Home / Male Adult / Memberi Jatah Para Pewaris Cantik / 7. Melihat Kondisi Perkebunan

Share

7. Melihat Kondisi Perkebunan

Author: Leva Lorich
last update Last Updated: 2026-03-17 15:38:55

"Loh, kok kamu balik lagi, Citra?"

Ronald membuka pintu dengan gerakan cepat setelah merapikan celananya yang berantakan.

Ia tampak berusaha mengatur napasnya agar kembali teratur.

Citra tidak langsung menjawab. Matanya melirik melewati bahu Ronald, menembus ruangan hingga menangkap sosok Arumi yang sedang duduk di tepi meja kerja sambil merapikan daster satinnya yang kusut.

Keadaan Arumi yang tampak berantakan dengan rambut sedikit acak-acakan sudah cukup menjelaskan apa yang hampir saja terjadi di dalam sana.

"Jepit rambutku ketinggalan di dalam, kayaknya jatuh pas tadi kita lagi asyik," jawab Citra sengaja memperdengarkannya pada Arumi.

Ia melangkah masuk, melewati Ronald begitu saja. Matanya kembali tertuju pada Arumi.

Sambil memungut jepit rambut kecil dari lantai, Citra menatap mantan istri muda dari mendiang ayah tirinya itu dengan tatapan dingin.

"Sebaiknya kalian berdua itu tidur aja, istirahat yang bener. Jangan diskusi terus malam-malam begini, nanti malah jadi kurang tidur," sindir Citra dengan nada bicara yang sopan namun sinis.

Arumi hanya bisa menggigit bibir bawahnya, wajahnya memerah karena malu sekaligus jengkel karena rencananya gagal.

Tanpa sepatah kata pun, Arumi segera bangkit dari meja dan melangkah keluar ruangan dengan kepala tegak, mencoba mempertahankan keanggunannya.

Citra pun mengikutinya dari belakang, meninggalkan Ronald sendirian di tengah ruangan yang masih menyisakan aroma parfum melati milik Arumi.

Ronald menghela napas panjang, merasa sangat penat.

Ia segera mengunci pintu ruang kerja itu, lalu melangkah menuju kamarnya sendiri di sayap kiri mansion, melewati lorong sunyi yang dihiasi lukisan-lukisan mahal yang seolah sedang mengawasinya.

Begitu masuk ke dalam kamar, Ronald langsung merebahkan tubuh atletisnya di atas ranjang.

Ia memijat keningnya yang berdenyut, sembari menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk.

Hasrat yang tadi sempat membuncah kini meninggalkan rasa pegal di area pangkal paha, di mana pasak buminya masih terasa sedikit berdenyut karena tidak mendapatkan penyaluran.

'Pada aneh gitu ya para wanita di mansion ini?! Kayak pada blong remnya,' gumam Ronald pelan.

Dalam lamunannya, Ronald teringat kembali pada pertemuannya dengan Buan, satu hari sebelum berangkat ke mansion tersebut.

Pengacara senior itu sempat menggenggam bahunya dengan sangat erat sambil memberikan peringatan yang sangat serius.

"Ron, kamu harus hati-hati dan yang paling penting adalah harus tegas. Mengelola aset Pak Hermawan itu bukan cuma soal angka di kertas, tapi soal menghadapi wanita-wanita di sana. Mereka semua susah diatur.“

Mengingat pesan itu, Ronald membulatkan tekadnya.

'Aku nggak boleh lagi terbawa suasana atau bersikap terlalu lembek hanya karena godaan fisik. Aku harus pasang batasan yang jelas!' gumamnya lagi.

Ia harus menunjukkan siapa pemegang hukum tertinggi di rumah itu sekarang.

Tak lama kemudian ia akhirnya terlelap diserang rasa kantuk yang sangat kuat.

Pagi harinya, suasana mansion terasa lebih segar.

Ronald sudah bangun sejak pagi, melakukan rutinitas latihan fisiknya, dan kini sudah mandi serta berpakaian rapi.

Ia mengenakan kemeja putih bersih yang dibalut jas abu-abu tua yang pas di tubuhnya, menonjolkan bahunya yang lebar dan dadanya yang bidang.

Penampilannya benar-benar mencerminkan seorang pria kelas atas yang berwibawa.

Baru saja ia melangkah keluar dari ruang kerja, ia berpapasan dengan Citra di koridor.

"Mau ke mana pagi-pagi udah rapi banget begini, Ron?" tanya Citra, menghentikan langkahnya.

Hari itu, Citra tampil sangat mempesona dengan dress selutut berwarna putih bersih.

Bahannya sangat ringan dan berpotongan agak longgar, namun setiap kali angin dari jendela koridor berhembus, kain itu menempel pada tubuhnya dan memperlihatkan lekuk bulatan sekal miliknya yang sangat indah.

Meskipun terlihat anggun dan berkelas, aura sensualitas tetap terpancar kuat dari cara Citra berdiri yang menonjolkan keindahan bentuk tubuhnya.

"Aku cuma mau keliling, mau lihat perkebunan mendiang Pak Hermawan di sekitar mansion ini. Aku harus tahu batas-batas lahan dan kondisinya secara langsung," jawab Ronald dengan nada yang lebih tegas dari biasanya.

Citra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat tulus namun menyimpan rasa ingin tahu yang besar.

Ia merapikan sedikit kerah jas Ronald dengan gerakan yang sangat alami, membuat aroma wangi tubuhnya sekilas tercium oleh Ronald.

"Kebetulan aku lagi nggak ada acara pagi ini. Mau aku temani keliling? Aku dulu paling suka kalau nemenin ayah ke perkebunan," tawar Citra sambil menatap mata Ronald dalam-dalam.

"Boleh, kebetulan aku memang butuh penunjuk jalan supaya nggak nyasar di lahan seluas ini," jawab Ronald sambil mengangguk setuju.

Keduanya segera melangkah menuruni tangga utama yang megah dan berjalan menuju halaman samping mansion yang sangat luas.

Matahari pagi yang masih hangat menyinari wajah mereka, memberikan kilau pada dress putih yang dikenakan Citra.

Setibanya di area parkir, Ronald menuju ke arah sebuah mobil offroad bertipe Jeep terbuka yang gagah.

Ronald segera melompat ke kursi pengemudi, sementara Citra naik ke kursi penumpang dengan sedikit mengangkat ujung gaunnya agar tidak tersangkut.

Tindakan sederhana itu sempat memperlihatkan sekilas area paha dalamnya yang putih bersih, membuat pandangan Ronald berdesir.

Citra menatapnya sejenak. “Kamu ngintipin aku lagi, Ron?!“

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   7. Melihat Kondisi Perkebunan

    "Loh, kok kamu balik lagi, Citra?" Ronald membuka pintu dengan gerakan cepat setelah merapikan celananya yang berantakan. Ia tampak berusaha mengatur napasnya agar kembali teratur. Citra tidak langsung menjawab. Matanya melirik melewati bahu Ronald, menembus ruangan hingga menangkap sosok Arumi yang sedang duduk di tepi meja kerja sambil merapikan daster satinnya yang kusut. Keadaan Arumi yang tampak berantakan dengan rambut sedikit acak-acakan sudah cukup menjelaskan apa yang hampir saja terjadi di dalam sana. "Jepit rambutku ketinggalan di dalam, kayaknya jatuh pas tadi kita lagi asyik," jawab Citra sengaja memperdengarkannya pada Arumi. Ia melangkah masuk, melewati Ronald begitu saja. Matanya kembali tertuju pada Arumi. Sambil memungut jepit rambut kecil dari lantai, Citra menatap mantan istri muda dari mendiang ayah tirinya itu dengan tatapan dingin. "Sebaiknya kalian berdua itu tidur aja, istirahat yang bener. Jangan diskusi terus malam-malam begini, nanti malah jadi k

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   6. Wasit Gulat

    “Jangan biasa mikir picik mulu deh, Kak. Dikit-dikit nuduh, dikit-dikit curiga. Padahal aku ini adikmu sendiri,” bantah Citra merasa tersinggung. Bianca hanya menatap datar ke arah Citra tanpa terpancing sedikitpun. “Demi uang, saudara bisa jadi lawan, kerabat bisa jadi saingan. Sori ya, Citra, aku nggak bisa percaya seratus persen sama semua orang di sini!“ Wajah Citra berubah kaku begitu mendengarnya. “Kalau nggak percaya sama aku, ngapain nyariin aku? Ngapain penasaran sama urusanku? Apa jangan-jangan kamu juga pengen dapet warisan lebih banyak?!“ sinisnya dengan nada suara meningkat. Bianca masih merasa tak terima. “Citra! Kenapa kamu sekarang mulai berani ngebantah aku sejak pria asing ini datang?“ tanyanya dengan kening berkerut. Citra tersenyum sumbang tanpa suara. “Aku biasa aja kok, nggak ada yang berubah. Kamu tuh, Kak, justru makin kesini makin aneh dah!“ Bianca justru mendengus kasar, melipat tangan di bawah bukit indahnya yang sekal hingga menyembul dari balik

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   5. Saling Curiga

    Ronald menoleh dan mendapati Citra yang menempelkan dada dengan lembut ke punggungnya.“Aku kan udah ngomong tadi, Ron. Wanita disini itu pada susah diatur. Kamu tahu sendiri 'kan sekarang?!“ ucap Citra sembari mengelus dada Ronald. “Pokoknya di sini itu harus ekstra sabar,” imbuhnya.Emosi di dada Ronald seketika turun drastis, bukan karena perkataan Citra, tapi karena rasa nikmat yang mulai menjalar dari gesekan dada kenyal Citra.Begitu melihat Ronald yang kembali tenang, Citra segera melepaskan dekapannya.“Kamu belum makan malam loh, Ron. Mau kubawakan ke sini?“ tawar Citra kembali memberikan perhatiannya.Ronald hanya mengangguk tipis.Citra pun pergi mengambilkan makanan untuk Ronald.Tak lama berselang, gadis cantik itu kembali datang dengan nampan di tangan.“Mau makan sendiri apa disuapin nih?“ goda Citra berusaha mencairkan suasana.Ronald tersenyum. “Sekali-kali kayaknya boleh juga disuapin sama cewek secantik kamu,” jawab Ronald yang mulai kembali dalam mode 'serigala hau

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   4. Upaya Mendisiplinkan

    Ronald tak mampu menjawab. Matanya terkunci pada paras cantik Citra yang memabukkan.Pikirannya juga terkunci pada sensasi empuk semriwing yang ditimbulkan oleh gesekan dada Citra.Citra dengan tenang mulai berani mendekatkan wajahnya, mengecup ringan bibir Ronald.Cupp!Ronald pun tak tinggal diam. Ia menyambut kecupan itu dan memberikan respon positif.Ia dengan penuh hasrat mengimbangi permainan bibir Citra untuk saling bertukar saliva, membelitkan lidah.“Ehmmm, Ronald,” lenguhan Citra mulai terdengar di sela-sela pertalian lidah keduanya.Tangan Ronald yang tergantung bebas segera bergerak ke belakang tubuh Citra, meraih bongkahan pejal di bawah pinggul gadis cantik tersebut dan mulai memainkan peran.Tubuh Citra sedikit tersentak tatkala tangan besar mantan tentara itu menimbulkan sensasi geli di area belakang tubuhnya.Deru napas keduanya semakin memburu meresapi sensasi yang tercipta. Ciuman meningkat semakin dalam dan menggelora.“Ohhhh, mmmh, Ronald,” desahan Citra berpadu

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   3. Fakta Baru

    Ronald tercengang. Baru saja ia 'bermain singkat' dengan Arumi, dan sekarang Diana mengajak masuk ke kamarnya?“Apa maksud kamu, Diana? Obrolan penting macam apa yang harus dilakukan di dalam kamar seorang janda?“ tanya Ronald penasaran.Diana langsung tergagap mendapati tatapan tajam Ronald. “Oh, anu…. aku, aku hanya ingin lebih privasi biar nggak di dengar yang lainnya,” jawabnya terbata.Ronald semakin tajam menatap. “Di ruangan kerjaku kurang privasi?“ sindir Ronald.Diana menunduk. “Bu-bukan begitu, maksudku—”“Diana! Bukankah hari ini tugasmu mengawasi koki keluarga? Kenapa kamu justru asyik ngobrol sama Ronald? Kamu mau merayunya ya?“ suara lembut namun tajam Arumi menyela.Diana reflek mundur satu langkah. “K-kak Arumi, aku hanya menyapa dia sebentar,” balas Diana berbohong.Tanpa menunggu pertanyaan memojokkan berikutnya dari Arumi, Diana langsung balik badan dan melangkah menuju dapur.Ronald menemukan ada sedikit kejanggalan pada Diana. 'Diana kayak lagi nyembunyiin sesuatu

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   2. Keunikan Para Penghuninya

    “Hanya tegur sapa biasa. Nggak ada yang penting,” jawab Ronald datar, tanpa merasa tertekan oleh intimidasi yang ditunjukkan gadis berusia dua puluh tiga tahun tersebut.“Aku tekanin ya, jangan terlalu baik sama wanita itu. Dia itu rubah yang pinter bermain lidah!“ ucap Bianca tegas dan sengit.Meski cantik, Bianca memiliki karakter liar dan temperamental. Anak tiri sulung Hermawan itu selalu memusuhi Hermawan dan semua orang di rumah itu, kecuali mendiang ibu kandungnya.“Nggak ada yang boleh mengintervensi aku, Bianca. Aku adalah hukum di mansion ini!“ tepis Ronald berusaha terlihat teguh.“Oh, jadi kamu merasa sok paling berkuasa di mansion ini sekarang ya? Bagus banget!“ Bianca tersenyum sinis. “Tapi satu yang perlu kau tahu, Ronald. Kamu cuma alat dari Hermawan busuk itu. Kamu nggak akan bisa bikin aku tunduk!“ sentak Bianca, kemudian melangkah lebar meninggalkan ruangan tersebut.'Wow! Menarik banget. Baru sehari di sini tapi udah ketemu dua wanita unik. Nanti, wanita macam apa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status