Masuk“Pagi !” Sapa seorang perempuan yang baru sampai menyapa teman-teman satu kantornya mereka tersenyum pada Zeta.
“Ta hari ini gue gak titip kopi dulu deh!” Celetuk seseorang dari belakang yang langsung dibalas anggukan Zeta.
“Kenapa lo? Tumben bener!” Tanya Dicky pada lelaki yang berkutik dengan ponselnya.
“Gue habis dari rumah mertua gue, kebetulan dibawain kopi.” Ucap lelaki itu memperlihatkan botol termosnya membuat Dicky mengangguk paham.
Dicky, yang berbeda kantor itu selalu nimbrung Bersama teman-temannya disini sebelum jam kerja dimulai. Lebih tepatnya sebelum Genta datang, pastinya ia akan sendiri di ruangan jadi lebih baik tertawa dengan teman-teman lainnya.
Tak lupa menggoda fans sahabatnya adalah kegiatannya berhari-hari yang tak pernah bosan. Zeta mulai malas jika Dicky sudah berjalan menuju kearahnya ia pun memasang muka masam. Bukannya mengurungkan niat justru Dicky tersenyum.
“Widih nggak ada Genta aja lo galak bener sama gue!” Ucap Dicky duduk di meja kerja Zeta.
Zeta meliriknya dengan tajam, sejak pertama kali masuk kerja Zeta sudah mengetahui jika lelaki ini lumayan tengil dan playboy, ceweknya dimana-mana bung.
“Nggak usah banyak ngomong deh Bang Dicky, cepet bayar kopi yang kemarin sekaligus sama punya Bang Genta!” Ucap Zeta galak membuat Dicky mau tidak mau mengeluarkan dompetnya karena semua mata tengah memandangnya.
“Nih! Gue bayar! Punya Genta minta sendiri sonoh!” Ucap Dicky menyodorkan uangnya yang langsung diterima Zeta. Zeta tersenyum dalam hatinya jika harus menambah kenangan Bersama Genta adalah keberuntungan dan kesempatan yang tidak akan ia lewatkan.
Dicky tidak bisa melihat raut wajah Zeta yang perempuan itu sembunyikan pasalnya raut wajahnya tetap. Perempuan itu memasang wajah garang special untuk Dicky, gara-gara lelaki ini Genta mengetahui perasaan Arzeta kepadanya membuat hubungan keduanya sebaga senior dan junior hilang dalam sekejap. Kini tatapan hangat telah berubah menjadi tatapan tajam, dingin dan begitu menusuk siapapun. Ah tidak lebih tepatnya hanya berlaku pada Arzeta.
Genta melintas di depan kantor menatap tajam langsung lurus pada Arzeta, Arzeta terpaku di tempat. Begitu lelaki itu lewat, Arzeta beranjak berdiri.
“Gue beli kopi sekarang yah!” Ucap Arzeta kemudian bergegas pergi semua rekan kerjanya sudah hafal, Genta yang melintas adalah sebagai alarm untuk membeli kopi.
Arzeta sedikit berlari untuk mensejajarkan langkah kaki kecilnya dengan langkah lebar Genta. Genta tidak bergeming ia tahu siapa yang sedang berjalan bersamanya. Siapa lagi jika bukan perempuan yang selalu ingin ia hindari itu.
“Bang Genta mau titip kopi nggak?” Tanya Arzeta dengan ucapan yang lembut.
“Nggak!” Ucap Genta pendek tapi Zeta tidak menyerah. Seolah mereka sedang mengulang percakapan yang sama setiap harinya. Penolakan yang sama namun tak berhasil menggertak langkahnya untuk mundur mengejar lelaki dingin seperti Genta.
“Kalau gitu, Zeta minta uang kopi kemarin!” Ucap Zeta dengan senyum manisnya bukannya terpesona Genta justru semakin terpancing emosinya.
“Nih! “ Ucap Genta yang sudah sampai di ruangan dan Zeta masih membuntutinya. Lelaki itu mengeluarkan uang selembar dan sedikit melempar sayangnya uang kertas itu jatuh dan terkesan dibuang, dari mata Genta terlihat jika lelaki itu sedikit tersentak dengan tingkahnya sendiri.
Zeta pun dengan singgap berjongkok mengambil uang yang jatuh itu kemudian berdiri dengan senyumannya yang tetap utuh, begitu tulus dan manis. Sayangnya Genta tidak melihatnya, kebenciannya akan kehadiran Arzeta dalam hidupnya sudah menyelimuti hati nuraninya terlebih dahulu.
“Lo tuh nggak tahu malu ya Ta! Gue nggak pernah minta dibeliin sekarang elo minta ganti uang.” Hardik Genta dengan ucapan pedasnya membuat Zeta menunduk, entah mengapa ada nyeri di dadanya yang ia rasakan tiba-tiba.
Zeta pun mengembalikan uang Genta, meletakkan uang itu di atas meja kerja Genta yang sudah berapi-api menatap perempuan yang mengalihkan pandangan darinya.
“Yaelah, Zeta cuman bercanda lagi!” Ucap Zeta dengan senyumannya seolah ia tidak menyadari situasi yang sedang memanas di antara keduanya.
Genta hanya tertawa sinis membuat Zeta mengerutkan keningnya mencoba mencari tahu apa yang sedang difikirkan lelaki itu sebenarnya.
“Kenapa Bang?” Tanya Zeta dengan senyumannya. Zeta yang berada di hadapan Genta bukan Zeta yang sebenarnya, Zeta adalah perempuan yang pendiam, dingin dan irit berbicara tetapi di depan Genta ia justru terlihat dengan seorang perempuan yang humble dan penuh dengan keceriaan dalam dirinya.
“Percuma gue debat sama cewek bodoh kayak elo! Nggak bakal ngerti udah!” Ucap Genta dengan sinis memandang Arzeta dari atas sampai bawah terlihat menyepelekan sekali.
Arzeta mematung mendengar ucapan Genta, ia sedikit tersinggung dengan sikap yang ia tunjukan kepada Genta semata-mata untuk menarik Genta rupanya justru menyakitinya sendiri.
“Udah buruan pergi sana! Muak gue lihat elo!” Usir Genta membuat Zeta terperanjat kemudian tersenyum dan bergegas pergi keluar ruangan.
Siapa bilang dia tidak paham, kata pedas dari mulut Genta benar-benar menyiksanya. Ia mengusap air mata yang hamper keluar takut jika ada orang yang melihatnya.
Memang benar “ jadi diri sendiri itu lebih baik dari pada mencoba jadi orang lain justru mendatangkan luka”.
Seorang wanita yang beberapa hari kini telah menjadi seorang ibu tengah menggendong putrinya untuk duduk di ruang tengah bersama para sahabatnya yang menginap di rumahnya semenjak Zeta melahirkan. Zeta mengusap pelan wajah putrinya yang sedang terlelap, karena semalaman bayi mungil itu mengajak ibunya untuk bergadang terus menerus. “Ta! Mau gue bikinin susu atau teh?” Tawar Ira yang baru saja bergabung dengan membawa beberapa minuman hangat milik para sahabatnya. “Nggak kopi Ta?” Ledek Dicky yang langsung dibalas sebuah tatapan tajam dari Zeta. “Maaf Ta, emang sahabat gue yang satu ini agak ruwet otaknya.” Ucap Sam membuat tawa menggelegar, namun tak sampai puas mereka segera menutup mulutnya masing-masing begitu menyadari ada bayi yang terlelap ditengah-tengah mereka. “Kalian libur lama emang nggak masalah?” Tanya Zeta pada Salsa, Dicky dan Sam yang notabene mereka satu kantor. “Nggak, project kita mah udah dikelarin. Biar bisa ambi
Ta, Zeta sudah melahirkan seorang bayi perempuan. “Benarkah syukurlah, Genta belum bisa kesana ya Bu!” Ucap Genta kepada seorang wanita di seberang melalui sambungan telepon. Kemudian ia meletakkan benda pipih itu, di atas meja setelah sambungan telepon mereka berakhir. Senyum yang Genta pasang sekarang adalah senyum penuh kepalsuan, ia dirundung kebingungan mendalam sebab obrolan papah dan mamahnya semalam membuat terfikir akan bagaimana nantinya dirinya. “Apa aku harus mencoba terlebih dahulu saja?” Gumam Genta entah pada siapa, semua karyawan telah pulang karena jam memang sudah menunjukkan pukul delapan malam hanya tinggal dirinya di dalam ruangan sedang memikirkan bagaimana dan apakah semua pertanyaan muncul setelah ia berniat untuk memberitahu keluarganya tentang sosok Zeta. Mengingat papah dan mamahnya yang bersikap selalu apa-apa serba perfeksionis, Genta menatap sebentar meja kerja sahabat karibnya yang mendadak izin untuk hari
Seorang wanita tengah menunggu anaknya yang melahirkan, dini hari Mila meminta bantuan orang sekitar untuk membawa Zeta ke tempat bidan terdekat. Hari yang diperkirakan dia akan melahirkan rupanya maju seminggu lebih cepat, kini Mila sedang menunggu anaknya di dalam yang sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya demi lahirnya putri semata wayangnya. Sedangkan di dalam, Zeta sudah merasakan kesakitan, namun belum pembukaan. Membuatnya harus bersabar sampai pembukaan agar persalinannya bisa dilaksanakan. Ia sebisa mungkin menahan tangisnya akan kesakitan di perutnya yang benar-benar tidak didefinisikan, keringat dinginnya bercucuran di pelipisnya. Ia menyakinkan dirinya bahwa ia bisa melaluinya, ia sudah menunggu hari ini tiba. Ia siap berjumpa dengan anaknya yang sebentar lagi lahir ke dunia. Tak hanya fikirannya terpacu pada Zeta yang berada di dalam, Mila sejak tadi menoleh ke pintu keluar berharap orang yang tadi ia hubungi akan segera datang. Namun harusnya ia t
Genta baru saja pulang kerja, sejak tadi ia hanya membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, menunggu seseorang di seberang sana membaca pesan yang ia kirimkan. Siapa lagi jika bukan Zeta, kekasihnya. Ah bolehkah menyebutnya sebagai kekasih mulai sekarang? Karena mereka sedang menjalin hubungan? Lebih tepatnya kapan itu dimulai? Genta menghela nafas kala dibawah nama kontak gadis itu tidak tertuliskan sebuah kata yang menandakan bahwa gadis itu sedang online, membaca kemudian segera membalas pesan dari Genta. Begitu tidak sabarnya lelaki yang sedang merasakan asmara layaknya remaja bangku SMA yang baru resmi menentukan hari jadi mereka. Genta memilih bangkit dari acara melepas penatnya setelah seharian sibuk bekerja, laki-laki itu berniat mandi untuk mempercepat waktu menunggu Zeta mengirim pesan untuknya. Baru saja mereka menjalin hubungan yang belum sepenuhnya resmi namun mereka harus sudah merasakan bagaimana hubungan terbentang jarak yang memisahkan mereka. Ting… Zeta : Ba
Beberapa orang mengeluhkan kepada semesta, ketika hujan terus menerus mengguyur kota tanpa ampun tapi tidak untuk para mereka yang membutuhkan adanya hujan untuk pekerjaan mereka. Beberapa orang juga mengeluhkan kepada semesta, mengapa hari itu matahari itu begitu terik hingga terasa membakar setiap kulit yang terpapar sinarnya. Tapi tidak dengan mereka yang menganggap sang surya adalah sumber pokok kehidupan mereka. Semua itu, tidak berlaku untuk orang yang sedang jatuh cinta. Percaya tidak percaya. Hati mereka yang berbunga-bunga terus dipenuhi dengan hal-hal yang manis dan pikiran yang positif membuat senyuman terus terukir di wajah mereka, tanpa sebab yang masuk akal. Maka, inilah alasan mengapa cinta itu gila?Sama seperti yang dialami gadis yang sejak tadi tengah mengotak-ngatik ponselnya, mengusap foto dirinya dan seorang lelaki yang mereka ambil kemarin jauh. Lelaki yang kini menjadi dambaan hatinya, anehnya ketika sang lelaki memintanya untuk menjadi separuh bagian hidupnya,
Sang Mentari seperti tidak memberikan kesempatan untuk bernafas dengan begitu gampang, pada sosok laki-laki yang tengah tertidur kini mulai terjaga, terganggu dengan hiruk pikuk kota yang mulai ramai dengan aktivitas masing-masing. Genta yang masih merasa begitu Lelah memaksakan dirinya untuk segera bangun. Kembali bekerja perbedaannya kini, mimpi buruk tak berani lagi bersinggah dalam tidurnya. Sebab separuh raga yang dulunya benar-benar menyiksa dirinya telah ia temukan di Kota tempat ia menjalankan suatu project, Kota Mataram. Genta meraba permukaan tempat tidurnya, mencari benda pipih yang ia geletakan asal di samping bantalnya semalam. Begitu ketemu, tangannya dengan lincah menari di permukaan layer sentuh miliknya. Mencari nama seorang gadis yang mengobati luka hatinya dulu! Zeta, sejak bertemu gadis itu Genta tidak menepis jika mentalnya perlahan membaik. Bisa berbicara dan melihat senyuman tulus gadis itu begitu menenangkan dan melenyapkan keresahan hatin
Hujan deras yang mengguyur kota tidak mengindahkan kedua insan yang dalam perjalanan pulang, hujan yang cukup dalam beberapa detik membuat baju basah tak mengurungkan niat Genta untuk segera pulang. Dia bahkan mengabaikan soal Arzeta yang tidak membawa mantol. Jadilah perempuan yang berada di jok
Cuaca siang hari begitu panas namun tiba-tiba begitu menjelang sore langit mendadak gelap dipenuhi dengan awan hitam. Tidak hanya Zeta yang merasakan hawa dingin mulai melanda ruangan, banyak karyawan lainnya berdoa agar tidak hujan saat jam pulang nanti. Zeta justru mencemaskan ibunya yang sekaran
Sebuah motor yang tadinya melaju dengan kecepatan sedang, perlahan menepi setelah menyalakan lampu sen kirinya. Sang pengemudi tidak sendiri, ada sosok perempuan yang duduk di jok belakangnya. Raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya setiap kali laki-laki itu mengantarnya pulang. Ia t
Dua orang yang sedang berjalan menuju sebuah angkringan pinggir jalan, siapa sangka keduanya hanya berjalan kaki beberapa puluh meter dari apartemen Dicky yang lingkungannya lebih mewah daripada angkringan yang sangat kecil dan sederhana di pinggir jalan itu. Siapa lagi orang yang Bersama Dicky jik







