Share

Bab 2

Penulis: Sekar
Begitu urusan pernikahan selesai disepakati, Juan langsung melumat bibir Raline.

Keduanya bercumbu dengan penuh gairah, pakaian pun berserakan di lantai. Untungnya, di saat-saat terakhir, Juan tidak tega membiarkan Raline kedinginan di luar, lalu menggendong gadis itu masuk ke kamar tidur.

Tak lama kemudian, terdengar suara desahan dari dalam kamar.

Anya justru merasa lega. Lega karena mereka masuk ke kamar, sehingga dia tak perlu menyaksikan pemandangan itu secara langsung.

Keesokan harinya, Juan terbangun oleh dering ponselnya.

Dia mengangkat panggilan itu, sembari menenangkan Raline yang tidur gelisah dalam pelukannya, baru kemudian berbicara.

"Ada apa?"

"Halo, selamat pagi. Apa ini dengan Pak Juan Pratham?"

Suara dari seberang telepon terdengar bertanya. Setelah mendengar Juan mengiyakan, penelepon itu langsung menjelaskan maksudnya. "Begini, Pak. Sepuluh tahun lalu, Bapak dan Bu Anya pernah menitipkan sebuah kapsul waktu di tempat kami. Nah, karena masa sepuluh tahun sudah genap, kapsul waktunya sudah kami kirim ke alamat rumah Bapak. Mohon kesediaannya untuk memeriksa kiriman tersebut."

Setelah itu, panggilan telepon langsung terputus.

Juan dan Raline pun sepenuhnya tersadar dari tidurnya akibat panggilan telepon itu.

Tepat pada saat itu, bel pintu berbunyi. Sang asisten rumah tangga mengambil paket dan meletakkannya di depan pintu kamar, lalu mengetuk pelan sebelum beranjak pergi.

Juan sebenarnya enggan membuka paket itu karena ingin menjaga perasaan Raline. Namun, Raline bersikeras, menarik tangan Juan dan memaksa pria itu untuk melihat isinya bersama.

Saat keduanya membawa kotak paket itu masuk ke dalam kamar, Anya pun ikut melayang mengikuti mereka.

Kapsul waktu.

Sudah terlalu lama, dia hampir lupa apa saja yang dulu mereka simpan di dalamnya.

Setelah kapsul waktu itu terbuka, barulah dia menyadari bahwa isinya penuh dengan kenangan manis saat mereka masih saling mencintai.

Foto box mereka, surat penerimaan kuliah yang sama persis, hingga barang-barang couple milik mereka berdua.

Dan yang terakhir, terselip di bagian paling bawah, adalah surat cinta yang ditulis Juan untuk Anya.

Tahun itu, di usia 18 tahun, adalah masa di mana Juan paling mencintai Anya.

Lembaran surat itu dibuka, mengungkap kata-kata rahasia yang ditulis pria itu di usia 18 tahun.

[Juan, di usia 28 tahun, kamu udah nikah sama Anya, gadis yang paling aku cintai belum?

Aku sekarang lagi duduk di bawah pohon trembesi tua di depan rumah Anya, diam-diam nulis surat buat kamu. Kamu masih ingat 'kan, pohon ini adalah tempat pertama kali aku ketemu dia. Hari itu dia pakai gaun putih, rambutnya dikucir kuda tinggi, senyumnya manis banget, matanya melengkung indah kayak bulan sabit, dan langsung bikin aku jatuh hati.

Sepuluh tahun itu lama banget. Aku yakin kamu yang sekarang udah nemenin Anya ke banyak tempat. Kamu pasti bawa dia keliling dunia ngeliat pemandangan indah, ke Kota Aethelgard ngeliat Menara Lumina, ke Negara Solaria ngeliat bunga kristal, ke Kepulauan Aquaria ngeliat lautnya.

Kalian juga pasti punya rumah yang hangat, nggak perlu besar, tapi cukup bikin nyaman. Dinding rumah kalian penuh foto, setiap foto nyimpen kenangan kalian. Foto bareng pas perjalanan pertama, kejutan ulang tahun yang diam-diam kamu siapin, sampai momen kucing peliharaan kalian lagi tidur siang di sofa ....

Aku yakin sekarang kamu lagi baca surat ini bareng Anya. Tolong bilang sama dia, Juan di usia 18 tahun sangat mencintainya, sampai pengen banget kasih semua hal terbaik di dunia ini ke dia. Aku yakin, Juan di usia 28 tahun, pasti nggak bakal bikin dia kecewa.]

Setelah surat itu selesai dibaca, mata Raline tampak merah.

Saat dia menoleh dan melihat Juan yang masih terpaku menatap lembaran surat dengan tatapan kosong, rasa sedih di hati Raline tak terbendung lagi. Dia langsung memeluk pria itu dan menangis tersedu.

"Juan, kamu nyesel nggak sih udah sama aku?"

"Mana mungkin?" Juan buru-buru membuang surat itu, lalu mengusap air mata Raline sambil membujuknya. "Aku sama dia udah jadi masa lalu. Sebentar lagi 'kan aku mau nikah sama kamu, masa kamu nggak ngerti sih sekarang hati aku ada siapa?"

Meski begitu, Raline masih merasa gelisah, matanya berkaca-kaca. "Kalian 'kan pacaran udah bertahun-tahun, mana mungkin bisa lupain begitu aja?"

Melihat Raline yang tampak begitu memelas, Juan merasa sangat tak tega. "Aku benaran udah lupain dia, kamu percaya sama aku, ya? Kalau kamu nggak percaya, aku rela disambar petir deh."

Mendengar sumpah yang begitu serius itu, Raline akhirnya berhenti menangis. Namun, dia tetap merengek dan menyuruh Juan segera menyingkirkan barang itu.

Juan pun hanya bisa menurutinya sambil mengeluarkan ponsel.

Anya berdiri di belakangnya, tak berdaya melihat pria itu mencari nomor kontaknya dan mengirimkan sebuah pesan.

[Kapsul waktu yang dulu kita kubur udah dikirim ke rumahku. Aku udah nggak butuh, kamu ambil aja.]

Namun, setelah sekian lama berlalu, Anya tak kunjung membalas pesan, ataupun datang mengambil kapsul itu.

Merasa agak kesal, Juan memijat pelipisnya, lalu menelepon nomor Anya. Nada sambung terus terdengar berputar, tetapi tak ada yang mengangkat.

"Nggak usah nelpon lagi, aku nggak bisa angkat."

Suara Anya terdengar begitu lirih saat melontarkan kalimat itu, tetapi tak ada satu pun orang yang bisa mendengarnya.

Pesan tak dibalas, telepon tak diangkat. Juan hanya mengira Anya masih merajuk karena masalah putus mereka. Dengan tegas, dia menutup panggilan, lalu mengambil surat dan kapsul waktu itu, melemparkannya begitu saja ke tempat sampah.

Anya terpaku menatap kapsul waktu yang dibuang sembarangan itu. Hatinya sempat terasa nyeri sekali, sebelum akhirnya dia hanya bisa tersenyum kecut.

Dibuang pun tak apa. Lagi pula, pria itu sudah lama membuang perasaan mereka yang terjalin selama sepuluh tahun.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 26

    Rayan mengantar Anya sampai ke depan asrama putri, lalu kembali ke asramanya sendiri.Teringat pada pesan dari Juan, Rayan tiba-tiba merasa kesal setengah mati. Dia tidak percaya Juan punya kemampuan sebesar itu hingga bisa memantau kecelakaan kecil di tanah air, padahal di sana sedang tengah malam.Kemungkinan terbesar adalah, di kehidupan sebelumnya, orang tua Anya juga mengalami kecelakaan mobil di waktu-waktu seperti ini. Itulah sebabnya Juan bisa mencari momen yang tepat untuk mengirim pesan.Perasaan mengetahui pacarnya memiliki rahasia dengan pria lain, benar-benar membuat hatinya dongkol.Di sisi lain, Anya tidak menyadari gejolak cemburu di hati Rayan. Baru saja melangkah masuk ke asrama, dia langsung dibuat kaget oleh tatapan dari teman-teman sekamarnya."Anya, aku denger orang tuamu kecelakaan. Parah nggak?"Merasakan kepedulian mereka, perasaan hangat seketika mengalir di lubuk hatinya. Dia menggeleng dan tersenyum pada mereka. "Cuma lecet sedikit, kok, nggak ada yang seriu

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 25

    Juan tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Dia hanya bisa melihat bahwa mereka tampak sangat bahagia.Itu adalah senyuman Anya yang sekarang tidak akan pernah ditunjukkan lagi di hadapannya.Dengan getir, dia mengalihkan pandangannya, menatap perabotan besar di dalam kamar yang sudah ditutupi kain putih, serta koper-koper yang sudah dikemas dan diletakkan di depan pintu untuk dibawa pergi. Juan pun memendam ucapan perpisahan itu jauh di dalam hati.'Selamat tinggal, Anya.'...Tahun ini, Anya menjadi mahasiswa tahun kedua.Dia menerima pernyataan cinta Rayan dan keduanya menjadi pasangan paling serasi yang terkenal di Universitas Louwe. Dalam hubungan asmara, mereka sangat harmonis dan penuh kasih.Sedangkan dalam akademik, mereka adalah yang terbaik di jurusan masing-masing.Namun, Anya yang di mata orang lain tampak tidak memiliki kekhawatiran apa pun, belakangan ini justru makin dilanda kecemasan.Sebab, di kehidupan sebelumnya, orang tuanya mengalami kecelakaan mobil dan

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 24

    Suara Anya terdengar jelas di telinga Rayan melalui telepon. Rayan tertegun sejenak, tetapi langsung segera paham.Sepertinya, di kehidupan sebelumnya, dia memilih untuk pergi ke luar negeri.Dia mengiyakan dengan suara pelan, lalu terdengar nada bicaranya yang lembut dan penuh kasih."Anya, aku mau kuliah bareng kamu."'Dan juga ingin bersamamu.'Dia menelan sisa kata-kata itu dan hanya menyuarakan kalimat pertamanya saja. Tak lama kemudian, suara ceria wanita itu pun terdengar dari seberang sana."Boleh! Kalau gitu, kita barengan ya."David dan Farel tidak tetap tinggal di Kota Louwe. Mereka akhirnya memilih universitas yang lebih cocok untuk mereka.Sebelum semua orang berpisah ke tujuan masing-masing, Anya dan teman-temannya mengadakan acara makan bersama untuk terakhir kalinya.Mereka mengobrol tentang kampus, tentang masa depan, dan baru di akhir obrolan mereka menyinggung nama Juan."Kayaknya dia bakal kuliah ke luar negeri, deh. Orang tua Juan udah mulai beres-beres barang dari

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 23

    Saat kembali ke tempat duduk, suasana di antara mereka kembali berubah. Juan tiba-tiba menyadari bahwa dirinya telah menjadi orang yang tidak dibutuhkan.Semua pesanan barbeku telah disajikan. Anya menerima makanan yang diberikan Rayan, dan sesekali saat menemukan yang sangat enak, dia akan menyodorkannya untuk dibagi bersama yang lain.Seolah semuanya berjalan seperti biasa. David dan Farel sesekali juga membagikan beberapa tusuk sate kepadanya, tetapi Juan selalu merasa, dirinya tidak bisa lagi membaur dengan mereka.Juan akhirnya memutuskan untuk pulang lebih awal dari liburan kelulusan ini. Hanya David dan Farel yang berbasa-basi mencoba menahannya beberapa kali, tetapi melihat Juan bersikeras ingin pergi, mereka pun membiarkannya.Begitu Juan pergi, sisa rombongan itu justru tampak makin menikmati liburan mereka.Setiap hari, mereka mengunggah berbagai foto ke media sosial. Sementara itu, Juan yang telah lebih dulu tiba di rumah, menatap foto-foto yang menampilkan kedekatan antara

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 22

    Anya mendorongnya keluar dan menutup pintu, membiarkan Juan beranjak pergi dengan raut wajah hampa dan jiwa yang seolah tertinggal.Sementara itu, di sudut lorong, hati Rayan seketika berkecamuk hebat.Sepertinya, dia baru saja mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan. Dari percakapan antara Anya dan Juan, sepertinya mereka kembali dari sepuluh tahun di masa depan. Di kehidupan sebelumnya itu, mereka saling mencintai selama sepuluh tahun, tetapi pada akhirnya, Juan mengkhianatinya dan jatuh cinta pada orang lain. Anya bahkan meninggal karena ulah Juan.Teringat pada niatnya untuk pergi ke luar negeri beberapa waktu lalu, Rayan hanya ingin menampar dirinya sendiri dengan keras.Bagaimana mungkin dia rela mundur dan menyerahkan Anya pada pria berengsek seperti itu!Dia berusaha sekuat tenaga menahan amarah di hatinya, menatap lekat-lekat pintu kamar Anya yang tertutup rapat, lalu diam-diam membulatkan tekad."Anya, kali ini, aku nggak bakal mau mengalah dan ngelepasin kamu ke siapa pu

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 21

    Setelah ujian masuk perguruan tinggi selesai, tiba masa liburan paling santai sekaligus paling panjang sepanjang masa SMA.Saat menghadiri acara kumpul kelas, Anya mendengar beberapa teman dekat sedang berdiskusi untuk pergi berlibur bersama setelah lulus. Bagaimanapun juga, setelah masuk kuliah, waktu bagi mereka untuk berkumpul lagi akan sangat sedikit.Anya memiliki ingatan dari kehidupan sebelumnya. Dia tahu bahwa selain Rayan, semua orang akan tetap tinggal di Kota Louwe. Rayan, satu-satunya yang akhirnya memilih kuliah di luar negeri, tidak mengurangi intensitas komunikasi dengan ketiga sahabatnya. Empat tahun kemudian, dia juga akan kembali ke tanah air. Jadi, bagi mereka, tidak ada istilah berpisah. Meski begitu, saat Rayan mengusulkan pergi liburan kelulusan, Anya tetap tidak menolaknya.Cuaca di bulan Juni belum terlalu panas. Mereka memilih sebuah destinasi wisata tepi laut sebagai tujuan. Begitu pesawat mendarat, mereka langsung bergegas menuju hotel.Karena Anya adalah sat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status