LOGINHari ini, menjadi hari yang menyenangkankan karena karena seharian penuh dia akan menjadi duri dalam daging buat Rullistya.Dia dan Love berjalan di belakang Rullistya dengan membawa troli belanjaan. Yang membuatnya lebih menyenangkan adalah reaksi mama mertuanya itu yang tampak jijik dengan keberadaannya."Kalian, sudah aku bilang berhenti mengikuti. Pergi sana!" usir Rullistya tanpa lihat situasi kondisi."Hei coba cium, maniskan baunya?" Semenjak sang bumer berbalik, Aeri pura-pura sedang memilih buah tomat."Aeri, memang ada buah tomat manis?" Love yang masih dengan penyamarannya jelas tidak nyaman berada di tengah duo mertua menantu ini."Oh, nggak ada, kah?" Pura-pura polos, Aeri menaruh tomatnya kembali ke tempat semula. Saat itulah akhirnya dia menoleh pada Rullistya. "Ternyata nggak ada tomat yang manis," lanjutnya sambil memamerkan senyum terbahagianya.Rullistya memutar bola matanya. Dia kembali melanjutkan perjalanan, begitupula Aeri yang mengekor dari belakang.Saat Rulli
"Tuman, bekalnya nggak pernah kamu bawa. Ini," Aeri menyodorkan kotak bekal itu pada Arvan. "Setiap pagi selalu ingat bawa bekalmu, bangkrut aku kalau harus gosend-nin makanan terus setiap harinya.""Apa ini kesepakatan?""Harus gitu kamu tanya, bahkan meski nggak ada kesepakatan, setiap pagi kamu harus bawa bekalmu."Arvan menghela napas, dia mengacak rambut Aeri sampai pemiliknya kembali marah-marah."Arvan, kebiasaan nih, anak." Tidak terima, Aeri membalasnya dengan ikut membuat rambut Arvan berantakan, Bukannya kesal, Arvan malah tertawa tidak jelas."Lagian cuman rambut, ngapain sampai heboh segitunya?""Aku mau keluar hari ini, ini aja aku sudah terlambat, kamu lagi pakai acara berantakin rambutku segala," kesal Aeri merapikan rambutnya dengan jari-jemari.Senyum di wajah Arvan seketika sirna. Mau keluar ke mana yang membuat tingkah Aeri jadi tidak seperti biasanya pagi ini?"Ke luar? Keluar ke mana?" tanyanya langsung pada sang istri "Ke ...," Aeri menoleh ke samping, seakan
"Makasih doanya, Love. Tapi kayaknya kamu harus ekstra mendoakan mertuaku itu, deh."Belum juga Love membuka mulutnya untuk bertanya apa maksudnya. Mertua Aeri tiba-tiba datang memberi contoh langsung apa maksud ucapannya."Kamu, wanita tidak tahu diri. Apa yang kamu lakukan selingkuh di siang hari begini di mall!" Rambut Aeri tiba-tiba dijambak oleh seorang wanita tua yang masih tampak cantik."Kau lihat, ini contohnya." Aeri masih sempat-sempatnya tertawa sebelum dia membalas perlakuan mertuanya itu. "Boomer, kalau tidak tahu apa-apa tanyanya itu yang sopan, bukan tiba-tiba ngejambak. Mampus kan rambut cetarnya ke jambak juga!" Rullistya berteriak kencang membuat orang-orang di sekitar menoleh ke arah mereka. Sementara Love, di balik maskernya tidak kuasa menutup mulut melihat keributan duo mertua-menantu di depannya.Aeri berhasil melepas tangan Rullistya dari kepalanya. Agar sang bumer tidak kembali berulah. Dia merangkul bahu wanita tua itu, tidak membiarkannya bebas meski Rull
"Frisya, Jum'at nanti kamu bisa ke rumah Tante? Sudah lama kamu tidak ke sini."Frisya hanya mendiamkan saja pesan yang terkirim sejak dua hari lalu itu. Sudah tidak ada lagi alasan baginya untuk menemui wanita tua itu.Dia mencari nama Idris di kolom pencarian WA. Dua hari lalu, terakhir kali laki-laki itu mengirimnya pesan untuk mengajak makan malam bersama. Sengaja Frisya menunda untuk membalasnya hanya untuk dia gunakan di saat seperti ini."Apa ajakanmu masih, berlaku? Sorry, aku lagi sibuk jadi baru lihat pesanmu."Tidak butuh waktu lama, pesan yang dia kirim sudah tercentang biru. Frisya tersenyum sinis, sungguh dia merasa iba plpada laki-laki yang mengharap cintanya itu."Sure, mau berapa lama pun ajakanku akan tetap berlaku untukmu.""Ok, Jum'at nanti?""Kapan pun kamu luang, Lady."Senyum di wajah Frisya berganti dengan tawa. Di saat dia menerima ajakan pria lain, di saat itu walpaper ponselnya foto Arvan."Pria yang malang."Frisya mengusap wajah Arvan sekali, sebelum dia a
"Kenapa masih di sini? Kau tidak balik kerja?"Jari yang sejak tadi aktif menggulir dan memencet layar sejenak berhenti. Dia melirik Arvan lewat sudut matanya."Ini masih jam istirahat.""Iya karena itu, ngapain kamu masih di sini?""Pak Arvan, ini ruangan saya. Lagipula saya tidak bisa meninggalkan Anda sendirian dalam kondisi Anda saat ini."Senyum miring tersungging di bibir Arvan, "kenapa, kau takut aku mengacak-acak ruanganmu?"Kyran dengan santai menggeleng, "tidak, karena pikiran Anda sekarang tengah kacau. Siapa tahu Anda butuh saya untuk menyelesaikan masalah.""Yang aku butuhkan sekarang adalah kamu keluar, itu jauh lebih membantuku."Kyran berbalik sepenuhnya, menoleh pada Arvan sebelum dia menarik kesimpulan kalau laki-laki itu tidak sedang membantah kalau tengah kacau. Laki-laki itu mengusap wajahnya, membuatnya tampak mirip dengan kelakuan Senopati ketika sedang banyak pikiran."Saya banyak belajar dari ayah saya untuk tidak meninggalkan majikan dalam kondisi terpuruknya
"Kalian pergi sana, kerjakan kerjaan kalian," perintah Arvan, membuat kedua perempuan itu bergegas pergi. "Arin!" lalu panggilannya yang tiba-tiba membuat perempuan yang dia panggil berhenti seketika."I-iya, pak?" jawab Arin tergagap."Siapkan laporannya, nanti setelah jam makan siang akan saya periksa."Wajah Arin yang dasarnya memang putih semakin memutih dengan nendnegar perintah Arvan. Dia dengan gerakan kaku mengangguk."B-baik, Pak."Kyran yang melihatnya merasa ikut kasihan pada karyawan itu. Tanpa sadar, dia meninggalkan rombongannya untuk berada di sana."Apa kau tidak punya pekerjaan lain, mengapa kamu ada di sini?" tanya Arvan akhirnya kembali memperhatikannya.Kyran menunjuk pada jam tangannya, "ini sudah jam makan siang."Arvan merasa malas berada di tempat yang sama dengan laki-laki itu. Saat dia akan pergi, tiba-tiba Kyran mencegahnya. Sekertaris itu memegang bahu Arvan."Apa?!" tanya Arvan singkat, padat, dan teriak."Kau tidak berencana memakai baju kotor itu seharia
Arvan masih berusaha menutupi tubuh Aeri dengan badannya. Namun, Aeri justru mendorong Arvan ke samping.“Apa sih? Memang ada yang salah dengan pakaianku? Sudah, minggir, dong! Gerah tahu.” Perempuan itu bahkan melepas jaket yang ia pakai.“Tapi, kerudungmu?” “Mulai sekarang, aku tidak mau pakai
“Apa salahnya Frisya masuk ke kamarmu? Kalian kan sudah kenal sejak lama? Mama juga hanya menyuruhnya untuk membangunkanmu, itu saja! Karena kamu dan istrimu yang tidak tahu diri itu belum juga bangun, makanya mama menyuruh Frisya,” cecar Rullistya tanpa jeda, “lalu istrimu juga! Pagi-pagi, bukanny
Berbeda dengan Arvan yang tidak bisa tertidur nyenyak, maka berbeda halnya dengan Aeri. Selimut hangat yang menyelimutinya membuat Aeri tidak mau beranjak dari sana, hingga sesuatu tiba-tiba memeluknya yang masih terbungkus selimut.“Hei, Arvan! Aku kan sudah bilang kalau kamu tidak juga bangun pa
“Kalau begitu, kenapa kamu tadi setuju menikah denganku? Berarti, kau bodoh?” Arvan kini ikut mencondongkan wajahnya. Tak lupa, dia menaruh jarinya di dahi Aeri. “Dan, tolong berhentilah mengumpat!”“Sayangnya, kenyataannya memang seperti itu. Aku tadi terlanjur berbuat bodoh. Tapi, aku tidak mau







