ログインKeesokan harinya, Jakarta terasa lebih panas dari biasanya.
Atau mungkin—yang panas bukan udaranya.Melainkan isi kepala dan hati mereka.Mobil Satria melaju pelan di antara padatnya jalanan. Kaluna duduk di sampingnya, memandangi luar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun.Mereka sedang menuju sebuah pusat perbelanjaan kelas atas.Tempat di mana—harga bukan lagi pertimbangan utama.Setidaknya bagi sebagian orang.Bagi mereka?Hari ini—semuanya teraPerjalanan pulang terasa sunyi.Tidak ada percakapan.Tidak ada musik.Hanya suara mesin mobil dan napas yang sama-sama ditahan.Kaluna menatap ke luar jendela.Satria fokus ke jalan.Keduanya diam.Tenggelam dalam pikiran masing-masing.Hingga mereka sampai ke apartemen dan hari berganti malam, apartemen terasa lebih dingin.Lebih sunyi dari biasanya.Satria masuk kamar lebih dulu.Mengganti kemejanya dengan kaos rumahan lalu berbaring.Membelakangi Kaluna.Tanpa banyak kata.Kaluna berdiri beberapa detik di ambang pintu.Menatap punggung pria itu.Yang terlihat lelah.Sangat lelah.Ia berjalan mendekat.Pelan.Naik ke atas ranjang.Dan tanpa suara—memeluk Satria dari belakang.Erat.Hangat.Wajahnya menempel di punggung pria itu.“Kamu enggak perlu sejauh itu, Satria .…” bisiknya pelan.Satria tidak bergerak.Tapi napasnya berubah.Lebih
Keesokan harinya, Jakarta terasa lebih panas dari biasanya.Atau mungkin—yang panas bukan udaranya.Melainkan isi kepala dan hati mereka.Mobil Satria melaju pelan di antara padatnya jalanan. Kaluna duduk di sampingnya, memandangi luar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun.Mereka sedang menuju sebuah pusat perbelanjaan kelas atas.Tempat di mana—harga bukan lagi pertimbangan utama.Setidaknya bagi sebagian orang.Bagi mereka?Hari ini—semuanya terasa berbeda.***Mall itu berdiri megah.Kaca-kaca tinggi memantulkan cahaya siang. Interiornya bersih, elegan, dan terlalu mewah untuk kondisi mereka sekarang.Kaluna melangkah masuk bersama Satria.Langkahnya sedikit ragu.Bukan karena tidak terbiasa.Tapi karena situasinya berbeda.Dulu—ia masuk ke tempat seperti ini tanpa berpikir.Sekarang—ia masuk sambil memikirkan seseorang di sampingnya.“Jadi .…” Satria membuka suara sambil berjalan santa
Hari-hari kembali berjalan.Satria berangkat di suatu pagi—entah untuk melamar pekerjaan, menemui kenalan, atau sekadar mencari peluang.Kaluna tetap di apartemen. Menunggu. Berpikir.Dan menyimpan sesuatu yang belum bisa ia sampaikan.Sampai akhirnya—siang hari.Ponsel Kaluna berdering.Nama yang muncul membuat jantungnya sedikit berdebar.Davanka.Kaluna menatap layar beberapa detik.Lalu menjawab.“Halo, Bang.”“Lun.”Suara itu seperti biasa—tenang, berwibawa.“Lo lagi di mana?”“Di rumah.”“Sendirian?”“Iya.”Ada jeda kecil.Seolah Davanka sedang memilih kata.“Ada acara di rumah minggu ini.”Kaluna terdiam.Tidak perlu dijelaskan panjang lebar—ia sudah tahu rumah mana yang dimaksud Davanka.“Acara apa?” tanyanya pelan.“Barbeque. Sabtu malam.”Kaluna tidak langsung merespon.Tapi kemudian, “Sekalian … ulang tahun Bunda.”Deg.Jantungnya berdegup lebih cepat.“Ulang tahun bunda …?”“Iya.”Kaluna menelan ludah.Ia lupa. Atau mungkin—sengaja tidak mau
“Sayang, besok kita ke dokter ya,” kata Satria sambil memijat punggung istrinya dan mengolesi dengan minyak kayu putih.“Enggak usah, Sayang … aku cuma masuk angin aja.” Kaluna menolak secara halus.“Tapi selama perjalanan dari Bandung sampai ke Jakarta, muka kamu pucat dan kamu tidur terus.”“Iya … aku nahan mual itu.” Kaluna menyengir. Satria bisa melihatnya dari pantulan cermin meja rias.“Kamu enggak akan sembuh hanya dengan dipijat dan dibalur minyak kayu putih, dari kecil kamu terbiasa minum obat kalau sakit.”Hening. Kaluna tidak punya tenaga untuk berdebat.“Atau mungkin kamu hamil ya, Sayang?” Ucapan Satria itu membuat Kaluna menoleh.“Semoga aja enggak.” Kaluna menggeleng.Raut wajahnya tampak tegang.“Tapi kalau iya juga enggak apa-apa … kalau kamu ternyata hamil, mau diapain lagi? Itu kabar bahagia.” Satria menatap teduh Kaluna.“Enggak … kita belum punya penghasilan tetap … kasian anak kita.” Raut wajah Kaluna tampak serius sekali dan pucat.Sebelum sang
Kabut tipis mulai menyelimuti kebun teh, lampu-lampu kecil di sepanjang jalan menyala satu per satu, menciptakan suasana hangat di tengah udara dingin dan gelapnya malam.Di dalam kamar villa, Kaluna sedang duduk di depan cermin, merapikan rambutnya yang kini dibiarkan jatuh alami di bahu.Satria keluar dari kamar mandi, sudah rapi dengan kemeja kasual berwarna gelap.“Kita keluar sebentar ya,” katanya sambil mengambil kunci mobil.Kaluna menoleh. “Makan malam?”Satria mengangguk. “Ada Caffe yang lagi viral, enggak jauh dari sini. Tadi aku lihat di sosial media.”Kaluna tersenyum. “Yeaaaay.” Dia senang sekali.Tidak berapa lama kemudian, Satria sudah memarkirkan mobilnya di depan Caffe yang dimaksud.Caffe itu tidak terlalu besar.Bangunannya dominan kayu dengan lampu kuning temaram yang memberi kesan hangat dan intim.Dari luar sudah terlihat beberapa meja terisi, sebagian besar pasangan atau keluarga kecil.Begitu mereka masuk
Perjalanan menuju resort terasa lebih sunyi.Bukan karena tidak ada yang ingin dibicarakan melainkan karena keduanya sedang menikmati jeda.Jeda setelah hari kemarin yang penuh tawa dan kebahagiaan.Tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di sebuah gerbang kayu dengan ukiran sederhana.Tidak terlalu mencolok.Tidak terlalu mewah.Namun begitu mereka masuk—hamparan kebun teh langsung menyambut.Hijau.Luas.Seolah tidak berujung.Udara di sana lebih dingin.Lebih bersih.Lebih menenangkan.“Keren banget pemandangannya…,” gumam Kaluna pelan.Satria tersenyum tipis.“Lumayan lah buat second honeymoon,” katanya santai, padahal ia memilih tempat ini dengan sangat hati-hati dan menekan kebutuhan pribadinya mengingat saldo di rekening semakin menipis.Villa yang mereka tempati berdiri sedikit terpisah.Privat. Tenang. Menenangkan.Begitu pintu dibuka—aroma kayu dan udara hangat langsung menyambut.Interiornya sederhana. Elegan.Dengan jendela besar menghadap langsung ke
Kaluna tahu kalau AG Group memiliki resort di perbatasan antara Lembang dan Subang tapi baru kali ini dia benar-benar menginap di sana.Dulu Kaluna pernah mampir hanya untuk sekedar tahu dan berhubung sejak kuliah, hidupnya dihabiskan di luar Negri, pun keluarganya ketika waktu libur tiba pa
Setelah makan siang selesai, Bu Ratna membereskan meja dengan cepat meskipun Kaluna berkali-kali menawarkan bantuan.“Enggak usah, Nak. Tamu mah duduk saja,” kata bu Ratna sambil tersenyum.Akhirnya mereka semua berpindah ke ruang televisi.Ruangan itu sederhana, namun terasa hanga
Beberapa menit kemudian mereka sampai di pinggir sawah.Pemandangan hijau membentang luas.Namun ada satu masalah kecil.Kaluna menatap pematang sawah yang sempit. “Lewat sini?”Satria mengangguk.Kaluna mencoba melangkah. Satu langkah. Dua langkah.Lalu—“Ah!”Kakinya langsung terperosok sed
Langit Jakarta masih sedikit pucat ketika mobil mewah itu melaju meninggalkan kota.Pagi baru saja benar-benar dimulai. Matahari muncul perlahan dari balik gedung-gedung tinggi, memantulkan cahaya hangat ke jalan tol yang mulai ramai.Di dalam mobil, suasana terasa berbeda usai deep talk mereka t







