Share

Bab 8

Author: Ansa
"Memang kalau hamil nggak bisa renang?" Kristo terkekeh sinis, "Dia itu sengaja memanfaatkan kehamilannya, memanfaatkan rasa sayang dan manja dari aku, makanya dia nggak mau dengar ucapanku lagi! Winny, kita masuk, nggak usah pedulikan dia! Kalaupun anaknya beneran hilang, itu cuma buah dari dosa yang dia perbuat sendiri!"

Renata mengapung di dalam kolam. Menatap punggung Kristo yang merangkul Winny pergi, dia malah tertawa lirih.

Namun, deras air mata di pelupuk matanya menetes makin tak terbendung.

Dia teringat saat hari pertama tahu dirinya hamil, mata Kristo sampai memerah karena menangis bahagia.

Pria itu memeluknya erat-erat, berulang kali berbisik, "Renata, akhirnya kita punya bayi juga! Kamu nggak bakal pernah tinggalkan aku lagi! Aku, Kristo berjanji, seumur hidup ini nggak akan biarkan kamu dan bayi kita merasakan sakit sedikit pun."

Tapi, apa yang dilakukan pria ini sekarang? Demi wanita yang penuh kebohongan, dia tega menampar istrinya yang sedang hamil hingga jatuh ke kolam!

Bahkan menyuruhnya menyelam mencari liontin keselamatan untuk anak wanita lain!

Melihat keadaannya seperti itu, meski tidak tega, anak buah Kristo tetap mendesaknya, "Bu, mendingan cepat dicari deh. Usia kandungan Ibu udah sembilan bulan, bisa melahirkan kapan aja, aku takut Ibu kenapa-kenapa."

Orang asing saja bisa mencemaskannya, tapi Kristo justru begitu kejam.

Tanpa bersuara, Renata menggigit bibirnya erat-erat. Dia menunduk lalu menyelam ke dasar air, berulang kali meraba dan mencari liontin keselamatan itu.

Dari terang hingga gelap menyelimuti langit, air kolam terasa kian menusuk tulang. Dia menggigil hebat kedinginan, tapi liontin itu tak kunjung ditemukan.

Hamil menginjak sembilan bulan membuat tubuhnya terasa berat bagai ditindih timah. Tiap kali dia menyelam ke dasar kolam untuk meraba-raba, rasanya seluruh organ dalamnya ditarik dan dipaksa keluar.

Anak buah yang berdiri di tepi kolam pun sudah tidak tega melihatnya.

"Udah jam sepuluh malam ini, kalau dibiarkan terus, Bu Renata bisa kenapa-napa."

"Tapi perintah Komandan Kristo nggak bisa kita langgar gitu aja!"

Empat jam penuh berlalu, kedua tangan dan kaki Renata sudah pucat pasi dan membengkak karena terlalu lama terendam air.

Tepat di saat dia hampir tidak sanggup bertahan lagi, bayi di dalam kandungannya mulai menendang-nendang dengan keras.

Tendangan itu terasa makin kencang, hingga berubah menjadi rasa mulas menusuk sakit. Rasa sakitnya membuat peluh dingin menetes deras di wajahnya.

Sementara itu, dari bagian bawah tubuhnya, terasa ada cairan yang terus mengalir keluar.

Dengan cepat, anak buah Kristo berteriak panik, "Astaga, darah! Cepat tarik Bu Renata ke atas! Cepat telepon kasih tahu Komandan Kristo!"

Sambungan telepon segera terhubung, tapi yang terdengar justru suara Winny.

"Komandan Kristo lagi temani anakku, nggak ada waktu. Dia bilang, kalau Renata belum menemukan liontinnya, dia nggak boleh naik!"

Telepon langsung dimatikan sepihak. Menatap Renata yang sudah sekarat tidak berdaya, anak buah itu berkata dengan cemas, "Masa bodohlah, cepat bawa Bu Renata ke pos kesehatan! Kalau terlambat, nyawa bayinya juga nggak bakal tertolong!"

Saat mereka menggendongnya dan berlari keluar dari area rumah dinas, Renata sempat menoleh menatap ke arah rumah tersebut.

Di sana, pendar lampu tampak begitu hangat. Bisa dibayangkan Kristo sedang menemani Winny dan anaknya, menikmati kehangatan keluarga bersama.

Lantas dirinya?

Dia dan bayinya justru berada di ambang maut.

Begitu dilarikan ke pos kesehatan, waktu sudah menunjukkan dini hari. Perut Renata terasa melilit hebat, pandangannya pun mulai mengabur hitam.

Petugas kesehatan dengan panik mendorongnya masuk ke ruang operasi, "Cepat! Pasien mengalami pendarahan hebat, sepertinya mau melahirkan!"

"Selamatkan anakku ...."

"Kamu tenang ya, kami bakal usahakan sekuat tenaga."

Petugas kesehatan bertanya dengan cemas, "Keluarga pasien mana? Cepat panggil keluarga pasien ke sini!"

Anak buah Kristo tidak berani menunda dan terus mencoba meneleponnya.

Namun, berapa kali pun mencoba menghubungi, telepon itu tidak pernah diangkat.

Hingga pada akhirnya, panggilan tersebut malah sengaja dimatikan.

Anak buahnya serba salah dan berkata dengan seraut wajah serba sulit, "Komandan Kristo lagi nggak ada waktu."

Petugas kesehatan menatap mereka dengan tatapan tidak percaya, "Bu Renata udah kayak gini, dia lagi sibuk apa coba? Telepon nggak diangkat, malah langsung dimatikan! Kalau pasien kenapa-napa di dalam ruang operasi gimana?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 23

    "Renata ...."Kristo tahu perkataan apa pun yang diucapkannya tidak akan pernah bisa menyampaikan rasa penyesalannya.Dia berlutut di tanah tepat di hadapan Renata, menatapnya dengan kedua mata yang memerah darah, "Aku tahu aku ngomong apa pun udah nggak ada gunanya, tapi kamu tega lihat anak sekecil ini tumbuh tanpa sosok ayah?""Siapa bilang dia nggak punya ayah?"Renata mengangkat alisnya, "Nanti aku bakal ketemu lelaki yang jauh lebih baik, dia bakal punya ayah. Walaupun nggak ada, dia juga nggak bakal sudi mengakui bajingan kayak kamu sebagai ayahnya! Kristo, kalau kamu masih punya sedikit aja hati nurani, sekarang juga balik dan jangan pernah muncul lagi di depan aku sama putriku! Kalau nggak, aku bakal bawa putriku pindah ke tempat yang nggak bakal pernah bisa kamu temukan!""Harus banget kayak gini?"Kristo menangis, dia benar-benar merasakan rasa sakit yang teramat dalam."Kenapa nggak bisa kayak tiga tahun lalu, kasih aku kesempatan terakhir sekali lagi? Sekali ini aja, boleh

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 22

    "Renata, bayinya belum meninggal, 'kan? Bayi kita belum meninggal, 'kan?""Renata, keluar ketemu aku! Aku mau lihat bayi kita, kenapa kamu tega bohongi aku! Kenapa bayinya belum meninggal, tapi kamu bilang udah meninggal!"Dia seperti orang gila menarik-narik pagar besi sambil berteriak keras, hingga para tetangga sekitar berhamburan keluar untuk menonton.Di dalam rumah, Renata sedang memangku bayinya sambil mengajak bermain. Saat mendengar suara berisik Kristo, sudut bibirnya mengukir segaris senyum sindiran.Pria itu masih punya muka buat bertanya kenapa?Kalau hari itu anak buahnya tidak luluh dan membawanya ke pos kesehatan.Jangankan bayinya, nyawanya sendiri mungkin sudah melayang.Bayi ini adalah buah perjuangan yang hampir menukarkan nyawanya, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Kristo."Berengsek si Kristo ini, aku harus keluar buat hajar dia sampai sadar!"Kevin mengomel dan berniat menerobos keluar, tapi Renata yang melihat pria itu dikerumuni tetangga akhirnya mem

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 21

    "Si Kristo ini sebenarnya mau ngapain sih?"Begitu mengetahui hal ini, Kevin langsung mengomel, mau mendatangi rumah seberang untuk membuat perhitungan dengan Kristo.Renata tidak bisa melakukan apa-apa selain memintanya untuk tetap tenang.Kristo baru saja menyuruh asisten rumah tangga untuk memasukkan dan menata furniture barunya, begitu berbalik dia melihat Kevin sudah berdiri di belakangnya."Ayah! Akhirnya Ayah mau ketemu sama aku.""Tunggu dulu, ada baiknya Komandan Kristo jaga tata cara manggil orang. Kamu sama anakku udah cerai, aku bukan ayahmu, seterusnya juga nggak bakal jadi ayahmu."Kevin memotong ucapannya, lalu bertanya dengan suara berat, "Aku mau tanya, kamu beli rumah ini sebenarnya mau ngapain?""Ayah, aku tahu aku salah. Kedatanganku kali ini cuma mau mohon ampun dan minta maaf sama Renata."Kristo mengerutkan dahi, nadanya terdengar begitu rendah dan memohon, "Kalau Renata nggak mau maafkan aku, aku bakal tinggal di sini selamanya, sampai dia mau maafkan aku.""Hal

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 20

    Di kediaman Keluarga Adista.Waktu sudah sore saat Kristo sampai.Dia menaiki kereta seharian penuh hingga tubuhnya terasa sangat lelah.Namun, tanpa beristirahat sedikit pun, dia langsung bergegas menuju kediaman Keluarga Adista.Tiga tahun lalu, dia juga menjemput Renata dari tempat ini.Waktu itu di hadapan ayah dan ibu Renata, dia berjanji seumur hidup ini tidak akan pernah mengecewakan Renata lagi.Namun, baru tiga tahun berlalu, dia sudah membuat kesalahan lagi.Bahkan kesalahan kali ini jauh lebih parah ketimbang tiga tahun lalu.Dia tidak cuma malu bertemu Renata, tapi juga tidak punya muka lagi di hadapan ayah dan ibunya."Permisi Pak, cari siapa ya?"Asisten rumah tangga Keluarga Adista melihat pria itu celingukan di depan pintu, lalu menegurnya penuh waspada, "Kalau nggak ada urusan tolong pergi, atau saya panggilkan polisi."Itu adalah asisten rumah tangga baru yang tidak mengenali Kristo."Saya suaminya Renata, saya mau cari dia.""Kamu mantan suaminya nona kami?"Nasib da

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 19

    "Hahaha!"Kristo mendadak tertawa.Sampai di titik ini rasanya memang sudah pantas dapat karma dia, rasakan sendiri akibatnya!"Kristo, dengarkan penjelasanku dulu, kamu beneran salah dengar, anak itu anakmu!"Winny memberanikan diri berjalan mendekat untuk memegang lengannya, tapi langsung ditepis kasar oleh pria itu."Jangan sentuh aku, cewek murahan dan menjijikkan! Aku kasih kamu kesempatan terakhir, jujur sama aku, anak itu beneran anakku atau bukan!""Jangan sampai setelah hasil tes DNA keluar baru kamu menyesal, saat itu udah terlambat.""Kristo!"Begitu kalimat itu terucap, Winny seketika berlutut di hadapannya sambil menangis sesenggukan, "Waktu itu kecelakaan, hari itu aku telepon suruh kamu datang ke rumahku, tapi kamu nggak mau, aku emosi terus pergi minum-minum. Pas bangun tidur, aku ... itu beneran kecelakaan! Aku sama sekali nggak kenal sama cowok itu, setelah itu aku juga nggak pernah berhubungan lagi sama dia!""Kamu harus percaya sama aku, walau anak ini nggak ada hub

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 18

    Di dalam mobil, saat Kristo mendengar kabar dari anak buahnya, raut wajahnya sudah berubah sangat suram.Padahal stasiun kereta sudah tepat berada di depan mata, waktu keberangkatan kereta pun sudah makin dekat.Tapi, Winny malah nekat main gila mau mati segala!Kalau wanita itu mau mati sendiri ya terserah, ini malah mau bawa bayinya mati bersama. Wanita itu benar-benar sudah gila!"Gimana ini Komandan Kristo, apa kita tetap ke stasiun?""Winny itu orang gila, dia bisa melakukan hal gila apa aja. Kalau aku beneran pergi, dia mungkin benar-benar bakal bawa anak itu mati bareng."Kristo mengalihkan pandangannya dari stasiun, suaranya terdengar gemetar, "Putar balik.""Siap!"Mobilnya baru mau sampai di dekat rumah ketika anak buahnya menelepon lagi, mengabarkan kalau Winny kehabisan banyak darah dan sudah dilarikan ke pos kesehatan, sementara bayinya baik-baik saja.Karena sudah kelewatan jam keberangkatan, Kristo terpaksa menyusul pergi ke pos kesehatan.Baru tiba di depan pintu kamar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status