LOGINKaluna mengangkat celana dalamnya di tangan kiri dan camisol yang talinya putus di tangan kanan, dua benda itu tampak sobek mengenaskan.
Dia sengaja menunjukannya kepada Satria yang sedang merapihkan celana.Satria terkekeh. “Nanti aku belikan yang baru.”“Bukan masalah yang baru, masa aku pulang enggak pakai celana dalam?” Wajah Kaluna mengerut.Satria mendekat mengikis jarak.“Aku minta maaf … tadi aku keburu nafsu.” Jemarinya mengelus pipi Kaluna lembut.KalunAkhirnya tibalah hari penentuanSemua kembali dikumpulkan di ruangan yang sama.Kama kembali duduk di ujung meja. Lebih dingin dari sebelumnya.“Setelah pemeriksaan,” katanya, “tidak ditemukan bukti atas tuduhan tindakan asusila terhadap Kaluna dan Satria.”Sunyi.Beberapa orang menunduk.Beberapa menghela napas lega.Tatapan Kama berpindah. “Namun—”Semua kembali tegang.“Kami menemukan pelanggaran serius lain di lingkungan kerja.”Beberapa wajah langsung pucat.“Dan akan ditindak secara terpisah.”Hening mencekam.“Dan untuk pelapor.” Gantian Direktur operasional yang bicara.Semua menahan napas.“Putri.”Putri yang duduk di sudut ruangan langsung gemetar.“Laporan yang Anda ajukan tidak didukung bukti.”Suara pria tua itu dingin. “Tuduhan Anda mencemarkan nama baik.”Putri menggeleng.“Pak… saya—”“Cukup.” Nada itu memotong tanpa ampun.“Mulai hari ini Anda diberhentikan secara tidak hormat dari AG Group.”Deg.Dunia Putri seperti runtuh.Air matanya langsu
Keputusan sudah dijatuhkan.Bukan vonis.Tapi—awal dari pembuktian.Dan seluruh gedung AG Group berubah jadi ruang penyelidikan.Hari itu juga—tim audit internal mulai bergerak.Tidak ada penundaan. Tidak ada kompromi. Semua akses dibuka.Server, log aktivitas, jadwal ruangan, hingga rekaman CCTV dari berbagai titik.Ruang kontrol keamanan yang biasanya sunyi—mendadak penuh sesak oleh tim audit.Beberapa layar besar menampilkan rekaman dari berbagai sudut ; Koridor lantai eksekutif, Pantry, Ruang meeting, Lobby, Area lift“Mulai dari dua bulan terakhir,” kata salah satu auditor.“Fokus ke area yang disebutkan dalam laporan.”Klik.Rekaman mulai diputar.Di layar pertama—Kaluna dan Satria terlihat berjalan berdampingan.Tenang. Profesional.Lalu—Satria sedikit mencondongkan tubuh, membuka pintu untuk Kaluna.Biasa. Sangat biasa.“Pause,” kata auditor.Zoom. Tidak ada kontak fisik berlebihan.“Lanjut.”Di layar lain—Kaluna keluar dari ruang meeting. Satria mengikuti.
Pintu lift di lantai sembilan kantor AG Group pusat akhirnya terbuka.Langkah Kaluna dan Satria keluar bersamaan.Tidak ada lagi genggaman tangan seperti di kantor tadi, bukan karena ragu—tapi karena mereka tahu kalau mulai detik ini semuanya akan diuji.Koridor kantor pusat AG Group terasa lebih sunyi dari biasanya.Tatapan beberapa staf mengikuti mereka.Tidak hanya sekadar hormat namun sekarang ada rasa penasaran.Satria berjalan setengah langkah di belakang Kaluna sebagaimana sekretaris pada umumnya namun lebih dari itu, dia siap mendukung Kaluna dalam hal apapun.Di ujung koridor, Armand sudah menunggu.“Pak Kama sudah menunggu di dalam,” ucapnya singkat.Kaluna mengangguk tanpa suara, sedangkan tatapan Satria tampak penuh dengan permintaan maaf.Armand adalah mentor Satria, dia berhutang banyak kepada Armand dan sekarang muncul gosip tentang tindakan asusila yang mengaitkan dirinya tentu saja Satria jadi malu.Armand membuka pintu ruang meeting utama.Ruangan itu bes
Tapi baru saja Kama duduk di kursi kebesarannya.Suara pintu terdengar diketuk.Tok.Tok.“Masuk.”Pintu terbuka pelan.Seorang wanita paruh baya masuk dengan raut wajah tegang. Ia adalah kepala HRD AG Group pusat.“Maaf mengganggu, Pak Kama… ada hal penting yang harus saya sampaikan.”Kama tidak langsung menoleh dari layar MacBook. “Silakan.”Wanita itu melangkah mendekat, membawa sebuah iPad di tangannya.“Barusan kami menerima email dari salah satu karyawan anak perusahaan.”Kama akhirnya mengangkat pandangan.Tatapannya tajam.“Email seperti apa?”Wanita itu menelan ludah sebentar. “Sebuah laporan, Pak.”“Laporan?” Satu alis Kama naik.“Iya… terkait dugaan pelanggaran etika di lingkungan kerja.”Alis Kama sedikit mengernyit.“Siapa yang dilaporkan?”Wanita itu ragu sepersekian detik.Lalu berkata pelan, “Bu Kaluna … dan sekretarisnya, pak Satria.”Sunyi.Udara di ruangan
Di sebuah ruang meeting eksklusif dengan dinding kaca, tiga pria duduk berhadapan.Di tengah—pria berwibawa dengan rambut yang mulai memutih di sisi pelipis. Tatapannya tajam, tenang, dan penuh kendali.Kama Gunadhya, pewaris sekaligus pimpinan tertinggi AG Group.Di hadapannya, duduk seorang pria seusia dengannya dengan aura tak kalah kuat—ayah Andre dari Pratama Group. Di sampingnya, Andre duduk dengan postur santai, tapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang tidak bisa diabaikan.“Untuk proyek pesisir itu,” ucap Kama tenang sambil membuka dokumen di depannya, “anak perusahaan saya sudah menyelesaikan tahap pembebasan lahan. Tinggal finalisasi kerja sama teknis dengan pihak kalian.”Ayah Andre mengangguk. “Kami sudah review proposalnya. Secara struktur, bagus.”Andre menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap ke arah Kama.“Kaluna yang handle langsung.”Kama mengangkat pandangan. “Benar. Ada masalah?”Andre tersenyum tipis. “Enggak. Justru menarik. Dia berkembang jauh lebih cep
Ting ….Suara denting terdengar pertanda pintu lift akan terbuka.Davanka keluar dari dalam lift kemudian menderapkan langkah menuju ruangan CEO.Dari jauh, Satria sudah menangkap sosok Davanka.Dia keluar dari mejanya menyambut pria itu yang datang tanpa pemberitahuan, karena biasanya jika ada kunjungan dari Davanka maupun Kama pasti sekretaris mereka akan menghubungi Satria.Namun kali ini tidak ada, Satria bisa menduga kalau Davanka datang untuk urusan pribadi.Dan urusan pribadi itu pasti ada sangkut paut dengan dirinya.“Siang Pak Kama.” Satria menyapa begitu langkah Davanka hampir sampai di depannya.“Luna ada?” Davanka langsung bertanya tanpa membalas sapaan Satria.Nada suaranya dingin sedingin tatapannya.“Ada Pak, silahkan.” Satria membukakan pintu untuk Davanka.Davanka masuk baru setelah itu Satria menuntup pintu ruangan Kaluna kembali.“Abang?” Di dalam sana Kaluna menyapa setelah mendongak dari deretan angka di layar MacBook.Kedua alisnya terangkat bingung







