih tertidur, hangat, dengan tangan mungil yang mengepal di dekat pipi Rara.Rara membuka matanya perlahan. Ia mendengar langkah kaki. Ia menoleh. Dan ia melihat Randy. Randy berdiri di ujung ranjang, tidak berani mendekat. Matanya merah, air matanya masih jatuh, tangannya gemetar. Ia tersenyum, senyum yang dipaksakan, senyum orang yang berharap akan disambut dengan pelukan."Ra..." suaranya serak, hampir tidak terdengar. "Aku masuk... aku di sini... anak kita... laki-laki ya, Ra? Anak kita..." Ia melangkah maju satu langkah. Tangannya terulur, ingin menyentuh bayi itu. Ingin menyentuh tangan Rara. Tapi Rara tidak tersenyum. Rara tidak menangis bahagia. Rara menatapnya dengan tatapan

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 81

    Beberapa minggu kemudian, saat jam menunjukkan pukul 02.17 dini hari. Rumah Mama Heny yang biasanya tenang, mendadak panik."Ma... Ma... sakit... perutku sakit banget, Ma..."Rara terbangun dengan keringat dingin membasahi seluruh wajahnya. Tangannya mencengkeram ujung kasur, napasnya pendek-pendek. Perutnya yang sudah besar mengeras, lalu mengendur, lalu mengeras lagi lebih kuat.Seren yang tidur di kamar sebelah langsung berlari masuk. Ia masih memakai piyama, rambutnya berantakan."Rara! Kamu kenapa?""Seren... tolong... kayaknya... kayaknya aku mau lahiran..."Galang keluar dari kamarnya dengan panik. Mama Heny sudah lebih dulu bangun, wajahnya tegang tapi tetap tenang. Ia langsung mengambil tas yang sudah disiapkan sejak seminggu lalu di dekat pintu."Galang, ambil kunci mobil. Seren, bantu Rara ganti baju. Arka biar Mama yang gendong sebentar."Di tengah kepanikan itu, Rara justru menangis. Bukan karena sakit, tapi karena takut."Ma... kalau anakku lahir... dia nggak punya ayah ya,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status