Se connecterSudah tiga hari sejak Arkana pindah ke Nusantara Academy. Tiga hari pula nama Anindya Wijaya dan Arkana Pratama menjadi topik utama seluruh sekolah. Ada yang bilang Anindya sedang mencari perhatian. Ada yang bilang Arkana hanya terlalu sopan untuk menolak. Ada juga yang yakin hubungan mereka diam-diam sudah dimulai. Anindya mendengar semua rumor itu sambil menikmati jus jeruk di kantin. Ia sama sekali tidak terganggu.
Jika dibandingkan dengan rasa sakit kehilangan suami dan anak di kehidupan pertama, gosip remaja seperti ini tak lebih dari suara nyamuk. Yang lebih penting adalah satu hal. Ia belum melihat Arkana makan siang dengan benar sejak pindah. Pria itu selalu berkata tidak lapar, lalu hanya minum kopi pahit atau membaca buku sampai jam istirahat selesai. Kebiasaan buruk yang sama. Di kehidupan pertama, Arkana sering melewatkan makan ketika stres. Lambungnya pernah kambuh parah, tetapi ia menyembunyikannya. Anindya menyesal karena dulu tak pernah peduli. Tapi sekarang berbeda. Ia berdiri membawa nampan berisi nasi, sup hangat, dan ayam panggang, lalu berjalan ke meja pojok dekat jendela. Arkana duduk sendiri di sana sambil membaca laporan bisnis berbahasa Inggris. Siapa lagi siswa SMA yang membaca laporan pasar saham saat makan siang? “Pindah,” kata Anindya. Arkana tak mengangkat kepala. “Ini mejaku.” “Sekarang meja kita.” Ia duduk begitu saja di depannya dan meletakkan makanan di antara mereka. “Aku tidak pesan itu," kata Arkana bingung. “Aku tahu. Aku yang pesan.” “Aku tidak lapar.” “Kau bohong.” Baru kali ini Arkana mengangkat pandangan. “Kau sering menuduh orang bohong.” “Aku hanya mengenali kebiasaan buruk.” Tatapan pria itu menajam. "Seolah kau mengenalku.” Anindya menahan napas sepersekian detik. Ia terlalu sering bicara seolah mengetahui dirinya. Namun bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa ia pernah hidup bertahun-tahun sebagai istrinya? Ia tersenyum santai. “Mungkin karena aku pintar membaca orang tampan.” “Kalau begitu kemampuanmu buruk.” “Kenapa?” “Kau masih di sini.” Anindya tertawa kecil. Dingin sekali. Tapi tetap menggemaskan. Anindya mendorong mangkuk sup ke arahnya. “Makan.” “Aku bilang tidak lapar.” “Kalau kau pingsan karena maag, siapa yang repot?” “Aku.” “Aku juga.” Arkana menatapnya beberapa detik, lalu akhirnya mengambil sendok. Gerakan kecil itu membuat hati Anindya hangat tanpa alasan. Di kehidupan pertama, ia tahu kalau Arkana cukup pemilih soal makanan. Tapi hanya makanan ini yang paling mungkin ditelan oleh Arkana. Kini hanya melihat Arkana menuruti dan mau memakan menu pilihannya saja sudah terasa seperti kemenangan besar. Sore harinya, hujan turun deras. Sebagian besar siswa memilih menunggu jemputan di lobi utama. Namun Anindya justru berjalan ke area parkir belakang yang lebih sepi. Ia tahu, setiap hujan, Arkana tidak suka keramaian. Dan benar saja. Di bawah kanopi samping gedung olahraga, Arkana sendirian di kursi rodanya sambil menatap deras air yang jatuh ke aspal. Sopirnya entah ke mana. Anindya berjalan mendekat sambil membawa payung. “Kau kabur dari manusia?” “Aku menghindari suara.” “Kasihan. Berarti kau harus menghindariku juga.” “Aku sedang mempertimbangkannya.” Anindya berdiri di samping Arkana, ikut menatap hujan. Beberapa detik berlalu tanpa bicara. Aneh, diam bersama Arkana justru terasa nyaman. “Kenapa kau selalu menatap hujan?” tanya Anindya pelan. “Karena hujan tidak banyak bicara.” “Kasar.” “Jujur.” Ia tersenyum. Kemudian matanya turun ke kaki pria itu yang tertutup selimut tipis. Di kehidupan pertama, Arkana sangat jarang membiarkan orang melihat kondisinya. Bahkan di rumah, ia selalu menjaga jarak. Namun Anindya tahu satu hal yang tak diketahui orang lain. Pria ini bukan lumpuh total. Ia masih bisa berdiri. Masih bisa berjalan... meski pincang dan menahan sakit. Ia menarik napas. “Arkana.” “Hm?” “Kau masih bisa berdiri, kan?” Sunyi. Udara mendadak terasa dingin. Tatapan Arkana perlahan beralih padanya. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, mata pria itu menunjukkan sesuatu selain datar. Waspada. “Siapa yang memberitahumu?” “Tak ada.” “Lalu?” “Aku tahu saja.” “Jangan main-main.” Nada suaranya rendah dan tajam. Anindya tidak mundur. “Aku tidak main-main.” Arkana menggenggam sandaran kursi rodanya kuat-kuat. “Semua dokter bilang kerusakan sarafku berat.” “Mereka bilang berat. Bukan mustahil.” “Kau bukan dokter.” “Benar.” “Lalu berhenti bicara seolah mengerti tubuhku.” Ia marah. Bukan marah pada dirinya. Marah karena harapan adalah hal paling menyakitkan bagi orang yang sudah sering kecewa. Anindya berjongkok di depannya agar sejajar. “Hanya jawab satu hal.” Arkana menatapnya dingin. “Tidak.” “Kau takut gagal... atau takut berharap?” Rahang pria itu menegang. Hujan turun semakin deras. Detik-detik terasa panjang. Akhirnya Arkana berkata pelan, “Keduanya.” Jawaban jujur pertama. Hati Anindya mencelos. Ia tersenyum lembut. “Kalau begitu mulai sekarang, pinjam harapanku dulu.” Arkana membeku. Mungkin tak pernah ada orang yang bicara seperti itu padanya. Ia memalingkan wajah ke arah hujan. “Kau benar-benar aneh.” “Aku tahu.” “Dan keras kepala.” “Juga benar.” “Dan mengganggu.” “Masih tetap datang besok.” Sudut bibir Arkana bergerak sangat tipis, nyaris tak terlihat. Namun Anindya melihatnya. Ia bangkit berdiri sambil membuka payung. “Ayo pulang.” “Aku menunggu sopir.” “Aku tunggu juga." “Aku tidak mengundangmu.” “Aku juga tidak minta izin.” Arkana mendesah pelan. Untuk orang lain, itu tanda kesal. Untuk Anindya, itu tanda ia mulai diterima. Beberapa menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka. Sopir keluarga Pratama turun tergesa meminta maaf. Arkana hendak masuk, namun sebelum pintu tertutup ia menoleh. “Anindya.” “Ya?” “Besok...” ia berhenti sejenak. “Jangan beli sup terlalu asin.” Ia tersenyum lebar. “Berarti kau akan makan lagi besok?” Pintu mobil tertutup. Namun dari kaca gelap itu, ia bisa melihat telinga Arkana memerah.Pagi itu, Anindya sedang duduk di kursi di samping ranjang Arkana ketika pintu kamar terbuka. Ia menoleh dan mendapati Tuan Ranaditya masuk dengan seorang staf yang membawa nampan makanan.Anindya segera berdiri. "Kakek."Ranaditya mengangguk singkat. "Duduk saja."Anindya kembali duduk, meskipun matanya mengikuti staf yang meletakkan nampan di meja kecil dekat jendela. Setelah staf itu keluar, Ranaditya menunjuk makanan yang baru saja dibawanya. "Makanlah."Anindya sedikit terkejut. "Saya sudah sarapan tadi, Kek."Ranaditya menatapnya. "Jam berapa?"Anindya terdiam sejenak. "Tadi pagi.""Itu bukan jawaban."Anindya akhirnya menunduk sedikit. "Belum sempat, Kek."Ranaditya menarik napas perlahan. Ia tidak langsung menegurnya, tetapi mendorong piring yang tersedia agar lebih mudah dijangkau Anindya. "Kalau begitu, makan sekarang.""Tapi, saya masih ingin menemani Arkana.""Dia tidak akan ke mana-mana."Anindya terdiam.Ranaditya melanjutkan dengan nada tenang, "Kamu bisa makan di sini.
Kemudian, senyum tipis muncul di wajah Tuan Adipati. "Aku sudah bilang kepadamu bahwa Anindya bukan perempuan yang hanya memikirkan dirinya sendiri," kata Tuan AdipatiTuan Ranaditya meliriknya. "Jangan terburu-buru merasa menang. Aku tidak sedang mengatakan bahwa penilaianmu sejak awal sepenuhnya benar."Tuan Adipati terkekeh kecil. "Baiklah. Kalau begitu, katakan saja apa yang sebenarnya ingin kau katakan."Ranaditya tidak langsung menjawab. Ia memandang ke arah lorong yang mengarah ke kamar Arkana.Selama ini, ia ingin memastikan bahwa Anindya mampu memahami tanggung jawab yang menyertai hubungannya dengan Arkana. Ia ingin melihat apakah perempuan itu akan tetap bertahan ketika keadaan menjadi sulit, bukan sekadar ketika semuanya berjalan sesuai keinginannya. Kini, ia telah melihat jawabannya."Setelah Arkana sadar nanti," kata Tuan Ranaditya akhirnya, "aku tidak akan lagi menentang apa yang diinginkannya mengenai Anindya."Tuan Adipati menoleh dengan cepat. "Kau serius?""Aku seri
Ranaditya tidak tahu apakah Anindya menyadari bahwa seseorang telah mendengar pertengkaran mereka. Ia juga tidak berniat memberitahunya bahwa dirinya berada di luar selama percakapan itu berlangsung.Namun, satu hal sudah jelas bagi Ranaditya. Ia telah mendengar cukup banyak untuk memahami sesuatu yang selama ini ingin ia pastikan. Dan kali ini, ia tidak membutuhkan penjelasan siapa pun untuk mengambil keputusan.Ranaditya masih diam di luar, ketika mendengar kata-kata Anindya pada Arkana yang masih belum sadar. Permohonan dari Anindya agar Arkana segera sadar. Suara Anindya yang bergetar membuat Ranaditya memutuskan untuk menunggu sejenak, memberi waktu sampai Anindya kembali stabil. ***Anindya sedang duduk kembali di sisi ranjang Arkana ketika Ranaditya akhirnya memutuskan masuk. Perempuan itu mengusap tangan cucunya dengan gerakan perlahan. Matanya merah. Ia jelas baru saja menangis.Namun, ketika menyadari kedatangan Ranaditya, Anindya segera menyeka pipinya dan berusaha menegak
Seolah tak cukup, Anindya kembali menambahkan. "Kamu tahu apa yang paling menyedihkan dari semua ini, Rafael? Kamu bahkan tidak menyadari bahwa selama ini kamu lebih sibuk memperjuangkan keinginanmu sendiri daripada memahami orang yang katanya kamu cintai."Ranaditya memejamkan mata sesaat. Ia pernah mempertanyakan apakah Anindya benar-benar memahami Arkana. Apakah perempuan itu mengerti bahwa hidup bersama cucunya tidak akan selalu mudah? Apakah ia sanggup menghadapi ketidakpastian, perbedaan pendapat, dan kesulitan yang mungkin muncul dalam pernikahan mereka kelak?Ranaditya tidak ingin Arkana menikah hanya karena sedang jatuh cinta. Ia ingin cucunya memiliki pasangan yang mampu berdiri di sisinya, bukan seseorang yang akan pergi ketika keadaan menjadi sulit. Namun, Anindya sekarang sedang menunjukkan sesuatu yang selama ini ingin ia lihat.Arkana belum sadar. Tidak ada jaminan bahwa laki-laki itu akan segera membuka mata. Tidak ada kepastian kapan kondisinya akan membaik. Bahkan pa
Tuan Ranaditya berdiri beberapa langkah dari pintu kamar rawat Arkana ketika suara tamparan terdengar dari dalam. Langkahnya terhenti.Ia sebenarnya datang untuk melihat keadaan cucunya. Sejak pagi, ia dan Tuan Adipati bergantian mengurus konsultasi dengan para dokter, berharap ada perkembangan yang bisa menjelaskan mengapa Arkana belum juga sadarkan diri.Tuan Adipati sedang berbicara dengan salah seorang dokter ketika Ranaditya memutuskan kembali lebih dahulu ke kamar. Namun, sebelum tangannya sempat menyentuh gagang pintu, suara Anindya terdengar dari dalam."Keluar."Ranaditya mengenali suara itu. Ia juga mengenali suara Rafael yang menyusul beberapa saat kemudian."Kamu menamparku?"Ranaditya mengernyit. Ia tidak berniat menguping percakapan mereka. Namun, mendengar nama cucunya disebut dalam nada yang meninggi, ia memilih menahan diri dan memberi mereka waktu untuk menyelesaikan urusan tersebut.Lagi pula, dari percakapan yang terdengar, ia bisa memahami bahwa Rafael kembali mel
Rafael mengikuti arah pandangan Anindya. Arkana masih belum sadar. Tidak ada gerakan, tidak ada suara, tidak ada tanda bahwa laki-laki itu mendengar semua yang baru saja dikatakan Anindya. Namun, bagi Anindya, diamnya Arkana tidak pernah membuat pilihannya menjadi kurang berarti. Ia tidak memilih Arkana karena laki-laki itu sempurna. Ia tidak memilih Arkana karena hubungan mereka akan selalu mudah.Ia memilih Arkana karena ia mencintainya, karena ia ingin berada di sisinya, dan karena ia percaya bahwa hubungan mereka layak diperjuangkan bersama. Bahkan ketika masa depan mereka belum memberikan kepastian."Aku tidak tahu kapan Arkana akan sadar," kata Anindya akhirnya. "Aku juga tidak tahu berapa lama dia akan membutuhkan waktu untuk pulih. Aku takut, Rafael. Aku sangat takut kehilangan dia."Suara Anindya melemah. "Tapi ketakutanku tidak membuatku ingin meninggalkannya. Ketidakpastian ini tidak membuatku menyesali pilihanku."Anindya menyeka air matanya. "Jadi, jangan pernah datang la
Kabar tentang senyum tipis Arkana Pratama menyebar lebih cepat daripada gosip apa pun di Nusantara Academy. Bukan karena senyumnya luar biasa manis, justru sebaliknya. Karena hampir tak seorang pun percaya pria sedingin itu bisa tersenyum. Sepanjang pagi, bisik-bisik terdengar di setiap sudut korid
Sejak istirahat siang berakhir, suasana kelas XI-A tidak pernah benar-benar tenang. Tatapan siswa terus berpindah antara Anindya Wijaya dan Arkana Pratama. Namun, tidak ada yang bisa menyalahkan mereka.Pagi tadi Anindya mendorong kursi roda siswa pindahan itu masuk kelas seolah hal paling normal d
Begitu kata-kata Anindya jatuh di udara, halaman sekolah yang tadi sudah sunyi menjadi semakin hening. Beberapa siswa menatapnya seolah baru saja melihat orang gila, bahkan Rafael yang biasanya penuh percaya diri terlihat membeku di tempat. “Mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.” Ka
Suara ramai memenuhi telinga Anindya sebelum ia sempat membuka mata sepenuhnya.Teriakan siswa, langkah kaki berlarian, dan tawa remaja yang bercampur dengan suara bel masuk pagi. Angin menerpa wajahnya, membuat Anindya bertanya-tanya berada di manakah dia. Anindya membuka matanya, ia mengerjap pe







