Share

5. Saling Curiga

Penulis: Leva Lorich
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-17 13:26:14

Ronald menoleh dan mendapati Citra yang menempelkan dada dengan lembut ke punggungnya.

“Aku kan udah ngomong tadi, Ron. Wanita disini itu pada susah diatur. Kamu tahu sendiri 'kan sekarang?!“ ucap Citra sembari mengelus dada Ronald. “Pokoknya di sini itu harus ekstra sabar,” imbuhnya.

Emosi di dada Ronald seketika turun drastis, bukan karena perkataan Citra, tapi karena rasa nikmat yang mulai menjalar dari gesekan dada kenyal Citra.

Begitu melihat Ronald yang kembali tenang, Citra segera melepaskan dekapannya.

“Kamu belum makan malam loh, Ron. Mau kubawakan ke sini?“ tawar Citra kembali memberikan perhatiannya.

Ronald hanya mengangguk tipis.

Citra pun pergi mengambilkan makanan untuk Ronald.

Tak lama berselang, gadis cantik itu kembali datang dengan nampan di tangan.

“Mau makan sendiri apa disuapin nih?“ goda Citra berusaha mencairkan suasana.

Ronald tersenyum. “Sekali-kali kayaknya boleh juga disuapin sama cewek secantik kamu,” jawab Ronald yang mulai kembali dalam mode 'serigala haus darah'

Citra mengangguk dan mengajak Ronald untuk duduk di kursi sofa ruangan itu.

Ia sejenak kembali ke pintu untuk menutup dan menguncinya.

Clak!

Suara putaran kunci terdengar sangat merdu di telinga Ronald seolah sebagai tanda bahwa kondisi setelahnya akan menjadi 'aman'.

Citra mendekat, menyentuh bahu Ronald, kemudian dengan lembut duduk menyamping di atas pangkuannya.

“Disuapin dari pangkuan kayak gini belum pernah kan?!“ tanya Citra dengan suara sendu menggoda.

“Be-belum, iya, belum pernah,” Ronald tergagap karena tak menyangka jika Citra akan melakukan hal itu.

Citra pun dengan telaten mulai menyuapkan sendok demi sendok makanan ke mulut Ronald.

Sesekali, saat menyuapkan sendoknya, ia juga mengecup lembut pipi Ronald.

Ronald menjadi melayang merasakan sensasi aneh dari sesi makan malam unik tersebut. Ia pun dengan perlahan mulai mengelus paha putih Citra yang berada di pangkuannya.

“Oh, lauknya sampai lupa!“ pekik rendah Citra sembari meraih potongan ayam dari piring.

Namun, alih-alih menyuapkan seperti sebelumnya, ia justru meletakkan potongan ayam itu dalam jepitan bibirnya.

“Hmmm,” ia pun menyuapkannya menggunakan bibir.

Ronald menerimanya dengan senang hati. Ia menerima suapan potongan ayam itu sembari menyesap beberapa saat bibir Citra.

“Enakk, Ronnn?“ tanya Citra dengan nada bercampur desahan.

“Hmm, enak. Bibir kamu ternyata juga kayak ada manis-manisnya gitu,” Ronald membalas godaan Citra.

Perlahan tapi pasti makanan dari piring sudah berpindah semuanya ke dalam perut Ronald.

Citra bangkit sejenak dari pangkuan, mengambil gelas minum untuk Ronald. “Mau minum ini… apa ini?“ matanya memberi isyarat ke arah gelas, namun ia juga menggoyangkan bagian dadanya dengan ambigu.

“Yang di gelas aja dulu, Tra. Kalau langsung ke pabriknya nanti malah jadi bau ayam goreng,” Ronald menggoyangkan alisnya.

Citra tersenyum menatap Ronald yang semakin bisa akrab dengannya.

Iapun kembali menekankan buah pantat sekalnya di atas pangkuan Ronald sembari memberikan gelas air minum.

Ronald menerima dengan senang hati dan langsung menenggaknya hingga habis tandas.

Baru saja Ronald menurunkan gelas dari bibirnya, bibir Citra sudah menyusul dan langsung menempel pada bibirnya.

Merekapun kembali terlibat dalam permainan bibir yang nikmat dan jauh lebih panas daripada sebelumnya.

Lidah Citra terjulur, mencari celah diantara bibir dan deretan gigi rapi Ronald.

Mendapati itu, Ronald dengan sigap melakukan sedotan lembut menyambut lidah Citra.

Mata Citra seketika terpejam merasakan sensasi nikmat dari kuluman bibir Ronald pada lidahnya.

Tangan Ronald juga dengan santai menekan sisi luar dada besar Citra, memainkannya dengan genggaman yang ringan dan nyaman.

Citra sejenak menarik wajahnya dari bibir Ronald. “Langsung pegang dari dalam aja, Ron,” pintanya sambil melonggarkan bagian bawah pakaiannya untuk akses tangan kekar Ronald.

Tangan Ronald mengikuti permintaan tersebut. Dari lipatan bawah pakaian Citra, Ronald mulai bisa merasakan kelembutan kulit perut Citra yang seperti kapas.

Namun saat tangannya semakin bergerak naik untuk mencari celah dari penyangga dada Citra, mereka dikejutkan dengan suara ketukan dari luar pintu ruangan tersebut.

Tok!

Tok!

Tok!

Keduanya tersentak dan segera menarik wajah masing-masing.

Citra melompat kesal dari pangkuan Ronald. “Siapa sih? Gangguin aja!“ sungutnya.

Ronald berdiri dari kursinya dan melangkah untuk membukakan pintu.

Saat daun pintu ruangan itu terbuka, di depan sana sudah berdiri Bianca dengan tatapan penuh kecurigaan.

“Citra, ngapain kamu di sini sama orang asing ini?!“ sentak Bianca sengit.

Citra berjalan tenang menyusul ke depan pintu. “Kamu nggak lihat nampan sama piring kosong di meja itu, Kak? Aku habis nganterin makan buat Ronald. Gara-gara kamu tadi, dia sampai belum makan!“

Bianca mendengus. “Salah siapa baperan?! Gitu aja ngamuk, mogok makan! Kolokan banget!“ sinisnya.

“Bianca, kalau kamu ke sini cuma buat menghina aku, mending balik kamar sana deh!“ ucap Ronald datar.

“Yee, GR banget dah! Aku ke sini cuma mau nyariin adikku. Ayo, Citra, jangan lama-lama di sini. Kamu nanti ketularan miskin kayak dia,” ajak Bianca sambil menarik tangan Citra, adiknya.

“Nggak ah, Kak. Aku masih ada perlu sama Ronald!“ tolak Citra sembari mengibaskan tangannya yang digenggam Bianca.

Bianca jelas tak terima. “Ada perlu apa emangnya? Kamu mau potong kompas buat dekatin dia biar dapet bagian warisan lebih banyak?“

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   7. Melihat Kondisi Perkebunan

    "Loh, kok kamu balik lagi, Citra?" Ronald membuka pintu dengan gerakan cepat setelah merapikan celananya yang berantakan. Ia tampak berusaha mengatur napasnya agar kembali teratur. Citra tidak langsung menjawab. Matanya melirik melewati bahu Ronald, menembus ruangan hingga menangkap sosok Arumi yang sedang duduk di tepi meja kerja sambil merapikan daster satinnya yang kusut. Keadaan Arumi yang tampak berantakan dengan rambut sedikit acak-acakan sudah cukup menjelaskan apa yang hampir saja terjadi di dalam sana. "Jepit rambutku ketinggalan di dalam, kayaknya jatuh pas tadi kita lagi asyik," jawab Citra sengaja memperdengarkannya pada Arumi. Ia melangkah masuk, melewati Ronald begitu saja. Matanya kembali tertuju pada Arumi. Sambil memungut jepit rambut kecil dari lantai, Citra menatap mantan istri muda dari mendiang ayah tirinya itu dengan tatapan dingin. "Sebaiknya kalian berdua itu tidur aja, istirahat yang bener. Jangan diskusi terus malam-malam begini, nanti malah jadi k

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   6. Wasit Gulat

    “Jangan biasa mikir picik mulu deh, Kak. Dikit-dikit nuduh, dikit-dikit curiga. Padahal aku ini adikmu sendiri,” bantah Citra merasa tersinggung. Bianca hanya menatap datar ke arah Citra tanpa terpancing sedikitpun. “Demi uang, saudara bisa jadi lawan, kerabat bisa jadi saingan. Sori ya, Citra, aku nggak bisa percaya seratus persen sama semua orang di sini!“ Wajah Citra berubah kaku begitu mendengarnya. “Kalau nggak percaya sama aku, ngapain nyariin aku? Ngapain penasaran sama urusanku? Apa jangan-jangan kamu juga pengen dapet warisan lebih banyak?!“ sinisnya dengan nada suara meningkat. Bianca masih merasa tak terima. “Citra! Kenapa kamu sekarang mulai berani ngebantah aku sejak pria asing ini datang?“ tanyanya dengan kening berkerut. Citra tersenyum sumbang tanpa suara. “Aku biasa aja kok, nggak ada yang berubah. Kamu tuh, Kak, justru makin kesini makin aneh dah!“ Bianca justru mendengus kasar, melipat tangan di bawah bukit indahnya yang sekal hingga menyembul dari balik

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   5. Saling Curiga

    Ronald menoleh dan mendapati Citra yang menempelkan dada dengan lembut ke punggungnya.“Aku kan udah ngomong tadi, Ron. Wanita disini itu pada susah diatur. Kamu tahu sendiri 'kan sekarang?!“ ucap Citra sembari mengelus dada Ronald. “Pokoknya di sini itu harus ekstra sabar,” imbuhnya.Emosi di dada Ronald seketika turun drastis, bukan karena perkataan Citra, tapi karena rasa nikmat yang mulai menjalar dari gesekan dada kenyal Citra.Begitu melihat Ronald yang kembali tenang, Citra segera melepaskan dekapannya.“Kamu belum makan malam loh, Ron. Mau kubawakan ke sini?“ tawar Citra kembali memberikan perhatiannya.Ronald hanya mengangguk tipis.Citra pun pergi mengambilkan makanan untuk Ronald.Tak lama berselang, gadis cantik itu kembali datang dengan nampan di tangan.“Mau makan sendiri apa disuapin nih?“ goda Citra berusaha mencairkan suasana.Ronald tersenyum. “Sekali-kali kayaknya boleh juga disuapin sama cewek secantik kamu,” jawab Ronald yang mulai kembali dalam mode 'serigala hau

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   4. Upaya Mendisiplinkan

    Ronald tak mampu menjawab. Matanya terkunci pada paras cantik Citra yang memabukkan.Pikirannya juga terkunci pada sensasi empuk semriwing yang ditimbulkan oleh gesekan dada Citra.Citra dengan tenang mulai berani mendekatkan wajahnya, mengecup ringan bibir Ronald.Cupp!Ronald pun tak tinggal diam. Ia menyambut kecupan itu dan memberikan respon positif.Ia dengan penuh hasrat mengimbangi permainan bibir Citra untuk saling bertukar saliva, membelitkan lidah.“Ehmmm, Ronald,” lenguhan Citra mulai terdengar di sela-sela pertalian lidah keduanya.Tangan Ronald yang tergantung bebas segera bergerak ke belakang tubuh Citra, meraih bongkahan pejal di bawah pinggul gadis cantik tersebut dan mulai memainkan peran.Tubuh Citra sedikit tersentak tatkala tangan besar mantan tentara itu menimbulkan sensasi geli di area belakang tubuhnya.Deru napas keduanya semakin memburu meresapi sensasi yang tercipta. Ciuman meningkat semakin dalam dan menggelora.“Ohhhh, mmmh, Ronald,” desahan Citra berpadu

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   3. Fakta Baru

    Ronald tercengang. Baru saja ia 'bermain singkat' dengan Arumi, dan sekarang Diana mengajak masuk ke kamarnya?“Apa maksud kamu, Diana? Obrolan penting macam apa yang harus dilakukan di dalam kamar seorang janda?“ tanya Ronald penasaran.Diana langsung tergagap mendapati tatapan tajam Ronald. “Oh, anu…. aku, aku hanya ingin lebih privasi biar nggak di dengar yang lainnya,” jawabnya terbata.Ronald semakin tajam menatap. “Di ruangan kerjaku kurang privasi?“ sindir Ronald.Diana menunduk. “Bu-bukan begitu, maksudku—”“Diana! Bukankah hari ini tugasmu mengawasi koki keluarga? Kenapa kamu justru asyik ngobrol sama Ronald? Kamu mau merayunya ya?“ suara lembut namun tajam Arumi menyela.Diana reflek mundur satu langkah. “K-kak Arumi, aku hanya menyapa dia sebentar,” balas Diana berbohong.Tanpa menunggu pertanyaan memojokkan berikutnya dari Arumi, Diana langsung balik badan dan melangkah menuju dapur.Ronald menemukan ada sedikit kejanggalan pada Diana. 'Diana kayak lagi nyembunyiin sesuatu

  • Memberi Jatah Para Pewaris Cantik   2. Keunikan Para Penghuninya

    “Hanya tegur sapa biasa. Nggak ada yang penting,” jawab Ronald datar, tanpa merasa tertekan oleh intimidasi yang ditunjukkan gadis berusia dua puluh tiga tahun tersebut.“Aku tekanin ya, jangan terlalu baik sama wanita itu. Dia itu rubah yang pinter bermain lidah!“ ucap Bianca tegas dan sengit.Meski cantik, Bianca memiliki karakter liar dan temperamental. Anak tiri sulung Hermawan itu selalu memusuhi Hermawan dan semua orang di rumah itu, kecuali mendiang ibu kandungnya.“Nggak ada yang boleh mengintervensi aku, Bianca. Aku adalah hukum di mansion ini!“ tepis Ronald berusaha terlihat teguh.“Oh, jadi kamu merasa sok paling berkuasa di mansion ini sekarang ya? Bagus banget!“ Bianca tersenyum sinis. “Tapi satu yang perlu kau tahu, Ronald. Kamu cuma alat dari Hermawan busuk itu. Kamu nggak akan bisa bikin aku tunduk!“ sentak Bianca, kemudian melangkah lebar meninggalkan ruangan tersebut.'Wow! Menarik banget. Baru sehari di sini tapi udah ketemu dua wanita unik. Nanti, wanita macam apa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status