Share

Selalu Ada

Author: Erna Azura
last update publish date: 2026-06-03 21:21:11

Ratu mengembuskan napas panjang begitu pintu apartemennya tertutup.

Hari itu benar-benar melelahkan.

Sejak pagi dia mondar-mandir membantu tim proyek di kantor konsultan arsitek milik Om Kaivan, tempatnya magang.

Mengecek gambar kerja. Membantu revisi desain. Mengikuti meeting dengan klien.

Sampai kepalanya terasa penuh oleh angka, ukuran struktur, dan gambar bangunan.

Namun anehnya—Ratu justru menyukai semua itu.

Semakin lama berada di dunia tersebut, semakin dia yakin kalau teknik sipil
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Ivana Oktaviana
masaaa udh ada kah cerita zyandru? judulnya yg mna kak?
goodnovel comment avatar
Ami tsamarat
gak kyx nya ratu... karna di cerita sebelah zyandru nya nikah sama anak lawan bisnis ayah nya...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menantang Kasta   Menemukan Kebahagiaannya Kembali

    Pagi itu Ratu bangun jauh lebih awal dari siapa pun.Jantungnya berdebar kencang bahkan sejak membuka mata.Hari yang selama ini dia tunggu akhirnya tiba.Hari wisuda.Hari ketika seluruh perjuangan begadang, revisi, laporan, penelitian, presentasi, dan sidang skripsi akhirnya mencapai garis akhir.Di depan cermin hotel, Ratu menatap pantulannya sendiri.Kebaya pemberian Zyandru membalut tubuhnya dengan sempurna.Bahkan setelah dipakai, kebaya itu terlihat jauh lebih indah dari yang dia bayangkan.Untuk sesaat, ingatannya melayang pada sosok pria yang mengirimkannya.Namun buru-buru Ratu mengusir pikiran itu.Hari ini bukan tentang Zyandru.Hari ini tentang bapak, ibu dan Satria.Tentang semua pengorbanan mereka.“Ya Tuhan ….” Ibu menjadi orang pertama yang tertegun saat Ratu keluar dari kamar. Mata beliau tampak berkaca-kaca. “Cantik sekali.”Ratu tersenyum malu. “Lebay ah Bu.”“Enggak.” Ibu menggeleng cepat

  • Menantang Kasta   Membuat Ayah Kama Bangga

    Bandung malam itu jauh lebih ramai dibanding biasanya.Akhir pekan membuat jalanan di sekitar kampus dipenuhi kendaraan.Namun hal itu sama sekali tidak mengurangi suasana bahagia keluarga kecil bapak Sutisna karena besok adalah hari yang sangat penting.Hari wisuda Ratu.Setelah bertahun-tahun kuliah, perjuangan panjang si bungsu akhirnya mencapai garis akhir.Dan malam itu mereka memilih menginap di hotel yang tidak terlalu jauh dari kampus.Satria sengaja memesan family room yang cukup besar.Terdiri dari dua kamar tidur.Satu kamar untuk bapak dan ibu.Satu kamar lagi untuk dirinya bersama Kaluna.Sementara Ratu mendapat tempat tidur tambahan di ruang televisi.Setelah makan malam bersama, mereka akhirnya berkumpul santai di ruang keluarga yang luas di dalam kamar hotel.Ibu baru saja menyeduh teh hangat.Bapak duduk santai sambil menonton berita.Sementara Kaluna berselonjor di sofa karena pinggangnya kembali pegal.Satria duduk di sampingnya memijat kaki Kaluna sa

  • Menantang Kasta   Selalu Ada

    Ratu mengembuskan napas panjang begitu pintu apartemennya tertutup.Hari itu benar-benar melelahkan.Sejak pagi dia mondar-mandir membantu tim proyek di kantor konsultan arsitek milik Om Kaivan, tempatnya magang.Mengecek gambar kerja. Membantu revisi desain. Mengikuti meeting dengan klien.Sampai kepalanya terasa penuh oleh angka, ukuran struktur, dan gambar bangunan.Namun anehnya—Ratu justru menyukai semua itu.Semakin lama berada di dunia tersebut, semakin dia yakin kalau teknik sipil memang bukan sekadar jurusan kuliah yang dia pilih secara kebetulan.Ini adalah sesuatu yang benar-benar dia sukai.Ratu meletakkan tas kerjanya di atas sofa.Lalu meregangkan kedua tangan sambil mengeluh pelan.“Ya Tuhaaan capek banget tapi aku bahagia, terimakasih ….”Dia tersenyum dengan mata nyaris terpejam ketika hendak berjalan menuju dapur.Namun langkahnya tiba-tiba terhenti.“Hah apa itu?”Di dekat pintu masuk terdapat sebuah kotak besar berwarna krem dengan pita emas yang teri

  • Menantang Kasta   Rumah Impian

    Kaluna membuka mata saat langit di luar jendela masih sedikit gelap.Udara pagi Lembang menusuk dingin.Beberapa detik wanita itu hanya diam sambil menatap langit-langit kamar.Lalu perlahan—matanya membesar.“Oh iya!” Teringat sesuatu.Kaluna menengakan punggungnya buru-buru sampai selimutnya berantakan.Satria yang masih tertidur di sebelahnya hanya bergerak mengubah posisi dengan mata masih terpejam.Kaluna spontan menoleh, tatapannya berubah lembut.Tadi malam dia ketiduran saat menunggu Satria pulang dari Ciwidey, bahkan dia sama sekali tidak sadar kapan pria itu masuk kamar dan tidur di sebelahnya.Kaluna tersenyum kecil lalu mengusap rambut Satria pelan.“Kasian ayah baby…,” gumamnya lirih.Namun detik berikutnya semangatnya kembali naik.Dia bergegas mengambil laptop miliknya di meja kerja lalu kembali duduk di atas ranjang.Klik.Laptop menyala.Kaluna membuka email berisi design rumah impiannya yang

  • Menantang Kasta   Tanah Untuk Rumah

    Untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu sibuk—Satria bahkan bangun sedikit lebih siang.Udara Lembang pagi itu dingin sekali.Kabut masih menggantung tipis di balik jendela kamar.Kaluna sudah bangun sejak tadi tapi dia memilih tidak bergerak, diam dalam pelukan hangat sang suami tercinta sambil menatap wajah tampannya.Kemudian tersenyum begitu melihat Satria membuka mata.“Pagi sayang.” Kaluna berbisik.Satria mengerjap pelan lalu otomatis mengeratkan pelukan di pinggang istrinya.“Hm… pagi.”Kaluna terkekeh kecil saat wajah pria itu melesak di lehernya.“Masih ngantuk?”“Banget,” gumam Satria pelan.Kaluna mengusap rambut suaminya lembut.Hari itu mereka memang sudah berjanji akan mencari tanah untuk rumah impian mereka.Bahkan semalam Kaluna sampai susah tidur karena terlalu bersemangat.“Sayang…” Kaluna memainkan ujung rambut Satria pelan.“Nanti kalau rumahnya jadi, aku mau dapur yang jendelanya langsung ngadep kebun.”Satria tersenyum kecil tanpa membuka m

  • Menantang Kasta   Kabar Baik Lainnya

    “Mr. Satria…”Salah satu pria asing di layar tersenyum kecil sambil membuka file laporan di depannya.“We’ve reviewed the inspection report from our Asia representatives.”Satria yang duduk di depan laptop langsung fokus dengan menegakan punggung.Malam itu udara Lembang kembali terasa dingin.Jam menunjukkan pukul delapan malam waktu Indonesia.Sementara di New York—matahari bahkan belum terlalu tinggi.Seperti biasa, Kaluna selalu ikut menemani dengan duduk bersandar di kepala ranjang sambil memeluk bantal kecil.Matanya tidak lepas memperhatikan Satria sejak tadi.Slide laporan mulai muncul di layar. Foto workshop paman Elan. Area oven kayu. Sistem finishing. Gudang material. Sampai alur produksi yang tempo hari ditinjau langsung oleh tim Alterio Corp regional Asia.Dan semakin lama laporan itu dibuka—raut wajah Satria perlahan berubah lebih tenang karena dia tahu hasilnya bagus.“Production flow is good.”“Material quality meets resort standards.”“Finishing section i

  • Menantang Kasta   Akan Selalu Dekat

    Mobil berhenti di depan lobi gedung utama AG Group.Satria turun lebih dulu seperti biasa. Ia memutari mobil dan membuka pintu untuk Kaluna.“Nona.”Kaluna turun dengan gerakan anggun, seolah hari itu hanyalah hari kerja biasa.Tidak ada yang akan menyangka bahwa beberapa jam

  • Menantang Kasta   Tak Ingin Melepaskan

    “Nona, hari ini jadwal kita akan mengunjungi proyek—“ Brifing singkat Satria terjeda.“Sekarang aja, langsung … biar enggak bolak balik,” potong Kaluna.“Baik Nona.” Diam-diam Satria mengirim pesan kepada kepala proyek kalau jadwal kunjungan sang CEO dimajukan.Pagi itu udara di lokasi proyek

  • Menantang Kasta   Tidak Pernah Berubah

    Keesokan paginya gedung anak perusahaan AG Group yang dipimpin Kaluna terlihat jauh lebih hidup dari biasanya.Balon-balon perusahaan dengan warna emas dan biru tergantung di beberapa sudut lobi. Booth bazar berdiri berjajar di area taman belakang gedung. Musik ringan mengalun dari panggung

  • Menantang Kasta   Cemburunya Satria

    Keesokan harinya Andre datang lagi. Kali ini untuk presentasi kolaborasi properti.Ia duduk di ruang meeting bersama Kaluna dan Satria.Andre berbicara dengan percaya diri.“Kita bisa mulai pilot project bulan depan.”Kaluna mengangguk.“Menarik.” Matanya berbinar.Satria membuka dokumen di i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status