LOGINPintu ruang kerja Kaluna terbuka.Satria masuk seperti biasa—membawa iPad, wajah tenang, langkah terukur.Dan Kaluna tersadar kalau hari itu ada yang berbeda.Tidak ada tatapan hangat yang biasanya selalu muncul begitu mata mereka bertemu.Tidak ada senyum tipis yang hanya mereka pahami berdua.“Agenda jam dua sudah siap?” tanya Kaluna tanpa mendongak dari layar MacBook.“Sudah.” Jawaban Satria singkat. Terlalu singkat.Kaluna mengangkat kepala.Biasanya Satria akan menjelaskan detail. Memberi tambahan. Bahkan menyelipkan komentar kecil yang membuat suasana jadi terasa ringan.Hari ini tidak, hanya satu kata.Sunyi.Kaluna menyipitkan mata sedikit.Ia bangkit dari kursinya, berjalan pelan mendekat ke arah Satria yang berdiri di depan meja.“Pak Satria lagi hemat kata ya hari ini?” Nada suaranya ringan tapi mengandung sindiran halus.Satria hanya mengangguk kecil. “Enggak, Bu.”“Enggak?” Kaluna mendekat lagi. Lebih dekat.“Bu?” Tangannya naik, merapikan kerah kemeja Sat
Satria baru saja selesai mengolah tubuh di gym ketika mendapati Kama duduk di kursi loby apartemennya.Dia langsung mempercepat langkah mendekat, tidak ada keraguan apalagi takut.Pimpinan tertinggi AG Group sekaligus calon mertuanya ada di gedung apartemennya—siapa lagi yang dicari kalau bukan dia?“Pagi Pak Kama,” sapa Satria setelah langkahnya berhenti di depan ayah Kama.Ayah Kama mendongak kemudian bangkit dari sofa.“Ada yang mau saya bicarakan,” katanya dingin.Satria tahu ini tentang apa dan dia akan menghadapinya.“Silahkan ke unit apartemen saya, Pak.” Satria merentangkan tangan mempersilahkan.Kama jalan duluan ke lift disusul Satria setengah langkah di belakangnya.Tidak ada yang bersuara kita mereka berada di dalam lift yang kosong tersebut.Kama menatap Satria dari pantulan pintu lift yang seperti cermin dan tampang sang sekretaris tampak tenang, terkendali seperti biasa.Kama akui kalau Satria memiliki nyali yang besar karena pasti pria itu sudah bisa mendu
Akhirnya tibalah hari penentuanSemua kembali dikumpulkan di ruangan yang sama.Kama kembali duduk di ujung meja. Lebih dingin dari sebelumnya.“Setelah pemeriksaan,” katanya, “tidak ditemukan bukti atas tuduhan tindakan asusila terhadap Kaluna dan Satria.”Sunyi.Beberapa orang menunduk.Beberapa menghela napas lega.Tatapan Kama berpindah. “Namun—”Semua kembali tegang.“Kami menemukan pelanggaran serius lain di lingkungan kerja.”Beberapa wajah langsung pucat.“Dan akan ditindak secara terpisah.”Hening mencekam.“Dan untuk pelapor.” Gantian Direktur operasional yang bicara.Semua menahan napas.“Putri.”Putri yang duduk di sudut ruangan langsung gemetar.“Laporan yang Anda ajukan tidak didukung bukti.”Suara pria tua itu dingin. “Tuduhan Anda mencemarkan nama baik.”Putri menggeleng.“Pak… saya—”“Cukup.” Nada itu memotong tanpa ampun.“Mulai hari ini Anda diberhentikan secara tidak hormat dari AG Group.”Deg.Dunia Putri seperti runtuh.Air matanya langsu
Keputusan sudah dijatuhkan.Bukan vonis.Tapi—awal dari pembuktian.Dan seluruh gedung AG Group berubah jadi ruang penyelidikan.Hari itu juga—tim audit internal mulai bergerak.Tidak ada penundaan. Tidak ada kompromi. Semua akses dibuka.Server, log aktivitas, jadwal ruangan, hingga rekaman CCTV dari berbagai titik.Ruang kontrol keamanan yang biasanya sunyi—mendadak penuh sesak oleh tim audit.Beberapa layar besar menampilkan rekaman dari berbagai sudut ; Koridor lantai eksekutif, Pantry, Ruang meeting, Lobby, Area lift“Mulai dari dua bulan terakhir,” kata salah satu auditor.“Fokus ke area yang disebutkan dalam laporan.”Klik.Rekaman mulai diputar.Di layar pertama—Kaluna dan Satria terlihat berjalan berdampingan.Tenang. Profesional.Lalu—Satria sedikit mencondongkan tubuh, membuka pintu untuk Kaluna.Biasa. Sangat biasa.“Pause,” kata auditor.Zoom. Tidak ada kontak fisik berlebihan.“Lanjut.”Di layar lain—Kaluna keluar dari ruang meeting. Satria mengikuti.
Pintu lift di lantai sembilan kantor AG Group pusat akhirnya terbuka.Langkah Kaluna dan Satria keluar bersamaan.Tidak ada lagi genggaman tangan seperti di kantor tadi, bukan karena ragu—tapi karena mereka tahu kalau mulai detik ini semuanya akan diuji.Koridor kantor pusat AG Group terasa lebih sunyi dari biasanya.Tatapan beberapa staf mengikuti mereka.Tidak hanya sekadar hormat namun sekarang ada rasa penasaran.Satria berjalan setengah langkah di belakang Kaluna sebagaimana sekretaris pada umumnya namun lebih dari itu, dia siap mendukung Kaluna dalam hal apapun.Di ujung koridor, Armand sudah menunggu.“Pak Kama sudah menunggu di dalam,” ucapnya singkat.Kaluna mengangguk tanpa suara, sedangkan tatapan Satria tampak penuh dengan permintaan maaf.Armand adalah mentor Satria, dia berhutang banyak kepada Armand dan sekarang muncul gosip tentang tindakan asusila yang mengaitkan dirinya tentu saja Satria jadi malu.Armand membuka pintu ruang meeting utama.Ruangan itu bes
Tapi baru saja Kama duduk di kursi kebesarannya.Suara pintu terdengar diketuk.Tok.Tok.“Masuk.”Pintu terbuka pelan.Seorang wanita paruh baya masuk dengan raut wajah tegang. Ia adalah kepala HRD AG Group pusat.“Maaf mengganggu, Pak Kama… ada hal penting yang harus saya sampaikan.”Kama tidak langsung menoleh dari layar MacBook. “Silakan.”Wanita itu melangkah mendekat, membawa sebuah iPad di tangannya.“Barusan kami menerima email dari salah satu karyawan anak perusahaan.”Kama akhirnya mengangkat pandangan.Tatapannya tajam.“Email seperti apa?”Wanita itu menelan ludah sebentar. “Sebuah laporan, Pak.”“Laporan?” Satu alis Kama naik.“Iya… terkait dugaan pelanggaran etika di lingkungan kerja.”Alis Kama sedikit mengernyit.“Siapa yang dilaporkan?”Wanita itu ragu sepersekian detik.Lalu berkata pelan, “Bu Kaluna … dan sekretarisnya, pak Satria.”Sunyi.Udara di ruangan







