Share

Chapter 191

Author: Nyctus
last update publish date: 2026-10-02 12:23:06

Arkana mengerutkan kening. “Ini bukan hanya tentang proyek ini kan?"

Tuan Adipati tersenyum. "Betul."

"Kenapa proyek ini ditunjukkan padaku?”

“Karena kau adalah penerus dari perusahaan keluarga Pratama.” Adipati menambahkan, “Dan Anindya akan menjadi bagian penting dari Wijaya.”

Arkana diam.

“Kalau suatu hari kalian harus membahas persoalan seperti ini,” lanjut Ranaditya, “apa yang akan kau lakukan?”

Arkana menjawab tanpa ragu. “Mendengarkan.”

“Lalu?”

“Memahami alasan Wijaya.”

“Kalau kau tetap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 221

    Anindya meletakkan sendoknya sejenak. "Saya tahu Kakek dan Tuan Adipati juga sedang mengkhawatirkan Arkana. Saya tidak ingin merepotkan kalian dengan keadaan saya."Ranaditya menatapnya cukup lama. "Kamu tidak merepotkan kami."Anindya terdiam.Ranaditya melanjutkan, "Kamu berada di sini karena Arkana penting bagimu. Kami memahami itu." Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, "Tetapi kamu juga penting sebagai dirimu sendiri. Jangan sampai kamu lupa. Lagipula, kamu seharusnya memanggil Adipati dengan sebutan Kakek, sudah bukan Tuan lagi. Bagaimanapun, Adipati sudah menganggapmu sebagai cucunya."Anindya membeku. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ada kehangatan yang tidak pernah ia duga akan didengarnya dari Ranaditya. Selama ini, ia berusaha menunjukkan bahwa dirinya mampu berdiri di samping Arkana. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa memahami tanggung jawab, menghadapi kesulitan, dan tetap mempertahankan pilihannya. Ia tidak pernah mengharapkan kedua kakek itu memperlakukannya s

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 220

    Anindya menunduk. Ia mengerti maksud Adipati. Ia tahu bahwa kedua kakek Arkana juga mengkhawatirkan cucu mereka. Mereka telah menghabiskan banyak waktu untuk berkonsultasi dengan dokter dan memastikan bahwa semua pemeriksaan yang diperlukan telah dilakukan. Namun, bagi Anindya, berada di sisi Arkana bukanlah kewajiban yang terasa memberatkan. Ia melakukannya karena ingin."Aku tidak akan menyuruhmu pulang," ujar Tuan Adipati setelah beberapa saat. "Kalau kamu ingin tetap di sini, silakan. Tapi berjanjilah untuk makan dan tidur dengan cukup."Anindya mengangkat wajah.Adipati melanjutkan, "Kita semua sedang menunggu Arkana sadar. Kita tidak tahu kapan itu akan terjadi. Justru karena itu, kamu tidak boleh menghabiskan seluruh tenagamu dalam beberapa hari pertama."Anindya terdiam cukup lama sebelum mengangguk. "Baik, Kek. Saya akan berusaha."Tuan Adipati tersenyum tipis. "Itu saja yang kuminta."Tuan Adipati kemudian berdiri, merapikan letak makanan di meja, lalu berpamitan untuk mengu

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 219

    Pagi itu, Anindya sedang duduk di kursi di samping ranjang Arkana ketika pintu kamar terbuka. Ia menoleh dan mendapati Tuan Ranaditya masuk dengan seorang staf yang membawa nampan makanan.Anindya segera berdiri. "Kakek."Ranaditya mengangguk singkat. "Duduk saja."Anindya kembali duduk, meskipun matanya mengikuti staf yang meletakkan nampan di meja kecil dekat jendela. Setelah staf itu keluar, Ranaditya menunjuk makanan yang baru saja dibawanya. "Makanlah."Anindya sedikit terkejut. "Saya sudah sarapan tadi, Kek."Ranaditya menatapnya. "Jam berapa?"Anindya terdiam sejenak. "Tadi pagi.""Itu bukan jawaban."Anindya akhirnya menunduk sedikit. "Belum sempat, Kek."Ranaditya menarik napas perlahan. Ia tidak langsung menegurnya, tetapi mendorong piring yang tersedia agar lebih mudah dijangkau Anindya. "Kalau begitu, makan sekarang.""Tapi, saya masih ingin menemani Arkana.""Dia tidak akan ke mana-mana."Anindya terdiam.Ranaditya melanjutkan dengan nada tenang, "Kamu bisa makan di sini.

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 218

    Kemudian, senyum tipis muncul di wajah Tuan Adipati. "Aku sudah bilang kepadamu bahwa Anindya bukan perempuan yang hanya memikirkan dirinya sendiri," kata Tuan AdipatiTuan Ranaditya meliriknya. "Jangan terburu-buru merasa menang. Aku tidak sedang mengatakan bahwa penilaianmu sejak awal sepenuhnya benar."Tuan Adipati terkekeh kecil. "Baiklah. Kalau begitu, katakan saja apa yang sebenarnya ingin kau katakan."Ranaditya tidak langsung menjawab. Ia memandang ke arah lorong yang mengarah ke kamar Arkana.Selama ini, ia ingin memastikan bahwa Anindya mampu memahami tanggung jawab yang menyertai hubungannya dengan Arkana. Ia ingin melihat apakah perempuan itu akan tetap bertahan ketika keadaan menjadi sulit, bukan sekadar ketika semuanya berjalan sesuai keinginannya. Kini, ia telah melihat jawabannya."Setelah Arkana sadar nanti," kata Tuan Ranaditya akhirnya, "aku tidak akan lagi menentang apa yang diinginkannya mengenai Anindya."Tuan Adipati menoleh dengan cepat. "Kau serius?""Aku seri

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 217

    Ranaditya tidak tahu apakah Anindya menyadari bahwa seseorang telah mendengar pertengkaran mereka. Ia juga tidak berniat memberitahunya bahwa dirinya berada di luar selama percakapan itu berlangsung.Namun, satu hal sudah jelas bagi Ranaditya. Ia telah mendengar cukup banyak untuk memahami sesuatu yang selama ini ingin ia pastikan. Dan kali ini, ia tidak membutuhkan penjelasan siapa pun untuk mengambil keputusan.Ranaditya masih diam di luar, ketika mendengar kata-kata Anindya pada Arkana yang masih belum sadar. Permohonan dari Anindya agar Arkana segera sadar. Suara Anindya yang bergetar membuat Ranaditya memutuskan untuk menunggu sejenak, memberi waktu sampai Anindya kembali stabil. ***Anindya sedang duduk kembali di sisi ranjang Arkana ketika Ranaditya akhirnya memutuskan masuk. Perempuan itu mengusap tangan cucunya dengan gerakan perlahan. Matanya merah. Ia jelas baru saja menangis.Namun, ketika menyadari kedatangan Ranaditya, Anindya segera menyeka pipinya dan berusaha menegak

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 216

    Seolah tak cukup, Anindya kembali menambahkan. "Kamu tahu apa yang paling menyedihkan dari semua ini, Rafael? Kamu bahkan tidak menyadari bahwa selama ini kamu lebih sibuk memperjuangkan keinginanmu sendiri daripada memahami orang yang katanya kamu cintai."Ranaditya memejamkan mata sesaat. Ia pernah mempertanyakan apakah Anindya benar-benar memahami Arkana. Apakah perempuan itu mengerti bahwa hidup bersama cucunya tidak akan selalu mudah? Apakah ia sanggup menghadapi ketidakpastian, perbedaan pendapat, dan kesulitan yang mungkin muncul dalam pernikahan mereka kelak?Ranaditya tidak ingin Arkana menikah hanya karena sedang jatuh cinta. Ia ingin cucunya memiliki pasangan yang mampu berdiri di sisinya, bukan seseorang yang akan pergi ketika keadaan menjadi sulit. Namun, Anindya sekarang sedang menunjukkan sesuatu yang selama ini ingin ia lihat.Arkana belum sadar. Tidak ada jaminan bahwa laki-laki itu akan segera membuka mata. Tidak ada kepastian kapan kondisinya akan membaik. Bahkan pa

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 6

    Sudah tiga hari sejak Arkana pindah ke Nusantara Academy. Tiga hari pula nama Anindya Wijaya dan Arkana Pratama menjadi topik utama seluruh sekolah. Ada yang bilang Anindya sedang mencari perhatian. Ada yang bilang Arkana hanya terlalu sopan untuk menolak. Ada juga yang yakin hubungan mereka diam-d

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 5

    Kabar tentang senyum tipis Arkana Pratama menyebar lebih cepat daripada gosip apa pun di Nusantara Academy. Bukan karena senyumnya luar biasa manis, justru sebaliknya. Karena hampir tak seorang pun percaya pria sedingin itu bisa tersenyum. Sepanjang pagi, bisik-bisik terdengar di setiap sudut korid

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 4

    Sejak istirahat siang berakhir, suasana kelas XI-A tidak pernah benar-benar tenang. Tatapan siswa terus berpindah antara Anindya Wijaya dan Arkana Pratama. Namun, tidak ada yang bisa menyalahkan mereka.Pagi tadi Anindya mendorong kursi roda siswa pindahan itu masuk kelas seolah hal paling normal d

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 3

    Begitu kata-kata Anindya jatuh di udara, halaman sekolah yang tadi sudah sunyi menjadi semakin hening. Beberapa siswa menatapnya seolah baru saja melihat orang gila, bahkan Rafael yang biasanya penuh percaya diri terlihat membeku di tempat. “Mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.” Ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status