LOGINSatria tidak pernah bertanya dua kali.
Setelah panggilan itu terputus, ia sudah bergerak. Kaos polos diganti dengan setelan perjalanan berwarna charcoal. Paspor, dokumen penerbangan, dan tablet kerja masuk ke dalam tas kulit hitamnya. Dalam waktu tiga puluh menit, ia sudah berada di dalam mobil menuju bandara privat milik keluarga Gunadhya. Langit Jakarta masih menyisakan semburat malam ketika jet Gulfstream G700 dengan lambang AG Group terparkir anggun di apron khusus. Awak kabin berdiri rapi menyambut. “Selamat malam, Pak Satria.” “Malam,” jawabnya singkat namun sopan. Langkahnya mantap menaiki tangga jet. Interior kabin berlapis kulit krem dan panel kayu walnut mengilap, lampu temaram hangat, sofa lebar yang bisa direbahkan menjadi tempat tidur. Aroma khas kabin privat yang bersih dan mahal menyambutnya. Pramugari menyerahkan tablet berisi rute penerbangan. “Perkiraan tiba di New York pukul enam pagi waktu setempat.” Satria mengangguk. Sepanjang penerbangan, ia tidak tidur panjang. Ia membaca laporan singkat tentang jadwal kepulangan Kaluna, mengirim beberapa email koordinasi, dan menghubungi kantor perwakilan AG Group di New York. AG Group memiliki bisnis yang cukup kuat dan besar dengan Alterio Corp yang dimiliki Ryley-menantu Kama dari Kanaya Di NewYork. “Saya butuh kendaraan yang layak untuk menjemput nona Kaluna. Pastikan kondisinya prima.” “Sudah kami siapkan Rolls-Royce Phantom, Tuan.” Seseorang di ujung panggilan sana merespon dengan cepat. “Baik, terimakasih.” Nada suaranya tetap tenang. Tidak ada gugup. Tidak ada pertanyaan. Hanya kesiapan. *** Salju tipis menyambut kedatangan jet privat itu di terminal eksklusif bandara Teterboro. Satria turun dengan mantel panjang hitam membalut tubuh tegapnya. Udara dingin menusuk, tapi ekspresinya tetap stabil. Rolls-Royce Phantom berwarna hitam mengilap sudah menunggu di depan. Ia duduk di kursi pengemudi. Bukan karena tidak ada sopir. Tapi karena ia terbiasa mengendalikan situasi sendiri. Perjalanan menuju Manhattan ditempuh dalam diam. Gedung-gedung tinggi menjulang, kota yang tidak pernah benar-benar tidur itu kini tampak tenang dalam cahaya musim dingin. Ketika mobil berhenti di depan apartemen mewah Kaluna, petugas pintu langsung mengenali logo AG Group pada kartu identitas yang Satria tunjukkan. Lift pribadi membawa Satria langsung ke lantai tempat unit Kaluna berada. Ia berdiri tegak di depan pintu, menekan bel satu kali. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka perlahan. Dan untuk pertama kalinya, mereka bertemu. Kaluna berdiri dengan sweater oversized dan rambut berantakan. Wajahnya pucat, mata sembab, tapi tetap cantik dengan cara yang menyakitkan. Satria menundukkan kepala sedikit. “Saya Satria Wirakusuma, Nona. Saya diperintahkan pak Kama untuk menjemput Anda.” Kaluna hanya menatapnya sekilas. “Oh.” Tidak ada senyum. Tidak ada ketertarikan. Tatapannya kosong, lelah. “Kita berangkat kapan?” tanyanya datar. “Penerbangan malam ini, Nona.” Kaluna menghela napas panjang. “Masuk.” Ia berbalik tanpa menunggu. Satria masuk ke dalam apartemen yang masih menyisakan aroma alkohol. Botol kosong sudah dibersihkan, tapi udara dinginnya masih terasa. Kaluna menyilangkan tangan. “Aku belum mandi dua hari dan belum makan dari kemarin. Kamu bisa masak?” Satria tidak terkejut. “Bisa, Nona.” Kaluna mengernyit sedikit. Mungkin tidak menyangka jawabannya setenang itu. “Oke. Masakin aku brunch ya. Aku mau mandi dulu.” Ia berjalan menuju kamar tanpa menoleh lagi. Dapur apartemen itu luas dan modern, dipenuhi peralatan mahal. Satria membuka kulkas, mengamati bahan yang tersedia. Telur. Salmon. Sayuran segar. Krim. Bawang putih. Tangannya bergerak cekatan. Pisau memotong rapi. Api menyala stabil. Mentega meleleh perlahan. Aroma salmon garlic butter memenuhi ruangan, diikuti sup hangat dan scrambled egg lembut dengan taburan parsley. Semua tersaji sederhana tapi sempurna. Ketika Kaluna keluar dengan rambut setengah kering dan wajah lebih segar, ia terhenti sejenak. Aroma makanan menyambutnya. “Sudah siap, Nona.” Kaluna duduk tanpa banyak bicara. Suapan pertama masuk ke mulutnya. Ia terdiam. Rasanya… sempurna. Hangat. Seimbang. Tidak berlebihan. Matanya terangkat sedikit menatap Satria yang berdiri satu langkah di belakang kursi di depannya. “Kamu kok bisa masak?” tanyanya pendek. “Saya belajar, Nona.” Kaluna mengangguk pelan. Tidak memuji. Tapi ia menghabiskan makanannya sampai bersih. Setelah makan, Kaluna beranjak dan pindah ke ruang televisi. Menyalakan televisi. Dia berpikir akan berangkat malam ini, jadi santai saja lah. Padahal jauh di relung hati paling dalam, dia sedang menunggu panggilan telepon atau chat dari Brian. Kaluna akan mengatakan dia akan kembali ke Indonesia kemudian Brian menahannya, memohon, meminta maaf. Setidaknya itu yang ada di dalam benak Kaluna saat ini. Satria berdiri tegap di samping sofa, dia memperhatikan Kaluna yang melamun menatap layar televisi. Beberapa detik terbuang sia-sia, jadi dia mulai bersuara. “Saya izin membantu menyiapkan barang-barang Anda,” ucap Satria membut Kaluna terhenyak. Kaluna tertawa kecil, sedikit meremehkan. “Kamu enggak akan tahu barang apa yang aku butuhkan.” “Saya akan mencoba.” Tanpa menunggu izin kedua, Satria berjalan menuju kamar. “Eh!” Kaluna berteriak dari ruang televisi. “Baju, sepatu, tas enggak perlu dibawa! Di rumah Ayah sudah ada!” “Baik, Nona.” Belum sampai lima menit, Satria keluar. Di tangannya terdapat dua hal. Kotak skincare eksklusif dari klinik dermatologi ternama di New York. Dan satu novel romance dengan penanda halaman terselip di tengah. Kaluna terdiam. Itu dua hal yang tidak ia sebutkan tapi dua hal yang paling ia butuhkan. “Produk ini tidak tersedia di Indonesia dengan formula yang sama,” ujar Satria tenang. “Dan buku ini belum selesai Anda baca.” Kaluna menatapnya lebih lama kali ini. Terkejut. Tapi tidak berkata apa-apa. Ia hanya kembali duduk dan meraih gelas berisi teh hangat yang tadi Satria siapkan. Satria tidak meminta pujian. Tidak menjelaskan bagaimana ia tahu. Ia hanya memastikan semuanya siap. Ketika hari merangkak sore dan tidak ada tanda-tanda kalau Brian akan menghubunginya—Kaluna pun bersiap untuk pulang. Dia tidak menyesal meminta sang ayah menjemputnya tapi entah kenapa dia merasa berat, mungkin karena belum mendapat kabar maupun penjelasan dari Brian. Hati Kaluna kembali diserang sembilu, dan kali ini mungkin dia harus benar-benar meninggalkan Brian. Dalam hati dia bertekad. Beberapa jam kemudian, Kaluna dan Satria sudah duduk berdampingan di dalam kabin privat jet yang sama megahnya dengan saat keberangkatan Satria. Lampu kabin temaram. Mesin mulai meraung halus. Kaluna menatap keluar jendela kecil. Satria duduk tegak di kursi seberangnya, sabuk pengaman terpasang. Tidak ada percakapan. Hanya jarak. Dan sunyi yang belum memiliki arti. Pesawat mulai bergerak, meninggalkan New York. Kaluna memejamkan mata. Satria menatap lurus ke depan menatap Kaluna. Dia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan sang nona karena Kama tidak mungkin sampai mengutus orang untuk menjemput putrinya yang berusia hampir tiga puluh tahun. Pasti ada hal buruk terjadi, Satria yakin setelah melihat mata bengkak Kaluna untuk yang pertama kalinya tadi pagi. Satria menduga kalau ada hubungannya dengan asmara, patah hati mungkin. “Aku enggak suka kamu menatapku seperti itu,” kata Kaluna dengan mata terpejam. Netra Satria melebar, dia terkejut tapi gesture tubuhnya tampak tenang. Dari mana Kaluna tahu kalau dia memperhatikannya? “Maaf Nona, saya hanya ingin memastikan Nona nyaman.”Seminggu setelah percakapan di ruang kerja itu, sebuah mobil hitam perlahan memasuki gerbang perkebunan teh yang selama bertahun-tahun dikenal warga sebagai milik keluarga Deni.Hamparan daun teh yang hijau mengilap membentang sejauh mata memandang, mengikuti lekuk bukit yang bergelombang. Para pemetik teh sudah mulai bekerja sejak matahari belum benar-benar tinggi. Keranjang rotan tergantung di punggung mereka, sementara jemari-jemari terampil memetik pucuk-pucuk muda yang nantinya akan menjadi teh berkualitas premium.Hari itu suasana terasa sedikit berbeda.Bukan karena panen.Melainkan karena sejak pagi seluruh mandor diminta berkumpul di halaman kantor lama.Mereka diberi tahu akan ada “pemilik” yang datang.***Mobil berhenti tepat di depan bangunan administrasi.Seorang sopir bergegas turun membukakan pintu belakang.Sepasang heels berwarna nude menyentuh tanah lebih dulu.Disusul sosok perempuan yang selama ini hanya dikenal
Siang itu, matahari Lembang bersinar sedikit lebih hangat.Kabut yang sejak pagi menyelimuti perbukitan perlahan menghilang, digantikan langit biru yang begitu jernih.Di halaman rumah, Arutala dan Arunika baru saja selesai bermain gelembung sabun bersama kedua nanny.Suara tawa mereka sesekali terdengar sampai ke dalam rumah.Kaluna yang sedang berada di dapur menoleh ke arah jam dinding.Pukul dua belas lewat lima menit.Sudah hampir waktunya Satria pulang.Sejak memiliki rumah yang tidak terlalu jauh dari kantor, Satria memang hampir selalu menyempatkan pulang untuk makan siang.Katanya, makanan rumah tidak pernah bisa dikalahkan restoran mana pun.Kaluna tersenyum sendiri mengingat ucapan suaminya.Tangannya kembali sibuk menyusun hidangan di atas meja makan.Hari ini tidak ada menu mewah.Hanya makanan kesukaan Satria.Nasi hangat.Sayur asem.Ayam goreng lengkuas.Tempe mendoan.Sambal dadak.Dan ikan nila goreng yang baru diangkat beberapa menit lalu.Kaluna
Waktu tidak pernah benar-benar berhenti.Ia terus berjalan, membawa manusia bertumbuh bersama segala cerita yang mereka miliki.Begitu pula dengan kehidupan Satria.Laki-laki yang dahulu hanya seorang mahasiswa sederhana dari desa, pernah ditolak, diremehkan, bahkan dijadikan bahan tertawaan karena dianggap tidak memiliki masa depan—kini justru menjadi salah satu pengusaha muda yang namanya mulai diperhitungkan di industri agribisnis Indonesia.Namun anehnya, ada satu hal yang tidak pernah berubah.Setiap pagi, sebelum memasuki ruang rapat ataupun menandatangani kontrak bernilai miliaran rupiah, Satria selalu memulai harinya dengan berjalan menyusuri gudang dan menyapa para petani.Seolah-olah dia takut melupakan dari mana semuanya bermula.Karena bagi Satria, awal mula kesuksesannya bukan dari jabatan sebagai sekretaris dari AG Group namun sebagai petani.***Kabut Lembang pagi itu turun sedikit lebih tebal dibanding biasanya.Udara masih terasa dingin ketika sebuah mobil d
Pesta yang sejak pagi dipenuhi suara tawa perlahan kehilangan riuhnya. Anak-anak mulai kelelahan. Beberapa tertidur di stroller. Sebagian lagi masih bertahan bermain gelembung sabun sambil menggenggam balon hadiah. Para tamu satu per satu berpamitan. Jangan tanya apakah Ivander datang karena Noorin sudah tidak mau terlibat apapun dengan keluarga Satria Suara klakson mobil bergantian terdengar dari halaman depan. Band yang sejak siang memainkan lagu-lagu ceria kini beralih membawakan lagu akustik dengan tempo yang jauh lebih pelan. Matahari mulai turun di balik perbukitan Lembang. Langit berubah jingga. Semburat cahaya sore menyentuh kaca-kaca besar rumah Satria hingga bangunan itu terlihat hangat. Kaluna baru saja mengantar tamu terakhir ketika akhirnya mengembuskan napas panjang. “Akhirnya beres juga pestanya ….” Satria yang sedang menggendo
Hari itu datang lebih cepat daripada yang pernah Satria bayangkan.Genap satu tahun sejak dua tangisan kecil memenuhi ruang operasi dan mengubah seluruh hidupnya.Satu tahun sejak Arutala dan Arunika hadir membawa kebahagiaan yang bahkan tidak pernah berani dia impikan.***Matahari bahkan belum benar-benar terbit ketika halaman rumah sudah dipenuhi aktivitas.Beberapa truk vendor memasuki gerbang secara bergantian.Petugas dekorasi mondar-mandir membawa rangka besi, rangkaian balon, papan kayu hingga pot-pot bunga.Kaluna berdiri di balkon kamar utama sambil memeluk secangkir cokelat hangat.Di sampingnya, Satria baru selesai mengenakan jam tangan.Tatapan mereka sama-sama tertuju ke halaman depan.“Ramai banget ya,” gumam Kaluna.Satria tersenyum kecil.“Kamu sendiri yang bilang ulang tahun pertama cuma sekali.”Kaluna mengangguk pelan. “Iya sih .…”Dia menoleh ke arah suaminya.“Aku ingin nanti kalau Tala
Pagi itu, matahari bahkan belum sepenuhnya muncul ketika rumah kembali hidup.Bukan karena alarm.Bukan pula karena suara telepon Satria dengan pihak Alterio Corp.Melainkan karena suara seseorang yang sedang mengoceh dari balik baby monitor.“Babababa…”Disusul suara lain yang tidak mau kalah.“Aaaa… daaa…”Kaluna yang masih memejamkan mata menarik selimut sampai ke dagu. “Sayaaang ….” Suara itu lirih. “Bentar lagi….”Satria yang sebenarnya yang sudah bangun sedari tadi hanya tersenyum kecil.Dia melirik jam digital di atas nakas.Pukul 05.12.Adzan Subuh baru saja selesai beberapa menit lalu.“Bangun yuk?” ajaknya pelan.Kaluna menggeleng tanpa membuka mata. “Enggak ah, masih ngantuk ….”Satria terkekeh.“Mereka udah manggilin kita?” Satria mengendik ke baby monitor.“Minta tolong Nanny saja ….” Kaluna malah memeluk Satria erat.Satria tertawa pelan, membalas pelukan itu.“Kasian mereka laper,” kata Satria.“Masih ada ASI cadangan di frezer … Nanny pasti sudah kas
Kama tidak langsung kembali ke kamar utama setelah keluar dari kamar Kaluna.Ia berdiri beberapa detik di lorong lantai dua mansion itu, menatap pintu kamar putrinya yang kini tertutup.Rahangnya kembali mengeras.Sepuluh tahun.Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk seorang perempuan da
Jet privat milik AG Group mendarat mulus di terminal eksklusif.“Nona … sudah sampai.”Entah sudah panggilan yang keberapa kali hingga akhirnya Kaluna terbangun.Setelah dua malam tidak bisa benar-benar terlelap, perjalanan NewYork-Jakarta justru mampu membuatnya deep sleep.Kaluna menegakan pu
Langit Jakarta sudah gelap ketika Satria memarkir mobilnya di basement sebuah apartemen kelas menengah yang terletak tidak terlalu jauh dari pusat bisnis.Tidak mewah.Tidak buruk.Bersih dan tenang.Ia keluar dari mobil dengan langkah tegap. Jas hitamnya masih rapi meski seharian mendampingi m
Beberapa botol wine dan banyak botol minuman beralkohol tinggi lainnya berserakan di lantai berkarpet ruang televisi apartemen mewah di kawasan elit Manhattan. Tadinya botol-botol itu hanya pajangan—dipilih khusus oleh interior desainer agar terlihat berkelas.Kini semuanya kosong.Kaluna mencici







