Share

Bab 3

Penulis: Sekar
Malam itu, Juan membawa Raline menghadiri sebuah perjamuan bisnis.

Anya terpaksa melayang di belakang pria itu. Sesampainya di lokasi, barulah dia menyadari bahwa yang hadir bukan hanya Juan, melainkan juga geng sahabat pria itu.

Melihat Juan dan Raline masuk, beberapa orang sahabatnya saling bertukar pandang, memberikan isyarat mata.

Entah disengaja atau tidak, mereka mulai berkerumun mengelilingi Juan, secara halus memisahkan Raline dari sisi Juan.

Meski secara kasat mata mereka sedang asyik mengobrol santai dengan Juan, setiap kata yang terucap tak luput dari sindiran dan niat untuk menyudutkan Raline.

Misalnya, mereka masih memperlakukan Raline layaknya seorang sekretaris, menyuruhnya ini dan itu. Saat ada tamu yang datang untuk bersulang, mereka dengan santai mendorong Raline maju untuk minum menggantikannya.

Belum lagi saat mereka membicarakan gosip terbaru, mengumpat habis-habisan sosok sekretaris dalam cerita yang merebut posisi istri sah demi mengincar status sosial, menyebutnya pelakor dengan kata-kata yang penuh penghinaan.

Saat mata Raline makin merah menahan tangis, raut wajah Juan pun kian muram.

Hingga pada akhirnya, dia tak sanggup menahan diri lagi dan membentak, "Kalian ini ngapain sih? Aku yang jatuh cinta sama dia. Kalau ada masalah, serang aku saja. Jangan ganggu dia."

Bukannya mereda, pembelaannya itu justru membuat teman-temannya makin geram, raut wajah mereka pun kian masam.

Salah satu dari mereka bahkan dengan terang-terangan menendang hingga menara gelas sampanye runtuh berantakan.

"Wah, Pak CEO Juan, hebat banget ya sekarang!"

"Dulu, pas kamu baru mulai bisnis dan lagi susah-susahnya, kalau bukan karena Anya jual rumah warisan almarhum orang tuanya buat bantu kamu kumpulin modal awal, kamu pikir kamu bisa sukses kayak sekarang? Entah deh dulu dia mikir apa nggak, dia udah berkorban sebanyak itu, eh ujung-ujungnya malah buka jalan buat orang lain!"

Mendengar ucapan pria itu, Juan sontak terkejut.

Dulu, saat awal merintis bisnis dan arus kasnya macet, di saat dia paling kekurangan dana, Anya memang tiba-tiba datang dan memberinya sejumlah uang.

Akan tetapi, dia sama sekali tidak tahu bahwa uang itu berasal dari penjualan rumah warisan orang tua Anya.

Seketika, dadanya terasa sesak, hatinya diliputi perasaan yang tak enak. Namun, begitu melihat wajah Raline yang tampak begitu sedih, dia kembali mengeraskan hati.

"Nanti akan aku berikan sejumlah uang lagi sebagai ganti rugi. Tapi, aku harap, mulai sekarang kalian bisa lebih menghormati Raline."

Setelah berkata demikian, dia langsung merangkul Raline dan beranjak pergi.

Sementara di belakangnya, Anya yang terpaksa ikut melayang mengikuti pria itu, malah tertegun menatap sosok yang paling marah di antara geng sahabat itu.

Namanya Rayan Sagara. Sejak kecil, dia memang yang paling dekat dengan Juan. Tepat di tahun Anya dan Juan menjalin hubungan, Rayan pergi melanjutkan studi ke luar negeri.

Setelah kembali ke tanah air, setiap kali ada acara yang kemungkinan besar akan dihadiri Anya, dia selalu mencari alasan untuk tidak datang.

Anya selalu mengira pria itu membencinya. Namun, nyatanya, sekarang setelah dia dan Juan putus, orang yang paling geram dan membela habis-habisan justru adalah Rayan.

Perjamuan itu berlangsung cukup lama. Saat acara berakhir, Raline sudah terlihat mengantuk. Setelah mengantar gadis itu masuk ke mobil, Juan baru kembali mengeluarkan ponselnya.

Anya melayang mendekat dan baru menyadari bahwa pria itu sedang mengirim pesan lagi padanya.

Kali ini, pesannya berkaitan dengan hal yang dibahas di perjamuan tadi, yaitu janji untuk memberikan uang kompensasi tambahan untuknya.

Namun, lagi-lagi, Juan tidak mendapat balasan. Dia pun menelepon, tetapi tetap tidak ada yang mengangkat.

Anya mengira pria itu akhirnya akan menyadari ada yang tidak beres. Namun, siapa sangka, setelah menutup panggilan, raut wajah Juan sama sekali tidak menunjukkan kekhawatiran. Yang terpancar hanyalah rasa tidak sabar.

Pada saat itu, dia tiba-tiba menyadari bahwa pria itu masih saja beranggapan Anya sedang merajuk dan menghindar.

Setelah menutup panggilan, Juan tak berkata apa-apa lagi, langsung mengantar Raline pulang.

Namun, Anya yang menatap profil wajah pria itu, tak kuasa menahan diri untuk tidak teringat masa lalu.

Tahun itu, kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Karena terlalu bersedih, Anya memilih untuk mengurung diri. Khawatir Anya akan melakukan hal bodoh jika dibiarkan sendirian, Juan terus mencarinya tanpa kenal lelah. Meski panggilannya terus-menerus ditolak, pria itu tak pernah berhenti menelepon.

Belakangan, Anya pernah bertanya pada Juan, mengapa pria itu terus menelepon padahal Anya sengaja tidak mengangkat. Saat itu Juan menjawab, "Anya, aku nggak tahu kapan kamu mau angkat telepon aku. Tapi, aku ingin, pas kamu udah mau angkat, kamu bisa langsung terhubung sama aku, biar aku bisa nemuin kamu."

Namun, sekarang, saat Juan mencintai orang lain, ucapan itu tak lagi berlaku.

Hanya karena satu kali telepon tidak tersambung, Juan pun kehilangan kesabarannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 26

    Rayan mengantar Anya sampai ke depan asrama putri, lalu kembali ke asramanya sendiri.Teringat pada pesan dari Juan, Rayan tiba-tiba merasa kesal setengah mati. Dia tidak percaya Juan punya kemampuan sebesar itu hingga bisa memantau kecelakaan kecil di tanah air, padahal di sana sedang tengah malam.Kemungkinan terbesar adalah, di kehidupan sebelumnya, orang tua Anya juga mengalami kecelakaan mobil di waktu-waktu seperti ini. Itulah sebabnya Juan bisa mencari momen yang tepat untuk mengirim pesan.Perasaan mengetahui pacarnya memiliki rahasia dengan pria lain, benar-benar membuat hatinya dongkol.Di sisi lain, Anya tidak menyadari gejolak cemburu di hati Rayan. Baru saja melangkah masuk ke asrama, dia langsung dibuat kaget oleh tatapan dari teman-teman sekamarnya."Anya, aku denger orang tuamu kecelakaan. Parah nggak?"Merasakan kepedulian mereka, perasaan hangat seketika mengalir di lubuk hatinya. Dia menggeleng dan tersenyum pada mereka. "Cuma lecet sedikit, kok, nggak ada yang seriu

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 25

    Juan tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Dia hanya bisa melihat bahwa mereka tampak sangat bahagia.Itu adalah senyuman Anya yang sekarang tidak akan pernah ditunjukkan lagi di hadapannya.Dengan getir, dia mengalihkan pandangannya, menatap perabotan besar di dalam kamar yang sudah ditutupi kain putih, serta koper-koper yang sudah dikemas dan diletakkan di depan pintu untuk dibawa pergi. Juan pun memendam ucapan perpisahan itu jauh di dalam hati.'Selamat tinggal, Anya.'...Tahun ini, Anya menjadi mahasiswa tahun kedua.Dia menerima pernyataan cinta Rayan dan keduanya menjadi pasangan paling serasi yang terkenal di Universitas Louwe. Dalam hubungan asmara, mereka sangat harmonis dan penuh kasih.Sedangkan dalam akademik, mereka adalah yang terbaik di jurusan masing-masing.Namun, Anya yang di mata orang lain tampak tidak memiliki kekhawatiran apa pun, belakangan ini justru makin dilanda kecemasan.Sebab, di kehidupan sebelumnya, orang tuanya mengalami kecelakaan mobil dan

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 24

    Suara Anya terdengar jelas di telinga Rayan melalui telepon. Rayan tertegun sejenak, tetapi langsung segera paham.Sepertinya, di kehidupan sebelumnya, dia memilih untuk pergi ke luar negeri.Dia mengiyakan dengan suara pelan, lalu terdengar nada bicaranya yang lembut dan penuh kasih."Anya, aku mau kuliah bareng kamu."'Dan juga ingin bersamamu.'Dia menelan sisa kata-kata itu dan hanya menyuarakan kalimat pertamanya saja. Tak lama kemudian, suara ceria wanita itu pun terdengar dari seberang sana."Boleh! Kalau gitu, kita barengan ya."David dan Farel tidak tetap tinggal di Kota Louwe. Mereka akhirnya memilih universitas yang lebih cocok untuk mereka.Sebelum semua orang berpisah ke tujuan masing-masing, Anya dan teman-temannya mengadakan acara makan bersama untuk terakhir kalinya.Mereka mengobrol tentang kampus, tentang masa depan, dan baru di akhir obrolan mereka menyinggung nama Juan."Kayaknya dia bakal kuliah ke luar negeri, deh. Orang tua Juan udah mulai beres-beres barang dari

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 23

    Saat kembali ke tempat duduk, suasana di antara mereka kembali berubah. Juan tiba-tiba menyadari bahwa dirinya telah menjadi orang yang tidak dibutuhkan.Semua pesanan barbeku telah disajikan. Anya menerima makanan yang diberikan Rayan, dan sesekali saat menemukan yang sangat enak, dia akan menyodorkannya untuk dibagi bersama yang lain.Seolah semuanya berjalan seperti biasa. David dan Farel sesekali juga membagikan beberapa tusuk sate kepadanya, tetapi Juan selalu merasa, dirinya tidak bisa lagi membaur dengan mereka.Juan akhirnya memutuskan untuk pulang lebih awal dari liburan kelulusan ini. Hanya David dan Farel yang berbasa-basi mencoba menahannya beberapa kali, tetapi melihat Juan bersikeras ingin pergi, mereka pun membiarkannya.Begitu Juan pergi, sisa rombongan itu justru tampak makin menikmati liburan mereka.Setiap hari, mereka mengunggah berbagai foto ke media sosial. Sementara itu, Juan yang telah lebih dulu tiba di rumah, menatap foto-foto yang menampilkan kedekatan antara

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 22

    Anya mendorongnya keluar dan menutup pintu, membiarkan Juan beranjak pergi dengan raut wajah hampa dan jiwa yang seolah tertinggal.Sementara itu, di sudut lorong, hati Rayan seketika berkecamuk hebat.Sepertinya, dia baru saja mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan. Dari percakapan antara Anya dan Juan, sepertinya mereka kembali dari sepuluh tahun di masa depan. Di kehidupan sebelumnya itu, mereka saling mencintai selama sepuluh tahun, tetapi pada akhirnya, Juan mengkhianatinya dan jatuh cinta pada orang lain. Anya bahkan meninggal karena ulah Juan.Teringat pada niatnya untuk pergi ke luar negeri beberapa waktu lalu, Rayan hanya ingin menampar dirinya sendiri dengan keras.Bagaimana mungkin dia rela mundur dan menyerahkan Anya pada pria berengsek seperti itu!Dia berusaha sekuat tenaga menahan amarah di hatinya, menatap lekat-lekat pintu kamar Anya yang tertutup rapat, lalu diam-diam membulatkan tekad."Anya, kali ini, aku nggak bakal mau mengalah dan ngelepasin kamu ke siapa pu

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 21

    Setelah ujian masuk perguruan tinggi selesai, tiba masa liburan paling santai sekaligus paling panjang sepanjang masa SMA.Saat menghadiri acara kumpul kelas, Anya mendengar beberapa teman dekat sedang berdiskusi untuk pergi berlibur bersama setelah lulus. Bagaimanapun juga, setelah masuk kuliah, waktu bagi mereka untuk berkumpul lagi akan sangat sedikit.Anya memiliki ingatan dari kehidupan sebelumnya. Dia tahu bahwa selain Rayan, semua orang akan tetap tinggal di Kota Louwe. Rayan, satu-satunya yang akhirnya memilih kuliah di luar negeri, tidak mengurangi intensitas komunikasi dengan ketiga sahabatnya. Empat tahun kemudian, dia juga akan kembali ke tanah air. Jadi, bagi mereka, tidak ada istilah berpisah. Meski begitu, saat Rayan mengusulkan pergi liburan kelulusan, Anya tetap tidak menolaknya.Cuaca di bulan Juni belum terlalu panas. Mereka memilih sebuah destinasi wisata tepi laut sebagai tujuan. Begitu pesawat mendarat, mereka langsung bergegas menuju hotel.Karena Anya adalah sat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status