Share

BAB 3: JEBAKAN KAMAR KOS

Author: panmie
last update publish date: 2026-09-02 11:13:42

Sore hari menyapa kawasan permukiman mahasiswa di sekitar kampus Universitas Nusa Bangsa dengan sapuan warna jingga yang hangat. Angin sore bertiup pelan, menggoyangkan daun-daun pohon mangga di halaman depan area kos Rian. Suasana di dalam kamar bernomor tujuh itu relatif tenang—hanya ada suara detak jam dinding berpadu tipis dengan embusan pendingin udara, menciptakan atmosfer damai setelah seharian melintasi hiruk-pikuk PMB dan tugas BEM.

Rian sedang duduk bersila di atas karpet tipis berdampingan dengan meja lipat kayunya. Ketua BEM berusia 21 tahun itu hanya mengenakan kaus oblong abu-abu polos dan celana kain santai. Kaus itu membingkai bahunya yang tegap dengan pas, memperlihatkan garis lengan yang kokoh serta rahang tegasnya yang selalu memikat. Ia baru saja menyeduh segelas teh hangat dan bersiap menelaah ulang berkas organisasi.

Namun, ketenangan itu terganggu oleh ketukan teratur dari balik pintu.

Tok, tok, tok.

Rian menyangka itu Sisca yang datang menagih sisa es krim matcha tadi siang. Dengan langkah santai, ia membuka pintu. "Sisca, kan sudah kukatakan kunci motor—"

Ucapan Rian terhenti.

Di ambang pintu berdiri Clara—mahasiswi baru yang dikenal berparas jelita, berkulit putih bersih, dan lihai menarik perhatian. Clara mengenakan outer rajut tipis berwarna krem yang melapisi bahunya. Ia mengulas senyum paling manis, memiringkan kepalanya lembut.

"Halo, Kak Rian," sapa Clara dengan nada berbisik manja. "Maaf ya... aku mengganggu waktu istirahat Kakak sore-sore begini?"

Rian memegang tepi pintu. "Clara? Ada apa, ya? Kok tahu kosanku?"

"Aku tanya beberapa teman panitia tadi," sahut Clara cepat seraya mengangkat modul Logika di depan dadanya. "Anu... Kak Rian, aku benar-benar pusing dengan penjelasan Profesor Hendra tadi pagi. Rumus yang Kakak jawab di depan... aku sama sekali tidak paham."

Aroma parfum manis beraroma vanila dan karamel dari tubuh Clara mulai menyeruak di udara. "Bolehkah aku minta tolong diajari sebentar saja? Lima belas menit juga tidak apa-apa, Kak. Tolonglah..."

"Tapi... mengajari di kamar kos kurang etis, Clara. Bagaimana kalau besok di sekretariat BEM atau perpustakaan?" tawar Rian halus.

Clara memanyunkan bibirnya dengan raut memelas. "Besok pasti penuh, Kak. Lagi pula aku cuma minta dijelaskan poin utamanya. Pintunya dibiarkan agak terbuka saja kalau Kakak merasa canggung. Sebentar saja, ya?"

Mengingat area kos laki-laki ini terbuka dan ia tak ingin bersikap kasar pada juniornya, Rian akhirnya melangkah mundur dan membiarkan pintu terbuka lebar. "Baiklah. Tapi sebentar saja, ya."

"Terima kasih banyak, Kak Rian!" seru Clara dengan binar mata puas.

Clara melangkah masuk. Kamar itu sangat rapi dan wangi kayu cendana. "Wah, kamar Kakak bersih sekali," puji Clara seraya melangkah ke meja lipat.

"Silakan duduk di karpet," ujar Rian, mengarahkan posisi duduk berhadapan.

Namun, alih-alih duduk di sisi berlawanan, Clara justru duduk tepat di samping kanan Rian. Jarak di antara mereka tak lebih dari sepuluh sentimeter. Rian bergeser sedikit ke kiri untuk menjaga jarak.

"Duh, di dalam sini ternyata hangat ya," ucap Clara mendadak.

Tanpa ragu, jemari lentik Clara meluruhkan outer rajut krem dari bahunya, membiarkan kain itu tergeletak di lantai. Kini, ia hanya mengenakan tanktop bahan spandeks tipis berpotongan rendah. Kulit bahu dan leher jenjangnya terpapar jelas di bawah lampu kamar yang temaram.

Aroma vanila pekat mendadak menguasai ruangan empat kali empat meter itu. Udara dingin pendingin ruangan seketika terkikis oleh sensasi hangat yang membakar.

"Nah, begini baru segar," ujar Clara pelan, mengibaskan rambutnya ke belakang leher.

Rian menahan pandangannya agar tetap lurus menatap modul di atas meja. Garis rahangnya mengencang. Sebagai pemuda normal, reaksi fisik terhadap visualisasi dan jarak seintim ini tentu ada, namun akal sehat dan bayangan wajah Sisca membuat kendali dirinya tetap kokoh.

"Bagian mana dari rumus ini yang tidak kamu mengerti?" tanya Rian langsung, suaranya lebih berat dan dingin.

Clara mendekatkan tubuhnya lebih rapat lagi. Bahu mulusnya yang hanya terbalut tali tanktop tipis kini bersentuhan nyata dengan lengan kaus Rian. Kehangatan kulit Clara menjalar begitu jelas.

"Dari bagian awal ini, Kak..." bisik Clara halus sambil memajukan tubuhnya.

Rian memegang pena, berusaha fokus mengurai logika matematika tersebut. "Ini karena Profesor Hendra menggunakan asumsi fungsi diskrit..."

Namun Clara sama sekali tidak mendengarkan. Matanya sibuk menyapu profil samping wajah Rian dari jarak dekat—memperhatikan ketajaman rahangnya, bulu matanya yang tebal, hingga jakun di leher Rian yang bergerak pelan saat berbicara. Embusan napas manis Clara terasa membelai leher Rian.

"Kak Rian..." panggil Clara dengan intonasi membelai, memotong penjelasan rumus.

Rian menghentikan penanya dan menoleh pelan. Jarak wajah mereka kini begitu merapat—hanya terpisah segenggam tangan. "Ada apa, Clara?"

Clara mengulas senyum tipis yang sarat akan godaan. Dengan gerakan halus, ia mengangkat tangan kanannya. Jemari lentiknya berpura-pura menyapu rambut, lalu dengan berani meluncur turun melintasi kain karpet.

Jemari Clara yang dingin dan lembut secara sengaja menyentuh dan mengelus pelan paha Rian yang terbalut celana santai.

Srett.

Sentuhan itu terasa bagai sengatan arus listrik di balik kain celana Rian. Helaan napas halus lolos dari tenggorokan Rian saat merasakan elusan membelai yang kian memberani di atas pahanya.

"Suara Kakak saat menjelaskan rumus... bagus sekali," bisik Clara kian berani, matanya turun menatap bibir Rian. "Ternyata Kak Rian bukan cuma pintar dan tampan... tapi juga sangat menghangatkan."

Keheningan kamar kos itu mendadak mengencang bagai tali yang ditarik ekstrem. Sentuhan jemari Clara di atas paha Rian mulai menekan halus, memancing desakan napas tertahan di dalam ruangan yang kian memanas tersebut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menahan Hasrat Demi Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 15: PENOLAKAN ELEGAN SANG GENIUS

    Suasana di dalam ruangan dosen berpendingin udara itu terasa mendadak sunyi, hanya menyisakan desing halus dari pendingin ruangan dan debar napas yang tertahan. Aroma parfum beraroma vanilla musk dan bunga anggrek yang pekat masih mengepung udara di sekeliling meja kerja. Jemari lentik Bu Dian—dengan cat kuku senada—masih menggenggam erat dan mengelus perlahan punggung tangan Rian, menawarkan sebuah jalan pintas akademis yang diidam-idamkan oleh banyak mahasiswa.Rian menatap tangan mereka yang bersentuhan sejenak. Pemuda berusia 21 tahun itu sama sekali tidak menunjukkan kepanikan, keterkejutan, ataupun kegugupan yang biasanya dialami mahasiswa lain saat menghadapi dosen idola berpenampilan sensual. Garis wajahnya tetap tenang, tegas, dan memancarkan wibawa alami yang luar biasa.Dengan gerakan yang sangat halus, terukur, dan penuh kesopanan, Rian perlahan menarik punggung tangannya dari genggaman Bu Dian. Ia merenggangkan jarak duduknya sedikit, lalu meletakkan kedua tangannya di at

  • Menahan Hasrat Demi Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 14: PANGGILAN KE RUANGAN DOSEN MUDA

    Sinar matahari pagi yang cerah menembus sela-sela kaca jendela koridor Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Bangsa. Suasana di sekitar ruang dosen lantai tiga terasa lebih tenang dibandingkan area kuliah umum. Para mahasiswa yang berlalu-lalang berjalan dengan langkah pelan, menjaga kesopanan di depan pintu-pintu ruangan para pengajar. Rian, pemuda berusia 21 tahun yang menjabat sebagai Ketua BEM, berjalan tenang menyusuri koridor tersebut. Ia mengenakan kemeja katun abu-abu muda berkerah rapi dengan lengan yang digulung sebatas siku, memamerkan garis rahang yang tegas, postur tubuh tegap, serta aura karismatik yang selalu berhasil menarik perhatian siapa pun yang dilewatinya. Langkah kakinya berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu berlabel nama: Dian Sastranegara, M.Sc. — Dosen Pengampu & Konselor Akademik. Ibu Dian—atau yang lebih akrab disapa Bu Dian di kalangan mahasiswa—adalah salah satu dosen muda berparas jelita yang baru bergabung tahun ini. Dengan usia yang ba

  • Menahan Hasrat Demi Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 13: INTEROGASI DI BAWAH LAMPU REMANG

    Udaranya perlahan menghangat di dalam kamar kos Sisca yang berukuran sedang setelah deru hujan gerimis di luar mulai mereda. Rian baru saja melangkah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian seadanya—sebuah kaus oblong katun polos berwarna hitam kebesaran (oversized t-shirt) milik kakak laki-laki Sisca yang kebetulan pernah ditinggal di sana, dipadukan dengan celana pendek santai. Ukuran kaus yang sedikit longgar di tubuh tegap Rian justru semakin membingkai bahunya yang kokoh dan lengan bawahnya yang berurat maskulin dengan sangat sempurna.Sisca sedang berdiri di dekat meja kecil sudut ruangan, menuangkan air seduhan teh chamomile hangat ke dalam dua cangkir keramik berpola bunga aster. Gadis itu sendiri sudah berganti pakaian mengenakan piyama katun berlengan panjang yang longgar dan nyaman, serta rambut basahnya yang telah dikeringkan tergerai indah membingkai wajah manisnya."Minumlah, biar badanmu tidak masuk angin setelah tadi basah-basah di jalan," kata Sisca pelan sa

  • Menahan Hasrat Demi Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 12: PAKAIAN BASAH DI KOSAN

    Rintik hujan yang tadinya menderu lebat kini berangsur mereda menjadi tetesan air yang menimpa permukaan aspal dengan ritme monoton. Lorong indekos putri tempat Sisca tinggal tampak lengang dan basah, memantulkan pendar cahaya lampu kuning hangat dari teras-teras kamar.Rian dan Sisca berjalan beriringan menaiki tangga menuju lantai dua. Walaupun sempat berteduh di selasar perpustakaan dan berbagi jaket hangat, terjangan angin basah dan cipratan air hujan dalam perjalanan pulang membuat pakaian mereka tetap basah kuyup. Kemeja biru tua yang dikenakan Rian menempel ketat di dada bidang dan bahunya yang kokoh, memperlihatkan pahatan otot maskulin di baliknya secara samar-samar. Di sampingnya, Sisca berjalan dengan langkah kecil sambil mendekap tubuhnya sendiri, merapatkan kardigan rajut abu-abunya yang basah dan terasa berat.Begitu mereka tiba di depan pintu kamar kos Sisca, gadis itu segera merogoh saku tasnya, mengeluarkan anak kunci, dan memutarnya cepat pada lubang pintu.Klek."Ce

  • Menahan Hasrat Demi Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 11: KEHANGATAN HUJAN PERTAMA

    Awan gelap mendadak menggayut rendah di atas kawasan kampus Universitas Nusa Bangsa. Tanpa aba-aba, tirai air hujan yang lebat mengguyur deras, memecah kesunyian sore hari dan mengubah pelataran gedung menjadi basah kuyup. Genangan air terbentuk dengan cepat di sepanjang selasar, memantulkan pendar lampu koridor yang mulai menyala remang-remang. Di sudut selasar perpustakaan pusat yang mendadak sepi, Rian dan Sisca berdiri berdampingan. Suara deru air yang menghantam lantai dan atap beton menciptakan melodi bising yang meredam seluruh suara di sekitar mereka. Hawa dingin merayap cepat, mengisap kehangatan udara sore dan menggantinya dengan embusan angin basah yang menusuk kulit. Sisca melangkah mundur setengah tapak, merapatkan tubuhnya ke dinding bata demi menghindari cipratan air hujan yang terbawa angin kencang. Gadis berusia 21 tahun itu mengenakan kaos putih tipis berlapis kardigan rajut abu-abu. Namun, material kain itu rupanya tidak cukup kuat menahan terjangan hawa dingin.

  • Menahan Hasrat Demi Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 10: TATAPAN MENYUDUTKAN SISCA

    Deru mesin sepeda motor matik Rian membelah keheningan jalanan lorong kos yang sepi. Pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit malam. Rian mematikan mesin kendaraannya tepat di depan pagar besi hitam, memarkir motornya, lalu melepas helm pelindung. Rambut hitamnya sedikit berantakan terkena angin malam.Langkah tegap Ketua BEM berusia 21 tahun itu menaiki tangga menuju lantai dua. Namun, belum sempat jemarinya menyentuh gagang pintu kamar, sosok mungil yang melipat kedua tangan di dada sudah berdiri tegak di ambang lorong.Sisca menanti di sana. Sekretaris BEM yang juga berusia 21 tahun itu mengenakan piyama kain katun bergambar beruang warna biru muda. Wajah manisnya tertekuk sempurna; alis tebalnya menyatu, dan bibirnya memanyun panjang. Pipinya tampak mengembang karena amarah."Jam berapa ini, Rian Pratama?" tegur Sisca melengking menembus sunyinya koridor.Rian menahan senyumnya dan melirik jam tangan. "Pukul sepuluh lewat empat puluh delapan menit malam. Kan janjiku sebelum jam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status