Home / Romansa Dewasa / Menantang Kasta / Berasal Dari Keluarga Sederhana

Share

Berasal Dari Keluarga Sederhana

Author: Erna Azura
last update Last Updated: 2026-02-22 20:28:21

Langit Jakarta sudah gelap ketika Satria memarkir mobilnya di basement sebuah apartemen kelas menengah yang terletak tidak terlalu jauh dari pusat bisnis.

Tidak mewah.

Tidak buruk.

Bersih dan tenang.

Ia keluar dari mobil dengan langkah tegap. Jas hitamnya masih rapi meski seharian mendampingi meeting kelas internasional. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, posturnya lurus seperti prajurit.

Satria Wirakusuma tidak pernah terlihat lelah.

Lift berhenti di lantai dua belas. Ia membuka pintu unitnya—apartemen satu kamar yang tertata presisi. Tidak ada barang berserakan. Sofa abu-abu minimalis, rak buku kayu gelap yang dipenuhi buku manajemen, ekonomi, dan beberapa novel klasik. Meja kerja kecil dengan laptop tertutup rapi. Sepatu disusun sejajar.

Sederhana.

Tapi terorganisir.

Ia meletakkan jam tangan mahal pemberian bonus tahunan di atas meja, membuka kancing jas, lalu berjalan ke dapur kecil.

Air putih.

Satu gelas penuh.

Kemudian ia menuju kamar.

Beberapa menit kemudian, Satria keluar hanya mengenakan training pants hitam. Tubuh atletisnya terekspos sempurna di bawah cahaya lampu hangat. Otot trapesium di pundaknya terlihat tegas, lengan berotot hasil latihan konsisten, perutnya rata dengan garis samar yang menunjukkan disiplin, bukan pamer.

Ia menyalakan speaker kecil.

Musik instrumental pelan mengalun.

Push-up.

Pull-up.

Plank.

Setiap gerakan terukur.

Napasnya stabil.

Bagi Satria, tubuh adalah tanggung jawab.

Ia tidak pernah tahu kapan harus melindungi seseorang.

Selesai latihan, ia berdiri di depan cermin. Rambutnya sedikit basah oleh keringat, rahangnya tegas, sorot matanya tenang dan tajam. Wajah tampan yang tidak berlebihan—maskulin, bersih, dan dewasa.

Namun tidak ada kesombongan di sana.

Hanya disiplin.

Setelah mandi dan mengenakan kaos polos serta celana santai, Satria duduk di sofa. Ia mengambil ponsel dan menekan nomor yang sudah ia hafal di luar kepala.

“Malam, Bu.”

“Malam, Aa .…” Suara lembut seorang wanita terdengar dari seberang.

Satria tersenyum kecil. “Ibu sudah makan?”

“Sudah. Bapak juga sudah. Tadi habis dari sawah. Panennya lumayan.”

“Syukurlaaah ….” Satria menimpali.

Di Bandung, kedua orang tuanya tinggal di rumah sederhana dengan halaman luas dan ladang kecil di belakangnya. Petani biasa. Tidak kaya. Tapi cukup.

“Capek enggak, Bu?”

“Namanya juga kerja, Nak. Kamu sendiri gimana? Jangan terlalu capek … kerja terus.”

Satria bersandar nyaman.

“Enggak capek, Bu. Hari ini ada meeting besar, tapi lancar.”

Terdengar suara ayahnya di latar belakang.

“Aa, kapan pulang?”

Satria terkekeh pelan. “Nanti kalau cuti, Pak. Doakan saja.”

“Kami selalu doakan kamu tiap habis salat,” jawab ibunya.

Dan setiap kali mendengar kalimat itu, dada Satria selalu terasa hangat.

Ia tidak pernah melewatkan satu hari pun tanpa menghubungi orang tuanya.

Bukan kewajiban.

Tapi rasa hormat.

“Ada kabar apa di sana, Bu?” Satria membuat topik pembicaraan.

“Oh iya ituuu, si Ujang … mau nikah sama Lilis sebulan lagi, keluarga kita diundang termasuk Aa … Aa datang ‘kan?”

Satria melipat bibirnya ke dalam, dia selalu kesulitan menjawab pertanyaan yang tidak langsung bertanya, “Apakah dia bisa pulang?”

Pasalnya menjadi sekretaris menggantikan sekretaris utama di AG Group memiliki jam kerja sehari dua puluh empat jam, seminggu tujuh hari dan satu bulan tiga puluh satu hari.

Dalam keadaan tidurpun Satria harus standby kalau-kalau dibutuhkan.

“Diusahakan ya Bu … tapi kalau Aa enggak bisa pulang, Bapak dan Ibu aja yang datang ya.” Dan kalimat aman itu pun menjadi jawaban atas pertanyaan ibu barusan.

Terdengar helaan nafas panjang di ujung panggilan sana dan tentu saja membuat hati Satria berdenyut ngilu.

“Ya udah ….” Ibu menimpali tapi dengan nada seperti kumur-kumur karena mengucapkannya sambil memajukan bibir.

Satria terkekeh membayangkan ekspresi wajah ibunya.

“Kerjaan Aa di sini padet Bu, tapi gajinya ‘kan lumayan … keluarga kita bisa hidup serba berkecukupan.”

“Iya … makasih ya Nak, dan maafkan Ibu Bapak yang malah menjadikanmu tulang punggung.” Sekarang suara ibu terdengar getir.

“Aa enggak ngerasa menjadi tulang punggung Bu, Aa merasa ini adalah tanggung jawab Aa … dan Aa dengan senang hati melakukannya … yang penting Ibu dan bapak sehat dan bahagia, itu sudah cukup buat Aa.”

Ibu tersenyum lembut, Satria bisa membayangkannya.

“Kamu memang anak soleh … anak berbakti, rezeki kamu pasti lancar.” Dan doa pun, ibu langitkan.

“Aamiin ….” Satria menimpali.

“Terus kamu mau kapan bawa calon istri ke sini?”

“Ibuuuu ….”

Ibu Ratna tergelak.

“Ibu, nanti Aa telepon lagi ya … Aa mau telepon Ratu.”

“Iya A … sehat-sehat ya anak Ibu.”

Sambungan telepon pun terputus dengan wajah Satria yang memerah.

Satria selalu menghindari pertanyaan kedua orang tuanya tentang pendamping hidup.

Dulu, dia pernah jatuh cinta kepada kembang Desa bernama Noorin, anak kepala desa.

Tapi karena Satria hanya anak petani dan ketika itu masih kuliah belum memiliki masa depan yang cerah, Noorin pun bersedia dijodohkan ayahnya dengan anak orang paling kaya di desanya.

Cinta mereka kandas dan sesungguhnya, Satria jadi malas pulang karena pasti akan bertemu Noorin yang kini sudah dikarunai seorang putra.

Setiap mereka bersitatap, cinta yang dulu dirasakan muncul dan mencabik-cabik hati mengingat keadaan mereka kini tidak mungkin bersama.

Setelah memutus panggilan dengan orang tuanya, ia membuka kontak lain.

“Aa!” Suara ceria langsung menyambut.

Satria tersenyum lebih lebar kali ini. “Lagi belajar atau main?”

“Belajar lah! Besok ada presentasi.”

Adiknya, Ratu Meida Wirakusuma, sedang duduk di bangku kuliah jurusan Teknik Sipil di salah satu universitas negeri terbaik di Bandung. Pintar. Ambisius. Mirip dirinya.

“Uang jajan masih ada?” tanya Satria langsung.

“Masih ada donk. Aa transfernya banyak banget.”

Satria tertawa pelan.

“Kalau kurang bilang ya.”

Ratu terdiam sebentar.

“Aa … aku kemarin kepikiran. Kalau nanti aku lulus, aku mau langsung kerja. Biar Aa enggak sendirian nanggung semuanya.”

Satria tersenyum lagi, tapi kini nadanya lebih tegas.

“Tugas kamu cuma satu. Lulus dengan nilai terbaik.”

“Aa…”

“Sisanya urusan Aa.”

Di ujung sana terdengar suara tertahan. Ratu tahu betul, biaya kuliahnya, kosnya, laptopnya—semuanya dari Satria.

“Aa bangga sama kamu,” lanjut Satria pelan.

Dan kalimat itu lebih mahal daripada uang kiriman bulanan.

“Ratu juga bangga banget punya Aa yang hebat, kuat, dan sukses… ke mana-mana selalu Ratu banggain.”

Satria tertawa renyah, dan sisa percakapan itu diisi dengan curhatan sang adik tentang dosen, teman kampus juga kuliner dekat kossannya.

Malam semakin larut.

Usai panggilan tersebut, Satria berdiri di balkon kecil apartemennya, memandang lampu kota dari ketinggian. Angin malam menyentuh wajahnya.

Ia memikirkan hari ini. Meeting. Negosiasi. Tatapan puas Kama Gunadhya.

Ia tahu posisinya.

Ia bukan siapa-siapa tanpa kerja keras.

Tidak punya nama besar.

Tidak punya warisan.

Tidak punya marga yang membuka pintu.

Yang ia punya hanya kemampuan dan prinsip.

Satria menatap lurus ke depan, pikirannya tenang.

Baginya, hidup itu sederhana.

Jangan mengambil yang bukan hakmu.

Jangan bergantung pada belas kasihan.

Dan jangan pernah menjual harga diri demi kemewahan.

Ia lebih memilih berjalan lambat tapi tegak, daripada cepat tapi menunduk.

Karena sejak kecil, ayahnya selalu berkata, “Kalau kamu miskin harta tidak apa-apa. Tapi jangan pernah miskin harga diri.”

Satria memejamkan mata sebentar.

Suatu hari, ia akan berada di posisi yang lebih tinggi.

Bukan untuk membuktikan pada dunia.

Tapi untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa seorang anak petani pun bisa berdiri sejajar dengan siapa saja.

Tanpa menanggalkan kehormatan.

Tanpa menukar prinsip.

Dan tanpa pernah tahu bahwa takdirnya sebentar lagi akan mengujinya dengan sesuatu yang jauh lebih rumit daripada negosiasi miliaran dolar.

Ponselnya yang diletakan di atas meja berbunyi.

Satria masuk tidak lupa menutup pintu ke balkon.

Nama Kama tertera di layar, dia langsung menggeser icon gagang telepon berwarna hijau untuk menjawab.

“Malam Pak Kama,” kata Satria dengan nada siap menerima perintah.

“Berangkat sekarang ke NewYork, jemput Kaluna.”

“Baik, Pak.” Detik berikutnya Satria menjawab.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menantang Kasta   Tidak Dengan Pria Manapun

    Arshavina gelisah semalaman setelah sang suami memberitahu apa yang sesungguhnya terjadi dengan Kaluna, dia yakin kalau Kanaya-kakak kembar Kaluna belum tahu tentang ini.Jadi, keesokan harinya setelah sang suami tercinta pergi ke kantor.Ia duduk lama di paviliun sayap kanan Mansion dengan buku di pangkuan yang belum sedetik pun dia baca.Teh hangat tersaji bersama biskuit di meja kecil sampingnya.Arshavina masih memikirkan sang putri yang tengah patah hati.Lalu ia meraih ponsel.Menggulir layar mencari nama Kanaya.Panggilan tersambung setelah dua kali nada.“Bunda?” suara Kanaya terdengar santai, latar belakangnya adalah musik instrumental lembut khas ruang spa.“Kamu lagi di mana?”“Lagi Spa. Badan Nay pegel abis liburan kemarin. Kenapa Bun?”Arshavina terdiam sepersekian detik.“Luna sudah cerita sama Ayah.”Hening.“Cerita apa?” Nada Kanaya berubah.“Brian selingkuh. Dengan Amanda.”Sesi massage yang sedang berjalan langsung terhenti ketika Kanaya mendadak bang

  • Menantang Kasta   Perempuan Yang Sedang Berusaha Bangkit

    Kama tidak langsung kembali ke kamar utama setelah keluar dari kamar Kaluna.Ia berdiri beberapa detik di lorong lantai dua mansion itu, menatap pintu kamar putrinya yang kini tertutup.Rahangnya kembali mengeras.Sepuluh tahun.Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk seorang perempuan dan kini kepedihan yang harus ditanggung putrinya.Kama berjalan turun ke ruang kerjanya yang terletak di sisi timur Mansion. Ruangan luas dengan rak kayu tinggi penuh dokumen dan penghargaan bisnis. Di balik meja besar dari kayu solid, ia duduk dan menekan tombol-tombol di pesawat telepon.“Sambungkan saya dengan Satria.”Tidak sampai satu menit, panggilan tersambung.“Malam, Pak.”Suara Satria terdengar stabil seperti biasa.“Kamu masih di kantor?”“Masih, Pak.”“Ke rumah sekarang.”“Baik, Pak.”Tidak ada pertanyaan. Tidak ada nada penasaran.Hanya kesiapan.Empat puluh menit kemudian, Satria sudah berdiri di hadapan Kama di ruang kerja pribadi sang pemimpin AG Group.Ia masih m

  • Menantang Kasta   Memiliki Arah

    Jet privat milik AG Group mendarat mulus di terminal eksklusif.“Nona … sudah sampai.”Entah sudah panggilan yang keberapa kali hingga akhirnya Kaluna terbangun.Setelah dua malam tidak bisa benar-benar terlelap, perjalanan NewYork-Jakarta justru mampu membuatnya deep sleep.Kaluna menegakan punggung, merapihkan pakaiannya.Dia hancur di dalam tapi penampilan nomor satu, harus tetap rapih dan elegan.Dia bangkit dari kursi kemudian berjalan menyusuri lorong.Langit Jakarta menyambut mereka dengan cahaya keemasan pagi yang hangat.Pintu kabin terbuka, udara tropis yang lembap langsung menyentuh kulit Kaluna. Berbeda jauh dari dinginnya New York, udara ini terasa… seperti pelukan lama yang tak pernah berubah.Satria turun lebih dulu, memastikan tangga terpasang sempurna sebelum berbalik.“Nona,” ucapnya singkat.Kaluna berdiri perlahan. Wajahnya sudah dirias tipis. Mata sembabnya tersamarkan, tapi tidak sepenuhnya hilang.Mobil hitam panjang sudah menunggu di apron privat.

  • Menantang Kasta   Menjemput Sang Nyonya

    Satria tidak pernah bertanya dua kali.Setelah panggilan itu terputus, ia sudah bergerak.Kaos polos diganti dengan setelan perjalanan berwarna charcoal. Paspor, dokumen penerbangan, dan tablet kerja masuk ke dalam tas kulit hitamnya. Dalam waktu tiga puluh menit, ia sudah berada di dalam mobil menuju bandara privat milik keluarga Gunadhya.Langit Jakarta masih menyisakan semburat malam ketika jet Gulfstream G700 dengan lambang AG Group terparkir anggun di apron khusus. Awak kabin berdiri rapi menyambut.“Selamat malam, Pak Satria.”“Malam,” jawabnya singkat namun sopan.Langkahnya mantap menaiki tangga jet. Interior kabin berlapis kulit krem dan panel kayu walnut mengilap, lampu temaram hangat, sofa lebar yang bisa direbahkan menjadi tempat tidur. Aroma khas kabin privat yang bersih dan mahal menyambutnya.Pramugari menyerahkan tablet berisi rute penerbangan.“Perkiraan tiba di New York pukul enam pagi waktu setempat.”Satria mengangguk.Sepanjang penerbangan, ia tidak tidu

  • Menantang Kasta   Berasal Dari Keluarga Sederhana

    Langit Jakarta sudah gelap ketika Satria memarkir mobilnya di basement sebuah apartemen kelas menengah yang terletak tidak terlalu jauh dari pusat bisnis.Tidak mewah.Tidak buruk.Bersih dan tenang.Ia keluar dari mobil dengan langkah tegap. Jas hitamnya masih rapi meski seharian mendampingi meeting kelas internasional. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, posturnya lurus seperti prajurit.Satria Wirakusuma tidak pernah terlihat lelah.Lift berhenti di lantai dua belas. Ia membuka pintu unitnya—apartemen satu kamar yang tertata presisi. Tidak ada barang berserakan. Sofa abu-abu minimalis, rak buku kayu gelap yang dipenuhi buku manajemen, ekonomi, dan beberapa novel klasik. Meja kerja kecil dengan laptop tertutup rapi. Sepatu disusun sejajar.Sederhana.Tapi terorganisir.Ia meletakkan jam tangan mahal pemberian bonus tahunan di atas meja, membuka kancing jas, lalu berjalan ke dapur kecil.Air putih.Satu gelas penuh.Kemudian ia menuju kamar.Beberapa menit kemudian, Satria k

  • Menantang Kasta   Terlalu Hancur

    Beberapa botol wine dan banyak botol minuman beralkohol tinggi lainnya berserakan di lantai berkarpet ruang televisi apartemen mewah di kawasan elit Manhattan. Tadinya botol-botol itu hanya pajangan—dipilih khusus oleh interior desainer agar terlihat berkelas.Kini semuanya kosong.Kaluna mencicipinya satu per satu tadi malam.Bukan mencicipi tapi menghabiskan.Dan sekarang, dia tersadar dengan kepala pening seperti dipukul benda tumpul. Matanya menyipit, berusaha fokus pada jam dinding yang tampak berbayang.Pukul empat sore.Sinar matahari musim dingin masuk melalui jendela tinggi, memantul pada lantai marmer putih yang kini berantakan.Kaluna mengulurkan tangan, meraba meja kecil di samping sofa, menemukan ponselnya.Layarnya kemudian menyala.Hening.Tidak ada nama Brian di sana.Tidak ada panggilan tak terjawab.Tidak ada pesan masuk.Tidak ada satu pun tanda bahwa pria itu mencarinya.Hanya notifikasi email promosi.Kaluna memandangi layar itu lama, ekspresinya da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status