MasukKaluna mengangkat celana dalamnya di tangan kiri dan camisol yang talinya putus di tangan kanan, dua benda itu tampak sobek mengenaskan.
Dia sengaja menunjukannya kepada Satria yang sedang merapihkan celana.Satria terkekeh. “Nanti aku belikan yang baru.”“Bukan masalah yang baru, masa aku pulang enggak pakai celana dalam?” Wajah Kaluna mengerut.Satria mendekat mengikis jarak.“Aku minta maaf … tadi aku keburu nafsu.” Jemarinya mengelus pipi Kaluna lembut.KalunKetika langit sudah berubah jingga, Satria akhirnya sampai di rumah.Dia memarkirkan mobilnya. Mungkin hanya dia, kuli angkut yang menggunakan mobil ke tempat kerja.Satria tersenyum miris membayangkan hal itu. Suasana rumah terlihat sepi dari luar. Satria mengetuk pintu lalu membukanya.Ternyata suasana di dalam rumah tidak jauh berbeda.Tidak ada Kaluna yang biasa menyambutnya.“Luna …,” panggil Satria.Tapi dia menemukan bapak dan ibu di ruang televisi.Mata Ibu terlihat bengkak seperti habis menangis.“Ibu … Bapak ….” Satria menyapa. Satria menatap ibu lamat-lamat, penuh khawatir dan curiga.“Ada apa? Kaluna mana?” tanyanya sembari duduk di single sofa.“Kamu kenapa enggak bilang kalau kerja di perkebunan Deni jadi kuli angkut?” Bapak bertanya, nada suaranya rendah namun tegas. Terdengar butuh penjelasan.Satria tertawa pelan, akhirnya bapak tahu juga. “Awalnya Aa pikir dia akan kasih Aa kerjaan jadi kepala perkebunan … tapi dari awal dia nawarin Aa kerja cuma m
“Hati-hati ya sayang,” kata Kaluna dengan mata berbinar ketika mengantar Satria hingga teras.Satria tersenyum lalu mengecup kening Kaluna.“Kamu mau jajan?” Satria merogoh saku celananya.“Enggak … aku enggak mau jajan, banyak makanan di rumah … buah-buahan juga nyaris enggak kemakan.” Kaluna meraih kedua tangan Satria yang memakai sarung tangan rajut kemudian menggenggamnya.“Sayang, kamu kedinginan banget ya sampe pakai-pakai terus sarung tangan?” Kaluna mengangkat tangan Satria.Satria menurunkannya kembali. “Iya sayang,” balas Satria kemudian memeluk Kaluna.“Minggu depan aku gajian, kita dinner romantis ya.”Kaluna tergelak. “Suami aku itu ya, baru dapet duit enggak banyak aja lagaknya udah kaya bos tambang … pengennya jajanin aku terus ….” Satria ikut tertawa hingga kepalanya mendongak.“Semoga rezeki kamu lancar ya sayang … Tuhan bukakan pintu rezeki dari segala arah.” Kaluna menambahkan.“Aamiin.” Satria mengecup kening Kaluna lagi.Satria mengurai pelukan lalu mu
“Pakainya yang ini.”Zyandru meletakkan sebuah box hitam panjang di atas kasur. Ratu yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin menoleh.“Apa ini?”“Buka saja,” kata pria itu sembari masuk ke dalam walk in closet.Ratu berjalan mendekat lalu membuka box itu perlahan.Dan matanya langsung membesar.Sebuah gaun satin champagne dengan detail kristal halus di bagian bahu terlipat sempurna di dalamnya. Potongannya elegan. Mewah. Dewasa. Tapi tetap lembut.“Aa ini untuk apa?“Zyandru tidak langsung menjawab hingga beberapa menit kemudian—di saat Ratu masih mengagumi gaun tersebut—pria itu muncul lalu berdiri di depan walk-in closet sambil memasang cufflink di lengan kemeja putihnya.Malam ini Zyandru juga terlihat berbeda.Setelan tuxedo hitam fitted membungkus tubuh tingginya dengan sempurna. Rambutnya ditata rapi ke belakang. Jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangan. Dan tatapan mata itu…Terlalu mematikan.Ratu sampai menelan ludah.“Kita mau ke kondangan?”Zy
Menjelang siang ketika matahari mulai naik lebih tinggi.Kabut pagi yang tadi menyelimuti perkebunan sudah benar-benar hilang, berganti panas yang mulai menyengat kulit.Kaos hitam Satria sudah basah kuyup oleh keringat.Debu teh menempel di lengan, leher, bahkan sebagian wajahnya. Wajah putih pria itu kini tampak memerah karena terlalu lama terpapar sinar matahari.Telapak tangannya pun mulai terasa perih.Namun sejak pagi, tidak sekali pun dia mengeluh.“Udah dulu!” Pak Jaja berseru sambil menepuk kedua tangannya.“Istirahat! Makan dulu!”Beberapa pekerja langsung bersorak kecil.Ada yang duduk di bawah pohon.Ada yang membuka bekal.Ada yang mengambil air minum.Satria duduk di atas batang kayu besar dekat gudang.Tangannya membuka tutup botol air mineral.Kepalanya sedikit menunduk.Tubuhnya lelah.Tapi yang lebih melelahkan justru pikirannya.Sampai tiba-tiba—suara mobil terdengar dari arah jalanan.Satria tidak terlalu peduli.Namun beberapa detik kemudian, l
Malam hari ketika hendak tidur, tawaran Deni terus terngiang dalam kepala Satria. Pekerjaan apapun saat ini sangat Satria butuhkan, tapi bukan berarti datangnya dari Deni. Satria membalikan tubuhnya membelakangi Kaluna. Tapi uang di dompetnya tinggal selembar, bagaimana nanti kalau Kaluna ingin makan sesuatu atau beli skincare? Satria membalikan lagi tubuhnya menghadap Kaluna. “Sayang … gelisah banget sih? Mau lagi?” tanya Kaluna yang hampir kehilangan kesadaran, masuk ke alam mimpi setelah mendapatkan lima kali pelepasan.“Enggak … tidur aja, kamu pasti capek.” Satria mengusap kepala Kaluna.Kaluna kembali terlelap.Namun beberapa saat kemudian—Satria bertanya,”Sayang ….”“Hem?” Kaluna masih menjawab meski dengan mata terpejam.“Tadi Deni datangin aku ke ladang, katanya dia mau kasih aku kerjaan … besok jam delapan, aku harus datang ke kantornya.”Kaluna menghela nafas. “Datang aja, beli perkebunannya ….” Kaluna ngelantur.Satria tersenyum, dia mengecup kening Kaluna dalam
Tujuan pertama mereka adalah Times SquareBegitu turun dari mobil—Ratu benar-benar membeku.Matanya membesar. Mulutnya sedikit terbuka.Gedung tinggi mengelilingi mereka. Layar digital raksasa menyala di segala arah. Iklan fashion. Film. Brand dunia. Lampu warna-warni. Suara musik jalanan. Turis dari berbagai negara. Dan energi kota yang seperti tidak pernah tidur.“Aa .…” Ratu menatap sekeliling, suaranya pelan sekali.“Aku kayak masuk film Hollywood.”Zyandru tertawa kecil. “Iyaaa, Neng pemeran utamanya.”Ratu tidak merespon. Ia justru berputar pelan demi bisa menjangkau penglihatan ke segala arah.Lalu—cekrek.Zyandru diam-diam memotret.Detik itu juga Ratu menoleh.“Aa!”“Kenapa?”“Jangan candid!”“Tapi cantik.”Dan sukses.Pipi Ratu kembali merah.Beberapa menit kemudian—mereka berfoto bersama.Ratu memaksa Zyandru ikut gaya lucu.Zyandru awalnya menolak.Namun akhirnya menyerah.Dan hasilnya—Ratu tertawa sampai memegangi perut.“Ya ampun… muka Aa kaku bange
Ruang rapat lantai dua puluh satu terasa lebih dingin dari biasanya.Empat perwakilan perusahaan Jepang duduk dengan postur tegak, tablet dan dokumen terbuka rapi di depan mereka. Para direksi anak perusahaan AG Group yang Kaluna pimpin terlihat duduk di sisi lain meja panjang, tegang namun
Ruang rawat VIP itu sunyi.Kaluna tertidur setelah infus bekerja.Satria duduk di sofa dekat jendela. Laptop terbuka. Slide presentasi terpampang.Ia memeriksa ulang angka.Mengoreksi tata bahasa.Menandai potensi pertanyaan yang mungkin muncul dari klien Jepang.Sesekali ia melirik ke arah r
Presentasi dengan klien besar dari Jepang tinggal hitungan hari. Ruang CEO berubah seperti markas perang.Meja panjang penuh dengan berkas, grafik, catatan tangan, sticky notes warna-warni, dan iPad yang tidak pernah benar-benar mati.Kaluna sedang berdiri di depan layar proyektor, mengulang s
Di sisi lain, Satria berjalan menyusuri koridor kantor dengan langkah tenang.Ia tidak merasa tersinggung apalagi merasa diusir, Satria mengerti.Kaluna sedang membangun tembok agar tidak goyah.Dan ia tidak akan menjadi orang yang meruntuhkannya.Jika jarak itu membuat Kaluna







