LOGINPerubahan sikap Anindya Wijaya menjadi bahan pembicaraan paling panas di Nusantara Academy selama seminggu terakhir. Dulu, semua orang tahu siapa yang selalu mengelilingi Rafael Mahendra.
Anindya, wanita kaya yang keras kepala itu akan datang membawa kopi saat Rafael begadang mengerjakan tugas, menyiapkan catatan saat pria itu bolos kelas, bahkan menunggu berjam-jam hanya untuk pulang bersama. Ia terang-terangan menyukai Rafael. Tak pernah malu menunjukkannya. Lalu tiba-tiba semua itu hilang. Kini Anindya tak lagi mencari Rafael, tak lagi menunggu di depan kelasnya, tak lagi mengirim pesan. Sebaliknya, ia hampir selalu terlihat di dekat Arkana Pratama. Mendorong kursi rodanya ke kelas, duduk satu meja saat makan siang, mengobrol di koridor. Bahkan menunggu mobil pria itu sepulang sekolah. Perubahan drastis itu membuat satu orang sangat gelisah. Rafael Mahendra. Ia berdiri di lapangan basket sambil memegang bola, tetapi sejak lima menit lalu tak satu pun lemparannya masuk. Brak. Bola memantul dari ring dan menggelinding jauh. “Bro, fokus dong,” kata temannya sambil tertawa. “Sejak kapan kau main seburuk ini?” Rafael mengambil napas kasar. “Diam.” Matanya beralih ke bangku taman seberang lapangan. Anindya sedang duduk di sana bersama Arkana. Ia memegang kotak jus dan sedang bicara panjang lebar, sementara Arkana membaca buku sambil sesekali menjawab singkat. Namun yang membuat Rafael kesal adalah satu hal, Arkana membiarkannya. Pria itu terkenal dingin dan anti keramaian, tapi entah kenapa tidak mengusir Anindya. “Lihat lagi tuh,” ejek temannya. “Cemburu?” Rafael melempar handuk ke wajah pria itu. “Omong kosong.” Kalau ia mau, Anindya akan kembali seperti dulu. Ia hanya sedang ngambek, hanya sedang mencari perhatian, hanya sedang memakai Arkana sebagai alat. Ya. Pasti begitu. Siang harinya, Rafael sengaja menghentikan langkah Anindya di koridor menuju perpustakaan. Anindya yang sedang membawa beberapa buku menatapnya sekilas. “Geser.” “Kita bicara dulu," kata Rafael sambil menghalangi jalan Anindya. “Aku sibuk.” “Dengan Arkana lagi?” Nada sinisnya membuat Anindya malas. “Kalau iya kenapa?” Rafael menatap tajam. “Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan?” “Hebat. Jelaskan padaku.” “Kau mendekati Arkana hanya karena kesal aku dekat dengan Citra.” Anindya terdiam dua detik. Lalu tertawa. Bukan tawa malu, bukan tawa gugup. Tawa murni karena lucu. Rafael mengerutkan kening. “Apa yang lucu?” “Kau.” Wajah Rafael menegang. Anindya melangkah mendekat satu langkah, suaranya tenang. “Rafael, dunia ini besar sekali.” “Lalu?” “Tidak semua hal berputar mengelilingimu.” Ia hendak lewat, tapi Rafael menahan lengannya. “Kau dulu menyukaiku," kata Rafael tajam. “Dulu.” Jawaban singkat itu terasa seperti tamparan. Rafael menggertakkan gigi. “Perasaan tidak berubah secepat itu.” “Benar.” Anindya menatap lurus ke matanya. “Makanya aku heran kenapa rasa muakku datang begitu cepat.” Rafael membeku. Tangannya refleks melepas lengan Anindya. Ia belum pernah diperlakukan seperti ini oleh gadis itu. Belum pernah. Dulu Anindya akan cemas jika ia diam sehari. Kini gadis itu justru tampak muak melihat wajahnya. “Aku tidak percaya,” ucap Rafael pelan. “Kau cuma sedang bermain.” “Kalau itu membuatmu tidur nyenyak, silakan percaya.” Anindya berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Rafael menatap punggungnya dengan dada panas. Dari sudut koridor lain, Citra melihat semuanya. Ia berjalan mendekat dengan langkah pelan. “Rafael... kalian bertengkar lagi?” Rafael mengusap rahang keras. “Dia makin keterlaluan.” Citra menggigit bibir, tampak ragu-ragu. “Mungkin... Anindya cuma ingin perhatianmu.” Rafael mendengus. “Aku tahu.” Citra menatap ke arah tempat Anindya pergi. “Kasihan Arkana kalau cuma dijadikan pelarian.” Kalimat itu langsung menancap di kepala Rafael. Pelarian. Ya. Itu kata yang tepat. Arkana hanyalah pelarian karena Anindya tak bisa mendapatkannya. Rafael merasa lebih tenang memikirkan itu. Karena pilihan lain jauh lebih mengganggu, bahwa Anindya benar-benar berhenti menyukainya. Sore hari di perpustakaan, Arkana sedang membaca laporan ekonomi ketika kursi di depannya ditarik. Rafael duduk dengan wajah gelap. “Kau punya waktu?” tanya Rafael. Arkana tak mengangkat kepala. “Sudah terpakai.” “Aku serius.” “Aku juga.” Rafael menahan kesal. “Kau tahu Anindya hanya memanfaatkanmu, kan?” Halaman buku berhenti dibalik. Arkana perlahan mengangkat pandangan. “Menarik.” “Apa?” “Kau bicara seolah aku bodoh.” Rafael mengerutkan kening. “Aku cuma mengingatkan.” “Tidak.” Arkana menutup bukunya. “Kau sedang meyakinkan dirimu sendiri.” Wajah Rafael langsung berubah. “Dia dulu menyukaiku.” “Lalu?” “Lalu perubahan ini tidak masuk akal.” Arkana menatap sahabat lamanya cukup lama. “Kadang orang berhenti menyukai sesuatu setelah melihat lebih jelas.” Nada datarnya membuat Rafael merasa ditusuk. “Kau membelanya lagi.” “Aku sedang menjelaskan logika.” Rafael bangkit berdiri. “Kau akan menyesal saat tahu dia cuma mempermainkanmu," katanya sambil berjalan pergi meninggalkan Arkana. Arkana menatapnya tenang. “Aneh sekali.” “Apa lagi?” tanya Rafael sambil berbalik, menatap Arkana. “Kalau dia memang sedang mempermainkan seseorang...” sudut bibir Arkana terangkat tipis. “Kurasa itu bukan aku.” Rafael terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus membalas apa. Rafael tak menjawab, hanya diam lalu meninggalkan Arkana sendiri. Di luar perpustakaan, Anindya yang baru datang membawa dua minuman mendengar bagian akhir percakapan itu. Ia menahan senyum. Anindya masuk ke dalam, ia meletakkan satu botol teh dingin di meja Arkana. “Untukmu.” Arkana melirik minuman itu. “Terlalu manis.” “Tapi kau tetap akan meminumnya.” “Percaya diri sekali.” “Aku belajar dari seseorang.” “Siapa?” “Pria tampan yang baru saja membelaku.” Arkana membuka botol itu tanpa sadar. Baru setelah menyesap sedikit, ia menyadari jebakan kecil tadi. Anindya tertawa puas. Di sisi lain ruangan, Rafael melihat semuanya dengan rahang mengeras. Dan untuk pertama kalinya, rasa terusik itu berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam. Kehilangan.Arkana masih memandang Anindya yang menggenggam tangannya."Kita butuh bicara," kata Anindya. Lelaki itu menghela napas pelan, kemudian melirik jam dinding yang tergantung di seberang ranjang. "Apa tidak bisa besok saja?"Anindya langsung menggeleng. "Tidak."Arkana kembali menatapnya. "Anin, aku baru sadar setelah sepuluh hari tidak sadarkan diri. Aku masih lelah.""Aku tahu.""Kalau begitu, kita bicara besok saja.""Tidak, Arkana. Kita butuh bicara sekarang."Nada suara Anindya tegas. Tidak tinggi, tetapi cukup untuk membuat Arkana memahami bahwa kali ini perempuan itu tidak akan membiarkannya mengalihkan pembicaraan begitu saja.Arkana terdiam. Ia memperhatikan wajah Anindya, berharap menemukan sedikit keraguan yang bisa memberinya kesempatan untuk menunda percakapan tersebut. Namun, tidak ada.Anindya tetap menatapnya dengan sorot mata yang sama. Teguh. Serius. Dan jelas tidak berniat mengalah.Arkana akhirnya mengembuskan napas panjang. "Baiklah."Arkana menggeser sedikit kepala
Setelah berpamitan sekali lagi, akhirnya Tuan Adipati, Nyonya Adipati, dan Tuan Ranaditya meninggalkan kamar rawat. Dari balik pintu yang perlahan tertutup, suara Tuan Adipati masih terdengar."Besok kita datang lagi lebih pagi."Ranaditya menjawab singkat, "Lihat nanti.""Kamu ini selalu begitu."Suara mereka semakin menjauh, disusul tawa kecil Nyonya Adipati yang terdengar samar. Anindya memperhatikan pintu itu selama beberapa detik.Ketiga orang tersebut pulang dengan wajah ceria. Setidaknya, kini mereka tidak lagi harus menunggu dengan kecemasan yang sama seperti sepuluh hari terakhir.Arkana sudah sadar. Ia sudah bisa berbicara. Ia bahkan sudah mampu tersenyum kepada mereka. Namun, bagi Anindya, ada sesuatu yang masih belum selesai. Sejak Arkana membuka mata, ia hampir tidak mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengannya secara pribadi.Setiap kali ia ingin menanyakan sesuatu, selalu ada orang lain yang datang. Ketika ia hendak memastikan bagaimana perasaan Arkana, dokter masuk
Kata-kata Nyonya Adipati membuat Tuan Adipati terdiam. Kalau ada yang bisa membuat Tuan Adipati terdiam, memang orang itu hanya istrinya. Nyonya Adipati menatap suaminya dengan ekspresi yang tidak memberi banyak ruang untuk perdebatan. "Dokter juga sudah mengatakan bahwa dia perlu beristirahat. Kalau kita terus berada di sini dan mengajaknya berbicara, kapan dia bisa tidur?""Aku tidak mengajaknya berbicara terus-menerus.""Benarkah?"Tuan Adipati terdiam lagi. Di sisi lain, Ranaditya mengalihkan wajahnya, menyembunyikan senyum tipis yang nyaris muncul di sudut bibirnya. Setidaknya, ada seseorang yang bisa memahami maksudnya tanpa perlu diberi kode berkali-kali."Tapi aku masih ingin menemani Arkana," ujar Tuan Adipati, kali ini dengan nada lebih pelan.Nyonya Adipati menghela napas. "Kamu bisa datang lagi besok. Arkana tidak akan pergi ke mana-mana.""Kamu bicara seolah-olah aku menghalangi dia istirahat.""Kalau begitu, ayo pulang." Perempuan itu bangkit, kemudian merapikan tasnya.
Anindya sendiri berdiri tidak jauh dari ranjang. Ia memperhatikan Arkana dengan saksama, mencoba menangkap setiap perubahan ekspresi laki-laki itu.Sesekali, Arkana menjawab pertanyaan mereka. Namun, ada saat-saat ketika ia justru diam terlalu lama, menatap satu titik tanpa mengatakan apa pun.Ketika Tuan Adipati memanggil namanya, Arkana baru kembali menoleh beberapa detik kemudian. Ranaditya pun menyadarinya."Jangan terlalu banyak bertanya dulu," katanya kepada Tuan Adipati. "Dia baru sadar. Beri dia waktu."Tuan Adipati akhirnya mengangguk. "Benar juga."Nyonya Adipati menarik kursi dan duduk di sisi lain ranjang. "Kamu tidak perlu memikirkan apa pun sekarang, Arkana. Istirahat saja. Kami semua ada di sini."Arkana menatapnya sebentar. Kemudian, ia mengangguk pelan. Anindya memperhatikan pemandangan itu dengan perasaan campur aduk.Anindya merasa bahagia melihat Arkana dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Ia juga bersyukur kedua kakek dan Nyonya Adipati bisa melihat sendiri
Setelah dokter dan perawat selesai melakukan pemeriksaan, Anindya menghampiri ranjang."Arkana, bagaimana perasaanmu?"Arkana menoleh perlahan. "Capek." Suaranya terdengar serak.Anindya langsung mengangguk. "Kalau begitu, istirahat dulu. Jangan pikirkan apa-apa sekarang."Ia ingin bertanya tentang Arsen. Pertanyaan itu masih memenuhi pikirannya sejak tadi.Namun, melihat Arkana yang kembali memejamkan mata, Anindya tidak tega memaksanya berbicara. Ia menarik kursi ke dekat ranjang, lalu duduk kembali."Kalau kamu membutuhkan sesuatu, panggil aku, ya."Arkana membuka mata sebentar dan menatapnya. Setelah itu, ia kembali diam.Anindya menghela napas perlahan. Arkana sudah sadar. Itu seharusnya menjadi kabar paling membahagiakan baginya. Namun, kebingungan yang terlihat di wajah laki-laki itu membuat Anindya belum bisa benar-benar tenang.Dan pertanyaan tentang Arsen masih belum mendapatkan jawaban.***Kabar bahwa Arkana telah sadar menyebar dengan cepat kepada keluarga. Orang pertama
Anindya masih belum mampu mengalihkan pandangannya dari Arkana. Laki-laki itu baru saja terbangun setelah sepuluh hari tidak sadarkan diri. Seharusnya, saat ini ia bisa menangis lega, memeluk tangan Arkana, dan mengucapkan semua hal yang selama ini hanya bisa disampaikannya kepada laki-laki yang terbaring diam.Namun, pertanyaan Arkana tentang Arsen telah mengubah segalanya.'Di mana Arsen? Bagaimana keadaannya?'Nama itu terus terngiang di telinga Anindya. Ia ingin segera bertanya mengapa Arkana menyebut nama anak mereka. Ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya diingat laki-laki itu. Namun, ketika melihat wajah Arkana yang masih pucat dan tatapannya yang tampak belum sepenuhnya fokus, Anindya mengurungkan niatnya.Arkana baru saja sadar. Ia belum tentu benar-benar memahami keadaan di sekelilingnya.Mungkin ada sesuatu yang belum beres dengan kondisinya. Mungkin ia masih mengalami kebingungan setelah kehilangan kesadaran begitu lama.Anindya tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri."
Begitu kata-kata Anindya jatuh di udara, halaman sekolah yang tadi sudah sunyi menjadi semakin hening. Beberapa siswa menatapnya seolah baru saja melihat orang gila, bahkan Rafael yang biasanya penuh percaya diri terlihat membeku di tempat. “Mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.” Ka
Suara ramai memenuhi telinga Anindya sebelum ia sempat membuka mata sepenuhnya.Teriakan siswa, langkah kaki berlarian, dan tawa remaja yang bercampur dengan suara bel masuk pagi. Angin menerpa wajahnya, membuat Anindya bertanya-tanya berada di manakah dia. Anindya membuka matanya, ia mengerjap pe
Kabar tentang senyum tipis Arkana Pratama menyebar lebih cepat daripada gosip apa pun di Nusantara Academy. Bukan karena senyumnya luar biasa manis, justru sebaliknya. Karena hampir tak seorang pun percaya pria sedingin itu bisa tersenyum. Sepanjang pagi, bisik-bisik terdengar di setiap sudut korid
Sejak istirahat siang berakhir, suasana kelas XI-A tidak pernah benar-benar tenang. Tatapan siswa terus berpindah antara Anindya Wijaya dan Arkana Pratama. Namun, tidak ada yang bisa menyalahkan mereka.Pagi tadi Anindya mendorong kursi roda siswa pindahan itu masuk kelas seolah hal paling normal d







