Share

Memilih Cinta yang Tepat
Memilih Cinta yang Tepat
Author: Sekar

Bab 1

Author: Sekar
Mereka berdua berdiri berdekatan, sedang berdiskusi pelan sambil memegang sesuatu, sama sekali tidak menyadari kehadiran Anya yang tiba-tiba di sana.

Anya menunduk, menatap tangannya yang kini transparan dan samar. Barulah dia tersadar bahwa dirinya sudah meninggal.

Anya mencoba melayang menjauh. Namun, begitu jaraknya hampir melebihi tiga meter dari Juan, sesuatu seolah menariknya paksa kembali. Menyadari bahwa dia tak bisa menjauh dari pria itu, dia terpaksa melayang kembali ke sisi mereka. Dan karena itulah, dia mendengar percakapan mereka.

Raline memegang sebuah kalender, jarinya menunjuk pada suatu tanggal. Dengan nada manja, dia berkata, "Juan, tanggal 7 bulan ini hari baik, lho. Gimana kalau kita nikah di hari itu aja? Aku tahu kamu mau ngadain pesta pernikahan yang megah buat aku, tapi ... aku cuma ingin cepet-cepet jadi istrimu."

Juan menatapnya, raut wajahnya penuh kelembutan. "Terserah kamu aja."

Anya tertegun. Barulah dia paham, mereka sedang membicarakan tanggal pernikahan.

Jadi ... mereka benar-benar akan menikah.

Betapa ironisnya. Pernikahan yang telah Anya nantikan selama sepuluh tahun, akhirnya Juan berikan kepada wanita yang baru dikenalnya selama tiga bulan.

Padahal mereka baru saja putus kemarin, tetapi saat mengingat kembali kisah cinta itu, semuanya terasa begitu jauh hingga Anya sendiri hampir tidak bisa mengingatnya lagi.

Mereka adalah teman masa kecil yang tumbuh besar bersama.

Di usia 18 tahun, Juan menyatakan perasaannya. Setelah Anya menerimanya, pria itu menangis haru. Dengan wajah merona, dia mencium Anya dengan gemetar lalu bersumpah, "Aku, Juan Pratham, bersumpah nggak akan pernah mengkhianati Anya Hardian seumur hidupku."

Di saat mereka sedang bucin-bucinnya, Juan bahkan merangkulnya dan berkata pada teman-temannya, "Seumur hidupku, aku cuma mau sama Anya. Kalau nanti yang kunikahi bukan dia, kalian jangan datang ke pernikahanku. Nggak cuma nggak boleh datang, kalian juga harus hajar aku sampai babak belur."

Jika tidak ada alang melintang, tahun ini seharusnya mereka akan menikah.

Namun, tepat pada saat itulah, Raline muncul.

Dulu, demi menghindari kesalahpahaman, semua sekretaris di kantor CEO-nya adalah pria. Namun, entah sejak kapan, ada seorang gadis muda yang manis bergabung dengan tim sekretarisnya.

Takut Anya salah paham, Juan menjelaskan bahwa gadis itu adalah putri rekan bisnisnya. Juan tidak bisa membiarkan Raline mengakses rahasia perusahaan, tapi juga tidak bisa menempatkannya di posisi staf rendahan, jadi satu-satunya cara adalah membawanya sebagai sekretaris pribadi. Juan meyakinkan Anya bahwa dia hanya mencintainya dan hatinya hanya milik Anya.

Namun, yang namanya perasaan tulus, bisa berubah dalam sekejap mata.

Di bulan pertama sejak Raline muncul, permen lemon kesukaan Anya lenyap dari dalam mobil pria itu, berganti dengan permen stroberi yang tak pernah Anya suka.

Memasuki bulan kedua, Juan tak lagi menemani Anya menonton film, berjalan-jalan, maupun memeluknya hingga tertidur. Sebaliknya, pria itu justru lebih sering menghabiskan waktu seharian penuh hanya untuk memandangi layar ponsel dan membalas pesan.

Di bulan ketiga, galeri ponsel pria itu mulai dipenuhi foto-foto yang tidak lagi hanya memuat wajah Anya. Setiap kali Juan membukanya, senyum di bibirnya tak pernah bisa disembunyikan.

Pada hari kepulangan Anya dari perjalanan bisnis luar negeri, Juan tidak datang menjemputnya.

Anya pulang seorang diri. Lapisan debu tipis yang menyelimuti perabotan rumah seolah memberi tahu Anya bahwa selama dia pergi, Juan pun tidak pernah kembali ke sini.

Ketika pria itu akhirnya kembali, yang dia bawa bukanlah rindu, melainkan keputusan untuk mengakhiri hubungan mereka.

"Anya, kamu masih ingat, 'kan? Dulu kamu pernah bilang, kalau suatu saat nanti aku ketemu sama orang yang bikin hatiku berdebar, aku nggak usah bohong. Kamu minta aku buat jujur dan kamu bakal lepasin aku, nggak akan nahan aku."

"Maaf, beberapa bulan ini ... aku udah ketemu orangnya."

Juan sungguh sangat jujur. Saking jujurnya, pada detik itu, meski hati Anya terasa sakit seolah dirobek paksa, dia tak mampu mengucap sepatah kata pun.

Ternyata, perubahan dari cinta mati seorang pria hingga menjadi tidak cinta lagi, hanyalah soal sekejap mata.

"Juan, kamu benaran mau kasih semuanya ke aku?"

Suara Raline tiba-tiba terdengar, menarik kembali lamunan Anya. Dia tidak mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka diskusikan, tetapi sesaat kemudian, suara Juan langsung menjawab kebingungannya.

"Iya, nanti kalau kita udah nikah, aku bakal pindahin semua saham ke namamu. Ini tradisi keluargaku, gaji suami harus diserahkan ke istri."

Kalimat itu terdengar sangat familier. Saat mereka masih bersama, pria itu pernah mengucapkan kata-kata yang persis sama kepadanya.

Tahun itu, Anya berusia 22 tahun.

Karier pria itu baru saja menapaki awal. Setelah meraih penghasilan pertamanya, hal pertama yang Juan lakukan adalah menyerahkan kartu gajinya kepada Anya.

Awalnya, Anya enggan menerimanya karena merasa kasihan, mengingat pria itu sedang membutuhkan uang. Namun, Juan tetap bersikeras. Dia beralasan bahwa toh kelak Anya akan menikah dengannya, dan menurut tradisi Keluarga Pratham, kartu ATM berisi seluruh gajinya pada akhirnya memang harus diserahkan kepada istri, jadi Juan hanya mempercepat waktunya saja.

Anya sudah lupa kapan tepatnya Juan mengambil kembali kartu ATM-nya. Anya hanya samar-samar ingat bahwa hal itu terjadi setelah Raline muncul. Bisa jadi, pada saat itulah pria itu sudah berencana untuk mengakhiri hubungan mereka.

Mendengar ucapan Juan, Raline tersipu malu lalu bersandar di pelukan pria itu. "Juan, kamu baik banget sih sama aku. Nanti, aku boleh nggak ya sisihkan sebagian buat nyelamatin kucing sama anjing jalanan?"

Mata Juan terpancar rasa haru. Dia mengusap puncak kepala gadis itu, nada bicaranya sarat akan kelembutan dan sikap memanjakan, "Tentu saja boleh. Sayangku ini baik banget, sih. Bisa dapetin istri kayak kamu itu keberuntungan terbesar buat aku."

Anya yang terus melayang di dekat mereka, menatap Raline yang tersipu malu. Mengenang kembali penderitaan sebelum kematiannya, dia tak kuasa menahan pedih dan memejamkan mata.

Baik hati?

Padahal, Raline yang disebut Juan begitu baik hati inilah yang justru menyewa sekelompok penculik setelah Anya setuju untuk putus dari Juan. Tujuannya hanya satu yaitu, agar Anya tidak pernah muncul lagi di hadapan Juan.

Sesuai perintah Raline, para penculik itu mengikatnya di tempat tidur, membelenggu tubuhnya dengan rantai, dan bergiliran menodainya.

Entah sudah orang ke berapa dan entah sudah berapa kali mereka menaikkan celana, sampai akhirnya air mata Anya kering tak bersisa.

Dia berusaha sekuat tenaga untuk melarikan diri, tetapi kembali ditangkap dan diikat. Dalam perlawanan itu, dia kehilangan keseimbangan hingga kepalanya terbentur keras ke lantai, darahnya menggenang di mana-mana.

Ketika membuka mata kembali, dia mendapati dirinya telah menjadi arwah. Dia melayang di belakang mereka, menyaksikan Juan dan Raline mendiskusikan tanggal pernikahan.

Pandangannya jatuh pada tanggal yang dilingkari oleh mereka berdua di kalender.

Betapa kebetulan.

Hari itu adalah hari pernikahan pria itu, sekaligus hari ketujuh setelah kematiannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 26

    Rayan mengantar Anya sampai ke depan asrama putri, lalu kembali ke asramanya sendiri.Teringat pada pesan dari Juan, Rayan tiba-tiba merasa kesal setengah mati. Dia tidak percaya Juan punya kemampuan sebesar itu hingga bisa memantau kecelakaan kecil di tanah air, padahal di sana sedang tengah malam.Kemungkinan terbesar adalah, di kehidupan sebelumnya, orang tua Anya juga mengalami kecelakaan mobil di waktu-waktu seperti ini. Itulah sebabnya Juan bisa mencari momen yang tepat untuk mengirim pesan.Perasaan mengetahui pacarnya memiliki rahasia dengan pria lain, benar-benar membuat hatinya dongkol.Di sisi lain, Anya tidak menyadari gejolak cemburu di hati Rayan. Baru saja melangkah masuk ke asrama, dia langsung dibuat kaget oleh tatapan dari teman-teman sekamarnya."Anya, aku denger orang tuamu kecelakaan. Parah nggak?"Merasakan kepedulian mereka, perasaan hangat seketika mengalir di lubuk hatinya. Dia menggeleng dan tersenyum pada mereka. "Cuma lecet sedikit, kok, nggak ada yang seriu

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 25

    Juan tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Dia hanya bisa melihat bahwa mereka tampak sangat bahagia.Itu adalah senyuman Anya yang sekarang tidak akan pernah ditunjukkan lagi di hadapannya.Dengan getir, dia mengalihkan pandangannya, menatap perabotan besar di dalam kamar yang sudah ditutupi kain putih, serta koper-koper yang sudah dikemas dan diletakkan di depan pintu untuk dibawa pergi. Juan pun memendam ucapan perpisahan itu jauh di dalam hati.'Selamat tinggal, Anya.'...Tahun ini, Anya menjadi mahasiswa tahun kedua.Dia menerima pernyataan cinta Rayan dan keduanya menjadi pasangan paling serasi yang terkenal di Universitas Louwe. Dalam hubungan asmara, mereka sangat harmonis dan penuh kasih.Sedangkan dalam akademik, mereka adalah yang terbaik di jurusan masing-masing.Namun, Anya yang di mata orang lain tampak tidak memiliki kekhawatiran apa pun, belakangan ini justru makin dilanda kecemasan.Sebab, di kehidupan sebelumnya, orang tuanya mengalami kecelakaan mobil dan

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 24

    Suara Anya terdengar jelas di telinga Rayan melalui telepon. Rayan tertegun sejenak, tetapi langsung segera paham.Sepertinya, di kehidupan sebelumnya, dia memilih untuk pergi ke luar negeri.Dia mengiyakan dengan suara pelan, lalu terdengar nada bicaranya yang lembut dan penuh kasih."Anya, aku mau kuliah bareng kamu."'Dan juga ingin bersamamu.'Dia menelan sisa kata-kata itu dan hanya menyuarakan kalimat pertamanya saja. Tak lama kemudian, suara ceria wanita itu pun terdengar dari seberang sana."Boleh! Kalau gitu, kita barengan ya."David dan Farel tidak tetap tinggal di Kota Louwe. Mereka akhirnya memilih universitas yang lebih cocok untuk mereka.Sebelum semua orang berpisah ke tujuan masing-masing, Anya dan teman-temannya mengadakan acara makan bersama untuk terakhir kalinya.Mereka mengobrol tentang kampus, tentang masa depan, dan baru di akhir obrolan mereka menyinggung nama Juan."Kayaknya dia bakal kuliah ke luar negeri, deh. Orang tua Juan udah mulai beres-beres barang dari

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 23

    Saat kembali ke tempat duduk, suasana di antara mereka kembali berubah. Juan tiba-tiba menyadari bahwa dirinya telah menjadi orang yang tidak dibutuhkan.Semua pesanan barbeku telah disajikan. Anya menerima makanan yang diberikan Rayan, dan sesekali saat menemukan yang sangat enak, dia akan menyodorkannya untuk dibagi bersama yang lain.Seolah semuanya berjalan seperti biasa. David dan Farel sesekali juga membagikan beberapa tusuk sate kepadanya, tetapi Juan selalu merasa, dirinya tidak bisa lagi membaur dengan mereka.Juan akhirnya memutuskan untuk pulang lebih awal dari liburan kelulusan ini. Hanya David dan Farel yang berbasa-basi mencoba menahannya beberapa kali, tetapi melihat Juan bersikeras ingin pergi, mereka pun membiarkannya.Begitu Juan pergi, sisa rombongan itu justru tampak makin menikmati liburan mereka.Setiap hari, mereka mengunggah berbagai foto ke media sosial. Sementara itu, Juan yang telah lebih dulu tiba di rumah, menatap foto-foto yang menampilkan kedekatan antara

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 22

    Anya mendorongnya keluar dan menutup pintu, membiarkan Juan beranjak pergi dengan raut wajah hampa dan jiwa yang seolah tertinggal.Sementara itu, di sudut lorong, hati Rayan seketika berkecamuk hebat.Sepertinya, dia baru saja mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan. Dari percakapan antara Anya dan Juan, sepertinya mereka kembali dari sepuluh tahun di masa depan. Di kehidupan sebelumnya itu, mereka saling mencintai selama sepuluh tahun, tetapi pada akhirnya, Juan mengkhianatinya dan jatuh cinta pada orang lain. Anya bahkan meninggal karena ulah Juan.Teringat pada niatnya untuk pergi ke luar negeri beberapa waktu lalu, Rayan hanya ingin menampar dirinya sendiri dengan keras.Bagaimana mungkin dia rela mundur dan menyerahkan Anya pada pria berengsek seperti itu!Dia berusaha sekuat tenaga menahan amarah di hatinya, menatap lekat-lekat pintu kamar Anya yang tertutup rapat, lalu diam-diam membulatkan tekad."Anya, kali ini, aku nggak bakal mau mengalah dan ngelepasin kamu ke siapa pu

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 21

    Setelah ujian masuk perguruan tinggi selesai, tiba masa liburan paling santai sekaligus paling panjang sepanjang masa SMA.Saat menghadiri acara kumpul kelas, Anya mendengar beberapa teman dekat sedang berdiskusi untuk pergi berlibur bersama setelah lulus. Bagaimanapun juga, setelah masuk kuliah, waktu bagi mereka untuk berkumpul lagi akan sangat sedikit.Anya memiliki ingatan dari kehidupan sebelumnya. Dia tahu bahwa selain Rayan, semua orang akan tetap tinggal di Kota Louwe. Rayan, satu-satunya yang akhirnya memilih kuliah di luar negeri, tidak mengurangi intensitas komunikasi dengan ketiga sahabatnya. Empat tahun kemudian, dia juga akan kembali ke tanah air. Jadi, bagi mereka, tidak ada istilah berpisah. Meski begitu, saat Rayan mengusulkan pergi liburan kelulusan, Anya tetap tidak menolaknya.Cuaca di bulan Juni belum terlalu panas. Mereka memilih sebuah destinasi wisata tepi laut sebagai tujuan. Begitu pesawat mendarat, mereka langsung bergegas menuju hotel.Karena Anya adalah sat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status