Home / Romansa Dewasa / Menantang Kasta / Perempuan Yang Sedang Berusaha Bangkit

Share

Perempuan Yang Sedang Berusaha Bangkit

Author: Erna Azura
last update Last Updated: 2026-02-27 20:11:39

Kama tidak langsung kembali ke kamar utama setelah keluar dari kamar Kaluna.

Ia berdiri beberapa detik di lorong lantai dua mansion itu, menatap pintu kamar putrinya yang kini tertutup.

Rahangnya kembali mengeras.

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk seorang perempuan dan kini kepedihan yang harus ditanggung putrinya.

Kama berjalan turun ke ruang kerjanya yang terletak di sisi timur Mansion. Ruangan luas dengan rak kayu tinggi penuh dokumen dan penghargaan bisnis. Di balik meja besar dari kayu solid, ia duduk dan menekan tombol-tombol di pesawat telepon.

“Sambungkan saya dengan Satria.”

Tidak sampai satu menit, panggilan tersambung.

“Malam, Pak.”

Suara Satria terdengar stabil seperti biasa.

“Kamu masih di kantor?”

“Masih, Pak.”

“Ke rumah sekarang.”

“Baik, Pak.”

Tidak ada pertanyaan. Tidak ada nada penasaran.

Hanya kesiapan.

Empat puluh menit kemudian, Satria sudah berdiri di hadapan Kama di ruang kerja pribadi sang pemimpin AG Group.

Ia masih mengenakan setelan rapi, rambut tersisir sempurna. Tubuhnya tegap, ekspresinya tenang.

Kama mempersilakan duduk melalui gesture tangan, tapi Satria tetap berdiri sampai benar-benar diminta.

“Duduk, Satria.”

“Terima kasih, Pak.”

Kama memperhatikan pria muda di depannya beberapa detik. Ia tidak pernah salah menilai orang.

“Kamu tahu kenapa saya kirim kamu ke New York kemarin?”

“Untuk menjemput Nona Kaluna, Pak.”

“Bukan hanya itu.”

Hening sejenak.

Kama menyandarkan tubuhnya.

“Kaluna patah hati.”

Kalimat itu sederhana. Tapi berat.

Satria tidak terkejut secara ekspresi. Hanya sedikit perubahan fokus pada matanya.

“Hubungannya dengan Brian sudah hampir sepuluh tahun,” lanjut Kama. “Dan berakhir dengan cara yang tidak pantas.”

Satria terdiam.

Ia tidak bertanya detail. Tidak menilai.

Itu bukan posisinya.

“Tugas kamu sekarang bukan hanya sebagai sekretaris,” sambung Kama pelan. “Saya ingin kamu mendampingi Kaluna memegang salah satu anak perusahaan kita.”

Satria mengangguk kecil.

“Baik, Pak.”

“CEO-nya baru saja pensiun. Saya ingin Kaluna menggantikannya.”

Satria memahami bobot keputusan itu.

“Pak… apakah nona siap?”

Kama tersenyum tipis.

“Dia belum percaya diri. Tapi saya percaya.”

Hening beberapa detik.

“Kamu tahu sifat Kaluna?” tanya Kama.

Satria mengingat pertemuan singkat di New York. Mata sembab. Tatapan kosong. Nada datar.

“Dia kuat, Pak. Hanya sedang terluka.”

Kama menatapnya lebih tajam.

“Dia terbiasa hidup di atas. Terbiasa dilayani. Terbiasa dicintai. Dan sekarang dia merasa tidak dipilih.”

Satria menyimak tanpa menyela.

“Saya tidak butuh kamu hanya mencatat jadwalnya. Saya butuh kamu menjadi penyeimbangnya.”

Kalimat itu menggantung.

“Saya ingin kamu bukan hanya jadi sekretarisnya. Tapi juga teman berpikirnya. Pelindungnya.”

Nada Kama berubah lebih dalam.

“Saya titip anak saya sama kamu.”

Itu bukan kalimat ringan.

Satria duduk lebih tegak.

“Pak,” suaranya rendah namun mantap, “selama saya mendampingi nona, saya akan bertanggung jawab penuh atas keselamatan dan pekerjaannya.”

Kama menatapnya, mencoba membaca lebih jauh.

“Dan satu lagi,” lanjut Kama. “Kaluna sedang emosional. Mungkin akan sulit. Mungkin akan keras. Jangan ambil hati.”

“Saya tidak mudah reaktif, Pak.”

Jawaban itu membuat Kama tersenyum tipis.

“Ya. Itu sebabnya saya pilih kamu dan gaji kamu akan setara dengan sekretaris utama.”

Hening kembali menyelimuti ruangan.

“Mulai minggu depan, kamu resmi menjadi sekretaris CEO anak perusahaan kita.”

“Baik, Pak.”

“Pelajari semuanya. Saya ingin kamu satu langkah di depan sebelum Kaluna masuk.”

Satria berdiri.

“Siap, Pak.”

Sebelum ia melangkah pergi, Kama kembali bersuara.

“Satria.”

“Ya, Pak?”

“Jangan biarkan dia merasa sendirian lagi.”

Sorot mata Satria melembut sedikit.

“Tidak akan, Pak.”

Setelah pertemuan itu, Satria pulang ke apartemennya.

Ia tidak langsung tidur.

Laptop terbuka di meja kerja kecilnya. Layar menampilkan profil lengkap anak perusahaan AG Group yang akan dipimpin Kaluna—laporan keuangan lima tahun terakhir, struktur manajemen, proyek berjalan, hingga potensi risiko internal.

Tangannya bergerak cepat.

Membuat catatan.

Menandai celah.

Mengelompokkan prioritas.

Ia membaca hingga dini hari.

Bukan karena perintah melainkan karena tanggung jawab.

Di sela membaca, sesekali terlintas bayangan mata sembab Kaluna di dalam jet.

Ia menepisnya.

Fokusnya tetap pada angka dan strategi.

Namun satu kalimat Kama terus terngiang, “Saya titip anak saya sama kamu.”

Satria menutup laptopnya perlahan menjelang pukul dua pagi.

Ia berdiri di depan jendela apartemennya, memandang lampu kota Jakarta yang tidak pernah benar-benar tidur.

Mulai hari ini, tugasnya berubah.

Bukan hanya mendampingi seorang pewaris.

Tapi seorang perempuan yang sedang berusaha bangkit dari runtuhnya dunianya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menantang Kasta   Tidak Dengan Pria Manapun

    Arshavina gelisah semalaman setelah sang suami memberitahu apa yang sesungguhnya terjadi dengan Kaluna, dia yakin kalau Kanaya-kakak kembar Kaluna belum tahu tentang ini.Jadi, keesokan harinya setelah sang suami tercinta pergi ke kantor.Ia duduk lama di paviliun sayap kanan Mansion dengan buku di pangkuan yang belum sedetik pun dia baca.Teh hangat tersaji bersama biskuit di meja kecil sampingnya.Arshavina masih memikirkan sang putri yang tengah patah hati.Lalu ia meraih ponsel.Menggulir layar mencari nama Kanaya.Panggilan tersambung setelah dua kali nada.“Bunda?” suara Kanaya terdengar santai, latar belakangnya adalah musik instrumental lembut khas ruang spa.“Kamu lagi di mana?”“Lagi Spa. Badan Nay pegel abis liburan kemarin. Kenapa Bun?”Arshavina terdiam sepersekian detik.“Luna sudah cerita sama Ayah.”Hening.“Cerita apa?” Nada Kanaya berubah.“Brian selingkuh. Dengan Amanda.”Sesi massage yang sedang berjalan langsung terhenti ketika Kanaya mendadak bang

  • Menantang Kasta   Perempuan Yang Sedang Berusaha Bangkit

    Kama tidak langsung kembali ke kamar utama setelah keluar dari kamar Kaluna.Ia berdiri beberapa detik di lorong lantai dua mansion itu, menatap pintu kamar putrinya yang kini tertutup.Rahangnya kembali mengeras.Sepuluh tahun.Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk seorang perempuan dan kini kepedihan yang harus ditanggung putrinya.Kama berjalan turun ke ruang kerjanya yang terletak di sisi timur Mansion. Ruangan luas dengan rak kayu tinggi penuh dokumen dan penghargaan bisnis. Di balik meja besar dari kayu solid, ia duduk dan menekan tombol-tombol di pesawat telepon.“Sambungkan saya dengan Satria.”Tidak sampai satu menit, panggilan tersambung.“Malam, Pak.”Suara Satria terdengar stabil seperti biasa.“Kamu masih di kantor?”“Masih, Pak.”“Ke rumah sekarang.”“Baik, Pak.”Tidak ada pertanyaan. Tidak ada nada penasaran.Hanya kesiapan.Empat puluh menit kemudian, Satria sudah berdiri di hadapan Kama di ruang kerja pribadi sang pemimpin AG Group.Ia masih m

  • Menantang Kasta   Memiliki Arah

    Jet privat milik AG Group mendarat mulus di terminal eksklusif.“Nona … sudah sampai.”Entah sudah panggilan yang keberapa kali hingga akhirnya Kaluna terbangun.Setelah dua malam tidak bisa benar-benar terlelap, perjalanan NewYork-Jakarta justru mampu membuatnya deep sleep.Kaluna menegakan punggung, merapihkan pakaiannya.Dia hancur di dalam tapi penampilan nomor satu, harus tetap rapih dan elegan.Dia bangkit dari kursi kemudian berjalan menyusuri lorong.Langit Jakarta menyambut mereka dengan cahaya keemasan pagi yang hangat.Pintu kabin terbuka, udara tropis yang lembap langsung menyentuh kulit Kaluna. Berbeda jauh dari dinginnya New York, udara ini terasa… seperti pelukan lama yang tak pernah berubah.Satria turun lebih dulu, memastikan tangga terpasang sempurna sebelum berbalik.“Nona,” ucapnya singkat.Kaluna berdiri perlahan. Wajahnya sudah dirias tipis. Mata sembabnya tersamarkan, tapi tidak sepenuhnya hilang.Mobil hitam panjang sudah menunggu di apron privat.

  • Menantang Kasta   Menjemput Sang Nyonya

    Satria tidak pernah bertanya dua kali.Setelah panggilan itu terputus, ia sudah bergerak.Kaos polos diganti dengan setelan perjalanan berwarna charcoal. Paspor, dokumen penerbangan, dan tablet kerja masuk ke dalam tas kulit hitamnya. Dalam waktu tiga puluh menit, ia sudah berada di dalam mobil menuju bandara privat milik keluarga Gunadhya.Langit Jakarta masih menyisakan semburat malam ketika jet Gulfstream G700 dengan lambang AG Group terparkir anggun di apron khusus. Awak kabin berdiri rapi menyambut.“Selamat malam, Pak Satria.”“Malam,” jawabnya singkat namun sopan.Langkahnya mantap menaiki tangga jet. Interior kabin berlapis kulit krem dan panel kayu walnut mengilap, lampu temaram hangat, sofa lebar yang bisa direbahkan menjadi tempat tidur. Aroma khas kabin privat yang bersih dan mahal menyambutnya.Pramugari menyerahkan tablet berisi rute penerbangan.“Perkiraan tiba di New York pukul enam pagi waktu setempat.”Satria mengangguk.Sepanjang penerbangan, ia tidak tidu

  • Menantang Kasta   Berasal Dari Keluarga Sederhana

    Langit Jakarta sudah gelap ketika Satria memarkir mobilnya di basement sebuah apartemen kelas menengah yang terletak tidak terlalu jauh dari pusat bisnis.Tidak mewah.Tidak buruk.Bersih dan tenang.Ia keluar dari mobil dengan langkah tegap. Jas hitamnya masih rapi meski seharian mendampingi meeting kelas internasional. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, posturnya lurus seperti prajurit.Satria Wirakusuma tidak pernah terlihat lelah.Lift berhenti di lantai dua belas. Ia membuka pintu unitnya—apartemen satu kamar yang tertata presisi. Tidak ada barang berserakan. Sofa abu-abu minimalis, rak buku kayu gelap yang dipenuhi buku manajemen, ekonomi, dan beberapa novel klasik. Meja kerja kecil dengan laptop tertutup rapi. Sepatu disusun sejajar.Sederhana.Tapi terorganisir.Ia meletakkan jam tangan mahal pemberian bonus tahunan di atas meja, membuka kancing jas, lalu berjalan ke dapur kecil.Air putih.Satu gelas penuh.Kemudian ia menuju kamar.Beberapa menit kemudian, Satria k

  • Menantang Kasta   Terlalu Hancur

    Beberapa botol wine dan banyak botol minuman beralkohol tinggi lainnya berserakan di lantai berkarpet ruang televisi apartemen mewah di kawasan elit Manhattan. Tadinya botol-botol itu hanya pajangan—dipilih khusus oleh interior desainer agar terlihat berkelas.Kini semuanya kosong.Kaluna mencicipinya satu per satu tadi malam.Bukan mencicipi tapi menghabiskan.Dan sekarang, dia tersadar dengan kepala pening seperti dipukul benda tumpul. Matanya menyipit, berusaha fokus pada jam dinding yang tampak berbayang.Pukul empat sore.Sinar matahari musim dingin masuk melalui jendela tinggi, memantul pada lantai marmer putih yang kini berantakan.Kaluna mengulurkan tangan, meraba meja kecil di samping sofa, menemukan ponselnya.Layarnya kemudian menyala.Hening.Tidak ada nama Brian di sana.Tidak ada panggilan tak terjawab.Tidak ada pesan masuk.Tidak ada satu pun tanda bahwa pria itu mencarinya.Hanya notifikasi email promosi.Kaluna memandangi layar itu lama, ekspresinya da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status