Share

Enam

Penulis: J. Hanin
last update Tanggal publikasi: 2025-10-09 13:09:18

Cuaca siang hari begitu panas namun tiba-tiba begitu menjelang sore langit mendadak gelap dipenuhi dengan awan hitam. Tidak hanya Zeta yang merasakan hawa dingin mulai melanda ruangan, banyak karyawan lainnya berdoa agar tidak hujan saat jam pulang nanti. Zeta justru mencemaskan ibunya yang sekarang mungkin sudah perjalanan pulang.

Zeta : Mamah sudah sampai?

Zeta meletakkan ponselnya dan kembali menatap data yang ada di monitor sambil menunggu balasan dari ibunya. Lagi pula jika hujan pun ia juga bingung bagaimana cara pulang sedangkan ia tidak punya mantol.

Mamah : sudah, ini baru saja gerimis.

 Zeta menghela nafas, ia lega tidak perlu mencemaskan ibunya kehujanan. Sekarang saatnya ia memikirkan bagaimana ia pulang nanti jika hujan deras. Dulu awal masuk kerja mungkin Ira sahabatnya setia menjemputnya namun sekarang keduanya hanya bisa Bersama ketika berangkat saja karena Ira selalu lembur.

“Ta! Mau bikin teh anget nggak?” Tanya Salsa tiba-tiba saja muncul disamping Arzeta.

“Lo mau bikin?” Tanya Arzeta melihat Salsa yang sudah membawa cangkir miliknya.

“Iya! Mau nitip?” Tanya Salsa justru menawarkan kebaikannya.

“Lo duluan aja ntar gue nyusul!” Jawab Arzeta yang langsung dibalas dengan acungan jempol Salsa.

Zeta menyelesaikan pekerjaannya sebentar, kemudian beranjak berdiri keluar ruangan. Selalu saja Arzeta memelankan langkah kakinya setiap melintas di depan ruangan Genta dan Dicky, selalu ada garis yang menarik kedua bibirnya ke atas setiap pandangannya tertuju pada Genta yang sedang serius menatap komputernya.

“Sa!” Panggil Arzeta masuk ke dapur kantor.

Salsa langsung menoleh dan tersenyum, ia kemudian menyodorkan teh dan gula kepada Arzeta. Arzeta terdiam, kenapa ada empat cangkir disini. Salsa pun masih sibuk mengotak ngatik ponselnya.

“Sa! Gelasnya banyak banget?” Tanya Arzeta mengerutkan keningnya penasaran.

“Oh ini! Bang Genta sama Bang Dicky nitip tadi. Nanti sekalian bantu bawain ya!” Jawab Salsa dengan senyumannya.

Arzeta tidak menjawab hanya mengangguk tanda menyetujui, ia sedang berfikir semisal dia yang menawarkan pada Genta pasti langsung mendapatkan penolakan. Arzeta pun menggelengkan kepalanya, membuyarkan lamunannya. Meski terkadang ia merasa ingin diposisi Salsa, tapi ia teringat posisi dia dan tidak ada hak atas itu.

“Nanti lo yang ngasih ke Bang Genta deh.” Ucap Salsa menawarkan diri dengan senyum usilnya.

“Nggak ah! Gue bawa punya Dicky aja.” Tolak Arzeta, memang ia suka mengambil kesempatan pada setiap momen dengan Genta tapi tidak dengan milik momen orang lain.

“Lah tumben?” Tanya Salsa lumayan terkejut karena biasanya sahabatnya ini sangat cekatan guna mendekati Genta sang senior.

Siapa yang tidak tahu soal Genta dan Zeta, semuanya mengetahui karena ucapan yang keluar dari mulut Dicky semuanya membahasnya. Arzeta awalnya sangat malu namun kini ia bersikap biasa saja dan justru secara gamblang memperlihatkan perasaannya kepada Genta. Genta pun awalnya merasa rishi dan benar-benar marah namun lambat laun ia terbiasa dengan candaan teman-temannya yang membawa nama Arzeta, sayangnya ia semakin membenci perempuan itu dengan berbagai alasan ia lontarkan agar perempuan itu menjauh. Namun hasilnya, Zonk !

“Nih punya Dicky!” Ucap Salsa menyodorkannya Arzeta langsung menerimanya saja.

“Ta! Elo disini ngontrak ya ternyata?” Tanya Salsa membuat Arzeta menunduk mendengar pertanyaan Salsa.

“Nggak maksud gue! Elo bukan orang asli sini kan?” Tanya Salsa meralat ucapannya tidak berniat menyinggung rekan kerjanya itu.

“Iya Sa! Gue sama Mamah gue kok ngontraknya.” Jawab Arzeta dengan senyumannya.

“Oh pantes, gue fikir tuh lo ngontrak sendiri, kenapa nggak ngekost eh Taunya sama Mamah elo ya.” Jawab Salsa tersenyum merasa tidak enak karena mungkin ucapannya menyinggung.

Arzeta masuk ke ruangan semua mata tertuju pada dirinya, salah satunya mata seseorang yang paling menonjol dengan ketajamannya bak ingin menerkam Arzeta hidup-hidup. Arzeta menghampiri Dicky menyodorkan cangkirnya. Sedangkan Salsa hanya berdiri di belakangnya, sambil menahan senyum.

“Loh! Ini mah punya Genta!” Ucap Dicky sambil mengerutkan keningnya melihat isi gelas.

“Salsa!” Pekik Arzeta menoleh langsung ia terkejut sedangkan Salsa hanya meringis.

Arzeta pun mau tidak mau mengambil cangkir itu dan mengantarnya ke meja kerja Genta yang sengaja tetap melanjutkan pekerjaannya, tidak menganggap kedatangan Arzeta dihadapannya. Arzeta pun menyodorkan cangkir itu.

“Ini Bang!” Ucap Arzeta kemudian bergegas menjauh, ia tidak menunggu jawaban karena ia tahu tidak ada balasan. Bukankah itu salah satu pilihan bijak meski hal sepele, kalau kamu tahu hal endingnya kamu tidak perlu menunggu.

Genta hanya melirik sebentar kemudian kembali focus, sedangkan Salsa justru menahan gelak tawa dengan wajah Arzeta yang kesal bukan main. Arzeta sangat yakin, Genta pasti berfikir hal kesalahan tadi adalah kesalahan yang disengaja saja.

“Sorry ya Ta!” Ucap Salsa menepuk bahu Arzeta yang justru memanyunkan bibirnya. ‘

“Dasar ya elo! Bisa-bisanya ngerjain gue!” Ucap Arzeta kesal.

“Lain kali lagi ya Ta!” Ucap Salsa dengan tawa puas apalagi mengingat wajah Arzeta yang terkejut jika kopi yang ia bawa adalah milik Genta.

“Nggak mau ih! Lain kali kalau lo ngajakin gue mau nitip aja!” Ucap Arzeta menolak kemudian ia duduk di kursinya kembali sedangkan Salsa tidak henti-hentinya menertawakan kepolosan Arzeta.

“Yah ngambek dia!” Ucap Salsa yang duduk di sampingnya.

“Bodo amat!” Ketus Arzeta yang dibuat-buat.

“Eh gue denger dari anak di kantin tadi yah! Katanya bakal ada karyawan baru.” Ucap Salsa pada Arzeta.

“Iyakah? Bagus dong!” Ucap Arzeta dengan senyumannya.

“Lulusan luar negeri katanya.” Ucap Salsa membuat Arzeta hanya tersenyum, ya benar lulusan luar negeri tetap saja yang diprioritaskan dibanding dengan pelamar lulusan perguruan negeri di Indonesia sendiri.

***

Benar saja, diwaktu pulang justru hujan turun dengan derasnya mengguyur kota. Tepat di waktu jam kerja, semua karyawan tetap saja melanjutkan untuk pulang. Terlebih yang membawa mobil. Sedangkan Arzeta seperti biasa sudah menunggu di samping motor Genta.

“Waduh nungguin Abangnya nih?” Ledek Dicky yang datang dari belakang dan juga Genta yang sudah memandang malas pada Arzeta.

Zeta tidak membalas ledekan Dicky, ia sedang memikirkan bagaimana cara mengatakan pada Genta untuk menunggu redanya hujan.

“Bang Genta, Zeta…”

“Bareng? Iya udah hafal banget gue sama elu Ta!” Ketus Genta membuka jok motornya mengeluarkan mantolnya.

“Tapi nunggu hujan reda bisa nggak Bang? Aku nggak bawa mantol.” Ucap Arzeta semakin lirih begitu Genta langsung melemparkan tatapan tajam kepadanya.

“Nunggu? Nemenin elo gitu. Orang gue bawa mantol. Lo mau bareng apa nggak? “Hardik Genta dengan nada ketusnya.

Arzeta menggigit bibir bawahnya, ia dilemma karena ia sungguh tidak membawa mantol. Jika memaksakan pulang akan sampai rumah basah kuyup karena hujan begitu deras. Sedangkan Genta tampak tidak sabra menunggu jawaban perempuan dihadapannya.

“Iya deh Zeta bareng!” Ucap Arzeta tiba-tiba begitu Genta menyalakan motornya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   EPILOG

    Seorang wanita yang beberapa hari kini telah menjadi seorang ibu tengah menggendong putrinya untuk duduk di ruang tengah bersama para sahabatnya yang menginap di rumahnya semenjak Zeta melahirkan. Zeta mengusap pelan wajah putrinya yang sedang terlelap, karena semalaman bayi mungil itu mengajak ibunya untuk bergadang terus menerus. “Ta! Mau gue bikinin susu atau teh?” Tawar Ira yang baru saja bergabung dengan membawa beberapa minuman hangat milik para sahabatnya. “Nggak kopi Ta?” Ledek Dicky yang langsung dibalas sebuah tatapan tajam dari Zeta. “Maaf Ta, emang sahabat gue yang satu ini agak ruwet otaknya.” Ucap Sam membuat tawa menggelegar, namun tak sampai puas mereka segera menutup mulutnya masing-masing begitu menyadari ada bayi yang terlelap ditengah-tengah mereka. “Kalian libur lama emang nggak masalah?” Tanya Zeta pada Salsa, Dicky dan Sam yang notabene mereka satu kantor. “Nggak, project kita mah udah dikelarin. Biar bisa ambi

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Delapanpuluh Empat

    Ta, Zeta sudah melahirkan seorang bayi perempuan. “Benarkah syukurlah, Genta belum bisa kesana ya Bu!” Ucap Genta kepada seorang wanita di seberang melalui sambungan telepon. Kemudian ia meletakkan benda pipih itu, di atas meja setelah sambungan telepon mereka berakhir. Senyum yang Genta pasang sekarang adalah senyum penuh kepalsuan, ia dirundung kebingungan mendalam sebab obrolan papah dan mamahnya semalam membuat terfikir akan bagaimana nantinya dirinya. “Apa aku harus mencoba terlebih dahulu saja?” Gumam Genta entah pada siapa, semua karyawan telah pulang karena jam memang sudah menunjukkan pukul delapan malam hanya tinggal dirinya di dalam ruangan sedang memikirkan bagaimana dan apakah semua pertanyaan muncul setelah ia berniat untuk memberitahu keluarganya tentang sosok Zeta. Mengingat papah dan mamahnya yang bersikap selalu apa-apa serba perfeksionis, Genta menatap sebentar meja kerja sahabat karibnya yang mendadak izin untuk hari

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Delapanpuluh Tiga

    Seorang wanita tengah menunggu anaknya yang melahirkan, dini hari Mila meminta bantuan orang sekitar untuk membawa Zeta ke tempat bidan terdekat. Hari yang diperkirakan dia akan melahirkan rupanya maju seminggu lebih cepat, kini Mila sedang menunggu anaknya di dalam yang sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya demi lahirnya putri semata wayangnya. Sedangkan di dalam, Zeta sudah merasakan kesakitan, namun belum pembukaan. Membuatnya harus bersabar sampai pembukaan agar persalinannya bisa dilaksanakan. Ia sebisa mungkin menahan tangisnya akan kesakitan di perutnya yang benar-benar tidak didefinisikan, keringat dinginnya bercucuran di pelipisnya. Ia menyakinkan dirinya bahwa ia bisa melaluinya, ia sudah menunggu hari ini tiba. Ia siap berjumpa dengan anaknya yang sebentar lagi lahir ke dunia. Tak hanya fikirannya terpacu pada Zeta yang berada di dalam, Mila sejak tadi menoleh ke pintu keluar berharap orang yang tadi ia hubungi akan segera datang. Namun harusnya ia t

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Delapanpuluh Dua

    Genta baru saja pulang kerja, sejak tadi ia hanya membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, menunggu seseorang di seberang sana membaca pesan yang ia kirimkan. Siapa lagi jika bukan Zeta, kekasihnya. Ah bolehkah menyebutnya sebagai kekasih mulai sekarang? Karena mereka sedang menjalin hubungan? Lebih tepatnya kapan itu dimulai? Genta menghela nafas kala dibawah nama kontak gadis itu tidak tertuliskan sebuah kata yang menandakan bahwa gadis itu sedang online, membaca kemudian segera membalas pesan dari Genta. Begitu tidak sabarnya lelaki yang sedang merasakan asmara layaknya remaja bangku SMA yang baru resmi menentukan hari jadi mereka. Genta memilih bangkit dari acara melepas penatnya setelah seharian sibuk bekerja, laki-laki itu berniat mandi untuk mempercepat waktu menunggu Zeta mengirim pesan untuknya. Baru saja mereka menjalin hubungan yang belum sepenuhnya resmi namun mereka harus sudah merasakan bagaimana hubungan terbentang jarak yang memisahkan mereka. Ting… Zeta : Ba

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Delapanpuluh Satu

    Beberapa orang mengeluhkan kepada semesta, ketika hujan terus menerus mengguyur kota tanpa ampun tapi tidak untuk para mereka yang membutuhkan adanya hujan untuk pekerjaan mereka. Beberapa orang juga mengeluhkan kepada semesta, mengapa hari itu matahari itu begitu terik hingga terasa membakar setiap kulit yang terpapar sinarnya. Tapi tidak dengan mereka yang menganggap sang surya adalah sumber pokok kehidupan mereka. Semua itu, tidak berlaku untuk orang yang sedang jatuh cinta. Percaya tidak percaya. Hati mereka yang berbunga-bunga terus dipenuhi dengan hal-hal yang manis dan pikiran yang positif membuat senyuman terus terukir di wajah mereka, tanpa sebab yang masuk akal. Maka, inilah alasan mengapa cinta itu gila?Sama seperti yang dialami gadis yang sejak tadi tengah mengotak-ngatik ponselnya, mengusap foto dirinya dan seorang lelaki yang mereka ambil kemarin jauh. Lelaki yang kini menjadi dambaan hatinya, anehnya ketika sang lelaki memintanya untuk menjadi separuh bagian hidupnya,

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Delapanpuluh

    Sang Mentari seperti tidak memberikan kesempatan untuk bernafas dengan begitu gampang, pada sosok laki-laki yang tengah tertidur kini mulai terjaga, terganggu dengan hiruk pikuk kota yang mulai ramai dengan aktivitas masing-masing. Genta yang masih merasa begitu Lelah memaksakan dirinya untuk segera bangun. Kembali bekerja perbedaannya kini, mimpi buruk tak berani lagi bersinggah dalam tidurnya. Sebab separuh raga yang dulunya benar-benar menyiksa dirinya telah ia temukan di Kota tempat ia menjalankan suatu project, Kota Mataram. Genta meraba permukaan tempat tidurnya, mencari benda pipih yang ia geletakan asal di samping bantalnya semalam. Begitu ketemu, tangannya dengan lincah menari di permukaan layer sentuh miliknya. Mencari nama seorang gadis yang mengobati luka hatinya dulu! Zeta, sejak bertemu gadis itu Genta tidak menepis jika mentalnya perlahan membaik. Bisa berbicara dan melihat senyuman tulus gadis itu begitu menenangkan dan melenyapkan keresahan hatin

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Dua

    Sang mentari masih menyembunyikan cahayanya di pagi hari, kehangatan tak juga mau menjalar melalui sela-sela kamar seseorang yang masih bergulat dengan selimut tebalnya. Lelaki itu mulai terusik ketika ponselnya berdering, bukan dari sebuah panggilan melainkan alarm jamnya yang semakin keras begitu

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Satu

    Langit yang cerah di bulan Februari, itu seharusnya kenyataannya benar-benar berbanding terbalik dengan fakta yang ada. Hari ini, langit begitu mendung memberikan sebuah tanda bahwa hari ini kota besar di wilayah itu akan diguyur hujan yang deras.Seorang gadis yang berumur 23 tahun, karyawan swast

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   PROLOG

    Memilih menghilang bak ditelan bumi demi tetap bisa hidup dibawah lindungan ibunya yang hatinya benar-benar sekuat baja, Arzeta benar-benar bergantung pada ibunya tidak ada tempat ia bersanding seiiring perutnya yang semakin bucit.Bak sebuah kertas yang menutupi lubang, satu lubang ditutup tumbuhl

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Enampuluh Lima

    Genta sedang menatap pemandangan yang disuguhkan, hal yang membuatnya bersemangat untuk melakukan perjalanan bisnis adalah pemandangan yang disuguhkan tidak mungkin ia temuka di daerah asalnya. Pantai yang mengelilingi dataran rendah dengan pasir putih semakin menjadi panorama indah. Proyek merek

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status