LOGIN“Hanya tegur sapa biasa. Nggak ada yang penting,” jawab Ronald datar, tanpa merasa tertekan oleh intimidasi yang ditunjukkan gadis berusia dua puluh tiga tahun tersebut.
“Aku tekanin ya, jangan terlalu baik sama wanita itu. Dia itu rubah yang pinter bermain lidah!“ ucap Bianca tegas dan sengit. Meski cantik, Bianca memiliki karakter liar dan temperamental. Anak tiri sulung Hermawan itu selalu memusuhi Hermawan dan semua orang di rumah itu, kecuali mendiang ibu kandungnya. “Nggak ada yang boleh mengintervensi aku, Bianca. Aku adalah hukum di mansion ini!“ tepis Ronald berusaha terlihat teguh. “Oh, jadi kamu merasa sok paling berkuasa di mansion ini sekarang ya? Bagus banget!“ Bianca tersenyum sinis. “Tapi satu yang perlu kau tahu, Ronald. Kamu cuma alat dari Hermawan busuk itu. Kamu nggak akan bisa bikin aku tunduk!“ sentak Bianca, kemudian melangkah lebar meninggalkan ruangan tersebut. 'Wow! Menarik banget. Baru sehari di sini tapi udah ketemu dua wanita unik. Nanti, wanita macam apa lagi yang dateng?!' gumam Ronald sambil menatap lapar pada bagian padat di belakang Bianca yang bergoyang ritmik setiap kali tungkai kakinya melangkah menuju pintu. Tak berselang lama, Ronald berdiri dan melangkah keluar dari ruangannya. Ia masuk ke kamar yang disediakan untuknya. Ronald beranjak mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang penat. Usai mandi, hanya dengan berbalut handuk di pinggang ia melangkah keluar kamar mandi, namun— Bruk! Tubuhnya menabrak seseorang yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi itu. Sesuatu yang kenyal dan besar terasa menempel di dada Ronald. “Bu Arumi, kenapa kamu ada di sini?!“ “Oh, maaf, Ronald. Karena pintu kamarmu agak kebuka dikit, jadi kupikir tidak apa-apa masuk,” Arumi mendongak menatap wajah tampan Ronald dari jarak yang sangat dekat. Ronald baru tersadar. Posisi mereka saat itu masih saling berpelukan pasca benturan tadi. Dada mereka saling menempel, tangan kekar Ronald menggenggam erat dua bulatan belakang Arumi, mempertahankan posisi agar mereka tak terjatuh. “Ah, maaf,” Ronald segera melepaskan tangannya dan mundur. Namun tatapan mata Arumi justru terkunci ke arah bawah, tak berkedip. “Gede banget, Ronald!“ lirih Arumi spontan. Ronald segera mengikuti arah pandangan mata Arumi. Seketika mata Ronald melotot kaget. Handuknya sudah luruh ke lantai. Bagian paling pribadinya terekspos dengan jelas! Lebih parahnya lagi, karena efek pelukan dan gesekan benda kenyal milik Arumi sebelumnya, membuat bilah pedang pembunuh naga itu menegang dan mengangguk-angguk gagah di bawah sana. 'Sial!' Ronald cepat-cepat berjongkok meraih handuknya dan menutup bagian terpentingnya lagi. “Bu Arumi, itu tadi… hanya kesalahan teknis,” Ronald berusaha menutupi kegugupannya. Arumi tetap diam, mematung. “Kesalahan teknis tapi kok bisa bikin punya kamu tegak berdiri ya?“ goda Arumi kemudian. Ronald membeku, bingung menjawab apa. Arumi dengan santainya justru duduk di bibir ranjang kamar Ronald, membuat paha putihnya kembali terlihat. “Mulut kamu mungkin bisa berbohong, Ronald. Tapi pedang kamu, dia sangat jujur,” Arumi terkikik rendah. Matanya tetap tertuju ke bagian milik Ronald yang sudah kembali tertutup handuk. Ronald semakin frustasi. Pedang pembunuh naga miliknya semakin tegak membentuk gundukan tinggi di balik handuknya. “Bu, tolong jangan mengundang! Aku bisa lebih buas dari harimau,” ucap Ronald yang semakin kuwalahan mengendalikan hasratnya. Arumi tersenyum genit. “Aww, takut! Harimau tampan, terkam aku dong!“ godanya semakin berani. Ronald yang sudah tak mampu lagi menahan segera melangkah lebar dan menerjang tubuh Arumi. Tubuhnya meninding kuat mantan istri muda Hermawan tersebut. Tanpa basa-basi Ronald langsung melumat bibir Arumi dengan buas. Arumi dengan senang hati meladeninya. Lidah mereka saling membelit. Ciuman itu berlangsung panas beberapa saat. Tangan kekar Ronald mulai berani turun, menekan bagian dada Arumi yang masih tertutup pakaian. “Ehmmm!“ Arumi melenguh ringan saat merasakan permainan tangan tersebut pada bukitnya. Namun saat milik Ronald yang berada di balik handuk mulai menekan bagian terdalamnya, Arumi mendorong tubuh Ronald dan bangkit. “Suasana masih sore, Ronald. Kita bisa menikmatinya lain waktu. Aku khawatir ada anggota keluarga lain yang mendengarnya,” ucap Arumi dengan tatapan yang masih sayu. Ronald tersadar dan memahami keadaan tersebut. Ia pun bergeser dan duduk di tepi ranjang dengan napas masih memburu. Arumi kemudian berdiri, balik badan dan melangkah keluar dengan lesu. Ia sesekali masih melirik tubuh atletis Ronald. Ronald segera berpakaian, kemudian melangkah keluar dari kamar menuju ruang kerjanya. Seorang wanita lain muncul. Dia adalah Diana, adik ipar Hermawan yang sudah ditinggal mati suaminya. “Ronald, tunggu!“ ucap wanita berparas cantik berusia dua puluh tujuh tahun tersebut. Langkah Ronald terhenti dan menatap tajam ke arah Diana. “Kamu Diana, kan? Adik ipar Pak Hermawan?!” tanyanya memastikan. Diana mengangguk sopan. “Iya benar, aku Diana.“ “Ada apa, Diana?“ lanjut Ronald penasaran. Diana menoleh ke kanan dan kiri memastikan tak ada orang lain yang memperhatikannya. “Aku ingin ngobrol berdua, bisa?“ Ronald mengangguk tipis. “Ikut ke ruanganku,” ajaknya singkat. Namun Diana menggeleng cepat. “Disana tidak aman. Bagaimana kalau ke kamarku saja?“ ucapnya tanpa sungkan."Loh, kok kamu balik lagi, Citra?" Ronald membuka pintu dengan gerakan cepat setelah merapikan celananya yang berantakan. Ia tampak berusaha mengatur napasnya agar kembali teratur. Citra tidak langsung menjawab. Matanya melirik melewati bahu Ronald, menembus ruangan hingga menangkap sosok Arumi yang sedang duduk di tepi meja kerja sambil merapikan daster satinnya yang kusut. Keadaan Arumi yang tampak berantakan dengan rambut sedikit acak-acakan sudah cukup menjelaskan apa yang hampir saja terjadi di dalam sana. "Jepit rambutku ketinggalan di dalam, kayaknya jatuh pas tadi kita lagi asyik," jawab Citra sengaja memperdengarkannya pada Arumi. Ia melangkah masuk, melewati Ronald begitu saja. Matanya kembali tertuju pada Arumi. Sambil memungut jepit rambut kecil dari lantai, Citra menatap mantan istri muda dari mendiang ayah tirinya itu dengan tatapan dingin. "Sebaiknya kalian berdua itu tidur aja, istirahat yang bener. Jangan diskusi terus malam-malam begini, nanti malah jadi k
“Jangan biasa mikir picik mulu deh, Kak. Dikit-dikit nuduh, dikit-dikit curiga. Padahal aku ini adikmu sendiri,” bantah Citra merasa tersinggung. Bianca hanya menatap datar ke arah Citra tanpa terpancing sedikitpun. “Demi uang, saudara bisa jadi lawan, kerabat bisa jadi saingan. Sori ya, Citra, aku nggak bisa percaya seratus persen sama semua orang di sini!“ Wajah Citra berubah kaku begitu mendengarnya. “Kalau nggak percaya sama aku, ngapain nyariin aku? Ngapain penasaran sama urusanku? Apa jangan-jangan kamu juga pengen dapet warisan lebih banyak?!“ sinisnya dengan nada suara meningkat. Bianca masih merasa tak terima. “Citra! Kenapa kamu sekarang mulai berani ngebantah aku sejak pria asing ini datang?“ tanyanya dengan kening berkerut. Citra tersenyum sumbang tanpa suara. “Aku biasa aja kok, nggak ada yang berubah. Kamu tuh, Kak, justru makin kesini makin aneh dah!“ Bianca justru mendengus kasar, melipat tangan di bawah bukit indahnya yang sekal hingga menyembul dari balik
Ronald menoleh dan mendapati Citra yang menempelkan dada dengan lembut ke punggungnya.“Aku kan udah ngomong tadi, Ron. Wanita disini itu pada susah diatur. Kamu tahu sendiri 'kan sekarang?!“ ucap Citra sembari mengelus dada Ronald. “Pokoknya di sini itu harus ekstra sabar,” imbuhnya.Emosi di dada Ronald seketika turun drastis, bukan karena perkataan Citra, tapi karena rasa nikmat yang mulai menjalar dari gesekan dada kenyal Citra.Begitu melihat Ronald yang kembali tenang, Citra segera melepaskan dekapannya.“Kamu belum makan malam loh, Ron. Mau kubawakan ke sini?“ tawar Citra kembali memberikan perhatiannya.Ronald hanya mengangguk tipis.Citra pun pergi mengambilkan makanan untuk Ronald.Tak lama berselang, gadis cantik itu kembali datang dengan nampan di tangan.“Mau makan sendiri apa disuapin nih?“ goda Citra berusaha mencairkan suasana.Ronald tersenyum. “Sekali-kali kayaknya boleh juga disuapin sama cewek secantik kamu,” jawab Ronald yang mulai kembali dalam mode 'serigala hau
Ronald tak mampu menjawab. Matanya terkunci pada paras cantik Citra yang memabukkan.Pikirannya juga terkunci pada sensasi empuk semriwing yang ditimbulkan oleh gesekan dada Citra.Citra dengan tenang mulai berani mendekatkan wajahnya, mengecup ringan bibir Ronald.Cupp!Ronald pun tak tinggal diam. Ia menyambut kecupan itu dan memberikan respon positif.Ia dengan penuh hasrat mengimbangi permainan bibir Citra untuk saling bertukar saliva, membelitkan lidah.“Ehmmm, Ronald,” lenguhan Citra mulai terdengar di sela-sela pertalian lidah keduanya.Tangan Ronald yang tergantung bebas segera bergerak ke belakang tubuh Citra, meraih bongkahan pejal di bawah pinggul gadis cantik tersebut dan mulai memainkan peran.Tubuh Citra sedikit tersentak tatkala tangan besar mantan tentara itu menimbulkan sensasi geli di area belakang tubuhnya.Deru napas keduanya semakin memburu meresapi sensasi yang tercipta. Ciuman meningkat semakin dalam dan menggelora.“Ohhhh, mmmh, Ronald,” desahan Citra berpadu
Ronald tercengang. Baru saja ia 'bermain singkat' dengan Arumi, dan sekarang Diana mengajak masuk ke kamarnya?“Apa maksud kamu, Diana? Obrolan penting macam apa yang harus dilakukan di dalam kamar seorang janda?“ tanya Ronald penasaran.Diana langsung tergagap mendapati tatapan tajam Ronald. “Oh, anu…. aku, aku hanya ingin lebih privasi biar nggak di dengar yang lainnya,” jawabnya terbata.Ronald semakin tajam menatap. “Di ruangan kerjaku kurang privasi?“ sindir Ronald.Diana menunduk. “Bu-bukan begitu, maksudku—”“Diana! Bukankah hari ini tugasmu mengawasi koki keluarga? Kenapa kamu justru asyik ngobrol sama Ronald? Kamu mau merayunya ya?“ suara lembut namun tajam Arumi menyela.Diana reflek mundur satu langkah. “K-kak Arumi, aku hanya menyapa dia sebentar,” balas Diana berbohong.Tanpa menunggu pertanyaan memojokkan berikutnya dari Arumi, Diana langsung balik badan dan melangkah menuju dapur.Ronald menemukan ada sedikit kejanggalan pada Diana. 'Diana kayak lagi nyembunyiin sesuatu
“Hanya tegur sapa biasa. Nggak ada yang penting,” jawab Ronald datar, tanpa merasa tertekan oleh intimidasi yang ditunjukkan gadis berusia dua puluh tiga tahun tersebut.“Aku tekanin ya, jangan terlalu baik sama wanita itu. Dia itu rubah yang pinter bermain lidah!“ ucap Bianca tegas dan sengit.Meski cantik, Bianca memiliki karakter liar dan temperamental. Anak tiri sulung Hermawan itu selalu memusuhi Hermawan dan semua orang di rumah itu, kecuali mendiang ibu kandungnya.“Nggak ada yang boleh mengintervensi aku, Bianca. Aku adalah hukum di mansion ini!“ tepis Ronald berusaha terlihat teguh.“Oh, jadi kamu merasa sok paling berkuasa di mansion ini sekarang ya? Bagus banget!“ Bianca tersenyum sinis. “Tapi satu yang perlu kau tahu, Ronald. Kamu cuma alat dari Hermawan busuk itu. Kamu nggak akan bisa bikin aku tunduk!“ sentak Bianca, kemudian melangkah lebar meninggalkan ruangan tersebut.'Wow! Menarik banget. Baru sehari di sini tapi udah ketemu dua wanita unik. Nanti, wanita macam apa