Share

Chapter 6

Author: Nyctus
last update publish date: 2026-04-26 14:19:43

Sudah tiga hari sejak Arkana pindah ke Nusantara Academy. Tiga hari pula nama Anindya Wijaya dan Arkana Pratama menjadi topik utama seluruh sekolah. Ada yang bilang Anindya sedang mencari perhatian. Ada yang bilang Arkana hanya terlalu sopan untuk menolak. Ada juga yang yakin hubungan mereka diam-diam sudah dimulai. Anindya mendengar semua rumor itu sambil menikmati jus jeruk di kantin. Ia sama sekali tidak terganggu.

Jika dibandingkan dengan rasa sakit kehilangan suami dan anak di kehidupan pertama, gosip remaja seperti ini tak lebih dari suara nyamuk. Yang lebih penting adalah satu hal. Ia belum melihat Arkana makan siang dengan benar sejak pindah. Pria itu selalu berkata tidak lapar, lalu hanya minum kopi pahit atau membaca buku sampai jam istirahat selesai. Kebiasaan buruk yang sama.

Di kehidupan pertama, Arkana sering melewatkan makan ketika stres. Lambungnya pernah kambuh parah, tetapi ia menyembunyikannya. Anindya menyesal karena dulu tak pernah peduli. Tapi sekarang berbeda. Ia berdiri membawa nampan berisi nasi, sup hangat, dan ayam panggang, lalu berjalan ke meja pojok dekat jendela. Arkana duduk sendiri di sana sambil membaca laporan bisnis berbahasa Inggris. Siapa lagi siswa SMA yang membaca laporan pasar saham saat makan siang?

“Pindah,” kata Anindya.

Arkana tak mengangkat kepala.

“Ini mejaku.”

“Sekarang meja kita.”

Ia duduk begitu saja di depannya dan meletakkan makanan di antara mereka.

“Aku tidak pesan itu," kata Arkana bingung.

“Aku tahu. Aku yang pesan.”

“Aku tidak lapar.”

“Kau bohong.”

Baru kali ini Arkana mengangkat pandangan. “Kau sering menuduh orang bohong.”

“Aku hanya mengenali kebiasaan buruk.”

Tatapan pria itu menajam. "Seolah kau mengenalku.”

Anindya menahan napas sepersekian detik. Ia terlalu sering bicara seolah mengetahui dirinya. Namun bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa ia pernah hidup bertahun-tahun sebagai istrinya? Ia tersenyum santai.

“Mungkin karena aku pintar membaca orang tampan.”

“Kalau begitu kemampuanmu buruk.”

“Kenapa?”

“Kau masih di sini.”

Anindya tertawa kecil. Dingin sekali. Tapi tetap menggemaskan. Anindya mendorong mangkuk sup ke arahnya.

“Makan.”

“Aku bilang tidak lapar.”

“Kalau kau pingsan karena maag, siapa yang repot?”

“Aku.”

“Aku juga.”

Arkana menatapnya beberapa detik, lalu akhirnya mengambil sendok. Gerakan kecil itu membuat hati Anindya hangat tanpa alasan.

Di kehidupan pertama, ia tahu kalau Arkana cukup pemilih soal makanan. Tapi hanya makanan ini yang paling mungkin ditelan oleh Arkana. Kini hanya melihat Arkana menuruti dan mau memakan menu pilihannya saja sudah terasa seperti kemenangan besar.

Sore harinya, hujan turun deras. Sebagian besar siswa memilih menunggu jemputan di lobi utama. Namun Anindya justru berjalan ke area parkir belakang yang lebih sepi. Ia tahu, setiap hujan, Arkana tidak suka keramaian. Dan benar saja.

Di bawah kanopi samping gedung olahraga, Arkana sendirian di kursi rodanya sambil menatap deras air yang jatuh ke aspal. Sopirnya entah ke mana. Anindya berjalan mendekat sambil membawa payung.

“Kau kabur dari manusia?”

“Aku menghindari suara.”

“Kasihan. Berarti kau harus menghindariku juga.”

“Aku sedang mempertimbangkannya.”

Anindya berdiri di samping Arkana, ikut menatap hujan. Beberapa detik berlalu tanpa bicara. Aneh, diam bersama Arkana justru terasa nyaman.

“Kenapa kau selalu menatap hujan?” tanya Anindya pelan.

“Karena hujan tidak banyak bicara.”

“Kasar.”

“Jujur.”

Ia tersenyum. Kemudian matanya turun ke kaki pria itu yang tertutup selimut tipis. Di kehidupan pertama, Arkana sangat jarang membiarkan orang melihat kondisinya. Bahkan di rumah, ia selalu menjaga jarak. Namun Anindya tahu satu hal yang tak diketahui orang lain. Pria ini bukan lumpuh total. Ia masih bisa berdiri. Masih bisa berjalan... meski pincang dan menahan sakit. Ia menarik napas.

“Arkana.”

“Hm?”

“Kau masih bisa berdiri, kan?”

Sunyi. Udara mendadak terasa dingin. Tatapan Arkana perlahan beralih padanya. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, mata pria itu menunjukkan sesuatu selain datar. Waspada.

“Siapa yang memberitahumu?”

“Tak ada.”

“Lalu?”

“Aku tahu saja.”

“Jangan main-main.” Nada suaranya rendah dan tajam.

Anindya tidak mundur. “Aku tidak main-main.”

Arkana menggenggam sandaran kursi rodanya kuat-kuat.

“Semua dokter bilang kerusakan sarafku berat.”

“Mereka bilang berat. Bukan mustahil.”

“Kau bukan dokter.”

“Benar.”

“Lalu berhenti bicara seolah mengerti tubuhku.”

Ia marah. Bukan marah pada dirinya. Marah karena harapan adalah hal paling menyakitkan bagi orang yang sudah sering kecewa. Anindya berjongkok di depannya agar sejajar.

“Hanya jawab satu hal.”

Arkana menatapnya dingin. “Tidak.”

“Kau takut gagal... atau takut berharap?”

Rahang pria itu menegang. Hujan turun semakin deras. Detik-detik terasa panjang. Akhirnya Arkana berkata pelan, “Keduanya.”

Jawaban jujur pertama. Hati Anindya mencelos. Ia tersenyum lembut.

“Kalau begitu mulai sekarang, pinjam harapanku dulu.”

Arkana membeku. Mungkin tak pernah ada orang yang bicara seperti itu padanya. Ia memalingkan wajah ke arah hujan.

“Kau benar-benar aneh.”

“Aku tahu.”

“Dan keras kepala.”

“Juga benar.”

“Dan mengganggu.”

“Masih tetap datang besok.”

Sudut bibir Arkana bergerak sangat tipis, nyaris tak terlihat. Namun Anindya melihatnya. Ia bangkit berdiri sambil membuka payung.

“Ayo pulang.”

“Aku menunggu sopir.”

“Aku tunggu juga."

“Aku tidak mengundangmu.”

“Aku juga tidak minta izin.”

Arkana mendesah pelan. Untuk orang lain, itu tanda kesal. Untuk Anindya, itu tanda ia mulai diterima. Beberapa menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka. Sopir keluarga Pratama turun tergesa meminta maaf. Arkana hendak masuk, namun sebelum pintu tertutup ia menoleh.

“Anindya.”

“Ya?”

“Besok...” ia berhenti sejenak. “Jangan beli sup terlalu asin.”

Ia tersenyum lebar. “Berarti kau akan makan lagi besok?”

Pintu mobil tertutup. Namun dari kaca gelap itu, ia bisa melihat telinga Arkana memerah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 111

    Sudah dua hari sejak pertengkaran mereka di taman kampus. Dua hari. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka resmi berpacaran, Anindya benar-benar tidak menghubungi Arkana.Tidak ada pesan selamat pagi. Tidak ada foto makanan yang biasa ia kirim saat makan siang. Tidak ada pertanyaan sederhana seperti, 'Sudah makan?' atau 'Kuliahmu selesai jam berapa?'Semuanya menghilang. Arkana berkali-kali membuka layar ponselnya. Kotak percakapan mereka tetap menjadi yang paling atas. Namun tidak ada pesan baru. Ia beberapa kali ingin mengetik sesuatu.'Maaf.''Apa kita bisa bicara?''Aku jemput pulang?'Semua kalimat itu ditulis. Lalu dihapus kembali. Hingga akhirnya, pada malam kedua, Arkana menyadari satu hal. Jika ia terus diam, jurang di antara mereka hanya akan semakin lebar. Ia menarik napas panjang. Lalu menekan tombol panggil.Nada sambung terdengar.Sekali.Dua kali.Tiga kali."...Halo."Suara Anindya terdengar pelan. Tidak dingin. Namun juga tidak sehangat biasanya."Anin...""Ada apa?"

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 110

    Sejak percakapan antara Arkana dengan Tuan Adipati beberapa hari yang lalu, ada sesuatu yang berubah pada diri Arkana.Perubahannya tidak besar. Bahkan mungkin tidak akan disadari oleh orang lain. Namun bagi Anindya... Perubahan sekecil apa pun pada Arkana hampir tidak pernah luput dari perhatiannya.Arkana masih menghubunginya setiap pagi. Masih menjemputnya ke kampus dengan sopir keluarga Pratama. Masih menemaninya makan siang ketika jadwal kuliah mereka bertemu. Masih mengantar pulang seperti biasa. Semuanya tetap sama. Setidaknya di permukaan. Namun, Arkana menjadi jauh lebih pendiam.Ketika Anindya bercerita tentang dosen yang tiba-tiba memberi revisi tambahan, Arkana tetap mendengarkan, tetapi jawabannya hanya singkat."Hm.""Iya.""Bagus."Sesekali ia tersenyum. Tetapi senyumnya tidak lagi benar-benar sampai ke matanya.Anindya mencoba mengabaikannya. Mungkin Arkana sedang lelah. Mungkin tugas akhirnya sedang menumpuk. Mungkin ada masalah di perusahaan keluarga.Anindya tidak i

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 109

    Beberapa hari setelah menghadiri jamuan makan malam bersama para rekan bisnis dan bertemu dengan Rafael, Tuan Adipati Pradikusuma kembali mengunjungi kediaman keluarga Pratama.Kunjungannya kali ini bukan untuk urusan perusahaan. Ia hanya ingin bertemu dengan cucunya. Arkana yang sedang berada di ruang baca segera menghentikan pekerjaannya begitu mendengar kedatangan sang kakek."Kakek."Tuan Adipati mengangguk pelan. "Masih sibuk?""Sedikit. Tugas akhir sudah hampir selesai.""Bagus."Keduanya kemudian berpindah ke ruang keluarga. Seperti biasa, pelayan menghidangkan teh hangat dan beberapa kudapan sederhana sebelum meninggalkan mereka berdua.Tuan Adipati tidak langsung membuka tujuan kedatangannya. Beliau lebih dulu menanyakan perkembangan kuliah Arkana, tugas akhirnya, hingga rencana memasuki Grup Pratama setelah wisuda nanti.Arkana menjawab satu per satu dengan tenang. Semua berjalan sesuai rencana. Ia dan Anindya tinggal menyelesaikan beberapa mata kuliah terakhir sebelum resmi

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 108

    Beberapa hari setelah reuni, Rafael menghadiri sebuah jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh salah satu mitra bisnis keluarga Mahendra.Acara itu dipenuhi para pengusaha, komisaris, dan keluarga-keluarga besar yang telah lama saling mengenal. Sebagai putra keluarga Mahendra, Rafael memang beberapa kali mulai diminta ayahnya menghadiri acara seperti ini."Belajar mengenal orang-orang penting," begitu kata ayahnya.Rafael tidak terlalu menikmati acara semacam itu. Baginya, percakapan mengenai bisnis jauh lebih membosankan dibanding menghadiri presentasi kuliah. Namun sebagai penerus keluarga, ia tidak memiliki banyak pilihan.Setelah menyapa beberapa tamu, pandangannya tiba-tiba berhenti pada seorang pria tua berambut putih yang sedang berbincang dengan beberapa pengusaha. Posturnya masih tegap. Tatapannya tajam. Meski usianya tidak lagi muda, wibawanya tetap terasa begitu kuat.Rafael langsung mengenalinya. Tuan Adipati Pradikusuma. Kakek dari pihak ibu Arkana.Rafael menarik nap

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 107

    Malam telah larut ketika Rafael akhirnya tiba di apartemennya. Setelah kuliah, Rafael memang memutuskan untuk tinggal sendiri. Ingin merasakan mandiri, alasannya dulu. Padahal, Rafael hanya tidak ingin merasa diawasi oleh orang tuanya. Terlebih karena hubungannya dengan Citra yang masih ditentang oleh orang tuanya. Rafael melepaskan jas tipis yang dikenakannya, lalu menjatuhkannya begitu saja ke atas sofa. Ruangan itu sunyi. Biasanya, setelah mengantar Citra pulang, ia akan langsung mandi lalu tidur. Namun malam ini berbeda.Entah mengapa, pikirannya justru kembali ke acara reuni yang baru saja selesai beberapa jam lalu. Rafael mengembuskan napas panjang. Bayangan teman-teman sekelas mereka satu per satu bermunculan di kepalanya.Lina yang tetap cerewet. Teman-teman yang masih tetap berisik dan bersemangat dengan gosip. Dan... Anindya.Rafael memejamkan mata. Ia masih ingat jelas saat melihat Anindya di restoran bersama Arkana. Selama bertahun-tahun mereka tidak benar-benar bertemu.

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 106

    Malam itu, setelah mengucapkan selamat malam kepada Arkana, Anindya berjalan menuju kamarnya dengan langkah pelan. Rumah keluarga Wijaya sudah mulai sunyi. Ia meletakkan tas di atas sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang.Entah mengapa, pikirannya masih dipenuhi berbagai hal yang terjadi selama reuni. Namun, yang paling mengganggunya justru bukan Rafael. Melainkan Arkana.Anindya menghela napas pelan. Beberapa tahun terakhir, hubungan mereka berjalan begitu baik. Mereka hampir tidak pernah bertengkar. Jarang salah paham. Bahkan jika ada perbedaan pendapat, semuanya selalu selesai melalui percakapan yang tenang.Di mata siapa pun, mereka adalah pasangan yang nyaris sempurna. Namun... Anindya menyadari ada satu hal yang tidak pernah berubah sejak mereka resmi berpacaran.Arkana selalu menjaga jarak. Bukan jarak emosional. Justru sebaliknya. Arkana selalu ada ketika ia membutuhkan. Selalu mendengarkan. Selalu mengutamakan dirinya.Namun, ketika hubungan mereka mulai mengarah pad

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 7

    Perubahan sikap Anindya Wijaya menjadi bahan pembicaraan paling panas di Nusantara Academy selama seminggu terakhir. Dulu, semua orang tahu siapa yang selalu mengelilingi Rafael Mahendra.Anindya, wanita kaya yang keras kepala itu akan datang membawa kopi saat Rafael begadang mengerjakan tugas, men

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 5

    Kabar tentang senyum tipis Arkana Pratama menyebar lebih cepat daripada gosip apa pun di Nusantara Academy. Bukan karena senyumnya luar biasa manis, justru sebaliknya. Karena hampir tak seorang pun percaya pria sedingin itu bisa tersenyum. Sepanjang pagi, bisik-bisik terdengar di setiap sudut korid

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 4

    Sejak istirahat siang berakhir, suasana kelas XI-A tidak pernah benar-benar tenang. Tatapan siswa terus berpindah antara Anindya Wijaya dan Arkana Pratama. Namun, tidak ada yang bisa menyalahkan mereka.Pagi tadi Anindya mendorong kursi roda siswa pindahan itu masuk kelas seolah hal paling normal d

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 3

    Begitu kata-kata Anindya jatuh di udara, halaman sekolah yang tadi sudah sunyi menjadi semakin hening. Beberapa siswa menatapnya seolah baru saja melihat orang gila, bahkan Rafael yang biasanya penuh percaya diri terlihat membeku di tempat. “Mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.” Ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status