LOGIN“Jangan biasa mikir picik mulu deh, Kak. Dikit-dikit nuduh, dikit-dikit curiga. Padahal aku ini adikmu sendiri,” bantah Citra merasa tersinggung.
Bianca hanya menatap datar ke arah Citra tanpa terpancing sedikitpun. “Demi uang, saudara bisa jadi lawan, kerabat bisa jadi saingan. Sori ya, Citra, aku nggak bisa percaya seratus persen sama semua orang di sini!“ Wajah Citra berubah kaku begitu mendengarnya. “Kalau nggak percaya sama aku, ngapain nyariin aku? Ngapain penasaran sama urusanku? Apa jangan-jangan kamu juga pengen dapet warisan lebih banyak?!“ sinisnya dengan nada suara meningkat. Bianca masih merasa tak terima. “Citra! Kenapa kamu sekarang mulai berani ngebantah aku sejak pria asing ini datang?“ tanyanya dengan kening berkerut. Citra tersenyum sumbang tanpa suara. “Aku biasa aja kok, nggak ada yang berubah. Kamu tuh, Kak, justru makin kesini makin aneh dah!“ Bianca justru mendengus kasar, melipat tangan di bawah bukit indahnya yang sekal hingga menyembul dari balik tank top ketat yang ia kenakan. "Heh, anak kecil nggak usah sok tahu ya. Kamu yang susah dibilangin, Citra! Nggak usah mutar balikin fakta!" "UDAH TENGKARNYA?" Suara berat dan bariton itu memecah ketegangan diantara mereka berdua. Ronald Satria berdiri menatap mereka datar namun terasa menusuk. Keduanya tersentak. Mereka baru sadar jika masih ada Ronald di depan pintu ruang kerja tersebut. Citra langsung menunduk dalam, jemarinya saling bertautan dengan gelisah. "Maaf, Ronald...“ Sementara itu, Bianca hanya melengos, membuang muka ke arah lain. Bulatan kembar di dadanya naik turun dengan cepat. "Kalian berdua sebaiknya kembali ke kamar sana," ujar Ronald dengan nada tegasnya. "Jangan bikin aku makin pusing gara-gara denger kalian tengkar terus! Aku ada di sini buat ngelola kekayaan Pak Hermawan, bukan mau jadi wasit gulat!" Citra menggigit bibirnya, sebelum akhirnya melangkah lemas menuju tangga. Bianca kembali mendengus keras, memberikan tatapan tajam terakhir pada Ronald sebelum berjalan menjauh ke arah teras. Ronald menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya. Menjadi Caretaker di mansion itu ternyata jauh lebih melelahkan daripada latihan fisik di barak tentara. Ia baru saja hendak menutup pintu ketika sebuah aroma parfum melati yang sangat menyengat tiba-tiba menyeruak. "Sabar ya, Ronald. Namanya juga anak muda, temperamennya masih labil." Arumi muncul dari arah lain, berjalan dengan pinggul yang berayun menggoda. Istri muda mendiang Hermawan itu sudah berganti pakaian dan mengenakan daster yang hampir transparan. Bulatan belakangnya yang montok tercetak jelas setiap kali ia melangkah. Arumi mendekat, lalu dengan berani mendorong tubuh Ronald, lalu mengunci pintu ruang kerja tersebut. "Bu Arumi, ada perlu apa?" tanya Ronald pura-pura kaget, meski matanya tidak bisa berbohong saat melihat gumpalan daging di balik daster itu. Arumi mendekat. Ibu jarinya mengusap bibir bawah Ronald dengan gerakan menggoda, memberikan tekanan kecil dan lembut. "Aku siap buat malam ini, Ronald. Mau, kan?" bisik Arumi tepat di telinga Ronald, hembusan napas yang panas menerpa kulitnya. Ronald menggelengkan kepalanya pelan, mencoba melepaskan diri dari sentuhan tersebut. Ia menghela napas panjang. "Jangan sekarang, Bu Arumi. Aku masih repot banget ini, banyak berkas perusahaan yang harus dipelajari,” jawab Ronald dengan nada suara yang diusahakan tetap datar, meski jantungnya mulai berdegup lebih kencang saat melihat belahan gunung fujiyama Arumi yang menyembul dari balik kerah dasternya. Arumi justru terkekeh kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat genit. Bukannya menjauh, ia justru semakin mendekat, mengabaikan jarak di antara mereka. "Kerja terus bisa bikin kamu cepat tua, Ron. Lagipula, kamu itu penguasa di rumah ini sekarang. Berkas-berkas itu nggak akan lari ke mana-mana," ucap Arumi sambil menarik kerah Ronald. Arumi menarik kepala Ronald dan langsung membungkam mulutnya dengan ciuman yang sangat agresif. Bibir mereka bertautan dengan kasar, sebuah ciuman yang tidak melibatkan perasaan namun penuh dengan gairah purba. Lidah Arumi yang lincah segera menerobos masuk ke dalam rongga mulut Ronald, mengajak lidah pemuda itu untuk bertarung dalam tarian yang basah dan panas. Ronald yang awalnya berniat menolak, akhirnya menyerah pada keadaan. Tangannya yang besar merayap naik, mencengkeram pinggang ramping Arumi lalu turun drastis ke bawah, meremas bantalan peredam wanita itu yang sangat kenyal dan berisi. Arumi semakin menekan tubuhnya ke depan, hingga sepasang bulatan sekal miliknya menempel sempurna di dada bidang Ronald. Ronald bisa merasakan detak jantung Arumi yang cepat serta tekstur lembut dari kulit tubuhnya yang hanya terhalang daster. Setiap kali Arumi bergerak mengikuti irama ciuman mereka, gesekan itu semakin memicu gejolak kebangkitan pasak bumi milik Ronald di balik celananya. “Ehmmm, Ron, malam ini aku milikmu,” lenguh Arumi sambil memejamkan mata. Tangan Arumi kini turun ke bawah, dengan berani meraba area di antara paha Ronald. Ia merasakan obeng berurat milik pemuda itu sudah menegang maksimal, berdenyut-denyut menuntut haknya untuk segera dibebaskan dari kungkungan pakaian. Ukuran tongkat pemukul badak milik Ronald yang luar biasa membuat Arumi semakin bersemangat. Ia mulai mengelus benda panjang itu dari luar celana, menggerakkan tangannya naik turun dengan ritme yang membuat Ronald memejamkan mata, menahan geraman yang hampir lolos dari tenggorokannya. Namun, sebelum ada satupun pakaian mereka yang luruh, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu ruang kerja tersebut. Tok! Tok! Tok! Keduanya spontan saling menjauh kembali. Arumi tampak bersungut menahan emosinya karena gangguan itu. “Aduh! Siapa sih itu? Gangguin aja.“"Loh, kok kamu balik lagi, Citra?" Ronald membuka pintu dengan gerakan cepat setelah merapikan celananya yang berantakan. Ia tampak berusaha mengatur napasnya agar kembali teratur. Citra tidak langsung menjawab. Matanya melirik melewati bahu Ronald, menembus ruangan hingga menangkap sosok Arumi yang sedang duduk di tepi meja kerja sambil merapikan daster satinnya yang kusut. Keadaan Arumi yang tampak berantakan dengan rambut sedikit acak-acakan sudah cukup menjelaskan apa yang hampir saja terjadi di dalam sana. "Jepit rambutku ketinggalan di dalam, kayaknya jatuh pas tadi kita lagi asyik," jawab Citra sengaja memperdengarkannya pada Arumi. Ia melangkah masuk, melewati Ronald begitu saja. Matanya kembali tertuju pada Arumi. Sambil memungut jepit rambut kecil dari lantai, Citra menatap mantan istri muda dari mendiang ayah tirinya itu dengan tatapan dingin. "Sebaiknya kalian berdua itu tidur aja, istirahat yang bener. Jangan diskusi terus malam-malam begini, nanti malah jadi k
“Jangan biasa mikir picik mulu deh, Kak. Dikit-dikit nuduh, dikit-dikit curiga. Padahal aku ini adikmu sendiri,” bantah Citra merasa tersinggung. Bianca hanya menatap datar ke arah Citra tanpa terpancing sedikitpun. “Demi uang, saudara bisa jadi lawan, kerabat bisa jadi saingan. Sori ya, Citra, aku nggak bisa percaya seratus persen sama semua orang di sini!“ Wajah Citra berubah kaku begitu mendengarnya. “Kalau nggak percaya sama aku, ngapain nyariin aku? Ngapain penasaran sama urusanku? Apa jangan-jangan kamu juga pengen dapet warisan lebih banyak?!“ sinisnya dengan nada suara meningkat. Bianca masih merasa tak terima. “Citra! Kenapa kamu sekarang mulai berani ngebantah aku sejak pria asing ini datang?“ tanyanya dengan kening berkerut. Citra tersenyum sumbang tanpa suara. “Aku biasa aja kok, nggak ada yang berubah. Kamu tuh, Kak, justru makin kesini makin aneh dah!“ Bianca justru mendengus kasar, melipat tangan di bawah bukit indahnya yang sekal hingga menyembul dari balik
Ronald menoleh dan mendapati Citra yang menempelkan dada dengan lembut ke punggungnya.“Aku kan udah ngomong tadi, Ron. Wanita disini itu pada susah diatur. Kamu tahu sendiri 'kan sekarang?!“ ucap Citra sembari mengelus dada Ronald. “Pokoknya di sini itu harus ekstra sabar,” imbuhnya.Emosi di dada Ronald seketika turun drastis, bukan karena perkataan Citra, tapi karena rasa nikmat yang mulai menjalar dari gesekan dada kenyal Citra.Begitu melihat Ronald yang kembali tenang, Citra segera melepaskan dekapannya.“Kamu belum makan malam loh, Ron. Mau kubawakan ke sini?“ tawar Citra kembali memberikan perhatiannya.Ronald hanya mengangguk tipis.Citra pun pergi mengambilkan makanan untuk Ronald.Tak lama berselang, gadis cantik itu kembali datang dengan nampan di tangan.“Mau makan sendiri apa disuapin nih?“ goda Citra berusaha mencairkan suasana.Ronald tersenyum. “Sekali-kali kayaknya boleh juga disuapin sama cewek secantik kamu,” jawab Ronald yang mulai kembali dalam mode 'serigala hau
Ronald tak mampu menjawab. Matanya terkunci pada paras cantik Citra yang memabukkan.Pikirannya juga terkunci pada sensasi empuk semriwing yang ditimbulkan oleh gesekan dada Citra.Citra dengan tenang mulai berani mendekatkan wajahnya, mengecup ringan bibir Ronald.Cupp!Ronald pun tak tinggal diam. Ia menyambut kecupan itu dan memberikan respon positif.Ia dengan penuh hasrat mengimbangi permainan bibir Citra untuk saling bertukar saliva, membelitkan lidah.“Ehmmm, Ronald,” lenguhan Citra mulai terdengar di sela-sela pertalian lidah keduanya.Tangan Ronald yang tergantung bebas segera bergerak ke belakang tubuh Citra, meraih bongkahan pejal di bawah pinggul gadis cantik tersebut dan mulai memainkan peran.Tubuh Citra sedikit tersentak tatkala tangan besar mantan tentara itu menimbulkan sensasi geli di area belakang tubuhnya.Deru napas keduanya semakin memburu meresapi sensasi yang tercipta. Ciuman meningkat semakin dalam dan menggelora.“Ohhhh, mmmh, Ronald,” desahan Citra berpadu
Ronald tercengang. Baru saja ia 'bermain singkat' dengan Arumi, dan sekarang Diana mengajak masuk ke kamarnya?“Apa maksud kamu, Diana? Obrolan penting macam apa yang harus dilakukan di dalam kamar seorang janda?“ tanya Ronald penasaran.Diana langsung tergagap mendapati tatapan tajam Ronald. “Oh, anu…. aku, aku hanya ingin lebih privasi biar nggak di dengar yang lainnya,” jawabnya terbata.Ronald semakin tajam menatap. “Di ruangan kerjaku kurang privasi?“ sindir Ronald.Diana menunduk. “Bu-bukan begitu, maksudku—”“Diana! Bukankah hari ini tugasmu mengawasi koki keluarga? Kenapa kamu justru asyik ngobrol sama Ronald? Kamu mau merayunya ya?“ suara lembut namun tajam Arumi menyela.Diana reflek mundur satu langkah. “K-kak Arumi, aku hanya menyapa dia sebentar,” balas Diana berbohong.Tanpa menunggu pertanyaan memojokkan berikutnya dari Arumi, Diana langsung balik badan dan melangkah menuju dapur.Ronald menemukan ada sedikit kejanggalan pada Diana. 'Diana kayak lagi nyembunyiin sesuatu
“Hanya tegur sapa biasa. Nggak ada yang penting,” jawab Ronald datar, tanpa merasa tertekan oleh intimidasi yang ditunjukkan gadis berusia dua puluh tiga tahun tersebut.“Aku tekanin ya, jangan terlalu baik sama wanita itu. Dia itu rubah yang pinter bermain lidah!“ ucap Bianca tegas dan sengit.Meski cantik, Bianca memiliki karakter liar dan temperamental. Anak tiri sulung Hermawan itu selalu memusuhi Hermawan dan semua orang di rumah itu, kecuali mendiang ibu kandungnya.“Nggak ada yang boleh mengintervensi aku, Bianca. Aku adalah hukum di mansion ini!“ tepis Ronald berusaha terlihat teguh.“Oh, jadi kamu merasa sok paling berkuasa di mansion ini sekarang ya? Bagus banget!“ Bianca tersenyum sinis. “Tapi satu yang perlu kau tahu, Ronald. Kamu cuma alat dari Hermawan busuk itu. Kamu nggak akan bisa bikin aku tunduk!“ sentak Bianca, kemudian melangkah lebar meninggalkan ruangan tersebut.'Wow! Menarik banget. Baru sehari di sini tapi udah ketemu dua wanita unik. Nanti, wanita macam apa