Share

3. Fakta Baru

Penulis: Leva Lorich
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-17 13:23:23

Ronald tercengang. Baru saja ia 'bermain singkat' dengan Arumi, dan sekarang Diana mengajak masuk ke kamarnya?

“Apa maksud kamu, Diana? Obrolan penting macam apa yang harus dilakukan di dalam kamar seorang janda?“ tanya Ronald penasaran.

Diana langsung tergagap mendapati tatapan tajam Ronald. “Oh, anu…. aku, aku hanya ingin lebih privasi biar nggak di dengar yang lainnya,” jawabnya terbata.

Ronald semakin tajam menatap. “Di ruangan kerjaku kurang privasi?“ sindir Ronald.

Diana menunduk. “Bu-bukan begitu, maksudku—”

“Diana! Bukankah hari ini tugasmu mengawasi koki keluarga? Kenapa kamu justru asyik ngobrol sama Ronald? Kamu mau merayunya ya?“ suara lembut namun tajam Arumi menyela.

Diana reflek mundur satu langkah. “K-kak Arumi, aku hanya menyapa dia sebentar,” balas Diana berbohong.

Tanpa menunggu pertanyaan memojokkan berikutnya dari Arumi, Diana langsung balik badan dan melangkah menuju dapur.

Ronald menemukan ada sedikit kejanggalan pada Diana. 'Diana kayak lagi nyembunyiin sesuatu,' pikirnya.

Arumi melangkah mendekat. Aroma wangi khas tubuhnya kembali memenuhi indra penciuman Ronald.

“Dia tadi ngerayu kamu, Ronald?“ tanya Arumi lembut. Ia dengan santai menyentuh ringan lengan Ronald.

“Kayak yang kamu denger tadi, dia cuma nyapa dan kenalan,” ujar Ronald tak ingin Arumi terlalu ikut campur.

Arumi tersenyum manis. Tangannya semakin menekan lengan Ronald.

“Kamu di sini harus hati-hati, Ronald. Mereka itu licik! Jangan mudah terhanyut!“ tutur Arumi seolah memberikan perhatian.

Ronald tersenyum, membalas sentuhan tangan Arumi. “Makasih, ya. Aku bakal hati-hati,” jawabnya dengan tatapan lurus ke arah gundukan di dada Arumi yang menonjol.

Ronald kemudian melenggang memasuki ruangan kerjanya.

Sore hingga malam digunakan Ronald untuk mempelajari berbagai berkas perusahaan milik Hermawan berikut aset-asetnya.

Ronald merasa harus bisa memastikan diri menguasai pemahaman berbagai bidang tersebut untuk mempermudah tugas pengelolaannya.

Mendekati jam makan malam, pintu ruangan Ronald kembali di ketuk dari luar.

Tok!

Tok!

“Silakan masuk,” ucap Ronald dari dalam.

Pintu terbuka, muncullah seorang gadis muda berusia 21 tahun. Parasnya cantik dengan karakter yang lemah lembut.

Setelah menutup kembali pintu ruangan, gadis itu berjalan mendekat ke arah Ronald.

Sesaat Ronald terkesima menatap kecantikan gadis tersebut. Rambutnya tergerai panjang, tubuhnya semampai namun memiliki bentuk bulatan di dada yang cukup besar. Aura anggun wanita kelas atas terpancar dari tubuhnya.

“Malam, Ronald. Aku Citra, adiknya Bianca. Apa kamu sibuk?“ tanya Citra kemudian.

Ronald segera tersadar. “Ehm, malam. Aku baru selesai membaca berkas perusahaan Pak Hermawan. Ada apa, Citra?“ ia kembali memasukkan map berkas ke dalam laci meja.

“Nggak ada yang penting sih. Aku cuma ingin mengenalmu lebih baik aja. Bukankah kata pepatah, tak kenal maka tak sayang?“ ucap Citra santai dibumbui candaan singkat.

Ronald tersenyum singkat. “Makasih, Citra, udah mau kenal sama aku. Kedepannya kita mungkin bakal sering berinteraksi di mansion ini,” jawabnya ramah.

Citra melangkah semakin mendekat ke arah Ronald. “Kamu terlihat cukup smart, Ronald. Semoga bisa menjadi jembatan yang sesuai untuk keluarga ini,” lanjutnya.

“Sekali lagi, makasih, Citra. Duduk yuk,” ajak Ronald mempersilakan.

Citra mengangguk ringan lalu segera duduk di depan meja Ronald.

Belum lama duduk, Citra terlihat mengibaskan tangan di depan wajah. “Kok ruanganmu panas gini ya, Ronald? Apa AC nya nggak nyala?“

Ronald baru akan menanggapi, namun gerakan Citra berikutnya membuat bibirnya mendadak terkunci.

Citra nampak melepaskan cardigannya, menyisakan tangtop putih yang tak mampu menutupi belahan dadanya yang begitu curam.

“Nggak apa-apa 'kan kalau aku lepas gini? Gerah banget soalnya,” ucap Citra santai dan tenang.

Justru Ronald yang tak bisa tenang. Setelah gagal memadu kasih dengan Arumi tadi, kini hasratnya kembali bangkit.

“Eh, ya, nggak apa-apa, tapi gimana kalau ada yang dateng? Kamu nggak malu apa?“ tanya Ronald mencoba mengingatkan.

Citra hanya terkekeh kecil. “Hmm, Ronald, Ronald. Kamu tuh masih baru di sini dan nggak tahu tabiat penghuni mansion ini. Jangankan pakai tangtop begini, lari-larian cuma pakai pakaian dalam pun nggak akan ada yang peduli!“ ujarnya menjelaskan.

Ronald agak terperanjat. Ia tak mengira jika penghuni di sana terbiasa seterbuka itu.

Citra kemudian menunduk, menggaruk tumitnya yang gatal. Belahan curam di balik tangtop itu semakin terbuka lebar.

Bongkahan besar yang ada di dalam sana seolah ingin melompat keluar dari tempatnya.

Ronald menelan ludah kasar. Jakunnya bergerak turun naik menikmati pemandangan tersebut.

“Hmmm, kamu ngintipin apa hayo? Kamu nakal juga ya, Ronald?!“ tegur Citra yang menangkap basah arah tatapan Ronald.

“Eh, nggak kok. Aku cuma—”

“Kamu mau?“ potong Citra cepat.

“Eh, Citra, aku…” suara Ronald kembali tercekat di tenggorokan.

Citra segera bangkit dan melangkah anggun ke arah Ronald.

Bahkan dengan berani Citra mengalungkan lengan lembutnya ke tengkuk Ronald.

“Mau yang mana, Ronald?“ tanya Citra lembut namun menjurus.

Ronald menegang. Syarafnya terasa mengalirkan darah lebih cepat ke ubun-ubun, dan ke pedang pembunuh naga miliknya.

Perlahan jarak mereka terkikis. Bulatan besar di dada Citra mulai menekan dada Ronald.

Sangat berani Citra menggoyangkan dadanya sendiri menggesek dada Ronald.

“Kamu tadi ngintipin ini, kan?“

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   7. Melihat Kondisi Perkebunan

    "Loh, kok kamu balik lagi, Citra?" Ronald membuka pintu dengan gerakan cepat setelah merapikan celananya yang berantakan. Ia tampak berusaha mengatur napasnya agar kembali teratur. Citra tidak langsung menjawab. Matanya melirik melewati bahu Ronald, menembus ruangan hingga menangkap sosok Arumi yang sedang duduk di tepi meja kerja sambil merapikan daster satinnya yang kusut. Keadaan Arumi yang tampak berantakan dengan rambut sedikit acak-acakan sudah cukup menjelaskan apa yang hampir saja terjadi di dalam sana. "Jepit rambutku ketinggalan di dalam, kayaknya jatuh pas tadi kita lagi asyik," jawab Citra sengaja memperdengarkannya pada Arumi. Ia melangkah masuk, melewati Ronald begitu saja. Matanya kembali tertuju pada Arumi. Sambil memungut jepit rambut kecil dari lantai, Citra menatap mantan istri muda dari mendiang ayah tirinya itu dengan tatapan dingin. "Sebaiknya kalian berdua itu tidur aja, istirahat yang bener. Jangan diskusi terus malam-malam begini, nanti malah jadi k

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   6. Wasit Gulat

    “Jangan biasa mikir picik mulu deh, Kak. Dikit-dikit nuduh, dikit-dikit curiga. Padahal aku ini adikmu sendiri,” bantah Citra merasa tersinggung. Bianca hanya menatap datar ke arah Citra tanpa terpancing sedikitpun. “Demi uang, saudara bisa jadi lawan, kerabat bisa jadi saingan. Sori ya, Citra, aku nggak bisa percaya seratus persen sama semua orang di sini!“ Wajah Citra berubah kaku begitu mendengarnya. “Kalau nggak percaya sama aku, ngapain nyariin aku? Ngapain penasaran sama urusanku? Apa jangan-jangan kamu juga pengen dapet warisan lebih banyak?!“ sinisnya dengan nada suara meningkat. Bianca masih merasa tak terima. “Citra! Kenapa kamu sekarang mulai berani ngebantah aku sejak pria asing ini datang?“ tanyanya dengan kening berkerut. Citra tersenyum sumbang tanpa suara. “Aku biasa aja kok, nggak ada yang berubah. Kamu tuh, Kak, justru makin kesini makin aneh dah!“ Bianca justru mendengus kasar, melipat tangan di bawah bukit indahnya yang sekal hingga menyembul dari balik

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   5. Saling Curiga

    Ronald menoleh dan mendapati Citra yang menempelkan dada dengan lembut ke punggungnya.“Aku kan udah ngomong tadi, Ron. Wanita disini itu pada susah diatur. Kamu tahu sendiri 'kan sekarang?!“ ucap Citra sembari mengelus dada Ronald. “Pokoknya di sini itu harus ekstra sabar,” imbuhnya.Emosi di dada Ronald seketika turun drastis, bukan karena perkataan Citra, tapi karena rasa nikmat yang mulai menjalar dari gesekan dada kenyal Citra.Begitu melihat Ronald yang kembali tenang, Citra segera melepaskan dekapannya.“Kamu belum makan malam loh, Ron. Mau kubawakan ke sini?“ tawar Citra kembali memberikan perhatiannya.Ronald hanya mengangguk tipis.Citra pun pergi mengambilkan makanan untuk Ronald.Tak lama berselang, gadis cantik itu kembali datang dengan nampan di tangan.“Mau makan sendiri apa disuapin nih?“ goda Citra berusaha mencairkan suasana.Ronald tersenyum. “Sekali-kali kayaknya boleh juga disuapin sama cewek secantik kamu,” jawab Ronald yang mulai kembali dalam mode 'serigala hau

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   4. Upaya Mendisiplinkan

    Ronald tak mampu menjawab. Matanya terkunci pada paras cantik Citra yang memabukkan.Pikirannya juga terkunci pada sensasi empuk semriwing yang ditimbulkan oleh gesekan dada Citra.Citra dengan tenang mulai berani mendekatkan wajahnya, mengecup ringan bibir Ronald.Cupp!Ronald pun tak tinggal diam. Ia menyambut kecupan itu dan memberikan respon positif.Ia dengan penuh hasrat mengimbangi permainan bibir Citra untuk saling bertukar saliva, membelitkan lidah.“Ehmmm, Ronald,” lenguhan Citra mulai terdengar di sela-sela pertalian lidah keduanya.Tangan Ronald yang tergantung bebas segera bergerak ke belakang tubuh Citra, meraih bongkahan pejal di bawah pinggul gadis cantik tersebut dan mulai memainkan peran.Tubuh Citra sedikit tersentak tatkala tangan besar mantan tentara itu menimbulkan sensasi geli di area belakang tubuhnya.Deru napas keduanya semakin memburu meresapi sensasi yang tercipta. Ciuman meningkat semakin dalam dan menggelora.“Ohhhh, mmmh, Ronald,” desahan Citra berpadu

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   3. Fakta Baru

    Ronald tercengang. Baru saja ia 'bermain singkat' dengan Arumi, dan sekarang Diana mengajak masuk ke kamarnya?“Apa maksud kamu, Diana? Obrolan penting macam apa yang harus dilakukan di dalam kamar seorang janda?“ tanya Ronald penasaran.Diana langsung tergagap mendapati tatapan tajam Ronald. “Oh, anu…. aku, aku hanya ingin lebih privasi biar nggak di dengar yang lainnya,” jawabnya terbata.Ronald semakin tajam menatap. “Di ruangan kerjaku kurang privasi?“ sindir Ronald.Diana menunduk. “Bu-bukan begitu, maksudku—”“Diana! Bukankah hari ini tugasmu mengawasi koki keluarga? Kenapa kamu justru asyik ngobrol sama Ronald? Kamu mau merayunya ya?“ suara lembut namun tajam Arumi menyela.Diana reflek mundur satu langkah. “K-kak Arumi, aku hanya menyapa dia sebentar,” balas Diana berbohong.Tanpa menunggu pertanyaan memojokkan berikutnya dari Arumi, Diana langsung balik badan dan melangkah menuju dapur.Ronald menemukan ada sedikit kejanggalan pada Diana. 'Diana kayak lagi nyembunyiin sesuatu

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   2. Keunikan Para Penghuninya

    “Hanya tegur sapa biasa. Nggak ada yang penting,” jawab Ronald datar, tanpa merasa tertekan oleh intimidasi yang ditunjukkan gadis berusia dua puluh tiga tahun tersebut.“Aku tekanin ya, jangan terlalu baik sama wanita itu. Dia itu rubah yang pinter bermain lidah!“ ucap Bianca tegas dan sengit.Meski cantik, Bianca memiliki karakter liar dan temperamental. Anak tiri sulung Hermawan itu selalu memusuhi Hermawan dan semua orang di rumah itu, kecuali mendiang ibu kandungnya.“Nggak ada yang boleh mengintervensi aku, Bianca. Aku adalah hukum di mansion ini!“ tepis Ronald berusaha terlihat teguh.“Oh, jadi kamu merasa sok paling berkuasa di mansion ini sekarang ya? Bagus banget!“ Bianca tersenyum sinis. “Tapi satu yang perlu kau tahu, Ronald. Kamu cuma alat dari Hermawan busuk itu. Kamu nggak akan bisa bikin aku tunduk!“ sentak Bianca, kemudian melangkah lebar meninggalkan ruangan tersebut.'Wow! Menarik banget. Baru sehari di sini tapi udah ketemu dua wanita unik. Nanti, wanita macam apa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status