MasukRumah besar keluarga Mahawira selalu tampak megah, tetapi bagi Deana, rumah itu terasa seperti penjara yang pintunya sudah dikunci rapat. Ia menelan ludah susah payah ketika kini sudah menghadap pintu besar itu.
"Apa lagi yang kamu pikirkan? Tidak perlu takut. Kita cukup mengatakan kalau rumah kita dalam renovasi dan terpaksa menginap untuk beberapa hari. Bukankah itu bukan sesuatu yang sulit?" Ivan berbisik tajam di telinganya. Mau tidak mau Deana mengangguk, walau kepalanya terasa berat. Saat tangan Ivan terulur akan mengetuk pintu, pintu itu sudah terbuka terlebih dahulu. Ivan langsung memasang wajah sumringah, kontras dengan aura gelap yang tadi ia pancarkan. "Kakak?" sapanya, tersenyum lebar, terlihat polos seperti anak kecil. Kebetulan sekali kakaknya itu ada di rumah. Jadi, tidak perlu repot-repot mencari alasan agar dia datang. Kening Agra mengerut, terkejut lantaran tidak biasanya Ivan datang. Namun, bukan hal itu yang membuatnya heran. Pandangannya mengarah pada Deana yang menundukkan kepala dalam-dalam, tanpa sedikit pun menyapa. "Apa istrimu sedang sakit?" tanyanya kemudian. Ivan terperanjat beberapa saat, lalu menoleh ke arah sampingnya. "Sayang, apa yang kamu lakukan? Sapa kakak iparmu!" Ia memegang sisi kanan kiri kepala Deana dengan kasar, lalu mengangkat wajahnya. "Astaga, kenapa kamu malah seperti ini? Cepat sapa kakakku!" Deana yang terpaksa mendongak pun diliputi rasa malu. Wajahnya memerah, bibirnya bergetar walau hanya sekadar ingin tersenyum. "Jangan memaksanya. Mungkin dia sedang tidak enak badan." Agra menyadari wajah pucat itu, kemudian melebarkan pintu, mengisyaratkan agar mereka masuk. "Duduklah di sofa, akan kubuatkan teh hangat untuknya." Ia mengurungkan niatnya untuk keluar, memilih berjalan ke dapur untuk membuat teh. Ivan mendengus, menatap punggung lebar kakaknya sembari mendudukkan diri di sofa. Lalu pandangannya beralih pada Deana. "Bagaimana kamu ini, memalukan! Kesan pertamanya saat melihatmu datang benar-benar memalukan!" sungutnya. Dengan perasaan takut, Deana membawa wajah pucatnya untuk melihat Ivan. "Sebaiknya kita batalkan rencana ini, aku benar-benar takut. Aku tidak siap, Ivan," cicitnya. "Apa yang kamu takutkan? Kamu akan tetap melakukannya dan menebus dosa ini setelah anak kalian lahir!" Ivan mengira Deana masih takut dosa. Deana menunduk sedih. Bahkan, Ivan seakan lepas tangan akan dosanya dan terang-terangan tidak mengakui anaknya. Hati Deana seperti diremas-remas hingga hancur. Tidak menyangka, ternyata seperti ini pria yang ia nikahi, yang sangat ia cintai. Tidak lebih dari pria brengsek berhati iblis. Semua kekesalan dan amarah itu Deana telan mentah-mentah ketika matanya menangkap ibu mertuanya menuruni tangga dan berjalan ke arah mereka. "Coba lihat siapa yang datang ...." Carla Pawastri tertawa sambil menggelengkan kepala, lalu membawa Ivan ke dalam pelukannya. Menepuk-nepuk punggungnya seraya melirik Deana yang sudah berdiri. "Ibu," sapa Deana, hendak menyalami Carla, tetapi ia malah duduk di samping Ivan. Mengabaikannya. Dengan perasaan berat Deana kembali duduk. Tangannya yang terasa dingin mencengkeram erat bagian samping dressnya, berusaha meredam gemuruh di dadanya. "Bagaimana dengan perkembangan program kehamilan? Apa dia berhasil hamil?" tanya Carla seolah tidak ada Deana di sana. Bersamaan dengan pertanyaan itu, Agra datang dengan membawa nampan berisi dua gelas teh. Satu diletakkan di depan Deana, sedangkan satu lagi dibiarkan di atas nampan, kemudian ia duduk di sofa seberang Deana. Wanita itu menundukkan kepala sekilas sebagai ucapan terima kasih. "Sebentar lagi, Bu. Istriku akan lebih berusaha lagi. Aku sudah menyuruhnya untuk rutin meminum obat tradisional khusus untuk penyubur kandungan." Ivan tersenyum hangat seolah tidak ada yang salah dengan ucapannya. Tentu saja, diam-diam Deana merasa sakit hati, merasa dijadikan kambing hitam agar wajah Ivan tetap aman. Tanpa sadar tangannya semakin mencengkram erat dress-nya. “Jamu? Kenapa tidak ke dokter saja?" Agra yang dari tadi menyimak pun akhirnya menyahut. Wajah Deana langsung terangkat memperhatikan pria itu. Dia tampak elegan dan tampan dengan menyandarkan tubuh di sofa, tangan terlipat di depan dada dan rautnya terlihat santai. "Kurasa obat dokter hanya akan membuat tubuhnya lemah. Jadi, lebih baik mencari aman. Lagipula, banyak yang berhasil dengan obat tradisional." Ivan tersenyum kecut. Agra hanya mengangguk. Ia tidak tahu apa maksud senyum Ivan itu, tetapi detik berikutnya adik laki-lakinya itu mendapat simpati dari sang ibu yang menepuk-nepuk lengannya dengan prihatin. "Sabar ya, Nak. Aku yakin istrimu itu akan cepat hamil. Suruhlah dia untuk menurunkan sedikit berat badan. Terlalu gemuk kadang buat susah hamil," katanya. "Tidak perlu sampai seperti itu, kalian hanya butuh dokter. Berat badan adik ipar sudah ideal, jangan memaksanya menurunkan berat badan," balas Agra keras, tidak setuju dengan usulan Carla. Deana tertegun sesaat. Ia tidak menyangka kakak iparnya akan membelanya lagi. "Ibu ada benarnya juga, Kak." Kemudian Ivan menoleh ke arah Deana, menatap wanita itu dengan lembut, mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang. "Ibu sudah berpengalaman. Jadi, tidak ada salahnya mendengarkan masukannya. Mulai besok kamu harus menurunkan sedikit berat badan." Suaranya mengalun lembut dan berhasil membuat tubuh Deana lemas. Mengangguk dan tersenyum tipis. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengikuti alur, walau penghinaan yang dilontarkan dengan halus itu menyakiti hatinya. "Brengsek kamu Ivan, tega-teganya memperlakukanku seperti ini!" batinnya, menahan amarah. Tanpa Deana sadari, sepasang mata hangat memperhatikan gerak-geriknya, menyadari ketidaknyamanan yang ia rasakan. Lantas, pria itu berdeham. "Begini saja, aku akan mencarikan kalian dokter yang hebat dan terpercaya. Kalau ada masalah di antara kalian ... bisa langsung ditangani. Aku yakin adik ipar akan cepat hamil." "A-ah, kakak tidak perlu repot-repot begitu." Ivan tergagap, tidak menyangka kakaknya yang dingin akan menanggapi permasalahannya dengan serius. "Tidak repot. Aku melakukannya demi keluarga ini." "Agra benar, Ivan. Bagaimanapun juga kamu harus cepat-cepat memiliki keturunan." Carla menimpali dengan maksud lain. Sampai sekarang Agra belum juga memiliki istri, dan sepertinya tidak berniat mencari istri seolah wajah tampannya tidak berguna. Karena itu, keturunan dari Ivan sangat dibutuhkan untuk kelangsungan perusahaan dan keluarga. Kadang, Carla berpikir bahwa Agra tidak menyukai wanita sebab setiap wanita yang ia kenalkan selalu ditolak mentah-mentah. Namun, ia mengenyahkan pikiran itu jauh-jauh. Tidak mungkin anak sulungnya menyimpang. "Baiklah, Bu." Ivan tersenyum lembut, menyembunyikan rasa kesalnya. "Ngomong-ngomong, bolehkah aku dan istriku menginap di sini untuk beberapa hari? Rumahku sedang direnovasi karena ada beberapa kerusakan." "Tentu saja boleh!" Wajah Carla tampak bahagia. "Deana bisa membantuku mengerjakan pekerjaan rumah nanti." Deana yang namanya disebut pun merasa terpanggil. Ia menoleh ke arah ibu mertuanya dalam diam, tersenyum kecut. Ternyata ia dibutuhkan hanya untuk dijadikan pembantu? Mata Ivan mengarah pada Agra, bertanya dengan hati-hati, sedikit ragu, "Apakah kakak juga akan menginap?”Deana memaksa bibirnya untuk tersenyum. Berjalan mendekati Ivan seraya merapikan bajunya, lalu berdiri tepat di hadapannya.“Aku berinisiatif menggoda kakak ipar hari ini. Kali ini aku berhasil. Aku pasti akan hamil sebentar lagi!” Deana ragu untuk mengatakannya, tetapi ia harus mengatakannya untuk memberi alasan yang relevan kenapa dirinya berantakan. Juga, ia menebak Ivan melihat Agra tadi, dan membuatnya seperti ini.Jika dia berhasil hamil dengan benih kakak iparnya, semua dosa menjijikan ini akan akan berakhir. Keluarga Mahawira akan memiliki penerus, tidak akan ada yang peduli darah daging siapa yang ia kandung, Ivan akan memiliki posisi mentereng di perusahaan dan persetan dengan Agra! Pria itu akan terlempar jauh ke dasar tanah sebagai barang tidak berguna. Tanpa istri, anak ataupun keluarga. Dia benar-benar sendiri.“Sangat percaya diri sekali! Apa karena telah melakukannya berkali-kali selama aku tidak ada?”Senyum di bibir Deana luntur. Ia tahu sejak awal Ivan marah, tet
“Astaga, kakak, kumohon berhenti. Ini sudah lewat jam makan malam, ibu pasti kerepotan di dapur, dan Ivan sebentar lagi pulang!” Deana berusaha mendorong Agra yang masih bermain di dadanya. Walaupun mengatakan sudah cukup dan akan pergi, tetapi kenyataannya pria itu belum juga pergi seolah seolah tidak merasa puas mempermainkan tubuh Deana.Sejak awal tubuh wanita itu memang membuatnya kecanduan, hingga pulang dari kantor tadi masih berada di kamarnya. Tentu saja melakukan kegiatan menggairahkan yang sebetulnya sangat Deana dambakan. Ia yakin kali ini inisiatifnya tidak akan mengecewakan Ivan.Ia mendapatkan benih Agra, tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali. Awalnya Agra bersikeras untuk menggunakan pengaman, tetapi Deana tidak melepaskannya walau hanya satu detik. Pria itu tidak memiliki pilihan lain selain membuangnya di rahim Deana.“Kamu benar-benar seperti jalang. Siapa yang mengajarimu?” Agra menjauhkan wajahnya, dan mengecup Bibir Deana sekilas. Ia tersenyum mendapati semba
“Apa yang kamu lakukan, Kak? Kenapa pintunya dikunci?”Deana hendak kembali membuka pintu, tetapi Agra menahan lengannya. Terpaksa ia menatap wajah pria itu, tubuhnya tegang tanpa sadar.Rahang tegas, sorot mata tajam, Agra tampak serius. Sialan! Dia tampak berkali-kali lipat lebih tampan dengan ekspresi itu, membuat Deana tidak bisa menahan untuk tidak menelan ludah.“Ivan bilang kamu bersikap aneh dan terus meminta maaf setelah makan malam itu. Apa kamu akan terus merasa bersalah dan membuat pekerjaan Ivan berantakan, huh? Berhenti bersikap kekanakan dan lupakan malam itu!”Bulu mata Deana melambai cepat dengan bibir sedikit terbuka. Apa yang sebenarnya kakak iparnya ini katakan?Keningnya mengerut. “A-aku tidak mengerti apa yang …”“Cukup katakan ‘ya’, lalu renungi,” sergah Agra, tidak ingin mendengar kata lain. Di samping sifatnya yang pendiam dan terkesan pasrah, Agra mengamati wanita ini juga suka membantah, kecuali pada suaminya. Seperti sihir, Ivan benar-benar bisa membuat w
Plak! Suara tepukan kulit yang berbenturan keras terdengar nyaring di penjuru dapur. Deana memegang pipinya yang kebas dan perih. Sedangkan Carla diam di sisinya dengan dada kembang kempis seiring napasnya yang memburu. “Beraninya mulut kotormu itu!” teriak Carla, menatap nyalang. Tangannya masih bergetar karena menampar sangat keras. Deana mengangkat kepalanya perlahan. Tidak ada bukti yang bisa ia lemparkan ke wajah Carla saat ini. Namun, setidaknya mulutnya telah mengatakan kebenaran daripada omong kosong seperti yang Carla gembar-gemborkan. Mandul, mandul, mandul! Siapa sebenarnya yang mandul! “Kenapa Ibu seperti ini? Tidak bisa menerima kenyataan?” “Jaga mulutmu!” Carla hendak menamparnya lagi, tetapi tangannya hanya menggantung di udara, lalu terhempas begitu saja. Sedangkan Deana tampak tenang sembari terkekeh sumbang. Saat tawanya berhenti, rautnya berubah sedih, suaranya mendayu dramatis. “Di matamu dia sangat sempurna tanpa cela, sedangkan aku tampak san
“Seharusnya kurang dari setengah jam kamu sudah sampai, tapi apa? Ini sudah masuk jam makan siang dan kamu baru datang. Kenapa tidak menjawab teleponku? Kamu sengaja ingin membuatku kerepotan dan terlihat bodoh di depan ayahmu?” oceh Satya diakhiri dengusan kasar.Agra menatap sekertarisnya itu dengan wajah datar, tanpa mengatakan apa pun.Reaksi yang tidak jauh berbeda dengan batu beku itu membuat Satya mendecih sinis. “Terlalu menikmati tubuh jalang sampai lupa waktu, eh?” cibirnya.Sialan memang! Tengah malam ia tiba-tiba dihubungi dan dipaksa oleh orang yang sedang dimabuk cinta untuk mengantarkannya ke hotel. Tidak cukup di sana, dengan tidak tahu malu pria dingin itu menyuruhnya untuk membeli dua kotak pengaman. Entah berapa ronde yang akan dia lakukan hingga perlu pengaman sebanyak itu.“Tck! Dia bukan jalang!”“Lalu apa?” Satya melotot garang. “Desahannya persis seperti jalang haus sentuhan!” Ia mendengar dengan jelas suara apa saja yang ada di dalam mobil semalam.“Berhenti
“Bukankah kalian pergi pagi-pagi sekali untuk memeriksakan kandungannya yang bermasalah?” Carla memicingkan mata, menatap putra sulung dan menantunya bergantian. Ia tahu semalam mereka terlibat makan malam di luar, apa sebenarnya mereka ingin membicarakan soal kandungan secara diam-diam?Apa dia begitu malu hingga pagi ini pergi pagi-pagi sekali? Apa yang sebenarnya mereka sembunyikan? Carla benar-benar penasaran!“Ya,” jawab Agra sembari melirik Ivan yang sudah pucat.“Lalu bagaimana keadaannya?” Dengan penuh penasaran Carla mengikuti Agra berjalan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Ivan berdiri di tempat, menatap tajam Deana yang berjalan pelan ke arahnya. Gerakannya seperti siput, membuat Ivan tidak sabar untuk memarahinya.“Tidak tahu. Tanyakan saja pada Deana.”“Bagaimana kamu ini! Cepat katakan apa hasilnya! Apa dia mandul?”“Kurasa tidak, Ibu ….”Samar-samar Deana mendengar ocehan Carla dari dalam rumah. Ia berhenti di depan Ivan sambil menunduk, meremat samping dressnya untuk m







