Share

Chapter 34

Author: Nyctus
last update publish date: 2026-05-08 16:11:09

Setelah malam pertengkaran dengan keluarganya, Rafael Mahendra nyaris tidak tidur. Setiap kali memejamkan mata, suara ayahnya kembali terngiang.

'Kalau cuma pacaran, tidak apa-apa. Tapi kalau menikah, sampai mati keluarga tidak akan setuju.'

Kalimat itu terasa seperti penghinaan. Bukan hanya untuk Citra. Tapi juga untuk dirinya. Seolah hidupnya sudah dipetakan dan ia tinggal berjalan sesuai garis. Seolah siapa yang boleh ia sukai pun harus mendapat persetujuan rapat direksi keluarga.

Rafael be
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 70

    Setelah Arkana di perpustakaan sendiri, pandangannya kosong. Kepalanya penuh dengan kilas balik kejadian barusan. Arkana tahu, ia bisa mengejar. Ia bisa memanggil. Ia bisa menjelaskan. Namun tubuhnya justru kaku. Bukan karena kakinya. Tapi karena ketakutan.Bagaimana jika Anindya memang hanya keras kepala sesaat? Bagaimana jika suatu hari ia menyesal? Bagaimana jika perasaannya sekarang tulus... tapi tidak cukup kuat untuk masa depan?Arkana menutup mata. Ia tidak takut ditolak. Ia takut dipercaya lalu mengecewakan. Ia takut, ternyata dirinya tidak bisa menjadi yang diharapkan oleh Anindya. Dan kesadaran ini, membuat Arkana terkejut lebih dari yang seharusnya.Arkana menggeleng. Tidak, seharusnya bukan ini yang ia rasakan. Arkana sadar, perasaan yang mulai muncul ini harus dibunuh dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Malam itu, rumah keluarga Wijaya terasa lebih sunyi. Anindya pulang lebih cepat dan langsung masuk kamar. Neneknya yang sedang membaca koran menatap pintu tertutup. La

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 69

    Sore di perpustakaan, Anindya datang tetap sesuai jadwal. Ia meletakkan buku dengan agak keras.“Kita belajar atau kamu mau kabur lagi?”Arkana membuka catatan. “Kita belajar.”“Bagus.”Dua puluh menit pertama berjalan dalam diam. Akhirnya Anindya melempar pensil ke meja.“Aku nggak tahan," kata Anindya kesal. “Ambil pensilmu.”“Jawab aku dulu.”“Tidak.”“Kenapa kamu berubah?”Arkana menatapnya. “Aku tidak berubah.”“Kamu menjauh.”“Itu perasaanmu.”“Kamu dingin.”“Aku memang dingin.”“Kamu kejam.”“Itu baru mungkin.”Anindya menggigit bibir. Matanya mulai memanas. Namun ia menolak menangis. “Kalau kamu mau aku pergi, bilang.”Arkana menahan napas. Ia hampir menjawab tidak. Namun kata yang keluar justru lain. “Kalau kamu lelah, kamu boleh berhenti.”Sunyi. Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi Anindya...itu seperti pintu yang dibuka keluar.“Berhenti?” ulang Anindya pelan.Arkana menatap buku lagi. “Kamu sibuk kelas XII. Fokus saja.”“Dan kampusmu?”“Itu urusanmu.”“Dan syarat

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 68

    Sikap Arkana cukup memberi kejutan bagi Anindya dan bukannya Arkana tidak tahu tentang hal itu. Di sisi lain ruangan, Arkana menggenggam pena terlalu erat. Ia mendengar napas Anindya berubah. Mendengar semangat gadis itu turun. Dan bagian dirinya ingin langsung menarik kata-kata tadi. Namun bagian lain menahan. Karena justru itulah masalahnya. Ia mulai terlalu lembut padanya. Terlalu nyaman. Terlalu ingin dekat.Jika nanti Anindya sadar hidup nyata tak seindah bayangannya... maka semakin dekat mereka sekarang, semakin sakit saat hancur. Lebih baik ia menarik jarak lebih dulu. Lebih aman begitu. Setidaknya begitu yang ia paksa percaya.Sore hari, Anindya pulang lebih diam dari biasanya. Neneknya langsung menyadari.“Kamu berantem?” tanya Neneknya.“Tidak.”“Nilai jelek?”“Tidak.”“Laki-laki?”Anindya menatap neneknya. “Kok tahu?”“Karena wajahmu terlalu mahal untuk rusak gara-gara matematika.”Ia menghela napas dan menjatuhkan diri ke sofa. “Dia dingin.”“Bukannya memang dingin?”“Ini

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 67

    Arkana menghentikan kursi rodanya di sisi Anindya sambil menatap Rafael. Pandangannya sulit dijelaskan maknanya.“Sudah selesai?” tanya Arkana pada Anindya.Rafael menegakkan tubuh. “Ini urusan kami.”“Sekarang urusanku juga.” Nada Arkana tenang.Dan justru itu lebih menekan. Anindya menoleh cepat. “Kamu dengar?”“Cukup.”Arkana tak melihat Anindya. Matanya tetap pada Rafael.“Kamu banyak bicara soal hidup orang lain," kata Arkana.Rafael membalas tajam. “Aku bicara fakta.”Arkana memiringkan kepala sedikit. “Fakta atau ketakutanmu sendiri?”Rafael mengepal tangan. Arkana melanjutkan, “Kalau kau meragukan dia, itu urusanmu. Kalau kau meragukan aku, itu lucu. Dan kalau kau datang untuk merendahkan kondisiku di depan dia...”Arkana berhenti sejenak. Tatapannya menusuk lurus. “Maka kau jauh lebih kecil dari yang kupikir.”Sunyi. Berat. Rafael belum pernah merasa dipandang serendah itu tanpa suara tinggi. Anindya berdiri di samping Arkana dengan dada berdebar. Ia menatap profil wajah pria

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 66

    Di sisi lain sekolah, Rafael melihat dari kejauhan. Anindya berdiri di depan Arkana sambil tersenyum cerah. Arkana memegang kertas nilainya. Mereka tampak seperti pasangan bahkan sebelum resmi menjadi apa-apa. Rafael merasakan sesuatu yang makin sering datang akhir-akhir ini. Penyesalan. Bukan hanya karena kehilangan perhatian Anindya. Tapi karena baru sadar gadis itu bersinar saat diberi ruang untuk berkembang. Dan dulu... ia justru sering memadamkannya.Citra yang berdiri di samping Rafael menangkap arah pandangnya.“Kamu lihat Anindya lagi.”Rafael menoleh cepat. “Aku cuma kebetulan.”“Sudah sering kebetulan.” Nada Citra lembut, namun ujungnya tajam.Rafael menghela napas. “Kamu terlalu sensitif.”“Dan kamu terlalu tidak jujur pada diri sendiri.”Citra tersenyum kecil setelah berkata begitu. Lalu berjalan lebih dulu. Rafael berdiri diam. Ia mulai lelah dengan kalimat-kalimat yang terasa seperti cermin.Sore hari di perpustakaan, Anindya sedang mengerjakan soal ketika tiba-tiba menu

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 65

    Sikap Arkana yang membiarkan Anindya tertidur dengan posisi bersandar di bahunya adalah suatu pemandangan yang sangat aneh dilihat. Untuk pria yang menjaga jarak selama ini, itu sudah hampir seperti pengakuan. Sayangnya momen itu tak berlangsung lama.Suara pintu perpustakaan terbuka. Rafael masuk untuk mencari referensi tugas. Ia berhenti begitu melihat pemandangan di depan. Anindya tertidur di bahu Arkana. Arkana tidak menolak. Dan ekspresi pria itu...tenang. Seolah hal tersebut wajar. Arkana bahkan merasa tidak perlu repot-repot menyingkirkan Anindya dari bahunya atau terlihat ekspresi terganggu dari wajahnya.Dada Rafael menegang. Ia tak tahu kenapa langkahnya terasa berat. Anindya dulu pernah tertidur saat menunggunya di ruang musik. Saat itu ia membangunkannya dengan kesal karena merasa terganggu. Kini ia melihat pria lain memberi apa yang tak pernah ia berikan: kenyamanan.Rafael menggenggam buku di tangannya terlalu erat. Arkana mengangkat kepala dan melihat Rafael. Tatapan ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status