بيت / Romansa / Menantang Kasta / Memiliki Arah

مشاركة

Memiliki Arah

مؤلف: Erna Azura
last update تاريخ النشر: 2026-02-27 20:10:06

Jet privat milik AG Group mendarat mulus di terminal eksklusif.

“Nona … sudah sampai.”

Entah sudah panggilan yang keberapa kali hingga akhirnya Kaluna terbangun.

Setelah dua malam tidak bisa benar-benar terlelap, perjalanan NewYork-Jakarta justru mampu membuatnya deep sleep.

Kaluna menegakan punggung, merapihkan pakaiannya.

Dia hancur di dalam tapi penampilan nomor satu, harus tetap rapih dan elegan.

Dia bangkit dari kursi kemudian berjalan menyusuri lorong.

Langit Jakarta menyambut mereka dengan cahaya keemasan pagi yang hangat.

Pintu kabin terbuka, udara tropis yang lembap langsung menyentuh kulit Kaluna. Berbeda jauh dari dinginnya New York, udara ini terasa… seperti pelukan lama yang tak pernah berubah.

Satria turun lebih dulu, memastikan tangga terpasang sempurna sebelum berbalik.

“Nona,” ucapnya singkat.

Kaluna berdiri perlahan. Wajahnya sudah dirias tipis. Mata sembabnya tersamarkan, tapi tidak sepenuhnya hilang.

Mobil hitam panjang sudah menunggu di apron privat.

Satria membukakan pintu lalu duduk di samping kemudi.

Sepanjang perjalanan yang tidak terlalu jauh itu, Kaluna kembali melamun setelah memeriksa ponselnya yang masih belum ada kabar dari Brian.

Di depan mansion keluarga Gunadhya, Kama dan Arshavina tampak berdiri menunggu.

Arshavina lebih dulu melangkah maju.

“Luna .…” Suaranya lembut.

Kaluna memeluk bundanya erat. Terlalu erat untuk sekadar pelukan biasa. Arshavina merasakan ada yang berbeda, tapi ia menahan diri.

Kama menunggu dengan berdiri tegak di samping istrinya, lalu menarik Kaluna ke dalam pelukannya. Pelukan seorang ayah yang tidak banyak bicara, tapi kokoh melindungi.

“Capek sayang?” tanyanya pelan.

Kaluna menggeleng kecil.

“Enggak, Yah.”

Tapi matanya berkata lain.

Satria berdiri beberapa langkah di belakang, menjaga jarak, profesional seperti biasa.

“Terimakasih Satria … kamu bisa istirahat hari ini.” Kama memberi ijin cuti.

“Saya akan langsung ke kantor Pak ….”

“Baiklah ….” Kama mengangguk samar.

“Ayo masuk sayang ….” Arshavina menuntun Kaluna ke dalam rumah.

“Tidur nyenyak di pesawat?” Arshavina bertanya. Bukan basa-basi tapi bentuk perhatian.

Kaluna menjawab dengan anggukan kepala.

“Kamu istirahat dulu ya sayang,” kata Kama memberi ruang dan waktu.

Kaluna mengangguk lagi kemudian tanpa kata melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.

“Bunda ngerasa ada yang enggak beres ….” Arshavina berbisik sembari menatap punggung Kaluna yang menjauh.

“Enggak mungkin hanya karena lama balas chat, Kaluna sampai kabur ke Indonesia dengan mata bengkak.” Kama sependapat.

“Kita kasih dia waktu ….”

Kama mengangguk setuju.

“Ayah ke kantor ya … Bunda, jagain Kaluna di rumah.”

Arshavina menganggukan kepala. “Bunda batalin arisan sama ibu Gubernur.”

***

Seharian ini, Arshavina bolak-balik di depan pintu kamar Kaluna.

Dia tidak berani mengetuk, tidak berani mengganggu.

Sampai akhirnya …

Ceklek …

Sosok Kaluna muncul dari balik pintu.

“Bunda?”

Arshavina menegang, nafasnya tertahan.

“Sayang … udah bangun?”

Kaluna menganggukan kepala.

“Aku lapar ….”

Arshavina tersenyum kemudian mendorong tubuh sang putri masuk lagi ke dalam kamar.

“Bunda suruh asisten rumah tangga anterin makan siang kamu ke sini ya … Kamu istirahat aja.”

Kaluna hanya mengangguk kemudian berbaring lagi setelah sang bunda pergi.

***

Makan malam digelar sederhana tapi elegan di ruang makan utama. Meja panjang kayu solid dengan lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya hangat.

Kaluna duduk di antara ayah dan bundanya.

Ia makan perlahan.

Tidak banyak bicara.

Kama sesekali mengangkat pandangan, menatap Arshavina.

Arshavina membalas dengan tatapan yang sama.

Pertanyaan yang sama menggantung di udara.

Kenapa?

Kenapa anak mereka tiba-tiba pulang?

Kenapa matanya sembab?

Kenapa senyumnya tidak sampai ke mata?

Tapi tak satu pun berani bertanya di meja makan.

Mereka tahu.

Kaluna sedang rapuh.

Dan kadang, pertanyaan bisa terasa seperti serangan.

Makan malam selesai dalam sunyi yang sopan.

Kaluna pamit lebih dulu.

“Aku istirahat dulu ya, Yah. Bun.”

Arshavina mengangguk lembut. “Istirahat yang cukup ya sayang.”

***

Di kamar utama, Arshavina tidak bisa lagi menahan diri.

“Ayah enggak mau tanya langsung ke Luna?” desaknya pelan pada Kama.

Kama sedang melepas jam tangannya.

“Ayah lihat matanya,” lanjut Arshavina. “Itu bukan mata orang kurang tidur.”

Kama terdiam beberapa detik.

“Ayah tahu.”

“Lalu?”

“Ya udah Ayah bicara sama dia sekarang.”

Arshavina mengangguk, meski hatinya gelisah.

Kama pergi menuju kamar Kaluna. Ia mengetuk pelan.

“Masuk,” suara Kaluna terdengar lemah.

Kama membuka pintu perlahan.

Kamar itu masih sama seperti dulu. Rapi. Elegan. Mewah. Tapi putrinya yang duduk di tepi ranjang terlihat kecil.

Kama duduk di sampingnya.

Hening beberapa detik.

“Matamu kenapa?” tanyanya basa-basi.

Sederhana. Tidak menekan.

Dan pertahanan Kaluna runtuh.

Air mata yang sedari tadi pagi ia tahan akhirnya jatuh.

“Ayah .…” Suaranya pecah.

Kama langsung menariknya ke dalam pelukan.

Kaluna menangis di dada ayahnya seperti anak kecil.

Tidak ada kalimat penghakiman.

Tidak ada nada marah.

Hanya tangan besar yang mengusap punggungnya pelan.

“Ayah di sini.”

Dan Kaluna pun bercerita.

Tentang Brian.

Tentang Amanda.

Tentang malam itu.

Tentang keheningan setelahnya.

Tentang sepuluh tahun yang terasa sia-sia.

Kama mendengarkan.

Tidak memotong, tak mau menyela.

Rahangnya mengeras, tapi ia menahannya.

Ia kecewa.

Marah.

Sakit hati.

Tapi bukan pada Kaluna.

“Kamu salah memilih?” tanyanya pelan setelah cerita itu selesai.

Kaluna menggeleng di dalam pelukan.

“Aku cuma terlalu percaya.”

Kama menghela napas panjang.

“Enggak apa-apa, hidup memang enggak selalu berjalan seperti apa yang kita mau.”

Tangannya kembali mengusap rambut Kaluna.

Padahal ingin sekali Kama datang ke NewYork sekarang juga, menemui Brian dan memukulinya tepat di wajah.

“Semua orang bisa salah memilih. Tapi tidak semua orang berani pergi,” sambung Kama.

Kaluna terdiam.

Hening kembali menyelimuti mereka.

Lalu dengan suara tenang, Kama berkata,

“Perusahaan kita di bawah AG Group ada satu anak perusahaan yang CEO-nya baru saja pensiun.”

Kaluna mengangkat wajahnya.

“Ayah ingin kamu menggantikannya, jangan kembali ke NewYork… selesaikan S3 kamu dari sini… Kamu boleh datang ke sana hanya untuk mengurus administrasi kampus.”

Kaluna terdiam.

“Ayah .…” Suaranya nyaris tak terdengar. “Itu jabatan tinggi dan aku juga belum mendengar penjelasan apapun dari Brian. Aku… aku….”

Kaluna menangkup wajahnya menggunakan kedua tangan, dia sendiri benci masih berharap kepada Brian tapi apa mau di kata, hati kecilnya masih tertuju kepada pria itu.

Kama mengembuskan nafas panjang, tangannya mengusap kepala Kaluna.

“Kalau dia masih mencintai kamu, dia akan langsung menjelaskan apa yang terjadi malam itu, dia akan meminta maaf, memohon sekalipun itu bohong … tapi apa yang dia lakukan? Dia tidak melakukan apapun … dia menghindar … dia pengecut … dia enggak peduli perasaan kamu, sudah jelas kalau dia enggak mencintai kamu lagi.”

Kaluna hanya bisa menangis tersedu.

“Ayah yakin kamu mampu menjadi CEO.”

Kaluna mengusap air mata di pipinya.

“Tapi aku enggak punya pengalaman.”

Penolakan secara halus, berharap sang ayah berubah pikiran.

“Kamu punya otak. Kamu punya darah Gunadhya. Dan kamu punya Ayah.”

Kama menatapnya lurus.

“Ayah akan berikan sekretaris terbaik untuk mendampingimu.”

Nama Satria sudah terlintas jelas di benaknya.

Tenang. Disiplin. Tidak emosional. Cerdas. Sangat mengerti bisnis.

Seseorang yang bisa menjadi penyeimbang.

Kaluna mengusap sisa air matanya lagi.

“Kenapa Ayah percaya sama aku?”

Kama tersenyum tipis.

“Karena kamu anak Ayah.”

Kalimat sederhana itu membuat dada Kaluna menghangat.

Perlahan, rasa percaya dirinya kembali tumbuh.

Dan di sudut terdalam hatinya, muncul satu pikiran kecil—bayangkan jika suatu hari Brian melihatnya.

Bukan sebagai perempuan yang menangisi pengkhianatan.

Tapi sebagai CEO.

Kaluna menarik napas panjang.

“Baik lah, Yah.”

Kama menatapnya memastikan.

“Aku akan coba,” kata Kaluna lagi.

“Bukan coba,” koreksi Kama lembut. “Kamu akan berhasil.”

Kaluna mengangguk.

Untuk pertama kalinya sejak malam pengkhianatan itu, matanya tidak lagi kosong.

Masih sakit. Tapi memiliki arah.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
تعليقات (1)
goodnovel comment avatar
rianur378
Ok Kaluna,,, begitu seharusnya kamu,,, papa Kama keren banget,,, Great Job ... pa
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Menantang Kasta   Acara Malam

    Jika acara pagi dipenuhi doa.Dan acara siang dipenuhi rasa terima kasih.Maka acara malam dipenuhi oleh satu hal yang sangat sederhana.Keluarga.***Menjelang magrib, rumah kembali berubah wajah.EO yang sejak pagi belum sempat duduk mulai bergerak lagi.Dekor siang yang natural diganti sedikit lebih elegan.Lampu taman dinyalakan.Floating candle di kolam ikan kembali menyala.Pantulan cahaya bergerak pelan di permukaan air.Area makan luas yang tadi dipenuhi tetangga dan petani—diganti menjadi konsep dinner keluarga.Meja kayu dipertahankan.Tapi ditambah table runner warna champagne.Lilin LED.Vas kaca tinggi berisi bunga putih.Lampu gantung rotan bercampur fairy light membuat seluruh taman terasa hangat.Bukan pesta keluarga konglomerat yang dingin.Lebih seperti jamuan di halaman rumah orang yang sedang sangat bahagia.Band yang tadi akustik kini berganti format.Tetap sederh

  • Menantang Kasta   Acara Siang

    Jika acara pagi dipenuhi doa dan suasana yang membuat hati hangat—maka acara siang adalah tentang akar.Tentang dari mana seseorang berasal.Dan bagaimana seseorang memilih untuk tidak melupakan tempat dia tumbuh.***Begitu pengajian selesai, rumah tidak langsung sepi.Tim EO bergerak cepat seperti pasukan terlatih.Karpet pengajian digulung.Area duduk lesehan dipindahkan.Beberapa dekor bunga dipertahankan.Kursi kayu ditambah.Meja panjang dibuka.Tenda transparan di taman mulai dipakai.Lampu gantung rotan yang tadi hanya dekor—siang itu mulai terasa fungsinya.Band akustik yang sejak pagi standby mulai melakukan sound check.Bukan band besar.Bukan penyanyi ibu kota.Hanya empat orang.Penyanyi perempuan.Keyboard.Gitar.Cajon.Dan lagu-lagu yang dipilih juga aneh.Bukan lagu pesta.Tapi lagu-lagu yang terasa seperti pulang.Sampai beberapa lagu lawas Sunda yang diaransemen modern.Kaluna pergi ke balkon lantai dua hanya untuk memperhatikan semuanya ber

  • Menantang Kasta   Pestanya Satria Dan Kaluna

    Hari di mana pesta besar yang telah dipersiapkan oleh seluruh jiwa dan raga sang ibu hajat—akhirnya tiba.Pagi itu rumah baru Satria dan Kaluna bangun lebih dulu dibanding matahari.Kabut Lembang masih menggantung tipis di atas hamparan sawah ketika lampu-lampu taman yang menyala lembut telah dimatikan.Kali ini tidak ada suara bor maupun suara tukang.Hari ini rumah impian Satria dan Kaluna akan resmi diperkenalkan kepada dunia.***Sejak kemarin, halaman depan telah berubah.Kaluna yang beberapa hari lalu hampir kehilangan kewarasan karena persiapan—hari ini hanya bisa berdiri terpekur sambil menatap semuanya selesai.Tema HOME — Where Love Begins benar-benar terasa.Tidak berlebihan. Tidak seperti pesta keluarga konglomerat yang dingin dan terlalu mewah.Melainkan pesta yang akan terasa hangat dan ‘sederhana’ versi Konglomerat.Pintu masuk sedang dihiasi rangkaian bunga putih, krem, dan hijau sage. Bunga lokal seperti sedap malam, mawar putih, baby breath dan daun eucaly

  • Menantang Kasta   Untung Ada Bunda

    Pagi berikutnya, Kaluna bangun dengan mata sedikit sembab.Meski semalam mereka sudah baikan, tubuhnya tetap terasa lelah.Bukan cuma fisik.Tapi pikiran.Beruntung si kembar tidak bangun.Ternyata membuat pesta untuk tiga kelompok tamu berbeda bukan perkara mudah.Dia membuka ponsel.Ada dua puluh tujuh chat dari EO.Kaluna menutupnya lagi.Tidak sanggup.Sementara di sampingnya, Satria sudah tidak ada.Kaluna turun dari atas ranjang kemudian berjalan menuju pintu.Dari lorong sudah terdengar suara ramai dari kamar si kembar.Kaluna bergerak ke sana. Di dalam kamar si kembar, Satria sedang memangku Arutala sambil sesekali mengangkat badan kecil itu ke udara.Arunika ada di baby bouncer.Begitu menyadari sosok Kaluna—Satria mengangkat pandangannya.Senyum Satria terbit begitu cerah secerah mentari pagi. “Pagi.”Kaluna bersandar di bingkai pintu sebelum akhirnya menyahut, “Pagi.”Kaluna me

  • Menantang Kasta   Pertengkaran Kecil

    Sejak hari itu—rumah baru resmi menjadi milik mereka.Dan entah kenapa setelah rumah selesai, hidup tidak otomatis jadi lebih santai.Justru sebaliknya.Karena sekarang Kaluna punya proyek baru.Baby shower sekaligus selamatan rumah.Awalnya ide itu terdengar sederhana.Undang keluarga dan tetangga sekitar.Makan bersama.Doa.Selesai.Tapi yang memegang ide adalah Kaluna.Dan Kaluna tidak pernah tahu arti kata sederhana.***Tiga hari terakhir rumah itu berubah seperti kantor proyek.Di meja makan terbuka beberapa katalog dekorasi.Laptop menyala.Sampel kain.Moodboard.Daftar tamu.Layout meja.Pilihan bunga.Vendor dessert.Pilihan photobooth.Kaluna bahkan menyewa EO dari Jakarta.Karena menurutnya—kalau sudah sekali buat, sekalian buat pesta yang keren.Dia ingin pesta yang hangat.Modern.Elegan.Bukan pesta yang terasa seperti acara perusahaan.Tema yang dia pilih adalah HOME — Where Love Begins.Dominasi warna putih, cream, sage green dan sedikit

  • Menantang Kasta   Rumah Baru

    Tiga bulan kemudian, rumah impian Satria dan Kaluna akhirnya selesai dibangun.Bukan selesai sebagai bangunan yang baru berdiri lalu buru-buru ditempati.Tapi benar-benar selesai sempurna, meski finishingnya memakan banyak waktu karena om Kaivan harus menunggu hujan deras demi membuktikan tidak ada yang bocor, saluran air bekerja dengan baik, saluran pembuangan pun tidak ada yang tersumbat oleh material bangunan.Dan pagi itu ketika kabut masih menggantung tipis di antara sawah dan pegunungan, mobil Satria masuk ke halaman rumah baru mereka.Kaluna duduk di kursi penumpang depan.Di belakang—dua nanny duduk menemani si kembar yang sekarang lebih besar tubuhnya dibanding tiga bulan lalu.Arutala sudah mulai sering menatap orang.Arunika suka mengoceh sendiri.Dan yang paling berubah—mereka sudah tidak serapuh dulu.Sampai Kaluna kadang bingung bagaimana mungkin bayi bisa tumbuh secepat itu.Satria memarkirkan mobilnya di garasi.Dia turun duluan lantas membuka pintu untuk Ka

  • Menantang Kasta   Belum Mau Keluar

    Pagi datang dengan tenang.Sinar matahari masuk dari sela tirai ruang rawat.Kaluna masih berbaring dengan rambut sedikit berantakan sementara Satria duduk di sofa kecil sambil memangku laptop tapi sejak lima belas menit lalu tidak ada satu pekerjaan pun yang benar-benar masuk ke kepalanya.Tata

  • Menantang Kasta   Kontraksi Palsu

    Meski bukan pagi lagi dan Satria juga bapak sudah berangkat ke tempat mereka mencari nafkah, tapi dari dapur rumah—masih tercium aroma bawang putih yang ditumis.Kaluna sedang memasak makan siang untuk suami tercinta. Dia berdiri atau lebih tepatnya setengah berdiri setengah bersandar.Perut de

  • Menantang Kasta   Membela Sang Kakak

    Sementara kehidupan di desa berjalan hangat dan tenang—ratusan kilometer dari sana—di tengah gedung kaca menjulang yang menjadi salah satu pusat operasional AG Group—seorang pria sedang membuat seseorang menyesali mulutnya sendiri.Ruang rapat lantai tiga puluh tampak penuh.Layar besar menam

  • Menantang Kasta   Baik-Baik Saja

    Pagi itu udara desa terasa lebih dingin dari biasanya.Langit bersih dengan semburat putih tipis yang menggantung di atas pegunungan.Kaluna berdiri di teras sambil memegang segelas susu hangat. Rambutnya digelung asal dan wajahnya masih menyimpan bekas rasa enggan lantaran hari ini bun

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status