Share

Bab 3

Author: Gogo
Sebelum berangkat tugas luar negeri, kebetulan perusahaan mengadakan sebuah acara.

Pihak penanggung jawab mengirimkan persyaratan di grup pesan.

Aku meliriknya sekilas dan langsung malas untuk pergi. Namun, sebelum pesan penolakanku dikirim, dia sudah lebih dulu menandai akunku dan mengatakan bahwa ini adalah pesta pelepasan yang disiapkan untukku.

Karena ucapan sudah telanjur disampaikan langsung, aku tidak punya pilihan lain.

Aku pun menelepon Ardian. "Ada acara kantor, persyaratannya harus bawa pasangan. Kalau nggak, kantor akan mengaturnya secara acak. Apa malam ini kamu ada waktu luang?"

Suara di seberang teleponnya sangat bising.

"Aku nggak dengar jelas, tunggu sebentar ...."

Terdengar suara kresek-kresek pakaian.

"Sudah, katakanlah."

"Kamu di mana?" tanyaku.

"Sedang menemani Selly menonton konser," katanya.

Dia terdiam sejenak, lalu menambahkan satu kalimat lagi.

"Dia sudah pengin ini sejak beberapa bulan lalu, bahkan pasang alarm agar bisa berburu tiket dengan susah payah."

"Ternyata temannya mendadak nggak bisa pergi, jadi aku yang menggantikannya."

Aku tersenyum kecil. "Aku cuma tanya asal saja."

"Kamu nggak perlu menjelaskan hal itu padaku."

Napas Ardian terdengar agak memberat.

Aku mengulangi kembali perkataanku yang sebelumnya, tetapi dia tidak menjawab dan langsung mematikan telepon.

Malam harinya, aku berdiri di depan pintu masuk kantor untuk menunggu Ardian.

Satu jam berlalu, tanda-tanda keberadaannya pun tidak ada.

Angin kencang mulai berembus, hujan rintik-rintik menyapu miring hingga membasahi ujung celanaku dan terasa sangat tidak nyaman saat menempel di kulit.

Aku terpaksa kembali ke dalam ruangan terlebih dahulu untuk mengganti pakaian.

Saat aku keluar lagi, Ardian sudah duduk di kursinya.

Namun, dia hadir di sana dengan status sebagai pasangan pria bagi Selly.

"Kak Lidia! Di sini!" Selly melambaikan tangan ke arahku.

Meja itu sudah penuh dengan pasangan masing-masing, hanya menyisakan aku seorang diri yang datang tanpa pasangan, suasananya terasa sangat canggung.

Baru saja aku hendak melangkah pergi, pihak penanggung jawab justru mendorongku ke arah sana.

"Lidia, suamimu ada di sana! Cepat ke sana!"

Dia mendorongku hingga ke hadapan Ardian. Pria itu menaikkan alisnya ke arah Ardian lalu berkata dengan jenaka, "Pasanganmu sudah datang, cepat berdiri dan sambut dia."

Selly lebih dulu merangkul lengan Ardian lalu tersenyum sambil berkata, "Dia adalah pasanganku."

Ardian menyahut dengan gumaman pelan.

Penanggung jawab acara itu memandangku lalu memandang mereka secara bergantian.

Dia menekan pundakku agar duduk di kursi kosong di sebelah Ardian terlebih dahulu, baru kemudian mencairkan suasana. "Ini masalah kecil."

"Aku akan segera carikan satu pasangan untukmu."

Aku menatap Ardian, hatiku merasa agak tidak nyaman.

Bagaimanapun juga, akulah yang mengajaknya terlebih dahulu.

Secara kesopanan, dia seharusnya memberi respons kepadaku terlebih dahulu.

Meskipun tidak ingin menjadi pasanganku, setidaknya dia mengatakannya lebih awal, bukan malah membiarkanku menunggu dengan bodoh di luar.

Sebelum sempat aku bertanya, Ardian sudah lebih dulu membuka suara untuk menjelaskan, "Di sekeliling Selly banyak laki-laki hidung belang yang mengganggu. Dia mencariku cuma agar aku membantunya mengusir mereka."

"Semua orang tahu kalau kamu sudah menikah, jadi mereka pasti nggak akan berani macam-macam."

"Dia belum pernah pacaran dan nggak tahu betapa kejamnya dunia luar. Secara moral maupun logika, aku harus melindunginya."

Dia sekali lagi dengan teguh memilih Selly.

Pertama kali, hal itu hampir membuatku kehilangan nyawa.

Kedua kali, hal itu membuatku menanggung malu di depan umum.

Pada akhirnya, pihak penanggung jawab tetap tidak berhasil menemukan pasangan pria untukku.

Aku menghindari permainan berpasangan, menghindari dansa sosial, dan hanya duduk di sudut yang paling tidak menarik perhatian sambil menyaksikan suamiku dan juniorku sendiri menikmati pesta dengan penuh kegembiraan.

Sesi terakhir dari acara tersebut adalah permainan truth or dare.

Ketika Selly membawa Ardian naik ke atas panggung, suasana di bawah sana seketika menjadi hening sesaat.

Mungkin mereka teringat kembali akan insiden tanah longsor yang sempat gempar kala itu.

Semua orang saling pandang, dan tidak sedikit pula tatapan mata yang diam-diam tertuju padaku.

Tatapan itu terasa seperti jarum yang menusuk hingga membuat sekujur tubuh terasa perih.

Rasa sakit yang sudah lama tidak kurasakan di dalam hati pun kembali terusik keluar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 12

    Ardian kembali ke Kota Derada, selama satu bulan penuh dia tidak pernah melangkah keluar dari pintu rumah. Setiap hari, dia hanya berdiam diri di dalam rumah, yang pernah ditinggalinya bersama Lidia. Tirai jendela tertutup rapat, dan dia tidur di antara tumpukan botol minuman keras yang menggunung. Begitu terbangun, dia akan langsung minum dan setelah mabuk dia akan kembali tidur. Ardian tidak sanggup menerima akhir yang seperti ini, sehingga hanya bisa menggunakan alkohol untuk mematikan rasa di hatinya. Setidaknya, di dalam mimpi, dia masih memiliki kemungkinan untuk memimpikan Lidia. Masih bisa berharap bahwa Lidia masih mencintainya. Namun lama-kelamaan, Ardian sangat menyadari bahwa Lidia sepertinya sudah terlalu membencinya. Begitu benci hingga bahkan ke dalam mimpinya pun, wanita itu enggan untuk melangkah masuk. Bahkan sebuah harapan semu pun sepertinya tidak sudi datang kepadanya. Ardian benar-benar runtuh sepenuhnya. Dia mengunci dirinya di masa lalu. Setiap hari, se

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 11

    Ardian mengerahkan segala cara yang dia bisa untuk mengambil hatiku. Seseorang yang biasanya selalu tinggi hati dan angkuh, bersedia merendahkan diri hingga ke tahap ini adalah hal yang tidak pernah kuduga. Dia bahkan sampai tinggal di lorong tangga. Hanya demi mengadu keberuntungan, agar bisa berpapasan denganku yang sesekali kembali ke apartemen. Bahkan saat pergi ke hotel untuk menyewa kamar untuk mandi pun, dia harus berlari kencang. Karena sangat takut melewatkan kesempatan bertemu denganku. Akibatnya, dia sudah terjatuh berkali-kali di jalan itu, dan luka di lututnya tidak pernah sembuh. "Nggak perlu." Aku kembali menghindar dari sarapan yang disodorkannya. Ardian sudah sangat kelelahan, hingga untuk berbicara pun sepertinya tidak memiliki tenaga lagi. Tubuhnya tampak menyusut drastis, membuat pakaiannya tergantung longgar di badannya. Pergelangan tangannya yang terekspos ke luar, hanya menyisakan kulit membungkus tulang, dengan pembuluh darah yang terlihat jelas. "Lidi

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 10

    Aku tidak melihat Ardian selama beberapa hari berturut-turut. Tinggal di rumah sakit di negeri orang, tanpa ada yang merawat, pasti tidak mudah. Aku justru berharap dia tahu diri dan mundur. Namun, tidak lama kemudian, Ardian kembali berkeliaran di depan mataku. Mulai dari bawah gedung kantor, di pinggir jalan, hingga akhirnya dia bahkan berhasil menemukan pintu depan rumahku. Sambil mendekap seekor ikan yang masih segar di dadanya, Ardian berkata ingin memasakkanku makanan. Aku baru saja pulang dari jamuan bisnis dan efek alkohol belum hilang sepenuhnya. Karena tidak sempat menghalanginya, dia berhasil memanfaatkan kesempatan untuk menyelinap masuk ke dalam rumahku. Kepalaku terasa pening dan berat, sehingga aku memilih untuk tidak ambil pusing dengannya. Dengan perasaan tanpa beban, aku mulai memberi perintah kepada Ardian. "Buatkan aku sup pereda mabuk." "Siapkan air rendaman kaki, aku mau cuci kaki." Ardian justru tampak sangat senang. Dia menumpu kakiku, lalu mengeringka

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 9

    Pada sebuah pagi yang biasa. Aku pergi ke kantor untuk bekerja seperti biasanya. Begitu baru berjalan sampai di bawah gedung perkantoran, aku langsung melihat Ardian. Dia sedang duduk berjongkok di bawah pohon Ketapang di pinggir jalan. Dia mengenakan sebuah mantel hitam polos, rambutnya berantakan, dagunya ditumbuhi janggut tipis, matanya terpejam, dan bagian bawah matanya hitam pekat. Aku berjalan melewatinya. Saat kakiku menginjak selembar daun kering hingga berderik, Ardian tersentak bangun seketika. Sisa kantuk di matanya belum sepenuhnya sirna. Begitu melihatku, dia langsung bangkit dan berjalan dengan langkah yang terhuyung-huyung. Namun, dia sempat terjatuh beberapa kali, bahkan pakaiannya pun sampai robek terkoyak oleh ranting pohon. "Lidia ...." "Tunggu, tunggu aku ...!" Dia akhirnya tersadar sepenuhnya, lalu melangkah cepat untuk mengejarku dengan suara yang terdengar sangat serak. Aku sama sekali tidak ingin membuang-buang waktu bersamanya. Tepat saat aku hendak

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 8

    Setelah beristirahat selama satu bulan, aku mulai bekerja di perusahaan baru. Gajinya jauh lebih tinggi daripada di kantor pusat. Sebagai seorang perancang busana yang berpengalaman, tugas utamaku adalah bertanggung jawab untuk melatih karyawan baru. Rutinitas harianku adalah mengajar anak baru. Saat memiliki waktu luang, aku menggambar beberapa sketsa desain yang kusukai. Kehidupanku bisa dibilang cukup santai dan damai. Aku perlahan-lahan terbiasa makan sendirian. Pergi ke supermarket sendirian, dan tinggal di rumah sendirian, menikmati waktu senggang yang jarang didapatkan ini. Pekerjaan dan kehidupanku pun terbagi dengan seimbang. Dua tahun berlalu. Ingatan masa lalu menjadi semakin kabur, dan bayangan Ardian pun perlahan-lahan memudar. Aku dipromosikan menjadi manajer umum. Pada hari promosi jabatan, pihak kantor mengadakan pesta perayaan kecil-kecilan. Saat berdiri di atas panggung dan mendengarkan suara tepuk tangan yang bergemuruh di bawah sana. Aku mendongakkan kepala

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 7

    Saat pesawat mendarat, waktu sudah menunjukkan larut malam. Aku menarik koperku dan berjalan keluar dari pintu kedatangan. Kerumunan orang yang menjemput tampak mengangkat berbagai macam papan nama. Ada sepasang kekasih yang berpelukan, ada pula anggota keluarga yang melambaikan tangan sambil tersenyum. Aku berjalan melewati sela-sela mereka, terasa agak kesepian. Orang yang menghubungiku dari kantor mengirimkan pesan kepadaku, mengatakan bahwa tempat tinggalku sudah diatur dan kuncinya ada di pos pengamanan. Aku membalas dengan “Diterima”, lalu berdiri di pinggir jalan untuk menyetop taksi. Pemandangan jalanan mundur dengan sangat cepat. Lampu-lampu neon menyatu menjadi hamparan cahaya yang kabur, segala hal di sekitar terasa asing. Setibanya di rumah, setelah selesai membersihkan diri, aku langsung berbaring di ranjang dan bersiap untuk tidur. Namun, aku terus membalikkan badan ke sana kemari dan tetap tidak bisa memejamkan mata. Benar-benar tidak bisa tidur. Begitu memeja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status