Share

Bab 2

Author: Lintang
Gadis itu mengetuk pintu selama hampir lima menit penuh.

Akhirnya, pintu yang sejak tadi tertutup rapat pun terbuka.

Ibuku keluar dengan ekspresi sangat muram.

"Melinda, kenapa kamu ribut banget?"

Melinda Wijaya menunjuk ke arah diriku yang sedang berbaring miring di lantai. Dengan gugup, dia menjelaskan secara terbata-bata.

"Bu Diana, saya curiga Nona Claudia mengalami perdarahan dalam!"

Ibuku mengerutkan kening. Dia berjalan mendekat, lalu berjongkok dan asal menyingkap pakaianku di bagian punggung.

"Memang ada luka, tapi ini cuma luka di permukaan!"

Dia berdiri kembali sambil menepuk-nepuk tangannya. Raut tidak sabar di wajahnya nyaris tidak bisa disembunyikan.

"Melinda, kamu sebenarnya belajar apa saja selama di fakultas kedokteran? Luka lecet begini memang terlihat mengerikan. Mungkin cuma ada beberapa pembuluh darah kecil yang terluka, jadi darahnya keluar lebih banyak."

"Pasien di ruang tunggu mungkin nggak paham, tapi masa kamu juga ikut panik?"

Wajah Melinda memerah karena cemas.

"Bu Diana, tapi di bawah kulitnya benar-benar ada bagian yang keras ...."

"Sudah!" Ibuku langsung memotong ucapannya.

"Struktur tulang di punggung itu rumit. Kamu cuma seorang perawat, jadi wajar kalau salah mengira tulang sebagai benda asing. Aku justru harus memuji sikapmu yang berhati-hati."

"Tapi kalau kamu masih terus mengganggu proses penanganan pasien di rumah sakit, aku terpaksa mempertimbangkan lagi penilaian untuk masa magangmu."

Setelah mengatakan itu, ibuku tiba-tiba menarik tubuhku dengan kasar.

"Kenapa kamu masih berbaring di lantai?"

Pecahan kaca di tubuhku ikut bergeser. Aku tidak tahu benda itu kembali menusuk bagian mana. Sambil menahan sakit, aku mencengkeram ujung celana ibuku.

"Bu, tolong aku. Sakit banget ...."

Kain celananya langsung ditarik menjauh dari genggamanku. Suara ibuku lalu terdengar samar di telingaku.

"Raditya sendiri sudah bilang, saat kecelakaan terjadi kamu duduk di kursi belakang yang merupakan tempat paling aman!"

"Jemima duduk di kursi depan menggantikanmu dan akhirnya terluka. Sekarang, kamu masih mau mempermasalahkan siapa yang harus ditangani lebih dulu?"

Tiba-tiba Melinda menunjuk pergelangan tanganku sambil berbicara.

"Bu Diana, dia memakai gelang merah untuk pasien kritis!"

Suara ibuku sempat terhenti. Namun sesaat kemudian, sorot matanya justru menunjukkan seolah dia sudah memahami semuanya.

"Kamu bilang ke dokter di ambulans bahwa aku ini ibumu ya? Karena kamu putriku, mereka lalu memasang label pasien kritis supaya kamu bisa diprioritaskan saat tiba di rumah sakit?"

"Claudia, seperti inikah caraku mendidikmu?" Suaranya mendadak meninggi hingga terdengar ke seluruh aula IGD.

"Di luar sana, ada begitu banyak pasien yang menantikan pertolongan. Tapi, kamu malah memanfaatkan hubunganku untuk menyerobot antrean. Sekalipun aku membiarkanmu hari ini, menurutmu pasien lain bakal terima begitu saja?"

Ruang tunggu langsung gaduh.

"Atas dasar apa? Kami sudah antre berjam-jam!"

"Memangnya kalau anak direktur rumah sakit bisa seenaknya? Anak direktur juga harus tahu siapa yang datang lebih dulu!"

"Kami semua juga lagi butuh dokter! Masih muda, tapi nggak tahu malu banget!"

Ibuku mengangkat tangan perlahan untuk meredakan suara protes yang makin ramai. Kemudian, dia menatapku dari atas.

"Kamu dengar sendiri, 'kan? Apa kamu nggak malu? Claudia, demi keadilan, hari ini kamu bakal diperiksa paling terakhir!"

"Soal dokter ambulans yang memasangkan gelang itu tanpa izin, aku pasti akan menindaknya dengan tegas!"

Tepuk tangan langsung terdengar dari ruang tunggu. Seseorang bahkan mengacungkan jempol.

"Pantas saja jadi direktur rumah sakit. Cara berpikirnya memang beda!"

Raut wajah ibuku pun menunjukkan kepuasan.

Tepat saat itu, pintu ruang gawat darurat kembali terbuka. Raditya bergegas keluar.

Begitu melihatku tergeletak di lantai, langkahnya sempat terhenti.

"Claudia? Kenapa kamu ...."

"Dia cuma lagi manja!" Ibuku langsung menyela, "Gimana keadaan Mima?"

Pandangan Raditya sempat melewatiku, lalu beralih pada ibuku.

"Lukanya nggak rata. Kalau dijahit, kemungkinan bakal meninggalkan bekas ...."

"Mana boleh begitu!" Ekspresi ibuku langsung berubah. "Mima masih muda. Kalau lengannya sampai berbekas, dia pasti akan kepikiran terus!"

Ibuku langsung menarik Raditya kembali ke dalam.

"Aku sendiri yang bakal jahit lukanya. Kamu jadi asistennya! Suruh dokter lain juga bersiap dengan serius!"

Langkah Raditya sempat terhuyung. Dia menoleh ke arahku dengan ragu.

Saat itu, suara Jemima yang nyaris menangis terdengar dari ruang gawat darurat.

"Kak Raditya, aku takut dijahit .... Kamu temani aku ya?"

Sedikit rasa iba yang tadi sempat muncul di wajah Raditya langsung lenyap. Tanpa menoleh lagi, dia buru-buru masuk kembali ke ruang gawat darurat.

Saat pintunya menutup, aku mendengar suara lembut ibuku dari dalam.

"Mima, jangan takut. Ibu ada di sini."

Aku tetap terbaring di lantai yang dingin. Dalam hati, aku mencoba mengingat kapan terakhir kali ibuku berbicara selembut itu padaku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Membiarkanku Jadi Pasien Terakhir   Bab 10

    Semua orang langsung terdiam, termasuk aku yang masih melayang di udara.Bukannya aku tidak pernah menyadari bahwa Raditya lebih perhatian pada Jemima. Hanya saja, selama ini aku terus menipu diri sendiri.Aku terus meyakinkan diri bahwa semua itu hanya bentuk kasih sayang seorang kakak kepada adiknya.Wajah Ibu memerah karena marah. Jari yang menunjuk Jemima sampai gemetar hebat."Aku sudah memperlakukanmu seperti anak kandung sendiri! Semua yang dimiliki Claudia bahkan sudah kurencanakan untuk dibagi rata denganmu!""Aku nggak pernah memperlakukanmu dengan buruk! Kalau kamu punya masalah denganku, seharusnya kamu melampiaskannya padaku! Kenapa kamu malah membunuh anakku?"Ekspresi Jemima berubah makin liar dan penuh kebencian."Nggak pernah memperlakukanku dengan buruk? Itu cuma karena kamu kasihan padaku!""Kenapa sejak lahir aku dibuang orang tuaku di toilet, lalu tumbuh seperti pengemis yang harus menumpang makan dari satu rumah ke rumah lain dan dipandang rendah oleh semua orang?

  • Membiarkanku Jadi Pasien Terakhir   Bab 9

    Di antara pasien yang sedang mengantre di aula, kebetulan ada seseorang yang menjadi informan bagi wartawan berita sosial.Berhubung sudah menunggu terlalu lama dan mulai tidak sabar ....Dia menempelkan telinga ke pintu ruang gawat darurat saking penasaran dengan apa sebenarnya yang sedang terjadi di dalam.Namun bukannya mendengar suasana penanganan pasien yang teratur, dia justru menangkap suara pertengkaran sengit.Di sela-sela keributan itu, samar-samar terdengar kata-kata seperti meninggal, pemalsuan, dan balas dendam.Naluri yang terbentuk dari pengalamannya selama bertahun-tahun langsung membuatnya curiga bahwa rumah sakit ini mungkin sedang berusaha menutupi sebuah insiden medis serius.Orang itu segera menghubungi wartawan yang biasa bekerja dengannya.Kebetulan, mereka tiba hampir bersamaan dengan polisi lalu lintas yang datang ke rumah sakit untuk menangani tindak lanjut kecelakaan tadi.Polisi yang memimpin rombongan menyapu ruangan dengan pandangan, lalu tatapannya berhen

  • Membiarkanku Jadi Pasien Terakhir   Bab 8

    Beberapa menit kemudian, pintu ruang gawat darurat kembali terbuka.Lisa masuk dengan pakaian petugas kebersihan dan masih membawa alat pel di tangannya.Begitu melihatnya, Ibu langsung menerjang maju dan mencengkeram kerah bajunya erat-erat."Beri tahu aku, sebenarnya gimana hasil pemeriksaan Claudia? Kenapa dia bisa mengalami gangguan pembekuan darah?"Lisa melihat tubuhku yang terbaring di genangan darah. Sedikit keterkejutan dan rasa iba melintas di matanya.Namun sesaat kemudian, dia justru mencibir pada Ibu."Bu Diana, dari pemeriksaan pranikah memang diketahui bahwa Claudia terinfeksi virus langka yang menyebabkan gangguan pembekuan darah.""Tapi, ini juga bukan penyakit mematikan yang sulit diobati. Selama ditangani sejak awal, bagi dokter bedah sehebat Anda, kondisi seperti ini paling cuma perlu beberapa jenis obat."Lisa menatap Ibu dari atas ke bawah."Kenapa? Sudah selama ini, Anda masih nggak tahu kondisi kesehatan putri Anda sendiri?"Tubuh Ibu langsung bergetar hebat.Se

  • Membiarkanku Jadi Pasien Terakhir   Bab 7

    Ujung jari Ibu merasakan dingin dan kaku yang membuat jantungnya seolah berhenti sesaat.Rona di wajahnya langsung menghilang. Pupil matanya mengecil tajam."Claudia ... kamu ... jangan menakuti Ibu ...."Tanpa sadar, dia kembali mendorong tubuhku, kali ini dengan tenaga yang lebih kuat.Tubuhku yang sudah kaku dan sejak tadi hanya terbaring di separuh ranjang, langsung terguling jatuh ke lantai setelah didorongnya.Tubuhku menghantam lantai dengan bunyi berat, lalu terbalik hingga wajahku menghadap ke atas.Wajahku sudah pucat kebiruan tanpa sedikit pun tanda kehidupan. Kedua mataku masih terbuka sedikit, dengan sorot bingung dan penuh kesakitan.Darah di sudut bibirku sudah mengering dan menghitam."Ah!"Jeritan memilukan memecah suasana ruang gawat darurat.Kaki Ibu langsung lemas dan dia pingsan di tempat.Keributan itu akhirnya menarik perhatian Raditya. Dia bergegas menghampiri. Begitu melihat jelas wajahku yang terbaring di lantai, seluruh tubuhnya seketika kaku karena syok.Rad

  • Membiarkanku Jadi Pasien Terakhir   Bab 6

    Raditya berdiri diam di tempat dan ragu sejenak. Pada akhirnya, dia tetap melangkah ke arahku.Namun baru satu langkah, tiba-tiba terdengar seruan panik dari belakang."Mima! Mima, kamu kenapa?"Jemima memejamkan mata, lalu tubuhnya lunglai dan nyaris ambruk ke ranjang.Raditya yang semula hendak pergi langsung berbalik arah. Tanpa ragu, dia bergegas menghampiri Jemima.Dia segera meraih tubuh Jemima dan menariknya ke dalam pelukan.Tak lama kemudian, Jemima perlahan membuka mata. Dengan lemah, dia mencengkeram lengan baju Raditya. Matanya berkaca-kaca."Kak Raditya, gunting sama alat-alat itu seram banget .... Kamu temani aku sebentar ya?"Jemima lalu memandang ke arahku dari balik bahu Raditya dan berujar."Kak Claudia, aku benar-benar takut. Aku cuma ingin merepotkan Kak Raditya sebentar saja. Tolong maklumi aku ...."Raditya mengikuti arah pandangannya, lalu menoleh padaku. Nada suaranya pun melunak."Claudia, penanganan Mima sudah mau selesai. Tunggu sebentar lagi. Setelah ini, ak

  • Membiarkanku Jadi Pasien Terakhir   Bab 5

    Rasa sesak itu akhirnya menghilang.Rasa sakit yang menyiksa di punggungku juga lenyap dalam sekejap.Tubuhku terasa begitu ringan, bahkan lebih ringan daripada yang pernah kurasakan sebelumnya.Aku sudah tidak sakit lagi.Dengan bingung, aku melayang di udara lalu menunduk ke bawah.Di atas ranjang yang berada di sudut ruangan, terbaring sesosok tubuh yang persis seperti diriku.Tubuh itu terbaring diam di tempat yang remang-remang, sementara wajahnya miring menghadap dinding. Kulitnya pucat kebiruan, cukup menyeramkan untuk dilihat.Bibirnya sudah berubah menjadi ungu kehitaman.Tak ada lagi tanda-tanda kehidupan pada dirinya.Aku menatap tubuhku sendiri dalam diam, lalu tersenyum getir.Jadi, seperti inilah rasanya mati.Sementara itu di sisi lain, di tengah ruang gawat darurat yang terang benderang.Jemima sedang bersandar nyaman dalam pelukan Ibu. Wajahnya sudah kembali merona dan matanya terlihat berbinar.Ibu mengangkat lengan Jemima yang sudah dibalut, lalu mengusapnya perlahan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status