Compartir

Bab 2

Autor: Gogo
Aku terbangun oleh suara Ardian yang sedang menelepon.

Dia berada di dapur. Satu tangannya memasak hidangan bernutrisi untuk ibu hamil dengan mengikuti panduan internet, sementara tangan lainnya memegang ponsel untuk bernyanyi demi menidurkan Selly, yang sedang insomnia di seberang telepon.

Benar-benar orang yang sangat sibuk.

Melihat aku datang, Ardian baru menutup teleponnya.

"Air hangat ada di atas meja."

Aku tidak memedulikannya.

Aku duduk di meja makan. Keadaan akhirnya menjadi tenang, dan aku pun mulai memejamkan mata sejenak untuk tidur.

"Bangun, ayo sarapan."

Ardian menata piring-piring makanan dengan rapi.

Tepat saat aku hendak makan bubur, dia mengulurkan tangan dan menepis sendokku.

"Tunggu sebentar, aku mau foto dulu."

Cekrek.

Dia mengetuk-ngetuk layar ponselnya dan mengirimkan foto itu kepada Selly.

Setelah itu, dia memasukkan kembali sendok ke tanganku.

"Makanlah."

Seketika aku kehilangan selera makan. Sembari bersandar pada sandaran kursi, aku bertanya, "Untuk apa ngirim foto padanya?"

"Dia mau lihat," kata Ardian.

"Dia masih muda, jadi penasaran dengan segala hal. Bahkan baju tidur yang kubelikan untukmu pun juga pernah dia tanyakan."

"Lalu kamu memotretnya juga?" tanyaku.

Ardian tertegun sejenak. Mungkin dia menyadari suasana hatiku yang sedang tidak baik, sehingga dia tidak melanjutkan pembicaraan.

"Aku sudah melihatnya. Foto-foto yang diambil saat kamu main ke rumahnya, dia pakai baju tidur yang sama persis denganku."

Baju itu adalah gaun tidur bertali kecil dari bahan renda yang potongannya cukup terbuka.

Dalam foto itu, Selly dengan manja merangkul lengan sang pria. Jika sedikit menunduk, keindahan tubuhnya akan langsung terlihat jelas.

Hal seperti ini tidak hanya terjadi sekali.

Selly seolah-olah selalu ingin mengalahkanku dalam segala hal.

Dia ingin membuat rambutnya bermodel ombak besar yang sama denganku.

Menggunakan warna lipstik yang sama.

Bahkan kipas pernis yang kubuat di tempat wisata saat aku dan Ardian pergi berlibur pun, ingin dia buat tiruan yang persis sama.

Tentu saja itu tidak mungkin.

Jadi, karena gadis itu merajuk, Ardian menukar kipas kami.

Kipas yang bagian bawahnya kuukir sendiri dengan tanggal ulang tahun pernikahan kami pun, akhirnya berpindah ke rumah orang lain.

"Aku nggak suka hal seperti ini," kataku.

"Nggak usah lebay." wajah Ardian tampak tidak acuh. "Jangan pelit begitu."

"Dia memujimu karena desainmu bagus, dia bilang kamu adalah idolanya. Apa salahnya kalau dia mau barang yang sama?"

Aku tidak bisa berkata-kata lagi.

Kupikir aku seharusnya marah, seharusnya mengamuk seperti dulu, dan bertengkar hebat dengannya hingga tidak ada ujungnya.

Namun, hatiku rasanya sudah menjadi seperti genangan air mati.

Biar bagaimanapun angin berembus, tidak akan ada riak yang tercipta sedikit pun.

"Ya, kamu benar." Aku mengangguk.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 12

    Ardian kembali ke Kota Derada, selama satu bulan penuh dia tidak pernah melangkah keluar dari pintu rumah. Setiap hari, dia hanya berdiam diri di dalam rumah, yang pernah ditinggalinya bersama Lidia. Tirai jendela tertutup rapat, dan dia tidur di antara tumpukan botol minuman keras yang menggunung. Begitu terbangun, dia akan langsung minum dan setelah mabuk dia akan kembali tidur. Ardian tidak sanggup menerima akhir yang seperti ini, sehingga hanya bisa menggunakan alkohol untuk mematikan rasa di hatinya. Setidaknya, di dalam mimpi, dia masih memiliki kemungkinan untuk memimpikan Lidia. Masih bisa berharap bahwa Lidia masih mencintainya. Namun lama-kelamaan, Ardian sangat menyadari bahwa Lidia sepertinya sudah terlalu membencinya. Begitu benci hingga bahkan ke dalam mimpinya pun, wanita itu enggan untuk melangkah masuk. Bahkan sebuah harapan semu pun sepertinya tidak sudi datang kepadanya. Ardian benar-benar runtuh sepenuhnya. Dia mengunci dirinya di masa lalu. Setiap hari, se

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 11

    Ardian mengerahkan segala cara yang dia bisa untuk mengambil hatiku. Seseorang yang biasanya selalu tinggi hati dan angkuh, bersedia merendahkan diri hingga ke tahap ini adalah hal yang tidak pernah kuduga. Dia bahkan sampai tinggal di lorong tangga. Hanya demi mengadu keberuntungan, agar bisa berpapasan denganku yang sesekali kembali ke apartemen. Bahkan saat pergi ke hotel untuk menyewa kamar untuk mandi pun, dia harus berlari kencang. Karena sangat takut melewatkan kesempatan bertemu denganku. Akibatnya, dia sudah terjatuh berkali-kali di jalan itu, dan luka di lututnya tidak pernah sembuh. "Nggak perlu." Aku kembali menghindar dari sarapan yang disodorkannya. Ardian sudah sangat kelelahan, hingga untuk berbicara pun sepertinya tidak memiliki tenaga lagi. Tubuhnya tampak menyusut drastis, membuat pakaiannya tergantung longgar di badannya. Pergelangan tangannya yang terekspos ke luar, hanya menyisakan kulit membungkus tulang, dengan pembuluh darah yang terlihat jelas. "Lidi

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 10

    Aku tidak melihat Ardian selama beberapa hari berturut-turut. Tinggal di rumah sakit di negeri orang, tanpa ada yang merawat, pasti tidak mudah. Aku justru berharap dia tahu diri dan mundur. Namun, tidak lama kemudian, Ardian kembali berkeliaran di depan mataku. Mulai dari bawah gedung kantor, di pinggir jalan, hingga akhirnya dia bahkan berhasil menemukan pintu depan rumahku. Sambil mendekap seekor ikan yang masih segar di dadanya, Ardian berkata ingin memasakkanku makanan. Aku baru saja pulang dari jamuan bisnis dan efek alkohol belum hilang sepenuhnya. Karena tidak sempat menghalanginya, dia berhasil memanfaatkan kesempatan untuk menyelinap masuk ke dalam rumahku. Kepalaku terasa pening dan berat, sehingga aku memilih untuk tidak ambil pusing dengannya. Dengan perasaan tanpa beban, aku mulai memberi perintah kepada Ardian. "Buatkan aku sup pereda mabuk." "Siapkan air rendaman kaki, aku mau cuci kaki." Ardian justru tampak sangat senang. Dia menumpu kakiku, lalu mengeringka

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 9

    Pada sebuah pagi yang biasa. Aku pergi ke kantor untuk bekerja seperti biasanya. Begitu baru berjalan sampai di bawah gedung perkantoran, aku langsung melihat Ardian. Dia sedang duduk berjongkok di bawah pohon Ketapang di pinggir jalan. Dia mengenakan sebuah mantel hitam polos, rambutnya berantakan, dagunya ditumbuhi janggut tipis, matanya terpejam, dan bagian bawah matanya hitam pekat. Aku berjalan melewatinya. Saat kakiku menginjak selembar daun kering hingga berderik, Ardian tersentak bangun seketika. Sisa kantuk di matanya belum sepenuhnya sirna. Begitu melihatku, dia langsung bangkit dan berjalan dengan langkah yang terhuyung-huyung. Namun, dia sempat terjatuh beberapa kali, bahkan pakaiannya pun sampai robek terkoyak oleh ranting pohon. "Lidia ...." "Tunggu, tunggu aku ...!" Dia akhirnya tersadar sepenuhnya, lalu melangkah cepat untuk mengejarku dengan suara yang terdengar sangat serak. Aku sama sekali tidak ingin membuang-buang waktu bersamanya. Tepat saat aku hendak

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 8

    Setelah beristirahat selama satu bulan, aku mulai bekerja di perusahaan baru. Gajinya jauh lebih tinggi daripada di kantor pusat. Sebagai seorang perancang busana yang berpengalaman, tugas utamaku adalah bertanggung jawab untuk melatih karyawan baru. Rutinitas harianku adalah mengajar anak baru. Saat memiliki waktu luang, aku menggambar beberapa sketsa desain yang kusukai. Kehidupanku bisa dibilang cukup santai dan damai. Aku perlahan-lahan terbiasa makan sendirian. Pergi ke supermarket sendirian, dan tinggal di rumah sendirian, menikmati waktu senggang yang jarang didapatkan ini. Pekerjaan dan kehidupanku pun terbagi dengan seimbang. Dua tahun berlalu. Ingatan masa lalu menjadi semakin kabur, dan bayangan Ardian pun perlahan-lahan memudar. Aku dipromosikan menjadi manajer umum. Pada hari promosi jabatan, pihak kantor mengadakan pesta perayaan kecil-kecilan. Saat berdiri di atas panggung dan mendengarkan suara tepuk tangan yang bergemuruh di bawah sana. Aku mendongakkan kepala

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 7

    Saat pesawat mendarat, waktu sudah menunjukkan larut malam. Aku menarik koperku dan berjalan keluar dari pintu kedatangan. Kerumunan orang yang menjemput tampak mengangkat berbagai macam papan nama. Ada sepasang kekasih yang berpelukan, ada pula anggota keluarga yang melambaikan tangan sambil tersenyum. Aku berjalan melewati sela-sela mereka, terasa agak kesepian. Orang yang menghubungiku dari kantor mengirimkan pesan kepadaku, mengatakan bahwa tempat tinggalku sudah diatur dan kuncinya ada di pos pengamanan. Aku membalas dengan “Diterima”, lalu berdiri di pinggir jalan untuk menyetop taksi. Pemandangan jalanan mundur dengan sangat cepat. Lampu-lampu neon menyatu menjadi hamparan cahaya yang kabur, segala hal di sekitar terasa asing. Setibanya di rumah, setelah selesai membersihkan diri, aku langsung berbaring di ranjang dan bersiap untuk tidur. Namun, aku terus membalikkan badan ke sana kemari dan tetap tidak bisa memejamkan mata. Benar-benar tidak bisa tidur. Begitu memeja

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status