Home / Romansa / Menantang Kasta / Cemburu dan Insecure

Share

Cemburu dan Insecure

Author: Erna Azura
last update publish date: 2026-03-20 15:40:47

Pintu ruang kerja Kaluna terbuka pelan.

Satria masuk dengan langkah tenang seperti biasa. Jasnya sudah dilepas menyisakan kemeja putih yang digulung hingga sikut.

Ia berhenti beberapa langkah dari meja Kaluna.

“Anda memanggil saya, Nona?”

Nada suaranya formal. Terlalu formal.

Kaluna yang sedang duduk di belakang mejanya seketika merasakan sesuatu menusuk di dada.

Biasanya kalau mereka hanya berdua, Satria akan bersikap jauh lebih santai. Kadang bahkan langsung duduk tanpa diminta, atau me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
rianur378
justru harusnya Satria dan Luna ngomong langsung sama Kama dari pada kama dengar dari gosip-gosip yang malah merusak nama baik keluarga Gunadya,,, hadapi dan perjuangkan,,,
goodnovel comment avatar
lullaby dreamy
Kaluna maunya apa sih ? ktnya mau brjuang brsama, tp kynya dia yg gamau go public krn udh tau dluan ayahnya ga bklan ngrestui . bknnya Kaluna sndiri yg blg dia akan brjuang sampe hrs jd istri Satria . masi untung perjaka mau nerima km yg udh ga perawan . tp kesannya kaya plin plan mnyebalkan .
goodnovel comment avatar
Ferinda Yanti
huuuu....panas....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menantang Kasta   Saran Untuk Pulang

    Matahari sore mulai condong ketika pintu ruang rawat akhirnya terbuka.Seorang dokter masuk sambil membawa clipboard di tangan.“Untuk kondisi pasien sudah stabil,” katanya sambil menatap Satria. “Lukanya juga bagus, tidak ada perdarahan lanjutan. Kalau tidak ada keluhan, pasien sudah boleh pulang hari ini.”Sesuatu di dada Satria yang sejak beberapa hari terakhir terasa berat akhirnya sedikit mengendur.“Terima kasih, Dok.”Dokter mengangguk lalu pergi.Begitu pintu tertutup, Satria langsung menoleh ke arah Kaluna.Kaluna yang sejak tadi duduk bersandar di ranjang pasien tersenyum kecil. Lemas. Tapi hangat.“Akhirnya…,” bisiknya.Satria ikut tersenyum.Namun senyum itu berbeda. Lebih lega. Lebih tulus. Dan mungkin sedikit rapuh.Karena hanya dia yang tahu betapa berat beberapa hari terakhir. Biaya rumah sakit. Biaya operasi.Harga dirinya yang diinjak di depan keluarga Kaluna.Dan jam Rolex yang kini sudah tidak lagi

  • Menantang Kasta   Hanya Pelukan

    Malam di Manhattan terasa berbeda.Lebih hidup. Lebih berkilau. Dan entah kenapa—lebih romantis.Setelah makan malam selesai, Ratu membantu membereskan meja meski Zyandru beberapa kali mengusirnya kembali ke sofa.Namun Ratu tetap keras kepala.Minimal membuang tissue bekas atau membawa gelas ke kitchen island.Sampai akhirnya Zyandru menyerah dan hanya memperhatikannya sambil tersenyum tipis.“Neng.”“Hm?” Ratu menoleh.“Aa baru tahu .…”Ratu mengangkat alis. “Tahu apa?”Zyandru menyandarkan tubuhnya di meja dapur.“Kalau ternyata menyenangkan ya punya calon istri itu.”Deg.Gerakan Ratu langsung berhenti. Piring di tangannya nyaris lepas.“A… Aa!”Zyandru tertawa puas melihat wajah Ratu yang langsung merah.“Aa ngaco ah!”Ratu mengambil tissue lalu melemparkannya ke arah Zyandru.Pria itu menangkapnya dengan mudah. “Tapi lucu.”“Ih…” Ratu langsung membuang muka.Zyandru berjalan men

  • Menantang Kasta   Ratunya Zyandru

    Udara hangat memenuhi kamar mandi marmer yang luas.Cermin besar dipenuhi embun tipis.Ratu keluar sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk putih lembut yang bahkan terasa jauh lebih halus dari handuk mana pun yang pernah ia pakai.Kaos oversize milik Zyandru membungkus tubuhnya.Ukurannya terlalu besar.Bagian bawahnya bahkan hampir menutupi paha.Namun justru itu yang membuat Zyandru tadi tersenyum lama sebelum menyuruhnya mandi lebih dulu.Langkah Ratu melambat begitu keluar dari kamar.Ia mendapati Zyandru berdiri di dekat jendela kaca besar dengan pemandangan Manhattan yang masih hidup meski malam semakin larut.Ponsel menempel di telinganya.Raut wajahnya berubah.Tidak santai.Tidak jahil seperti biasanya.Tampak sangat serius.“Iya, Kak… Terus sekarang gimana?”Langkah Ratu refleks berhenti.Kak?Kaluna?Ratu tidak sadar jari-jarinya menggenggam handuk sedikit lebih erat.Ia tidak berani mendekat terlalu jelas.Namun jarak mereka cukup dekat untuk m

  • Menantang Kasta   NewYork

    Perjalanan panjang yang melelahkan itu akhirnya berakhir.Lampu kabin perlahan kembali terang.Suara pramugari terdengar lembut dari speaker pesawat, mengumumkan bahwa mereka telah mendarat dengan selamat di New York.Ratu yang sejak tadi tertidur di pelukan Zyandru perlahan membuka mata.Butuh beberapa detik sebelum kesadarannya benar-benar kembali.Namun begitu matanya menangkap pemandangan di balik jendela kecil pesawat—deretan lampu kota. Landasan luas. Pesawat-pesawat besar yang berjejer. Dan suasana bandara yang begitu … berbeda.Ratu seketika duduk tegak. Matanya membesar.“A… Aa….”Zyandru yang baru membuka mata menoleh.“Hm?”Ratu menunjuk ke arah jendela seperti anak kecil yang baru melihat dunia baru.“Kita … beneran sudah sampai?”Zyandru terkekeh pelan.Tangannya naik, mengusap kepala Ratu gemas.“Iya, Neng geulis… welcome to New York.”Deg.Entah kenapa—kalimat sederhana itu membuat dada Ratu bergetar.Ia benar-benar sampai.Negeri yang selama ini hanya

  • Menantang Kasta   Selalu Salah

    Satria bergegas pergi ke ruangan yang dimaksud perawat.Tidak sabaran dia mendorong pintu itu, ingin segara tahu kondisi istrinya.Dan Satria terkejut karena mendapati hampir seluruh keluarga inti Kaluna ada di sana.Ayah Kama, bunda Arshavina, Davanka, Kanaya dan Ryley.Kaluna tersenyum tipis ketika melihatnya, meski masih terbaring lemas di atas ranjang pasien dengan wajah pucat dan selang infus tertancap di punggung tangan kiri.Satria berhenti di ambang pintu.Namun sebelum ia sempat melangkah—suara sinis itu terdengar.“Kamu dari mana saja?” tanya ayah Kama sinis. Tatapannya tajam. Penuh amarah.Satria menoleh.Belum sempat Satria menjawab, ayah Kama melanjutkan.“Apa kamu tahu istri kamu lagi dioperasi?” Ayah Kama kembali bersuara. Nada itu meninggi. Semua orang diam.Satria membuka mulut.Namun—belum keluar kata—ayah Kama mendekat membawa emosinya kemudian ….BUGH!Satu pukulan keras mendarat di wajah Satri

  • Menantang Kasta   Merelakan

    Hari itu, semuanya terjadi terlalu cepat.Tidak ada waktu untuk benar-benar mencerna.Tidak ada ruang untuk menenangkan diri.Begitu hasil diagnosa keluar—proses langsung berjalan.Administrasi.Persetujuan tindakan.Persiapan operasi.Semua seperti berlari.Sementara itu, di sebuah ruangan—Kaluna sudah mengenakan baju pasien.Berbaring di atas ranjang dengan wajah pucat.Tangannya dingin.Matanya berkaca-kaca sejak tadi.Satria setia berdiri di sampingnya.Tidak menjauh satu langkah pun.Tangannya menggenggam tangan Kaluna erat.Seolah itu satu-satunya cara agar Kaluna tetap kuat.“Sayang ….” Suara Kaluna lirih.Satria langsung menunduk.“Iya sayang?”“Anak kita ….” Kalimat Kaluna memang terdengar pelan namun berhasil menghancurkan hati Satria.Satria bergerak mendekat, duduk di tepi ranjang. Punggung tangannya mengusap pipi Kaluna lembut.Mata mereka terpaku sehingga Kalu

  • Menantang Kasta   Lebih Dari Cukup

    Langit Bali berubah menjadi jingga lembut ketika malam mulai turun.Tidak jauh-jauh, Satria memilih dinner di resort itu yang memiliki restoran terbuka, langsung menghadap pantai. Lampu-lampu kecil digantung di antara pohon kelapa, menciptakan cahaya hangat yang romantis.Meja-meja dita

  • Menantang Kasta   Tidak Akan Menyangkal Lagi

    Pagi itu di meja makan sudah tertata rapih sarapan pagi.Kama duduk di ujung meja dengan tablet di tangan.Di hadapannya secangkir kopi hitam mengepul lembut.Beberapa menit kemudian Kaluna turun dari lantai dua.Ia sudah berpakaian rapi—blazer semi casual warna krem, celana bahan, dan rambut y

  • Menantang Kasta   Akan Selalu Dekat

    Mobil berhenti di depan lobi gedung utama AG Group.Satria turun lebih dulu seperti biasa. Ia memutari mobil dan membuka pintu untuk Kaluna.“Nona.”Kaluna turun dengan gerakan anggun, seolah hari itu hanyalah hari kerja biasa.Tidak ada yang akan menyangka bahwa beberapa jam

  • Menantang Kasta   Tak Ingin Melepaskan

    “Nona, hari ini jadwal kita akan mengunjungi proyek—“ Brifing singkat Satria terjeda.“Sekarang aja, langsung … biar enggak bolak balik,” potong Kaluna.“Baik Nona.” Diam-diam Satria mengirim pesan kepada kepala proyek kalau jadwal kunjungan sang CEO dimajukan.Pagi itu udara di lokasi proyek

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status