Se connecterMenjelang magrib mereka sampai rumah.Ibu sedang menggendong Arunika.Begitu melihat kantong hijau—matanya berbinar. “DAPET?!”Bapak mengangkat tinggi. “DAPET!”Satria ikut senyum bangga.Ibu cepat mengambil kantong itu.“Ya ampun … kalian cari sampai mana?”Satria menjawab lelah. “Aa enggak tahu Bu … tadi sempat hampir nyasar.”“Ini Ibu masak besok ya, soalnya sayur katuk yang kamu beli siang masih ada.”Satria mengangguk. “Ibu enggak usah repot-repot cari di pasar lagi, besok.” *** Besok paginya—daun katuk benar-benar dimasak.Ibu membuat sayur bening daun katuk dengan jagung muda dan sedikit irisan bawang merah goreng di atasnya.Kaluna yang awalnya tidak terlalu tertarik karena eneg setelah seharian kemarin menghabiskan sayur daun katuk yang Satria beli di rumah makan Sunda pun akhirnya tetap makan dua mangkuk sebab semua orang di rumah menatapnya penuh harap.Bapak bahkan sampai duduk di depan Kaluna sambil
Jam sebelas siang, bapak menitipkan ladang ke orang kepercayaannya.Sengaja pergi secepat ini untuk mencari daun katuk. Beliau naik motor, mengendarainya keluar masuk gang, keluar masuk kampung.Tidak jarang bapak berhenti di depan kiai sayur.“Mang ada daun katuk?”Penjual berpikir. “Enggak jual daun katuk, Pak. Di pasar enggak ada.”Sejalan dengan keluhan Ibu tadi pagi. Bapak mengangguk lantas menyalakan mesin motornya.Dia pergi ke tempat lain namun hasilnya masih sama.Tempat selanjutnya yang beliau datangi pun kosong.Di tempat lainnya malah penjual bertanya random. “Bapak habis melahirkan?”Bapak melongo. “Buat anak saya!”Penjual langsung ketawa. Dia memang sedang bercanda.Di tempat lain. Satria selesai menghitung sayur dan buah yang masuk dari para petani.Dia membuka maps kemudian mengetik : DAUN KATUK TERDEKAT.Berharap mesin pencari itu tahu di mana dia bisa menemukan daun katuk.Muncul satu lokasi, jaraknya bisa ditempuh sekitar tiga puluh menit.“Jang, t
Kali ini di pagi hari, rumah orang tua Satria tidak dimulai dengan suara ayam atau alarm ponsel.Tapi suara bayi.Yang satu mulai duluan.Lalu yang satu lagi ikut-ikutan.Seperti punya grup yang terkoordinasi dengan baik.Ketika suara itu mulai melengking, Satria membuka mata dengan gerakan pelan.Matanya berat. Lehernya pegal. Dia benar-benar lelah kemarin.Dan begitu sadar dirinya tidur dalam posisi setengah duduk sambil bersandar pada headboard—dia langsung menoleh.Kaluna tertidur miring.Rambutnya berantakan.Baju menyusuinya kusut dengan tiga kancing terbuka.Sementara Arutala dan Arunika tengah bersahutan tangis dari box bayi.Satria menghela nafas panjang lalu bangkit dari tepi ranjang, alih-alih panik—sekarang dia membiasakan diri dengan suara-suara malaikat itu.Tok …Tok …Ketukan terdengar dari luar, Satria menggendong Arutala lalu bergerak ke pintu.“Pak … si kembar sudah bangun ya?” Salah satu Nanny bertanya.Satria mengangguk lalu mengendik ke belakang.
Sepeninggal Satria, Kaluna mulai mengerti bahwa menjadi ibu ternyata sangat melelahkan.Dia harus menyusui dengan tekanan dari bayi satunya yang menangis minta ASI.Nanny sudah memberi solusi agar Kaluna menyusui si kembar secara bersamaan tapi dia merasa aneh, dan lagi puncak dadanya mulai lecet dan perih.Berhenti menyusui dia makan kemudian menyusui lagi, baru istirahat lima menit—entah itu Arutala atau Arunika terbangun.Popoknya penuh lah atau pup lah. Memang semua itu dikerjakan Nanny sedangkan Kaluna hanya memperhatikan dari atas ranjang.Padahal dia lelah tapi dalam hati merasa tidak berguna. Seharusnya yang mengganti popok itu dia, bukan Nanny.Lalu bagaimana nanti jika Arutala dan Aruna menganggap ibunya adalah Nanny-Nanny itu?Kaluna mulai overthinking, tanpa terasa air mata mengalir pelan. Dia menangis.Salah satu nanny yang mengetahui itu segera keluar, dia memberitahu ibu tentang Kaluna.Dari dapur, ibu melangkah cepat memburu Kaluna yang ada di kamar.Dia ti
Hari ini Kaluna akan membawa pulang dua manusia kecil yang selama sembilan bulan hidup di dalam perutnya.Sedari tadi perawat keluar masuk membawa berkas.Dokter melakukan pemeriksaan terakhir.Tekanan darah, bekas operasi dan yang paling utama adalah kondisi bayi.Setelah semua selesai—dokter tersenyum. “Boleh pulang ya Bu.”Mata Kaluna berbinar. “Beneran?”Dokter tertawa kecil. “Iya.”Kaluna langsung menoleh ke Satria.Pria itu tersenyum sambil menatap bergantian si kembar yang terlelap di dalam box bayi.Membayangkan dua manusia mungil menggemaskan itu ada di rumah.Dokter pamit setelah memberikan beberapa instruksi kepada perawat.“Sayang … aku enggak sabar ngebayangin hidup kita direcokin si kembar.” Kaluna gemas sendiri.“Aku udah siapin Nanny, kamu enggak usah khawatir.” Satria duduk di tepi ranjang.“Ah … enggak seru, kenapa harus pakai Nanny?” Bibir Kaluna mengerucut.“Karena kita enggak punya pengalaman merawat bayi, kita enggak bisa mengandalkan ibu yang sudah
Pagi ini Kaluna terlihat jauh lebih segar.Meski gerakannya masih terbatas dan sesekali meringis kalau salah posisi, tapi warna di wajahnya mulai kembali.Dan pagi itu—ruangan terasa lebih hidup karena si kembar sedang ada di sana.Arunika ada di pelukan Kaluna.Sementara Arutala sedang digendong Satria dengan ekspresi yang masih sama seperti kemarin.Tegang. Terlalu hati-hati. Seperti sedang memegang saham perusahaan senilai triliunan.Kaluna memperhatikan lalu tertawa kecil. “Sayang.”Satria menoleh. “Iya sayang?”Kaluna menunjuk posisi tangan Satria. “Itu kamu lagi gendong bayi apa gendong bom?”Satria menunduk melihat anak laki-lakinya. “Aku takut salah gendong.”Kaluna memutar bola mata. “Kalau salah juga dia belum bisa lapor polisi.”Satria mendelik kecil sementara Kaluna tertawa.“Maksud aku, takut dia enggak nyaman terus nangis.” “Nanti langsung aku kasih ASI.”Belum sempat mereka lanjut bercanda, terdengar ketukan pintu.Tok.Tok.Tok.Pintu terbuka.Bunda
Keesokan paginya, Kaluna turun ke ruang makan dengan langkah santai. Rambutnya sudah disisir rapi, wajahnya segar tanpa riasan berlebihan.Ia tidak tahu kalau suasana di bawah telah berubah total.Begitu melewati lengkungan koridor menuju ruang makan utama—Suara anak kecil terdengar lebih dulu.
Kaluna terbangun dari tidurnya yang nyenyak, tidak ada lagi begadang, pikirannya sudah tenang sekarang setelah dia memenangkan tender dari klien Jepang.Punggungnya menegak, mengangkat kedua tangan meregangkan tubuh.Dia lantas turun ke lantai satu setelah mencuci wajah.Weekend di mansion Gunad
Ruang rapat lantai dua puluh satu terasa lebih dingin dari biasanya.Empat perwakilan perusahaan Jepang duduk dengan postur tegak, tablet dan dokumen terbuka rapi di depan mereka. Para direksi anak perusahaan AG Group yang Kaluna pimpin terlihat duduk di sisi lain meja panjang, tegang namun
Ruang rawat VIP itu sunyi.Kaluna tertidur setelah infus bekerja.Satria duduk di sofa dekat jendela. Laptop terbuka. Slide presentasi terpampang.Ia memeriksa ulang angka.Mengoreksi tata bahasa.Menandai potensi pertanyaan yang mungkin muncul dari klien Jepang.Sesekali ia melirik ke arah r







