ログインJet privat milik AG Group mendarat mulus di terminal eksklusif.
“Nona … sudah sampai.” Entah sudah panggilan yang keberapa kali hingga akhirnya Kaluna terbangun. Setelah dua malam tidak bisa benar-benar terlelap, perjalanan NewYork-Jakarta justru mampu membuatnya deep sleep. Kaluna menegakan punggung, merapihkan pakaiannya. Dia hancur di dalam tapi penampilan nomor satu, harus tetap rapih dan elegan. Dia bangkit dari kursi kemudian berjalan menyusuri lorong. Langit Jakarta menyambut mereka dengan cahaya keemasan pagi yang hangat. Pintu kabin terbuka, udara tropis yang lembap langsung menyentuh kulit Kaluna. Berbeda jauh dari dinginnya New York, udara ini terasa… seperti pelukan lama yang tak pernah berubah. Satria turun lebih dulu, memastikan tangga terpasang sempurna sebelum berbalik. “Nona,” ucapnya singkat. Kaluna berdiri perlahan. Wajahnya sudah dirias tipis. Mata sembabnya tersamarkan, tapi tidak sepenuhnya hilang. Mobil hitam panjang sudah menunggu di apron privat. Satria membukakan pintu lalu duduk di samping kemudi. Sepanjang perjalanan yang tidak terlalu jauh itu, Kaluna kembali melamun setelah memeriksa ponselnya yang masih belum ada kabar dari Brian. Di depan mansion keluarga Gunadhya, Kama dan Arshavina tampak berdiri menunggu. Arshavina lebih dulu melangkah maju. “Luna .…” Suaranya lembut. Kaluna memeluk bundanya erat. Terlalu erat untuk sekadar pelukan biasa. Arshavina merasakan ada yang berbeda, tapi ia menahan diri. Kama menunggu dengan berdiri tegak di samping istrinya, lalu menarik Kaluna ke dalam pelukannya. Pelukan seorang ayah yang tidak banyak bicara, tapi kokoh melindungi. “Capek sayang?” tanyanya pelan. Kaluna menggeleng kecil. “Enggak, Yah.” Tapi matanya berkata lain. Satria berdiri beberapa langkah di belakang, menjaga jarak, profesional seperti biasa. “Terimakasih Satria … kamu bisa istirahat hari ini.” Kama memberi ijin cuti. “Saya akan langsung ke kantor Pak ….” “Baiklah ….” Kama mengangguk samar. “Ayo masuk sayang ….” Arshavina menuntun Kaluna ke dalam rumah. “Tidur nyenyak di pesawat?” Arshavina bertanya. Bukan basa-basi tapi bentuk perhatian. Kaluna menjawab dengan anggukan kepala. “Kamu istirahat dulu ya sayang,” kata Kama memberi ruang dan waktu. Kaluna mengangguk lagi kemudian tanpa kata melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya. “Bunda ngerasa ada yang enggak beres ….” Arshavina berbisik sembari menatap punggung Kaluna yang menjauh. “Enggak mungkin hanya karena lama balas chat, Kaluna sampai kabur ke Indonesia dengan mata bengkak.” Kama sependapat. “Kita kasih dia waktu ….” Kama mengangguk setuju. “Ayah ke kantor ya … Bunda, jagain Kaluna di rumah.” Arshavina menganggukan kepala. “Bunda batalin arisan sama ibu Gubernur.” *** Seharian ini, Arshavina bolak-balik di depan pintu kamar Kaluna. Dia tidak berani mengetuk, tidak berani mengganggu. Sampai akhirnya … Ceklek … Sosok Kaluna muncul dari balik pintu. “Bunda?” Arshavina menegang, nafasnya tertahan. “Sayang … udah bangun?” Kaluna menganggukan kepala. “Aku lapar ….” Arshavina tersenyum kemudian mendorong tubuh sang putri masuk lagi ke dalam kamar. “Bunda suruh asisten rumah tangga anterin makan siang kamu ke sini ya … Kamu istirahat aja.” Kaluna hanya mengangguk kemudian berbaring lagi setelah sang bunda pergi. *** Makan malam digelar sederhana tapi elegan di ruang makan utama. Meja panjang kayu solid dengan lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya hangat. Kaluna duduk di antara ayah dan bundanya. Ia makan perlahan. Tidak banyak bicara. Kama sesekali mengangkat pandangan, menatap Arshavina. Arshavina membalas dengan tatapan yang sama. Pertanyaan yang sama menggantung di udara. Kenapa? Kenapa anak mereka tiba-tiba pulang? Kenapa matanya sembab? Kenapa senyumnya tidak sampai ke mata? Tapi tak satu pun berani bertanya di meja makan. Mereka tahu. Kaluna sedang rapuh. Dan kadang, pertanyaan bisa terasa seperti serangan. Makan malam selesai dalam sunyi yang sopan. Kaluna pamit lebih dulu. “Aku istirahat dulu ya, Yah. Bun.” Arshavina mengangguk lembut. “Istirahat yang cukup ya sayang.” *** Di kamar utama, Arshavina tidak bisa lagi menahan diri. “Ayah enggak mau tanya langsung ke Luna?” desaknya pelan pada Kama. Kama sedang melepas jam tangannya. “Ayah lihat matanya,” lanjut Arshavina. “Itu bukan mata orang kurang tidur.” Kama terdiam beberapa detik. “Ayah tahu.” “Lalu?” “Ya udah Ayah bicara sama dia sekarang.” Arshavina mengangguk, meski hatinya gelisah. Kama pergi menuju kamar Kaluna. Ia mengetuk pelan. “Masuk,” suara Kaluna terdengar lemah. Kama membuka pintu perlahan. Kamar itu masih sama seperti dulu. Rapi. Elegan. Mewah. Tapi putrinya yang duduk di tepi ranjang terlihat kecil. Kama duduk di sampingnya. Hening beberapa detik. “Matamu kenapa?” tanyanya basa-basi. Sederhana. Tidak menekan. Dan pertahanan Kaluna runtuh. Air mata yang sedari tadi pagi ia tahan akhirnya jatuh. “Ayah .…” Suaranya pecah. Kama langsung menariknya ke dalam pelukan. Kaluna menangis di dada ayahnya seperti anak kecil. Tidak ada kalimat penghakiman. Tidak ada nada marah. Hanya tangan besar yang mengusap punggungnya pelan. “Ayah di sini.” Dan Kaluna pun bercerita. Tentang Brian. Tentang Amanda. Tentang malam itu. Tentang keheningan setelahnya. Tentang sepuluh tahun yang terasa sia-sia. Kama mendengarkan. Tidak memotong, tak mau menyela. Rahangnya mengeras, tapi ia menahannya. Ia kecewa. Marah. Sakit hati. Tapi bukan pada Kaluna. “Kamu salah memilih?” tanyanya pelan setelah cerita itu selesai. Kaluna menggeleng di dalam pelukan. “Aku cuma terlalu percaya.” Kama menghela napas panjang. “Enggak apa-apa, hidup memang enggak selalu berjalan seperti apa yang kita mau.” Tangannya kembali mengusap rambut Kaluna. Padahal ingin sekali Kama datang ke NewYork sekarang juga, menemui Brian dan memukulinya tepat di wajah. “Semua orang bisa salah memilih. Tapi tidak semua orang berani pergi,” sambung Kama. Kaluna terdiam. Hening kembali menyelimuti mereka. Lalu dengan suara tenang, Kama berkata, “Perusahaan kita di bawah AG Group ada satu anak perusahaan yang CEO-nya baru saja pensiun.” Kaluna mengangkat wajahnya. “Ayah ingin kamu menggantikannya, jangan kembali ke NewYork… selesaikan S3 kamu dari sini… Kamu boleh datang ke sana hanya untuk mengurus administrasi kampus.” Kaluna terdiam. “Ayah .…” Suaranya nyaris tak terdengar. “Itu jabatan tinggi dan aku juga belum mendengar penjelasan apapun dari Brian. Aku… aku….” Kaluna menangkup wajahnya menggunakan kedua tangan, dia sendiri benci masih berharap kepada Brian tapi apa mau di kata, hati kecilnya masih tertuju kepada pria itu. Kama mengembuskan nafas panjang, tangannya mengusap kepala Kaluna. “Kalau dia masih mencintai kamu, dia akan langsung menjelaskan apa yang terjadi malam itu, dia akan meminta maaf, memohon sekalipun itu bohong … tapi apa yang dia lakukan? Dia tidak melakukan apapun … dia menghindar … dia pengecut … dia enggak peduli perasaan kamu, sudah jelas kalau dia enggak mencintai kamu lagi.” Kaluna hanya bisa menangis tersedu. “Ayah yakin kamu mampu menjadi CEO.” Kaluna mengusap air mata di pipinya. “Tapi aku enggak punya pengalaman.” Penolakan secara halus, berharap sang ayah berubah pikiran. “Kamu punya otak. Kamu punya darah Gunadhya. Dan kamu punya Ayah.” Kama menatapnya lurus. “Ayah akan berikan sekretaris terbaik untuk mendampingimu.” Nama Satria sudah terlintas jelas di benaknya. Tenang. Disiplin. Tidak emosional. Cerdas. Sangat mengerti bisnis. Seseorang yang bisa menjadi penyeimbang. Kaluna mengusap sisa air matanya lagi. “Kenapa Ayah percaya sama aku?” Kama tersenyum tipis. “Karena kamu anak Ayah.” Kalimat sederhana itu membuat dada Kaluna menghangat. Perlahan, rasa percaya dirinya kembali tumbuh. Dan di sudut terdalam hatinya, muncul satu pikiran kecil—bayangkan jika suatu hari Brian melihatnya. Bukan sebagai perempuan yang menangisi pengkhianatan. Tapi sebagai CEO. Kaluna menarik napas panjang. “Baik lah, Yah.” Kama menatapnya memastikan. “Aku akan coba,” kata Kaluna lagi. “Bukan coba,” koreksi Kama lembut. “Kamu akan berhasil.” Kaluna mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak malam pengkhianatan itu, matanya tidak lagi kosong. Masih sakit. Tapi memiliki arah.Seminggu setelah percakapan di ruang kerja itu, sebuah mobil hitam perlahan memasuki gerbang perkebunan teh yang selama bertahun-tahun dikenal warga sebagai milik keluarga Deni.Hamparan daun teh yang hijau mengilap membentang sejauh mata memandang, mengikuti lekuk bukit yang bergelombang. Para pemetik teh sudah mulai bekerja sejak matahari belum benar-benar tinggi. Keranjang rotan tergantung di punggung mereka, sementara jemari-jemari terampil memetik pucuk-pucuk muda yang nantinya akan menjadi teh berkualitas premium.Hari itu suasana terasa sedikit berbeda.Bukan karena panen.Melainkan karena sejak pagi seluruh mandor diminta berkumpul di halaman kantor lama.Mereka diberi tahu akan ada “pemilik” yang datang.***Mobil berhenti tepat di depan bangunan administrasi.Seorang sopir bergegas turun membukakan pintu belakang.Sepasang heels berwarna nude menyentuh tanah lebih dulu.Disusul sosok perempuan yang selama ini hanya dikenal
Siang itu, matahari Lembang bersinar sedikit lebih hangat.Kabut yang sejak pagi menyelimuti perbukitan perlahan menghilang, digantikan langit biru yang begitu jernih.Di halaman rumah, Arutala dan Arunika baru saja selesai bermain gelembung sabun bersama kedua nanny.Suara tawa mereka sesekali terdengar sampai ke dalam rumah.Kaluna yang sedang berada di dapur menoleh ke arah jam dinding.Pukul dua belas lewat lima menit.Sudah hampir waktunya Satria pulang.Sejak memiliki rumah yang tidak terlalu jauh dari kantor, Satria memang hampir selalu menyempatkan pulang untuk makan siang.Katanya, makanan rumah tidak pernah bisa dikalahkan restoran mana pun.Kaluna tersenyum sendiri mengingat ucapan suaminya.Tangannya kembali sibuk menyusun hidangan di atas meja makan.Hari ini tidak ada menu mewah.Hanya makanan kesukaan Satria.Nasi hangat.Sayur asem.Ayam goreng lengkuas.Tempe mendoan.Sambal dadak.Dan ikan nila goreng yang baru diangkat beberapa menit lalu.Kaluna
Waktu tidak pernah benar-benar berhenti.Ia terus berjalan, membawa manusia bertumbuh bersama segala cerita yang mereka miliki.Begitu pula dengan kehidupan Satria.Laki-laki yang dahulu hanya seorang mahasiswa sederhana dari desa, pernah ditolak, diremehkan, bahkan dijadikan bahan tertawaan karena dianggap tidak memiliki masa depan—kini justru menjadi salah satu pengusaha muda yang namanya mulai diperhitungkan di industri agribisnis Indonesia.Namun anehnya, ada satu hal yang tidak pernah berubah.Setiap pagi, sebelum memasuki ruang rapat ataupun menandatangani kontrak bernilai miliaran rupiah, Satria selalu memulai harinya dengan berjalan menyusuri gudang dan menyapa para petani.Seolah-olah dia takut melupakan dari mana semuanya bermula.Karena bagi Satria, awal mula kesuksesannya bukan dari jabatan sebagai sekretaris dari AG Group namun sebagai petani.***Kabut Lembang pagi itu turun sedikit lebih tebal dibanding biasanya.Udara masih terasa dingin ketika sebuah mobil d
Pesta yang sejak pagi dipenuhi suara tawa perlahan kehilangan riuhnya. Anak-anak mulai kelelahan. Beberapa tertidur di stroller. Sebagian lagi masih bertahan bermain gelembung sabun sambil menggenggam balon hadiah. Para tamu satu per satu berpamitan. Jangan tanya apakah Ivander datang karena Noorin sudah tidak mau terlibat apapun dengan keluarga Satria Suara klakson mobil bergantian terdengar dari halaman depan. Band yang sejak siang memainkan lagu-lagu ceria kini beralih membawakan lagu akustik dengan tempo yang jauh lebih pelan. Matahari mulai turun di balik perbukitan Lembang. Langit berubah jingga. Semburat cahaya sore menyentuh kaca-kaca besar rumah Satria hingga bangunan itu terlihat hangat. Kaluna baru saja mengantar tamu terakhir ketika akhirnya mengembuskan napas panjang. “Akhirnya beres juga pestanya ….” Satria yang sedang menggendo
Hari itu datang lebih cepat daripada yang pernah Satria bayangkan.Genap satu tahun sejak dua tangisan kecil memenuhi ruang operasi dan mengubah seluruh hidupnya.Satu tahun sejak Arutala dan Arunika hadir membawa kebahagiaan yang bahkan tidak pernah berani dia impikan.***Matahari bahkan belum benar-benar terbit ketika halaman rumah sudah dipenuhi aktivitas.Beberapa truk vendor memasuki gerbang secara bergantian.Petugas dekorasi mondar-mandir membawa rangka besi, rangkaian balon, papan kayu hingga pot-pot bunga.Kaluna berdiri di balkon kamar utama sambil memeluk secangkir cokelat hangat.Di sampingnya, Satria baru selesai mengenakan jam tangan.Tatapan mereka sama-sama tertuju ke halaman depan.“Ramai banget ya,” gumam Kaluna.Satria tersenyum kecil.“Kamu sendiri yang bilang ulang tahun pertama cuma sekali.”Kaluna mengangguk pelan. “Iya sih .…”Dia menoleh ke arah suaminya.“Aku ingin nanti kalau Tala
Pagi itu, matahari bahkan belum sepenuhnya muncul ketika rumah kembali hidup.Bukan karena alarm.Bukan pula karena suara telepon Satria dengan pihak Alterio Corp.Melainkan karena suara seseorang yang sedang mengoceh dari balik baby monitor.“Babababa…”Disusul suara lain yang tidak mau kalah.“Aaaa… daaa…”Kaluna yang masih memejamkan mata menarik selimut sampai ke dagu. “Sayaaang ….” Suara itu lirih. “Bentar lagi….”Satria yang sebenarnya yang sudah bangun sedari tadi hanya tersenyum kecil.Dia melirik jam digital di atas nakas.Pukul 05.12.Adzan Subuh baru saja selesai beberapa menit lalu.“Bangun yuk?” ajaknya pelan.Kaluna menggeleng tanpa membuka mata. “Enggak ah, masih ngantuk ….”Satria terkekeh.“Mereka udah manggilin kita?” Satria mengendik ke baby monitor.“Minta tolong Nanny saja ….” Kaluna malah memeluk Satria erat.Satria tertawa pelan, membalas pelukan itu.“Kasian mereka laper,” kata Satria.“Masih ada ASI cadangan di frezer … Nanny pasti sudah kas
Siang sudah berganti malam ketika mobil Satria yang dikendarai Kaluna akhirnya memasuki kawasan elite Pondok Indah.Lampu-lampu taman di sepanjang jalan menyala hangat.Deretan mansion megah berdiri angkuh.Semuanya masih sama.Tidak ada yang berubah.Rumput-rumput dipangkas sempurna.Air man
Kama tidak langsung kembali ke kamar utama setelah keluar dari kamar Kaluna.Ia berdiri beberapa detik di lorong lantai dua mansion itu, menatap pintu kamar putrinya yang kini tertutup.Rahangnya kembali mengeras.Sepuluh tahun.Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk seorang perempuan da
Satria tidak pernah bertanya dua kali.Setelah panggilan itu terputus, ia sudah bergerak.Kaos polos diganti dengan setelan perjalanan berwarna charcoal. Paspor, dokumen penerbangan, dan tablet kerja masuk ke dalam tas kulit hitamnya. Dalam waktu tiga puluh menit, ia sudah berada di dalam mobil m
Langit Jakarta sudah gelap ketika Satria memarkir mobilnya di basement sebuah apartemen kelas menengah yang terletak tidak terlalu jauh dari pusat bisnis.Tidak mewah.Tidak buruk.Bersih dan tenang.Ia keluar dari mobil dengan langkah tegap. Jas hitamnya masih rapi meski seharian mendampingi m







