MasukCuaca siang hari begitu panas namun tiba-tiba begitu menjelang sore langit mendadak gelap dipenuhi dengan awan hitam. Tidak hanya Zeta yang merasakan hawa dingin mulai melanda ruangan, banyak karyawan lainnya berdoa agar tidak hujan saat jam pulang nanti. Zeta justru mencemaskan ibunya yang sekarang mungkin sudah perjalanan pulang.
Zeta : Mamah sudah sampai?
Zeta meletakkan ponselnya dan kembali menatap data yang ada di monitor sambil menunggu balasan dari ibunya. Lagi pula jika hujan pun ia juga bingung bagaimana cara pulang sedangkan ia tidak punya mantol.
Mamah : sudah, ini baru saja gerimis.
Zeta menghela nafas, ia lega tidak perlu mencemaskan ibunya kehujanan. Sekarang saatnya ia memikirkan bagaimana ia pulang nanti jika hujan deras. Dulu awal masuk kerja mungkin Ira sahabatnya setia menjemputnya namun sekarang keduanya hanya bisa Bersama ketika berangkat saja karena Ira selalu lembur.
“Ta! Mau bikin teh anget nggak?” Tanya Salsa tiba-tiba saja muncul disamping Arzeta.
“Lo mau bikin?” Tanya Arzeta melihat Salsa yang sudah membawa cangkir miliknya.
“Iya! Mau nitip?” Tanya Salsa justru menawarkan kebaikannya.
“Lo duluan aja ntar gue nyusul!” Jawab Arzeta yang langsung dibalas dengan acungan jempol Salsa.
Zeta menyelesaikan pekerjaannya sebentar, kemudian beranjak berdiri keluar ruangan. Selalu saja Arzeta memelankan langkah kakinya setiap melintas di depan ruangan Genta dan Dicky, selalu ada garis yang menarik kedua bibirnya ke atas setiap pandangannya tertuju pada Genta yang sedang serius menatap komputernya.
“Sa!” Panggil Arzeta masuk ke dapur kantor.
Salsa langsung menoleh dan tersenyum, ia kemudian menyodorkan teh dan gula kepada Arzeta. Arzeta terdiam, kenapa ada empat cangkir disini. Salsa pun masih sibuk mengotak ngatik ponselnya.
“Sa! Gelasnya banyak banget?” Tanya Arzeta mengerutkan keningnya penasaran.
“Oh ini! Bang Genta sama Bang Dicky nitip tadi. Nanti sekalian bantu bawain ya!” Jawab Salsa dengan senyumannya.
Arzeta tidak menjawab hanya mengangguk tanda menyetujui, ia sedang berfikir semisal dia yang menawarkan pada Genta pasti langsung mendapatkan penolakan. Arzeta pun menggelengkan kepalanya, membuyarkan lamunannya. Meski terkadang ia merasa ingin diposisi Salsa, tapi ia teringat posisi dia dan tidak ada hak atas itu.
“Nanti lo yang ngasih ke Bang Genta deh.” Ucap Salsa menawarkan diri dengan senyum usilnya.
“Nggak ah! Gue bawa punya Dicky aja.” Tolak Arzeta, memang ia suka mengambil kesempatan pada setiap momen dengan Genta tapi tidak dengan milik momen orang lain.
“Lah tumben?” Tanya Salsa lumayan terkejut karena biasanya sahabatnya ini sangat cekatan guna mendekati Genta sang senior.
Siapa yang tidak tahu soal Genta dan Zeta, semuanya mengetahui karena ucapan yang keluar dari mulut Dicky semuanya membahasnya. Arzeta awalnya sangat malu namun kini ia bersikap biasa saja dan justru secara gamblang memperlihatkan perasaannya kepada Genta. Genta pun awalnya merasa rishi dan benar-benar marah namun lambat laun ia terbiasa dengan candaan teman-temannya yang membawa nama Arzeta, sayangnya ia semakin membenci perempuan itu dengan berbagai alasan ia lontarkan agar perempuan itu menjauh. Namun hasilnya, Zonk !
“Nih punya Dicky!” Ucap Salsa menyodorkannya Arzeta langsung menerimanya saja.
“Ta! Elo disini ngontrak ya ternyata?” Tanya Salsa membuat Arzeta menunduk mendengar pertanyaan Salsa.
“Nggak maksud gue! Elo bukan orang asli sini kan?” Tanya Salsa meralat ucapannya tidak berniat menyinggung rekan kerjanya itu.
“Iya Sa! Gue sama Mamah gue kok ngontraknya.” Jawab Arzeta dengan senyumannya.
“Oh pantes, gue fikir tuh lo ngontrak sendiri, kenapa nggak ngekost eh Taunya sama Mamah elo ya.” Jawab Salsa tersenyum merasa tidak enak karena mungkin ucapannya menyinggung.
Arzeta masuk ke ruangan semua mata tertuju pada dirinya, salah satunya mata seseorang yang paling menonjol dengan ketajamannya bak ingin menerkam Arzeta hidup-hidup. Arzeta menghampiri Dicky menyodorkan cangkirnya. Sedangkan Salsa hanya berdiri di belakangnya, sambil menahan senyum.
“Loh! Ini mah punya Genta!” Ucap Dicky sambil mengerutkan keningnya melihat isi gelas.
“Salsa!” Pekik Arzeta menoleh langsung ia terkejut sedangkan Salsa hanya meringis.
Arzeta pun mau tidak mau mengambil cangkir itu dan mengantarnya ke meja kerja Genta yang sengaja tetap melanjutkan pekerjaannya, tidak menganggap kedatangan Arzeta dihadapannya. Arzeta pun menyodorkan cangkir itu.
“Ini Bang!” Ucap Arzeta kemudian bergegas menjauh, ia tidak menunggu jawaban karena ia tahu tidak ada balasan. Bukankah itu salah satu pilihan bijak meski hal sepele, kalau kamu tahu hal endingnya kamu tidak perlu menunggu.
Genta hanya melirik sebentar kemudian kembali focus, sedangkan Salsa justru menahan gelak tawa dengan wajah Arzeta yang kesal bukan main. Arzeta sangat yakin, Genta pasti berfikir hal kesalahan tadi adalah kesalahan yang disengaja saja.
“Sorry ya Ta!” Ucap Salsa menepuk bahu Arzeta yang justru memanyunkan bibirnya. ‘
“Dasar ya elo! Bisa-bisanya ngerjain gue!” Ucap Arzeta kesal.
“Lain kali lagi ya Ta!” Ucap Salsa dengan tawa puas apalagi mengingat wajah Arzeta yang terkejut jika kopi yang ia bawa adalah milik Genta.
“Nggak mau ih! Lain kali kalau lo ngajakin gue mau nitip aja!” Ucap Arzeta menolak kemudian ia duduk di kursinya kembali sedangkan Salsa tidak henti-hentinya menertawakan kepolosan Arzeta.
“Yah ngambek dia!” Ucap Salsa yang duduk di sampingnya.
“Bodo amat!” Ketus Arzeta yang dibuat-buat.
“Eh gue denger dari anak di kantin tadi yah! Katanya bakal ada karyawan baru.” Ucap Salsa pada Arzeta.
“Iyakah? Bagus dong!” Ucap Arzeta dengan senyumannya.
“Lulusan luar negeri katanya.” Ucap Salsa membuat Arzeta hanya tersenyum, ya benar lulusan luar negeri tetap saja yang diprioritaskan dibanding dengan pelamar lulusan perguruan negeri di Indonesia sendiri.
***
Benar saja, diwaktu pulang justru hujan turun dengan derasnya mengguyur kota. Tepat di waktu jam kerja, semua karyawan tetap saja melanjutkan untuk pulang. Terlebih yang membawa mobil. Sedangkan Arzeta seperti biasa sudah menunggu di samping motor Genta.
“Waduh nungguin Abangnya nih?” Ledek Dicky yang datang dari belakang dan juga Genta yang sudah memandang malas pada Arzeta.
Zeta tidak membalas ledekan Dicky, ia sedang memikirkan bagaimana cara mengatakan pada Genta untuk menunggu redanya hujan.
“Bang Genta, Zeta…”
“Bareng? Iya udah hafal banget gue sama elu Ta!” Ketus Genta membuka jok motornya mengeluarkan mantolnya.
“Tapi nunggu hujan reda bisa nggak Bang? Aku nggak bawa mantol.” Ucap Arzeta semakin lirih begitu Genta langsung melemparkan tatapan tajam kepadanya.
“Nunggu? Nemenin elo gitu. Orang gue bawa mantol. Lo mau bareng apa nggak? “Hardik Genta dengan nada ketusnya.
Arzeta menggigit bibir bawahnya, ia dilemma karena ia sungguh tidak membawa mantol. Jika memaksakan pulang akan sampai rumah basah kuyup karena hujan begitu deras. Sedangkan Genta tampak tidak sabra menunggu jawaban perempuan dihadapannya.
“Iya deh Zeta bareng!” Ucap Arzeta tiba-tiba begitu Genta menyalakan motornya.
Sang Mentari seperti tidak memberikan kesempatan untuk bernafas dengan begitu gampang, pada sosok laki-laki yang tengah tertidur kini mulai terjaga, terganggu dengan hiruk pikuk kota yang mulai ramai dengan aktivitas masing-masing. Genta yang masih merasa begitu Lelah memaksakan dirinya untuk segera bangun. Kembali bekerja perbedaannya kini, mimpi buruk tak berani lagi bersinggah dalam tidurnya. Sebab separuh raga yang dulunya benar-benar menyiksa dirinya telah ia temukan di Kota tempat ia menjalankan suatu project, Kota Mataram. Genta meraba permukaan tempat tidurnya, mencari benda pipih yang ia geletakan asal di samping bantalnya semalam. Begitu ketemu, tangannya dengan lincah menari di permukaan layer sentuh miliknya. Mencari nama seorang gadis yang mengobati luka hatinya dulu! Zeta, sejak bertemu gadis itu Genta tidak menepis jika mentalnya perlahan membaik. Bisa berbicara dan melihat senyuman tulus gadis itu begitu menenangkan dan melenyapkan keresahan hatin
Semuanya sudah bergegas dengan koper masing-masing, termasuk Genta yang tampak sudah merasa lega. Wajahnya kini tampak teduh dan damai tak seperti beberapa hari sebelum mereka berangkat melakukan proyek kantor mereka, satu-satunya orang yang menyadari perubahan Genta adalah Sam, lelaki itu sangat merasakan Genta yang tampak tenang dari hari sebelumnya, hari-hari kelam bak mayat hidup dengan pikiran kemana-mana. Apalagi jika bukan berkat Zeta yang mengobati kerinduan yang begitu dalam, hebatnya Genta simpan dengan baik tanpa melakukan sesuatu yang ceroboh demi mendapatkan hati Zeta. Setelah ucapan yang mengganjal hatinya kemarin ia lontarkan kepada Zeta, Genta benar-benar merasa salah satu beban dalam hidupnya hilang. Tidak ada kegelisahan yang begitu berarti. “Ta!” Tegur Sam yang sejak tadi mengamati Genta yang tak bisa berhenti mengulum senyumannya dari wajahnya. “Hm.?” Jawab Genta dengan deheman tanpa mengalihkan pandangannya ke Sam yang tampak penasa
“Genta, nginap sini aja! Hujannya awet sampai nanti malam lo!” Celetuk Mila dari belakang membuat Genta terkejut, mendengar ucapan mamah Zeta, Genta langsung melirik pada Zeta yang rupanya ia juga sedang menatapnya. Rupanya keduanya sama-sama terkejut, Zeta terkejut karena mamahnya menawarkan tumpangan untuk tidur kepada Genta. Jauh dari dugaannya sebelumnya. “Mah!”Tegur Zeta kemudian menghampiri Mila untuk diajak bicara empat mata sebentar, ia membawa mamahnya ke dapur. Mila pun tampak heran dengan tarikan anaknya tapi ia menurutinya. “Kenapa?” Tanya Mila dengan berbisik begitu Zeta menghadap kepadanya dengan tangan berkacak pinggang. “Mamah kok biarin Bang Genta nginep sih? Yang bener aja? Apa kata orang nanti Mah?” Tanya Zeta tidak habis fikir dengan keputusan yang dibuat mamahnya, begitu sangat memperdulikan Genta yang berkunjung ke rumah. “Zeta! Kamu nggak kasian? Diluar hujan deras gimana mau pulang?” Tanya Mila membuat Zeta diam, yang d
Seharian penuh Genta menghabiskan waktu di rumah Zeta, tidak berpergian kemana-mana hanya terus mengobrol satu sama lain berharap Genta ada hal perubahan dari Zeta yang ia harapkan. Kenyataannya, setelah semua yang telah dilalui, keputusan Zeta benar-benar tidak bisa diubah, Zeta tetap tidak bisa niat Genta untuk menikahinya demi bertanggung jawab atas perbuatannya. Ah bukan, bukan lebih tepatnya kesalah mereka di malam itu, kesalahan bersama menghubungkan mereka semua. Genta tengah duduk di balkon tengah bersama Zeta yang menemaninya, mau tidak mau Zeta menemani Genta yang sedang bertamu di rumahnya. Mau tidak mau, meski hatinya mulai rapuh jika terus berdekatan dengan Genta tapi ia tidak menyerah karena ia harus bertahan karena sebentar lagi Genta akan Kembali ke kota, meninggalkan kota Mataram tempat persembunyian Zeta selama ini dari dunianya. “Gue ulangin sekali lagi Ta!” Ucap Genta setelah ia melihat waktu yang ditunjukkan jam arloji yang melingkar di tanga
“Kamu pagi-pagi sudah marah-marah gitu Ta, ayo sarapan!” Ajak Mila dengan senyumannya mengabaikan wajah Zeta yang tampak kesal tapi tak dihiraukan oleh mamahnya. Genta hanya tersenyum menatap Zeta yang duduk disampingnya sedangkan Zeta berdecak kesal karena kehadiran Genta benar-benar merusak mood di pagi harinya. Ia menyuapkan buah ke mulutnya, agar Kembali ke moodnya yang segar seperti ia menyambut pagi sebelum datangnya Genta. “Bang Genta! Zeta sudah bilang berkali-kali kisah kita sudah selesai!” tegas Zeta membuat Genta bungkam, rupanya gadis disampingnya masih belum bisa menerima keberadaannya, berbeda dengan mamahnya yang meski berapi-api hingga kemarahannya meluap tak terkendali, kini tampak menerima Genta dengan tangan terbuka. “Zeta! Mari makan dulu! Nggak baik, menyela waktu sarapan. Kita bicarakan nanti setelah makan!” Tegur Mila pada Zeta yang tidak bisa menahan emosinya kepada Genta yang sejak tadi memilih diam, tak menanggapi ucapan Zeta y
Sang fajar hampir menampakkan diri, Mila bergegas untuk menyiapkan kue yang akan diantar ke rumah pelanggannya. Ia mengeluarkan kotak boxnya hati-hati takut jika putrinya yang sedang terlelap akan terganggu. Ia menutup pintu secara hati-hati, menaruh kunci di bawah pot bunga seperti biasanya. Ini hari libur, swalayan tempatnya bekerja masih buka namun dia sedang mendapat hak untuk cuti. Deggg… Jantung Mila hampir lepas dari tempatnya kala ia berbalik badan dan menemukan Genta yang berdiri di pagar rumahnya. Mila hampir terjungkal jika saja ia lupa bahwa ia sedang membawa pesanan seseorang yang segera diantar. “Pagi tante!” Sapa Genta dengan senyum ramahnya, memberanikan diri menyapa Mila yang sejak tadi memasang wajah kesalnya kepada Genta. Lebih tepatnya, wajah dengan kemarahan yang tidak tahu kapan tersulut. “Mau apa kamu kesini!” Hardik Mila membuat Genta bungkam, pandangannya tertuju pada dua box yang sedang dibawa oleh Mila. “Su
“Ira!” Panggil Zeta dengan suara yang sedikit bervolume dibandingkan sebelumnya. Membuat sag pemilik nama Ira menghentikan motornya yang baru saja ia akan menancap gas.“Ini, lupa kan?” Tanya Zeta menyodorkan sebuah kotak bekal yang rupanya berisikan bolu yang ditawarkan.“Oh iya lupa Ta!” Ucap Ira
Hari masih sedikit gelap, sang mentari belum juga menampakkan diri pasanya. Sedangkan perempuan yang tengah memeluk dirinya sendiri dengan selimut itu sedikit terusik tidurnya karena mendengar kebisingan diluar kamarnya. Ia memaksa dirinya untuk membuka matanya. Merenggangkan sedikit ototnya, tidak







