Home / Rumah Tangga / Mempelai Tanpa Kontrak / Bab 18. Suami Anjing pengertian

Share

Bab 18. Suami Anjing pengertian

Author: Bara Islami
last update publish date: 2023-04-09 13:30:00
Setelah kembali melakukan pemeriksaan. Kondisi Aeri sudah lebih mendingan, panasnya sudah turun. Berkali-kali Arvan mengecek suhu tubuh istrinya.

Melihat Aeri yang tertidur pulas membuatnya merasa lega.

Arvan tersenyum melihat Aeri tidur. Saat seperti ini, perempuan itu tampak sama seperti yang dulu dia ingat. Entah pengalaman apa yang temannya ini alami sampai berubah sedrastis sekarang.

Arvan mengelus rambut Aeri, saat helaian rambut terselip di jemarinya, ada serat putih halus yang tersangkut
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 65. Waktunya bukan untuk bersih-bersih, sebenarnya

    Aeri tidak henti mengirim Love pesan. Semenjak kemarin, perempuan itu meminta untuk waktu sendiri. Dia hanya bisa mengantarnya pulang."Kalau ada apa-apa, hubungi aku, Love."Itu pesan terakhirnya yang bilasa love dengan emoticon senyum sus.Aeri menopang dagunya di ujung atas gagang sapu. Dia bimbang antara menelpon atau membiarkannya. Sampai-sampai ponselnya itu direbut oleh Arvan."Ponselku! balikin, nggak?!""Nanti, kalau tugas kita selesai."Arvan mengantongi ponsel Aeri, kemoceng di tangan dan lap di bahunya tidak cocok disandingkan dengan pakaian kerjanya.Aeri yang melihat Arvan hampir kehabisan kata-kata untuk menyuruhnya ganti. "Setidaknya bajunya kamu ganti dulu napa?" pintanya lagi untuk yang ke sekilo kalinya."Memang kenapa? kamu kan yang nyuruh aku tidak kerja hari ini!" Terlihat jelas kekesalan di wajah Arvan.Karena Aeri dia tidak bisa bekerja dengan benar akhir-akhir ini dan karena Aeri juga dia tidak bisa ke kantor hari ini.Tiba-tiba saja perempuan itu memberinya s

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 64. Awal

    "Bukannya kamu bilang sudah menemukannya? Kenapa belum kamu tangkap perempuan itu. Jangan bilang kamu lupa tujuanmu ke kota ini karena ingin menangkapnya?""Ck, aku sudah menemukannya, lebih tepatnya sepertinya aku tahu. Tapi aku belum bisa memastikannya. Dia tinggal di tempat yang ramai."Selama ini Love berharap ada sedikit belas kasihan laki-laki itu padanya. Dia berharap cepat atau lambat laki-laki itu akan menerimanya.Dia tidak pernah berharap akhir pernikahannya adalah nyawanya. Tidak pernah dia merasa layak diperlukan seperti itu. Hanya saja, siapa yang akan berada di pihaknya?Pikiran Love terasa kacau, dia bahkan tidak menyadari apa yang baru saja dia lakukan. Tiba-tiba saja dia merasakan seseorang memeluknya, memberinya kata-kata penenang.Air mata Love kembali terjatuh, ternyata masih ada seseorang di sisinya.*****Malam itu, penampilan Frisya masih seluar biasa, biasanya. Padahal yang perempuan itu kenakan adalah pakaian kantor seperti biasa dengan tambahan jam tangan pu

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 63. Melihatnya untuk terluka (Love)

    Sekarang menyesal pun percuma, mau tidak mau dia harus mengikuti ke aman Aeri pergi atau ke mana mertua Aeri pergi."Apa kau tidak punya kerjaan lain? Pergi sana, kenapa terus menggangguku dasar wanita sialan." Kembali Rullistya berteriak. Kali ini alasannya karena Aeri mengembalikan kembali sayuran yang dia ambil."Bumer, kalau tidak pernah belanja, sebaiknya bawa seorang pelayan. Biar pelayan bantu milihin sayuran yang segar. Ini bumer malah asal-asalan ngambilnya." Meski mengomel, tangan Aeri tidak henti memilah sayuran yang masih bagus."Ya tuhan, apa dosaku sampai harus bertemu wanita ini lagi hari ini?" keluh Rullistya menepuk kepalanya. "Salah sendiri suka teriak saat bicara." Aeri tersenyum nakal, tidak lupa dia memamerkan sayuran segar yang berhasil dia dapatkan. Rullistya dengan kasar menarik troli yang digunakan Aeri menopang tangannya. Hampir Aeri terjatuh. "Bumer!" teriak Aeri yang tidak digubris Rullistya.Saat mereka di section perbumbuan. Rullistya yang tadinya tam

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 62. Misi Membuat Jengkel

    Hari ini, menjadi hari yang menyenangkankan karena karena seharian penuh dia akan menjadi duri dalam daging buat Rullistya.Dia dan Love berjalan di belakang Rullistya dengan membawa troli belanjaan. Yang membuatnya lebih menyenangkan adalah reaksi mama mertuanya itu yang tampak jijik dengan keberadaannya."Kalian, sudah aku bilang berhenti mengikuti. Pergi sana!" usir Rullistya tanpa lihat situasi kondisi."Hei coba cium, maniskan baunya?" Semenjak sang bumer berbalik, Aeri pura-pura sedang memilih buah tomat."Aeri, memang ada buah tomat manis?" Love yang masih dengan penyamarannya jelas tidak nyaman berada di tengah duo mertua menantu ini."Oh, nggak ada, kah?" Pura-pura polos, Aeri menaruh tomatnya kembali ke tempat semula. Saat itulah akhirnya dia menoleh pada Rullistya. "Ternyata nggak ada tomat yang manis," lanjutnya sambil memamerkan senyum terbahagianya.Rullistya memutar bola matanya. Dia kembali melanjutkan perjalanan, begitupula Aeri yang mengekor dari belakang.Saat Rulli

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 61. Love sialan

    "Tuman, bekalnya nggak pernah kamu bawa. Ini," Aeri menyodorkan kotak bekal itu pada Arvan. "Setiap pagi selalu ingat bawa bekalmu, bangkrut aku kalau harus gosend-nin makanan terus setiap harinya.""Apa ini kesepakatan?""Harus gitu kamu tanya, bahkan meski nggak ada kesepakatan, setiap pagi kamu harus bawa bekalmu."Arvan menghela napas, dia mengacak rambut Aeri sampai pemiliknya kembali marah-marah."Arvan, kebiasaan nih, anak." Tidak terima, Aeri membalasnya dengan ikut membuat rambut Arvan berantakan, Bukannya kesal, Arvan malah tertawa tidak jelas."Lagian cuman rambut, ngapain sampai heboh segitunya?""Aku mau keluar hari ini, ini aja aku sudah terlambat, kamu lagi pakai acara berantakin rambutku segala," kesal Aeri merapikan rambutnya dengan jari-jemari.Senyum di wajah Arvan seketika sirna. Mau keluar ke mana yang membuat tingkah Aeri jadi tidak seperti biasanya pagi ini?"Ke luar? Keluar ke mana?" tanyanya langsung pada sang istri "Ke ...," Aeri menoleh ke samping, seakan

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 60. Hari yang Menyenangkan

    "Makasih doanya, Love. Tapi kayaknya kamu harus ekstra mendoakan mertuaku itu, deh."Belum juga Love membuka mulutnya untuk bertanya apa maksudnya. Mertua Aeri tiba-tiba datang memberi contoh langsung apa maksud ucapannya."Kamu, wanita tidak tahu diri. Apa yang kamu lakukan selingkuh di siang hari begini di mall!" Rambut Aeri tiba-tiba dijambak oleh seorang wanita tua yang masih tampak cantik."Kau lihat, ini contohnya." Aeri masih sempat-sempatnya tertawa sebelum dia membalas perlakuan mertuanya itu. "Boomer, kalau tidak tahu apa-apa tanyanya itu yang sopan, bukan tiba-tiba ngejambak. Mampus kan rambut cetarnya ke jambak juga!" Rullistya berteriak kencang membuat orang-orang di sekitar menoleh ke arah mereka. Sementara Love, di balik maskernya tidak kuasa menutup mulut melihat keributan duo mertua-menantu di depannya.Aeri berhasil melepas tangan Rullistya dari kepalanya. Agar sang bumer tidak kembali berulah. Dia merangkul bahu wanita tua itu, tidak membiarkannya bebas meski Rull

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 6. Diusir

    Arvan masih berusaha menutupi tubuh Aeri dengan badannya. Namun, Aeri justru mendorong Arvan ke samping.“Apa sih? Memang ada yang salah dengan pakaianku? Sudah, minggir, dong! Gerah tahu.” Perempuan itu bahkan melepas jaket yang ia pakai.“Tapi, kerudungmu?” “Mulai sekarang, aku tidak mau pakai

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 5. Bantuan

    “Apa salahnya Frisya masuk ke kamarmu? Kalian kan sudah kenal sejak lama? Mama juga hanya menyuruhnya untuk membangunkanmu, itu saja! Karena kamu dan istrimu yang tidak tahu diri itu belum juga bangun, makanya mama menyuruh Frisya,” cecar Rullistya tanpa jeda, “lalu istrimu juga! Pagi-pagi, bukanny

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 4. Keributan

    Berbeda dengan Arvan yang tidak bisa tertidur nyenyak, maka berbeda halnya dengan Aeri. Selimut hangat yang menyelimutinya membuat Aeri tidak mau beranjak dari sana, hingga sesuatu tiba-tiba memeluknya yang masih terbungkus selimut.“Hei, Arvan! Aku kan sudah bilang kalau kamu tidak juga bangun pa

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 3. Selamanya

    “Kalau begitu, kenapa kamu tadi setuju menikah denganku? Berarti, kau bodoh?” Arvan kini ikut mencondongkan wajahnya. Tak lupa, dia menaruh jarinya di dahi Aeri. “Dan, tolong berhentilah mengumpat!”“Sayangnya, kenyataannya memang seperti itu. Aku tadi terlanjur berbuat bodoh. Tapi, aku tidak mau

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status