Share

Chapter 40

Author: Nyctus
last update publish date: 2026-05-10 15:55:20

Hari-hari setelah itu bergerak cepat. Terlalu cepat bagi sebagian orang. Namun terlalu lambat bagi yang sedang gelisah.

Di Nusantara Academy, banyak siswa mulai terbiasa melihat satu pemandangan baru: Anindya Wijaya di dekat Arkana Pratama. Kadang membawa buku. Kadang membawa camilan. Kadang hanya membawa dirinya sendiri dan tingkat kebisingan yang tidak perlu.

Dan yang paling mengejutkan—Arkana mulai membiarkannya. Bukan menerima secara terang-terangan. Namun juga tidak menolak seperti dulu. U
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 175

    Anindya masih menatap ponselnya beberapa saat setelah sambungan dengan Citra berakhir. Ia tidak tahu mengapa perasaannya justru semakin tidak tenang. Citra memang tidak mengatakan sesuatu yang mencurigakan secara terang-terangan. Tidak ada ancaman. Tidak ada tuduhan. Tidak ada pembicaraan panjang tentang Rafael. Bahkan Citra sudah berulang kali mengatakan bahwa ia tidak akan membicarakan Rafael ketika mereka bertemu nanti. Tetapi justru itu yang membuat Anindya merasa aneh.Ia akhirnya membuka daftar kontak. Jarinya berhenti pada satu nama. Arkana. Anindya menekan tombol panggil.Tidak lama kemudian, suara Arkana terdengar dari seberang. “Halo?”“Arkana.”“Hm?”“Aku baru saja ditelepon Citra.”Suara Arkana langsung berubah lebih serius. “Citra?”“Iya.”“Dia menghubungimu?”“Nomor baru.”Arkana diam sejenak. “Dia bilang apa?”Anindya menceritakan semuanya. Tentang permintaan maaf Citra. Tentang keinginannya bertemu secara langsung. Tentang bagaimana Anindya beberapa kali menolak. Tenta

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 174

    Ponsel Anindya bergetar ketika ia baru saja selesai membaca beberapa halaman bahan kuliah. Satu nomor tidak dikenal muncul di layar. Anindya membiarkannya. Beberapa detik kemudian, panggilan itu berhenti. Lalu masuk lagi. Anindya menghela napas sebelum akhirnya mengangkatnya.“Halo?”Tidak ada jawaban.Anindya menunggu beberapa detik. “Halo?”“Anindya?”Begitu mendengar suara itu, tubuh Anindya langsung menegang. Ia mengenalinya. “Citra?”“Iya.”Anindya tidak mengatakan apa-apa lagi. Ada jeda cukup panjang di antara mereka.“Aku tahu kamu mungkin tidak ingin menerima telepon dariku,” ujar Citra akhirnya. Suaranya terdengar jauh lebih pelan daripada biasanya. “Tapi aku ingin minta maaf.”Anindya mengernyit. “Untuk apa?”“Untuk kejadian di kampus.”Anindya bersandar di kursinya. “Kamu sudah minta maaf sekarang.”“Aku ingin minta maaf langsung.”“Tidak perlu.”Jawaban Anindya begitu cepat hingga Citra terdiam.“Aku serius,” lanjut Anindya. “Aku menerima permintaan maafmu. Jadi tidak perl

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 173

    Suatu siang, Rafael baru saja keluar dari perpustakaan ketika seorang teman berlari kecil menghampirinya. "Raf!""Apa lagi?""Citra di depan."Rafael langsung berhenti. "Di depan mana?""Depan perpustakaan."Rafael menoleh. Benar. Citra berdiri di dekat pintu. Matanya langsung menemukan Rafael."Rafael!"Rafael berbalik. "Astaga." Ia masuk kembali ke perpustakaan.Temannya tertawa kecil. "Ini serius?""Menurutmu?""Kalian seperti sedang main petak umpet.""Ini tidak lucu." Rafael berjalan menuju tangga belakang.Namun dari kejauhan, suara Citra masih terdengar. "Rafael! Tunggu!"Rafael mempercepat langkah. Ia tidak ingin bertengkar. Tidak ingin mendengarkan permintaan maaf lagi. Tidak ingin membuka kembali pembicaraan yang sudah ia tutup. Ia hanya ingin hidupnya kembali tenang.Pengejaran itu akhirnya mulai membawa konsekuensi bagi Citra sendiri. Semakin sering ia terlihat menunggu Rafael di kampus, semakin banyak mahasiswa yang mulai memperhatikan. Awalnya hanya bisik-bisik. Kemudian

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 172

    Sejak Rafael mengakhiri hubungannya dengan Citra, hidupnya justru terasa lebih ramai. Bukan karena pekerjaan. Bukan karena keluarga. Melainkan karena Citra.Hari pertama setelah mereka putus, ponsel Rafael tidak berhenti bergetar. Pesan masuk satu demi satu.'Rafael, kita perlu bicara.''Rafael, tolong angkat teleponku.''Aku tahu kamu masih marah.''Beri aku kesempatan untuk menjelaskan.'Rafael membaca beberapa pesan itu tanpa membalas. Awalnya ia masih berusaha mengabaikannya. Ia berharap Citra akan menerima keputusan tersebut setelah beberapa hari. Namun ternyata tidak.Hari kedua. Hari ketiga. Hari keempat. Pesannya justru semakin banyak. Bahkan ketika Rafael tidak menjawab, Citra tetap mengirimkan pesan baru.'Kenapa kamu tidak membalas?''Setidaknya jawab aku.''Aku cuma ingin bertemu.''Lima menit saja.'Rafael mulai merasa terganggu. Ia sudah menjelaskan semuanya ketika mereka bertemu. Ia sudah mengatakan bahwa hubungan mereka berakhir. Apa lagi yang harus dijelaskan? Namun C

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 171

    Citra tahu, kalau seperti ini terus Rafael akan pergi dan Citra tidak bisa membiarkan ini terjadi.Citra mulai berkaca-kaca. "Aku hanya ingin merasa aman.""Aku juga ingin merasa tenang dalam hubungan."Citra terdiam.Rafael melanjutkan, "Hubungan seharusnya menjadi tempat dua orang merasa nyaman. Bukan tempat aku merasa harus terus berhati-hati agar tidak memicu kecurigaanmu."Air mata Citra mulai jatuh. "Aku bisa berubah."Rafael menggeleng. "Aku tidak meminta kamu berubah demi aku.""Aku bisa belajar percaya.""Aku tidak ingin kamu menjalani hubungan ini dengan terus memaksa dirimu untuk menjadi orang lain.""Aku akan berusaha.""Aku tahu." Rafael menatapnya dengan ekspresi yang semakin serius. "Tapi aku juga harus jujur kepada diriku sendiri."Citra menahan napas."Aku sudah tidak bahagia," kata Rafael dengan wajah penuh rasa bersalah.Kalimat itu membuat Citra membeku."Aku tidak merasa tenang dalam hubungan ini. Aku tidak lagi menantikan waktu bersama seperti dulu. Setiap kali p

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 170

    Rafael akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon Citra, ketika Citra sudah mencoba menghubunginya entah keberapa kali. Kali ini, Rafael berjanji akan menemui Citra di rumahnya. Bukan untuk bertengkar. Bukan pula untuk menyalahkannya atas semua yang telah terjadi. Ia hanya ingin menyelesaikan hubungan mereka dengan baik-baik.Sudah terlalu banyak hal yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Pertengkaran yang terus berulang, kejadian di kampus, video yang tersebar di media sosial, masalah dengan keluarga Mahendra, sampai hubungannya dengan Anindya yang ikut terseret.Rafael lelah. Namun kali ini, ia tidak ingin mengakhiri semuanya dengan kemarahan. Ia ingin berbicara dengan tenang.Ketika Rafael tiba di rumah Citra, Citra sudah menunggunya dan membukakan pintu dengan senyum lembut terpatri di wajahnya. Senyum yang dulu Rafael sukai dari Citra."Kamu akhirnya datang," kata Citra sambil mengajak Rafael duduk.Rafael duduk di hadapannya. "Iya."Beberapa saat mereka hanya terdiam.Cit

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 1

    Sorot lampu memenuhi ballroom Grand Meridia Hotel, memantul dari kristal di langit-langit dan meja-meja kaca yang tersusun mewah. Tepuk tangan bergema ketika pembawa acara mengangkat kartu pemenang dan tersenyum lebar ke arah kamera. “Pemenang Aktris Terbaik tahun ini adalah... Anindya Wijaya!” R

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 4

    Sejak istirahat siang berakhir, suasana kelas XI-A tidak pernah benar-benar tenang. Tatapan siswa terus berpindah antara Anindya Wijaya dan Arkana Pratama. Namun, tidak ada yang bisa menyalahkan mereka.Pagi tadi Anindya mendorong kursi roda siswa pindahan itu masuk kelas seolah hal paling normal d

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 3

    Begitu kata-kata Anindya jatuh di udara, halaman sekolah yang tadi sudah sunyi menjadi semakin hening. Beberapa siswa menatapnya seolah baru saja melihat orang gila, bahkan Rafael yang biasanya penuh percaya diri terlihat membeku di tempat. “Mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.” Ka

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 2

    Suara ramai memenuhi telinga Anindya sebelum ia sempat membuka mata sepenuhnya.Teriakan siswa, langkah kaki berlarian, dan tawa remaja yang bercampur dengan suara bel masuk pagi. Angin menerpa wajahnya, membuat Anindya bertanya-tanya berada di manakah dia. Anindya membuka matanya, ia mengerjap pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status