MasukRonald tak mampu menjawab. Matanya terkunci pada paras cantik Citra yang memabukkan.
Pikirannya juga terkunci pada sensasi empuk semriwing yang ditimbulkan oleh gesekan dada Citra. Citra dengan tenang mulai berani mendekatkan wajahnya, mengecup ringan bibir Ronald. Cupp! Ronald pun tak tinggal diam. Ia menyambut kecupan itu dan memberikan respon positif. Ia dengan penuh hasrat mengimbangi permainan bibir Citra untuk saling bertukar saliva, membelitkan lidah. “Ehmmm, Ronald,” lenguhan Citra mulai terdengar di sela-sela pertalian lidah keduanya. Tangan Ronald yang tergantung bebas segera bergerak ke belakang tubuh Citra, meraih bongkahan pejal di bawah pinggul gadis cantik tersebut dan mulai memainkan peran. Tubuh Citra sedikit tersentak tatkala tangan besar mantan tentara itu menimbulkan sensasi geli di area belakang tubuhnya. Deru napas keduanya semakin memburu meresapi sensasi yang tercipta. Ciuman meningkat semakin dalam dan menggelora. “Ohhhh, mmmh, Ronald,” desahan Citra berpadu dengan suara kecipak liur menggema mengisi ruang kerja Ronald tersebut. Sekian menit beradu bibir, mereka akhirnya menarik wajah, terengah-engah kehabisan napas. “Permainan lidahmu sangat hebat, Ronald,” puji Citra dalam bisikan bercampur serak. “Tapi sebaiknya kita sudahi dulu, Ronald. Sebentar lagi waktu makan malam keluarga,” imbuh Citra lirih. Ronald mengangguk. Mereka pun kembali duduk mengatur napas masing-masing. Sejenak suasana ruangan itu menjadi sepi. “Eh, Ronald, kamu kok mau sih disuruh Pak Buan buat jadi ginian? Disini itu ribet banget tahu nggak?! Pada keras kepala orang-orangnya. Udah gitu ada juga yang serakah, licik, hmmm,” tanya Citra saat napasnya telah kembali stabil. “Dimanapun tempatnya, yang namanya kerjaan nggak bakal lepas dari masalah, Citra. Mau jadi menteri, penulis, tukang ojek, ataupun caretaker kayak aku. Semuanya punya dinamika sendiri-sendiri,” jawab Ronald bijak. Bukannya menyimak, Citra justru berpangku tangan sambil menatap penuh arti pada wajah Ronald. “Eh, kamu kenapa, Citra? Kok malah ngelihatin aku sampai segitunya?!“ Ronald merasa aneh. Citra tersenyum, namun tetap dengan mata yang tertuju pada wajah Ronald. “Ternyata kamu itu ganteng banget loh kalau diperhatiin, Ron. Kayak ada manis-manisnya gitu, hehe,” candanya genit. Ronald menjadi tersenyum canggung, tak tahu harus menanggapi apa. “Makasih, Citra,” ia berusaha untuk tetap tenang. “Kamu udah lama kerja kayak gini, Ron?“ tanya Citra berusaha semakin mengakrabkan diri. “Baru kali ini aja sih. Sebelumnya aku kerja di bidang lain,” terang Ronald. “Kerja apa emangnya dulu?“ tanya Citra lagi. Ronald menggeleng pelan. “Lain kali aja aku ceritain,” tukasnya singkat. Citra mengangguk, kemudian beranjak berdiri sembari merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan karena ukah tangan nakal Ronald tadi. “Aku balik kamar dulu. Sebentar lagi jam makan malam, kamu langsung aja gabung nanti, nggak perlu sungkan,” ucap Citra sebelum melangkah pergi. “Makasih, Citra,” balas Ronald sembari menatap lekat lenggok pinggul Citra yang bergoyang aduhai saat melangkah keluar ruangannya. Setelah memastikan semua berkas sudah tersimpan rapi, Ronald akhirnya melangkah keluar ruangannya, menuju ruang makan. Satu persatu penghuni mansion berdatangan dari kamar-kamar mereka yang tersebar di berbagai lantai. Ronald duduk di kursi utama, tempat yang biasanya digunakan Hermawan saat masih hidup dulu. Dengan tenang ia menatap setiap wajah anggota keluarga. “Selamat bergabung pertama kali di makan malam keluarga ini, Ronald,” ucap Arumi lembut dan mengambil duduk di kursi terdekat dari Ronald. Koki keluarga segera menghidangkan makanan dibantu oleh beberapa pelayan lainnya. Arumi tampak secara proaktif melayani Ronald, mulai dari mengambilkan makanan, minuman, hingga membantu memotongkan makanan di piring Ronald. “Dimakan, Ron, selagi hangat,” ujar Arumi penuh perhatian. Namun tiba-tiba terdengar dengusan kasar dari arah Bianca. “Overacting banget sih?! Biasa aja nggak bisa apa?!“ sentak Bianca dengan wajah jengah. Arumi menatap tajam. “Ini juga udah biasa, Bianca. Bukannya kebiasaanku emang kayak gini? Kamu tuh yang emang LUARR BIASAH!“ ia menekankan dua kata terakhir sambil sedikit melotot. “Ehh, kamu mau cari gara-gara sama aku, hah?! Diingetin bukannya sadar diri, malah nyolot!“ Bianca menyentak, semakin marah. Arumi meladeni dengan senyum sinisnya. “Ngaca dong! Kamu yang dari awal cari gara-gara, kenapa malah nuduh balik? Dasar stress!“ Bianca yang tak terima langsung berdiri dari kursinya. Jarinya seketika menunjuk ke arah Arumi di seberang meja. “Terus apa mau kamu sekarang? Nggak terima? Atau ka—” BLARR! PRANGG! Amukan Bianca tercekat di tenggorokan. Semuanya seketika membeku dengan mata terbuka lebar menatap Ronald. Di depan semua orang, dengan garang Ronald menggebrak meja, bahkan membanting piringnya sendiri. “Kalian ini apa-apaan sih? Apa nggak lihat ada aku disini?” mata Ronald menatap tajam pada keduanya. “Bu Arumi, Bianca, atau yang lainnya. Jangan pernah lagi bertengkar di meja makan. Ngerusak mood makan aja,“ lanjut Ronald tanpa basa-basi. Meski terdengar kasar, namun perkataan Ronald memang merupakan upaya mendisiplinkan yang perlu dilakukan sepeninggal Hermawan. Semua masih terdiam, tak ada yang berani angkat suara. Ronald berdiri dari kursinya dan melangkah pergi, membiarkan makan malam perdananya di mansion itu gagal total. Ia kembali masuk ke dalam ruangan kerjanya, membiarkan pintu terbuka karena ia ingin menyalakan sebatang rokok untuk mengusir rasa kesalnya. Kepulan asap beraroma tembakau seketika memenuhi ruangan. Ronald berdiri menatap keluar jendela mansion, berusaha menenangkan emosinya yang sempat naik. Namun tiba-tiba, dua lengan lembut melingkar di perutnya dari belakang. Ronald sangat kaget! “Kamu yang sabar, Ronald!“"Loh, kok kamu balik lagi, Citra?" Ronald membuka pintu dengan gerakan cepat setelah merapikan celananya yang berantakan. Ia tampak berusaha mengatur napasnya agar kembali teratur. Citra tidak langsung menjawab. Matanya melirik melewati bahu Ronald, menembus ruangan hingga menangkap sosok Arumi yang sedang duduk di tepi meja kerja sambil merapikan daster satinnya yang kusut. Keadaan Arumi yang tampak berantakan dengan rambut sedikit acak-acakan sudah cukup menjelaskan apa yang hampir saja terjadi di dalam sana. "Jepit rambutku ketinggalan di dalam, kayaknya jatuh pas tadi kita lagi asyik," jawab Citra sengaja memperdengarkannya pada Arumi. Ia melangkah masuk, melewati Ronald begitu saja. Matanya kembali tertuju pada Arumi. Sambil memungut jepit rambut kecil dari lantai, Citra menatap mantan istri muda dari mendiang ayah tirinya itu dengan tatapan dingin. "Sebaiknya kalian berdua itu tidur aja, istirahat yang bener. Jangan diskusi terus malam-malam begini, nanti malah jadi k
“Jangan biasa mikir picik mulu deh, Kak. Dikit-dikit nuduh, dikit-dikit curiga. Padahal aku ini adikmu sendiri,” bantah Citra merasa tersinggung. Bianca hanya menatap datar ke arah Citra tanpa terpancing sedikitpun. “Demi uang, saudara bisa jadi lawan, kerabat bisa jadi saingan. Sori ya, Citra, aku nggak bisa percaya seratus persen sama semua orang di sini!“ Wajah Citra berubah kaku begitu mendengarnya. “Kalau nggak percaya sama aku, ngapain nyariin aku? Ngapain penasaran sama urusanku? Apa jangan-jangan kamu juga pengen dapet warisan lebih banyak?!“ sinisnya dengan nada suara meningkat. Bianca masih merasa tak terima. “Citra! Kenapa kamu sekarang mulai berani ngebantah aku sejak pria asing ini datang?“ tanyanya dengan kening berkerut. Citra tersenyum sumbang tanpa suara. “Aku biasa aja kok, nggak ada yang berubah. Kamu tuh, Kak, justru makin kesini makin aneh dah!“ Bianca justru mendengus kasar, melipat tangan di bawah bukit indahnya yang sekal hingga menyembul dari balik
Ronald menoleh dan mendapati Citra yang menempelkan dada dengan lembut ke punggungnya.“Aku kan udah ngomong tadi, Ron. Wanita disini itu pada susah diatur. Kamu tahu sendiri 'kan sekarang?!“ ucap Citra sembari mengelus dada Ronald. “Pokoknya di sini itu harus ekstra sabar,” imbuhnya.Emosi di dada Ronald seketika turun drastis, bukan karena perkataan Citra, tapi karena rasa nikmat yang mulai menjalar dari gesekan dada kenyal Citra.Begitu melihat Ronald yang kembali tenang, Citra segera melepaskan dekapannya.“Kamu belum makan malam loh, Ron. Mau kubawakan ke sini?“ tawar Citra kembali memberikan perhatiannya.Ronald hanya mengangguk tipis.Citra pun pergi mengambilkan makanan untuk Ronald.Tak lama berselang, gadis cantik itu kembali datang dengan nampan di tangan.“Mau makan sendiri apa disuapin nih?“ goda Citra berusaha mencairkan suasana.Ronald tersenyum. “Sekali-kali kayaknya boleh juga disuapin sama cewek secantik kamu,” jawab Ronald yang mulai kembali dalam mode 'serigala hau
Ronald tak mampu menjawab. Matanya terkunci pada paras cantik Citra yang memabukkan.Pikirannya juga terkunci pada sensasi empuk semriwing yang ditimbulkan oleh gesekan dada Citra.Citra dengan tenang mulai berani mendekatkan wajahnya, mengecup ringan bibir Ronald.Cupp!Ronald pun tak tinggal diam. Ia menyambut kecupan itu dan memberikan respon positif.Ia dengan penuh hasrat mengimbangi permainan bibir Citra untuk saling bertukar saliva, membelitkan lidah.“Ehmmm, Ronald,” lenguhan Citra mulai terdengar di sela-sela pertalian lidah keduanya.Tangan Ronald yang tergantung bebas segera bergerak ke belakang tubuh Citra, meraih bongkahan pejal di bawah pinggul gadis cantik tersebut dan mulai memainkan peran.Tubuh Citra sedikit tersentak tatkala tangan besar mantan tentara itu menimbulkan sensasi geli di area belakang tubuhnya.Deru napas keduanya semakin memburu meresapi sensasi yang tercipta. Ciuman meningkat semakin dalam dan menggelora.“Ohhhh, mmmh, Ronald,” desahan Citra berpadu
Ronald tercengang. Baru saja ia 'bermain singkat' dengan Arumi, dan sekarang Diana mengajak masuk ke kamarnya?“Apa maksud kamu, Diana? Obrolan penting macam apa yang harus dilakukan di dalam kamar seorang janda?“ tanya Ronald penasaran.Diana langsung tergagap mendapati tatapan tajam Ronald. “Oh, anu…. aku, aku hanya ingin lebih privasi biar nggak di dengar yang lainnya,” jawabnya terbata.Ronald semakin tajam menatap. “Di ruangan kerjaku kurang privasi?“ sindir Ronald.Diana menunduk. “Bu-bukan begitu, maksudku—”“Diana! Bukankah hari ini tugasmu mengawasi koki keluarga? Kenapa kamu justru asyik ngobrol sama Ronald? Kamu mau merayunya ya?“ suara lembut namun tajam Arumi menyela.Diana reflek mundur satu langkah. “K-kak Arumi, aku hanya menyapa dia sebentar,” balas Diana berbohong.Tanpa menunggu pertanyaan memojokkan berikutnya dari Arumi, Diana langsung balik badan dan melangkah menuju dapur.Ronald menemukan ada sedikit kejanggalan pada Diana. 'Diana kayak lagi nyembunyiin sesuatu
“Hanya tegur sapa biasa. Nggak ada yang penting,” jawab Ronald datar, tanpa merasa tertekan oleh intimidasi yang ditunjukkan gadis berusia dua puluh tiga tahun tersebut.“Aku tekanin ya, jangan terlalu baik sama wanita itu. Dia itu rubah yang pinter bermain lidah!“ ucap Bianca tegas dan sengit.Meski cantik, Bianca memiliki karakter liar dan temperamental. Anak tiri sulung Hermawan itu selalu memusuhi Hermawan dan semua orang di rumah itu, kecuali mendiang ibu kandungnya.“Nggak ada yang boleh mengintervensi aku, Bianca. Aku adalah hukum di mansion ini!“ tepis Ronald berusaha terlihat teguh.“Oh, jadi kamu merasa sok paling berkuasa di mansion ini sekarang ya? Bagus banget!“ Bianca tersenyum sinis. “Tapi satu yang perlu kau tahu, Ronald. Kamu cuma alat dari Hermawan busuk itu. Kamu nggak akan bisa bikin aku tunduk!“ sentak Bianca, kemudian melangkah lebar meninggalkan ruangan tersebut.'Wow! Menarik banget. Baru sehari di sini tapi udah ketemu dua wanita unik. Nanti, wanita macam apa