Share

Bab 7

Author: Ansa
Mau sebagus apa pun cara Winny memprovokasinya, Renata sama sekali tidak merespons. Dia tetap menunduk dan melanjutkan rajutannya.

Melihat dirinya diabaikan, Winny jadi naik darah. Dia langsung merebut baju wol dari tangan Renata dan melemparnya ke kolam di tepi jalan.

"Kamu tuli, ya? Nggak dengar aku ngomong apa, hah?"

Emosi Renata akhirnya tersulut juga. Dia menatap baju yang mengapung di permukaan air, lalu berkata dengan suara berat, "Turun, ambil dan kasih ke aku."

"Aku nggak mau ambil, kamu mau apa?"

"Nggak mau ambil? Nggak mau ambil, ya jangan salahkan kalau aku bertindak kasar!"

Renata maju melangkah perlahan membayanginya, hingga Winny hampir terdesak ke tepi kolam.

Tepat saat Winny hendak balik mendorong Renata ke kolam, ekor matanya menangkap sosok Kristo yang berjalan mendekat dari kejauhan.

Dengan ukiran senyum aneh di sudut bibirnya, Winny mengambil sesuatu lalu melemparnya ke dalam kolam.

"Renata! Jangan!" Winny mendadak menjerit histeris, "Itu liontin keselamatan anakku! Kristo baru aja minta ke kuil beberapa hari lalu buat anakku! Setelah waktu itu nggak sengaja kamu jatuhkan, badannya terus-terusan sakit. Semuanya cuma mengandalkan liontin ini buat melindunginya, kamu kok tega banget sih!"

"Kamu ngomong apa? Jelas-jelas kamu sendiri yang ...."

Dahi Renata berkerut rapat. Dia sudah tahu, berurusan dengan Winny pasti berakhir buruk.

Wanita ini pandai sekali berakting!

"Renata!"

Belum sempat dia membela diri, dia sudah melihat Kristo berjalan mendekat dengan emosi membara, lalu mencengkeram pergelangan tangannya dengan kencang.

"Apa yang kamu lakuin?"

"Kristo, aku beneran nggak betah lagi tinggal di rumah ini! Renata itu sengaja mau anakku mati! Tadi aku cuma mau menyapa dia, baru aja bilang kalau kamu sengaja ke kuil belikan liontin keselamatan buat anak kita, dia langsung melempar liontin itu ke kolam! Katanya anakku nggak pantas pakai itu, katanya anakku memang harusnya mati! Dia juga bilang, walaupun nanti dia udah cerai sama kamu dan anaknya lahir, anakku cuma bakal tetap jadi anak haram!"

"Kamu beneran ngomong gitu? Renata, aku kira kamu beneran ikhlas mau mengalah demi Winny makanya setuju cerai sama aku, ternyata itu cuma omong kosong?"

"Aku nggak pernah ngomong gitu!"

Pergelangan tangannya dicengkeram sampai terasa sangat sakit. Renata menggelengkan kepala, "Liontin itu juga dia sendiri yang melemparnya ke bawah! Nggak ada hubungannya sama aku!"

"Guru udah bilang liontin itu nggak boleh kena air, kalau kena air nanti anaknya bisa kenapa-kenapa! Winny mana mungkin pakai nyawa anaknya sendiri buat bohongi aku!"

Kristo menatapnya tajam, di matanya memancar rasa jijik yang begitu mendalam, "Renata, kamu kok bisa berubah jadi kayak gini! Kamu juga lagi hamil, kamu nggak takut anak kita kena karma, hah?"

Sensasi amis dan manis mendadak menyeruak di tenggorokannya. Renata mendongak menatapnya dengan rasa tidak percaya, "Kristo, demi anak Winny, kamu tega-teganya mengutuk anak kita sendiri? Winny itu orang yang kayak gimana, kamu sama sekali nggak tahu! Dia bahkan tega melempar anaknya sendiri dari tempat tinggi cuma buat fitnah aku, apa bedanya sama lempar liontin keselamata!"

"Cukup! Diam kamu!" Kristo mengangkat tangannya, lalu melayangkan tamparan keras ke wajah Renata.

Tamparan keras itu mendarat tanpa sempat diantisipasi. Renata kehilangan keseimbangan, hingga seluruh tubuhnya terperosok jatuh ke dalam kolam.

Di saat tubuhnya tenggelam ke dalam kolam dan air mulai menutupi telinga serta hidungnya, Renata merasa nyawanya hendak dicabut.

Namun, pria di tepi kolam sama sekali tidak tergerak. Katanya dengan nada dingin dan keras, "Nggak usah akting, Renata! Kamu bisa berenang! Karena kamu yang lempar liontin itu, kamu sendiri yang ambil ke bawah!"

"Kemari." Kristo memanggil anak buahnya dengan suara yang begitu dingin sekeras besi, "Kalian awasi dia sampai dia berhasil mengambil liontin itu! Kalau nggak ketemu, jangan biarkan dia naik!"

Menatap Renata yang tampak kesakitan di dalam air kolam, salah satu anak buahnya ragu-ragu dan berkata, "Tapi Komandan, Bu Renata 'kan lagi hamil ...."

Winny pun pura-pura iba, "Udahlah nggak apa-apa. Renata mungkin nggak sengaja, kalau sampai anaknya kenapa-kenapa gimana?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 23

    "Renata ...."Kristo tahu perkataan apa pun yang diucapkannya tidak akan pernah bisa menyampaikan rasa penyesalannya.Dia berlutut di tanah tepat di hadapan Renata, menatapnya dengan kedua mata yang memerah darah, "Aku tahu aku ngomong apa pun udah nggak ada gunanya, tapi kamu tega lihat anak sekecil ini tumbuh tanpa sosok ayah?""Siapa bilang dia nggak punya ayah?"Renata mengangkat alisnya, "Nanti aku bakal ketemu lelaki yang jauh lebih baik, dia bakal punya ayah. Walaupun nggak ada, dia juga nggak bakal sudi mengakui bajingan kayak kamu sebagai ayahnya! Kristo, kalau kamu masih punya sedikit aja hati nurani, sekarang juga balik dan jangan pernah muncul lagi di depan aku sama putriku! Kalau nggak, aku bakal bawa putriku pindah ke tempat yang nggak bakal pernah bisa kamu temukan!""Harus banget kayak gini?"Kristo menangis, dia benar-benar merasakan rasa sakit yang teramat dalam."Kenapa nggak bisa kayak tiga tahun lalu, kasih aku kesempatan terakhir sekali lagi? Sekali ini aja, boleh

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 22

    "Renata, bayinya belum meninggal, 'kan? Bayi kita belum meninggal, 'kan?""Renata, keluar ketemu aku! Aku mau lihat bayi kita, kenapa kamu tega bohongi aku! Kenapa bayinya belum meninggal, tapi kamu bilang udah meninggal!"Dia seperti orang gila menarik-narik pagar besi sambil berteriak keras, hingga para tetangga sekitar berhamburan keluar untuk menonton.Di dalam rumah, Renata sedang memangku bayinya sambil mengajak bermain. Saat mendengar suara berisik Kristo, sudut bibirnya mengukir segaris senyum sindiran.Pria itu masih punya muka buat bertanya kenapa?Kalau hari itu anak buahnya tidak luluh dan membawanya ke pos kesehatan.Jangankan bayinya, nyawanya sendiri mungkin sudah melayang.Bayi ini adalah buah perjuangan yang hampir menukarkan nyawanya, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Kristo."Berengsek si Kristo ini, aku harus keluar buat hajar dia sampai sadar!"Kevin mengomel dan berniat menerobos keluar, tapi Renata yang melihat pria itu dikerumuni tetangga akhirnya mem

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 21

    "Si Kristo ini sebenarnya mau ngapain sih?"Begitu mengetahui hal ini, Kevin langsung mengomel, mau mendatangi rumah seberang untuk membuat perhitungan dengan Kristo.Renata tidak bisa melakukan apa-apa selain memintanya untuk tetap tenang.Kristo baru saja menyuruh asisten rumah tangga untuk memasukkan dan menata furniture barunya, begitu berbalik dia melihat Kevin sudah berdiri di belakangnya."Ayah! Akhirnya Ayah mau ketemu sama aku.""Tunggu dulu, ada baiknya Komandan Kristo jaga tata cara manggil orang. Kamu sama anakku udah cerai, aku bukan ayahmu, seterusnya juga nggak bakal jadi ayahmu."Kevin memotong ucapannya, lalu bertanya dengan suara berat, "Aku mau tanya, kamu beli rumah ini sebenarnya mau ngapain?""Ayah, aku tahu aku salah. Kedatanganku kali ini cuma mau mohon ampun dan minta maaf sama Renata."Kristo mengerutkan dahi, nadanya terdengar begitu rendah dan memohon, "Kalau Renata nggak mau maafkan aku, aku bakal tinggal di sini selamanya, sampai dia mau maafkan aku.""Hal

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 20

    Di kediaman Keluarga Adista.Waktu sudah sore saat Kristo sampai.Dia menaiki kereta seharian penuh hingga tubuhnya terasa sangat lelah.Namun, tanpa beristirahat sedikit pun, dia langsung bergegas menuju kediaman Keluarga Adista.Tiga tahun lalu, dia juga menjemput Renata dari tempat ini.Waktu itu di hadapan ayah dan ibu Renata, dia berjanji seumur hidup ini tidak akan pernah mengecewakan Renata lagi.Namun, baru tiga tahun berlalu, dia sudah membuat kesalahan lagi.Bahkan kesalahan kali ini jauh lebih parah ketimbang tiga tahun lalu.Dia tidak cuma malu bertemu Renata, tapi juga tidak punya muka lagi di hadapan ayah dan ibunya."Permisi Pak, cari siapa ya?"Asisten rumah tangga Keluarga Adista melihat pria itu celingukan di depan pintu, lalu menegurnya penuh waspada, "Kalau nggak ada urusan tolong pergi, atau saya panggilkan polisi."Itu adalah asisten rumah tangga baru yang tidak mengenali Kristo."Saya suaminya Renata, saya mau cari dia.""Kamu mantan suaminya nona kami?"Nasib da

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 19

    "Hahaha!"Kristo mendadak tertawa.Sampai di titik ini rasanya memang sudah pantas dapat karma dia, rasakan sendiri akibatnya!"Kristo, dengarkan penjelasanku dulu, kamu beneran salah dengar, anak itu anakmu!"Winny memberanikan diri berjalan mendekat untuk memegang lengannya, tapi langsung ditepis kasar oleh pria itu."Jangan sentuh aku, cewek murahan dan menjijikkan! Aku kasih kamu kesempatan terakhir, jujur sama aku, anak itu beneran anakku atau bukan!""Jangan sampai setelah hasil tes DNA keluar baru kamu menyesal, saat itu udah terlambat.""Kristo!"Begitu kalimat itu terucap, Winny seketika berlutut di hadapannya sambil menangis sesenggukan, "Waktu itu kecelakaan, hari itu aku telepon suruh kamu datang ke rumahku, tapi kamu nggak mau, aku emosi terus pergi minum-minum. Pas bangun tidur, aku ... itu beneran kecelakaan! Aku sama sekali nggak kenal sama cowok itu, setelah itu aku juga nggak pernah berhubungan lagi sama dia!""Kamu harus percaya sama aku, walau anak ini nggak ada hub

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 18

    Di dalam mobil, saat Kristo mendengar kabar dari anak buahnya, raut wajahnya sudah berubah sangat suram.Padahal stasiun kereta sudah tepat berada di depan mata, waktu keberangkatan kereta pun sudah makin dekat.Tapi, Winny malah nekat main gila mau mati segala!Kalau wanita itu mau mati sendiri ya terserah, ini malah mau bawa bayinya mati bersama. Wanita itu benar-benar sudah gila!"Gimana ini Komandan Kristo, apa kita tetap ke stasiun?""Winny itu orang gila, dia bisa melakukan hal gila apa aja. Kalau aku beneran pergi, dia mungkin benar-benar bakal bawa anak itu mati bareng."Kristo mengalihkan pandangannya dari stasiun, suaranya terdengar gemetar, "Putar balik.""Siap!"Mobilnya baru mau sampai di dekat rumah ketika anak buahnya menelepon lagi, mengabarkan kalau Winny kehabisan banyak darah dan sudah dilarikan ke pos kesehatan, sementara bayinya baik-baik saja.Karena sudah kelewatan jam keberangkatan, Kristo terpaksa menyusul pergi ke pos kesehatan.Baru tiba di depan pintu kamar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status