LOGINMalam semakin larut.Aroma daging panggang masih menggantung di udara, bercampur dengan tawa yang belum benar-benar padam.Area barbeque di halaman belakang mansion Gunadhya masih hidup—lampu gantung temaram, meja panjang yang dipenuhi sisa makanan, dan gelas-gelas yang belum sepenuhnya kosong.Zyandru berdiri di dekat grill.Seperti biasa—paling berisik.“Ini gue bilang ya … kalau masak steak itu jangan terlalu sering dibolak-balik, nanti jusnya keluar semua—kering, enggak enak!” katanya dengan gaya sok ahli.“Padahal yang masak dari tadi koki,” sahut Kanaya mendengkus sinis.“Tapi yang makan paling banyak dia,” balas sang koki.Tawa pecah lagi.Zyandru hanya nyengir santai, tidak merasa tersindir sedikit pun.“Yang penting hasil akhirnya, bro,” katanya ringan.Di sisi lain—Kaluna duduk di samping Satria.Sesekali tersenyum.Sesekali menanggapi.Namun lebih banyak—diam.Menikmati sekaligus menahan.Satria di sampingnya terlihat tenang.Ikut tertawa saat perlu.Menja
Langit Jakarta mulai berubah warna saat mobil Satria melaju memasuki kawasan elite tempat mansion keluarga Gunadhya berada.Sinar matahari sore memantul di kaca-kaca gedung tinggi, lalu perlahan meredup saat mereka berbelok ke jalan yang lebih privat—lebih tenang, lebih eksklusif.Kaluna termenung di kursi penumpang.Tangannya berada di pangkuan, saling menggenggam. Resah.Tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya tidak ada di sana.Ia hafal jalan ini. Sangat.Setiap tikungan, setiap gerbang, setiap deretan pohon yang tertata rapi.Semua membawa ingatan, tentang rumah, tentang masa kecil. Tentang tawa yang dulu terasa mudah.Dan tentang satu hal yang sekarang terasa berat—pulang.Satria melirik sekilas ke arah Kaluna.Tidak juga bicara. Ia tahu—ini bukan perjalanan biasa bagi istrinya.Tangannya di setir terlihat tenang.Terlalu tenang bahkan.Namun jika diperhatikan lebih lama—rahang Satria justru sedikit mengeras.Jari-jarinya mencengkeram setir sedikit lebih kuat dar
Perjalanan pulang terasa sunyi.Tidak ada percakapan.Tidak ada musik.Hanya suara mesin mobil dan napas yang sama-sama ditahan.Kaluna menatap ke luar jendela.Satria fokus ke jalan.Keduanya diam.Tenggelam dalam pikiran masing-masing.Hingga mereka sampai ke apartemen dan hari berganti malam, apartemen terasa lebih dingin.Lebih sunyi dari biasanya.Satria masuk kamar lebih dulu.Mengganti kemejanya dengan kaos rumahan lalu berbaring.Membelakangi Kaluna.Tanpa banyak kata.Kaluna berdiri beberapa detik di ambang pintu.Menatap punggung pria itu.Yang terlihat lelah.Sangat lelah.Ia berjalan mendekat.Pelan.Naik ke atas ranjang.Dan tanpa suara—memeluk Satria dari belakang.Erat.Hangat.Wajahnya menempel di punggung pria itu.“Kamu enggak perlu sejauh itu, Satria .…” bisiknya pelan.Satria tidak bergerak.Tapi napasnya berubah.Lebih
Keesokan harinya, Jakarta terasa lebih panas dari biasanya.Atau mungkin—yang panas bukan udaranya.Melainkan isi kepala dan hati mereka.Mobil Satria melaju pelan di antara padatnya jalanan. Kaluna duduk di sampingnya, memandangi luar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun.Mereka sedang menuju sebuah pusat perbelanjaan kelas atas.Tempat di mana—harga bukan lagi pertimbangan utama.Setidaknya bagi sebagian orang.Bagi mereka?Hari ini—semuanya terasa berbeda.***Mall itu berdiri megah.Kaca-kaca tinggi memantulkan cahaya siang. Interiornya bersih, elegan, dan terlalu mewah untuk kondisi mereka sekarang.Kaluna melangkah masuk bersama Satria.Langkahnya sedikit ragu.Bukan karena tidak terbiasa.Tapi karena situasinya berbeda.Dulu—ia masuk ke tempat seperti ini tanpa berpikir.Sekarang—ia masuk sambil memikirkan seseorang di sampingnya.“Jadi .…” Satria membuka suara sambil berjalan santa
Hari-hari kembali berjalan.Satria berangkat di suatu pagi—entah untuk melamar pekerjaan, menemui kenalan, atau sekadar mencari peluang.Kaluna tetap di apartemen. Menunggu. Berpikir.Dan menyimpan sesuatu yang belum bisa ia sampaikan.Sampai akhirnya—siang hari.Ponsel Kaluna berdering.Nama yang muncul membuat jantungnya sedikit berdebar.Davanka.Kaluna menatap layar beberapa detik.Lalu menjawab.“Halo, Bang.”“Lun.”Suara itu seperti biasa—tenang, berwibawa.“Lo lagi di mana?”“Di rumah.”“Sendirian?”“Iya.”Ada jeda kecil.Seolah Davanka sedang memilih kata.“Ada acara di rumah minggu ini.”Kaluna terdiam.Tidak perlu dijelaskan panjang lebar—ia sudah tahu rumah mana yang dimaksud Davanka.“Acara apa?” tanyanya pelan.“Barbeque. Sabtu malam.”Kaluna tidak langsung merespon.Tapi kemudian, “Sekalian … ulang tahun Bunda.”Deg.Jantungnya berdegup lebih cepat.“Ulang tahun bunda …?”“Iya.”Kaluna menelan ludah.Ia lupa. Atau mungkin—sengaja tidak mau
“Sayang, besok kita ke dokter ya,” kata Satria sambil memijat punggung istrinya dan mengolesi dengan minyak kayu putih.“Enggak usah, Sayang … aku cuma masuk angin aja.” Kaluna menolak secara halus.“Tapi selama perjalanan dari Bandung sampai ke Jakarta, muka kamu pucat dan kamu tidur terus.”“Iya … aku nahan mual itu.” Kaluna menyengir. Satria bisa melihatnya dari pantulan cermin meja rias.“Kamu enggak akan sembuh hanya dengan dipijat dan dibalur minyak kayu putih, dari kecil kamu terbiasa minum obat kalau sakit.”Hening. Kaluna tidak punya tenaga untuk berdebat.“Atau mungkin kamu hamil ya, Sayang?” Ucapan Satria itu membuat Kaluna menoleh.“Semoga aja enggak.” Kaluna menggeleng.Raut wajahnya tampak tegang.“Tapi kalau iya juga enggak apa-apa … kalau kamu ternyata hamil, mau diapain lagi? Itu kabar bahagia.” Satria menatap teduh Kaluna.“Enggak … kita belum punya penghasilan tetap … kasian anak kita.” Raut wajah Kaluna tampak serius sekali dan pucat.Sebelum sang
Ting ….Suara denting terdengar pertanda pintu lift akan terbuka.Davanka keluar dari dalam lift kemudian menderapkan langkah menuju ruangan CEO.Dari jauh, Satria sudah menangkap sosok Davanka.Dia keluar dari mejanya menyambut pria itu yang datang tanpa pemberitahuan, karena biasanya jika ada
Sore itu Zevanya sibuk menyiapkan makan malam, merapikan susunan piring dengan teliti di meja makan.Gaun rumahnya sederhana namun tetap memperlihatkan kelas seorang istri konglomerat.Rambutnya diikat rapi, beberapa helai jatuh lembut di sisi wajahnya.Dari kejauhan terdengar suara langkah keci
Mobil melaju kencang bahkan terlalu kencang.Jalanan Jakarta seperti kabur di mata Kaluna.Air mata mengalir tanpa henti. Tangannya mencengkeram setir.Dadanya naik turun tidak teratur.“Kenapa .…?” Suaranya bergetar.“Kenapa harus aku lagi .…?”Ia tertawa sumbang ya
“Parkir di sana aja,” kata Kaluna sembari menunjuk space parkir kosong di depan loby restoran.“Aku antar kamu sampai loby dulu.” “Enggak usah, kita parkir aja dulu nanti barengan ke restonya.”Kaluna tidak ingin memperlakukan Satria seperti driver.Akhirnya Satria menurut dan langsung memarki







