FAZER LOGINBeberapa minggu kemudian, saat jam menunjukkan pukul 02.17 dini hari. Rumah Mama Heny yang biasanya tenang, mendadak panik."Ma... Ma... sakit... perutku sakit banget, Ma..."Rara terbangun dengan keringat dingin membasahi seluruh wajahnya. Tangannya mencengkeram ujung kasur, napasnya pendek-pendek. Perutnya yang sudah besar mengeras, lalu mengendur, lalu mengeras lagi lebih kuat.Seren yang tidur di kamar sebelah langsung berlari masuk. Ia masih memakai piyama, rambutnya berantakan."Rara! Kamu kenapa?""Seren... tolong... kayaknya... kayaknya aku mau lahiran..."Galang keluar dari kamarnya dengan panik. Mama Heny sudah lebih dulu bangun, wajahnya tegang tapi tetap tenang. Ia langsung mengambil tas yang sudah disiapkan sejak seminggu lalu di dekat pintu."Galang, ambil kunci mobil. Seren, bantu Rara ganti baju. Arka biar Mama yang gendong sebentar."Di tengah kepanikan itu, Rara justru menangis. Bukan karena sakit, tapi karena takut."Ma... kalau anakku lahir... dia nggak punya ayah ya,
Tiga minggu setelah Rara pindah ke kontrakan baru yang ada AC itu. Kehidupannya awalnya begitu indah. Setiap pulang, Randy selalu membawa jajanan. Ia juga tak sungkan memasak untuk Rara. Mereka sudah berjanji akan menikah setelah anak yang ada di dalam kandungan Rara itu lahir.Sampai suatu sore...Ibu Randy datang. Pakai tas branded KW. Mukanya masam. "Randy, Ibu mau ngomong."Rara yang lagi lipat baju langsung diam."Bu, ngomong aja di sini," kata Randy gugup. Ibu Randy menatap Rara dari atas ke bawah."Kamu itu siapa sih? Kamu yang dulu selingkuh sama anaknya pengusaha itu kan? Yang namanya Galang?"Rara pucat. "Bu... itu sudah selesai...""Selesai?!" Ibu Randy membentak. "Tetangga bilang kamu hamil duluan sama orang kaya, terus ditolak, baru kamu mau sama anak saya! Bener?"Randy langsung berdiri. "Bu, jangan gitu!""DIAM KAMU!" Ibunya Randy menampar meja. "Kamu mau Ibu punya cucu dari perempuan kayak gini?! Perempuan yang hamil anak orang kaya terus gagal?!"Rara nangis. "Bu, anak
Seminggu setelah Arka lahir. Rumah Mama Heny penuh tawa. Sepanduk "Aqiqah Arka Pratama" dipasang di halaman.Seren sehat. Arka gemuk. Galang tiap malam begadang gantiin popok. Yuda jadi om paling siaga. 24 jam standby. Mama Heny tiap hari masak 4 sehat 5 sempurna buat Seren.Sementara itu... Di rumah Randy, di kontrakan petakan Bekasi.Dikontrakan Randy..Rara duduk di lantai. Kipas angin bunyi berisik. Perutnya udah 7 bulan. Panas. Pengap. Randy kerja dari jam 7 pagi sampai jam 6 sore. Gaji 4 juta. Cukup buat makan dan bayar kontrakan 1.5 juta."Ibu mertua" Rara datang tiap hari. Cerewet. "Rara, itu cucian numpuk!" "Rara, masak dong. Masa aku terus." "Rara, jangan tiduran terus. Jalan biar lahirannya gampang."Malamnya Randy pulang capek. "Ra, makan." Rara: "Aku nggak nafsu." "Ya makan dikit lah. Demi anak." Rara melempar sendok. "Kamu tau nggak sih rasanya jadi aku?! Dulu aku dimanja! Sekarang aku disuruh nyuci pake tangan!"Randy menghela napas. "Ra... kita em
Dua minggu setelah hasil DNA keluar. Suasana rumah Mama Heny udah agak tenang. Seren masuk 9 bulan. Perutnya udah besar banget. Jalan aja susah. Rara masuk 6 bulan. Perutnya mulai keliatan. Randy tiap minggu datang. Tapi cuma duduk di ruang tamu. Nggak pernah nginep.Galang fokus kerja dan nemenin Seren kontrol. Yuda yang ngurus rumah. Masak. Belanja. Nganterin Rara kontrol. Mama Heny tiap hari ngaji. Minta rumah ini cepet adem.Hari ini ada acara tasyakuran kecil. 7 bulanan Seren. Undangannya cuma keluarga dekat dan tetangga. 30 orang.Pagi harinya ..Dari jam 6 rumah udah rame. ART masak. Tenda di halaman. Seren pakai gamis sage green. Duduk di kursi pelaminan kecil. Galang di sebelah. Ganteng. Pakai koko.Rara pakai dress ungu. Sengaja agak ketat biar keliatan hamilnya. Yuda pakai kemeja putih. Sibuk kesana kemari. Mama Heny pakai mukena. Jadi tuan rumah.Tamu datang. Salaman. Foto-foto. "Selamat ya, Bu Seren. Sehat-sehat bayinya." "Alhamdulillah, Makasih, Bu."Ra
Satu minggu setelah Rara pulang dari RS. Rumah Mama Heny kondisinya lebih tertib. Rara full bedrest di kamar. Nggak boleh keluar kecuali ke kamar mandi. Mama Heny yang masakin. Yuda yang nganterin makan. Seren yang nemenin ngobrol. Galang yang bayar semua.Tapi diantara mereka ada tembok. Tembok yang namanya "kebohongan".Hari H...Jam 8 pagi. Mobil sudah nunggu di depan. Tujuannya adalah Laboratorium DNA Pusat, Jakarta.Semua anggota rumah ikut kecuali Seren. Galang, Yuda, Rara, Mama Heny. Seren nggak ikut karena perutnya udah 8 bulan dan dokter nggak nyaranin.Di mobil hening. Rara duduk di tengah. Diapit Yuda dan Mama Heny. Tangannya dingin. Galang nyetir. Raut wajahnya datar. Tapi rahangnya mengeras."Sampai, Ma." kata Yuda pelan. Mama Heny mengangguk. "Bismillah."Mereka masuk. Ruangannya putih. Dingin. Ada bau alkohol. Petugas: "Yang mau tes siapa?" Galang: "Saya. Dan dia." nunjuk Rara. "Bayinya?" "Belum lahir, Bu." jawab Yuda. "Jadi kita tes darah ibu dan dar
Tiga hari setelah HP-nya disita. Rumah Mama Heny rasanya kayak penjara buat Rara.Pagi disuruh sarapan bareng. Siang disuruh istirahat di kamar. Sore diawasi Yuda. Malam pintu dikunci dari luar.Galang sibuk WFH. Seren sibuk persiapan lahiran. Mama Heny sibuk ngaji. Nggak ada yang nanya kabar Rara. Nggak ada yang chat.Rara duduk di kasur. Nendang bantal. "Gila. Aku kayak tahanan."Dia liat jendela. Lantai satu. Ada pohon mangga. Otaknya langsung jalan.Jam dua malam. Semua tidur. Rara pelan-pelan buka jendela. Turun lewat dahan. Jatuh. Sakit. Tapi dia tahan.Dia lari ke ujung gang. Naik ojek online. "Tujuan ke Cafe Sudut Kota ya, Mbak?" "Iya, Mas. Cepat."Di cafe..Randy udah nunggu. Wajahnya panik. "Kamu gila? Kabur?" "Aku nggak kuat, Ran." Rara langsung peluk Randy. "Aku dikurung."Randy mengelus punggung Rara. "Udah, tenang. Kita kabur bareng aja. Ke Bandung. Ke rumah temen aku." Rara mengangguk. "Iya. Aku ikut."Mereka pesan tiket travel online. Jam 4 subu







