Share

Bab 5

Author: Gogo
Selly berdiri di atas panggung dengan wajah memerah, lalu mengajukan pertanyaan pertama.

"Kalau kamu bisa kembali ke masa lalu, apa kamu akan memilih hubungan asmara yang baru?"

Suasana di bawah panggung seketika menjadi riuh.

Merasa hal itu tidak ada hubungannya denganku, aku menyilangkan kaki sembari memilih tiket pesawat untuk besok di layar ponsel.

Ardian yang berada di atas panggung, merasa hal itu agak aneh. Dia menggelengkan kepala.

Senyuman Selly memudar, dan semangatnya pun jelas langsung hilang.

"Sekarang giliranmu yang tanya."

"Apa makanan yang paling kamu sukai?" tanya Ardian.

"Bukannya kamu yang paling tahu tentang hal itu?" Selly balik bertanya.

Sikap yang sangat ambigu itu, membuat orang-orang semakin gencar bersorak, suara sorakan pun semakin lama semakin riuh.

Manajer menyenggolku dengan siku tangannya.

"Hei, aku minta suamimu turun saja ya, kalian bisa pulang lebih awal."

Aku baru mendongakkan kepala saat itu.

"Nggak perlu."

"Lagi pula setelah hari ini, dia bukan suamiku lagi."

Aku berdiri, lalu berjalan keluar.

Pandangan mata Ardian mengikutiku hingga ke pintu, sebelum akhirnya terhalang oleh pintu kayu yang tebal.

Aku langsung pulang ke rumah.

Begitu kakiku baru melangkah masuk, Ardian sudah menyusul pulang tepat di belakangku.

"Kamu marah?" Dia berjalan mendekat, hendak memelukku ke dalam dekapannya.

Aku memiringkan tubuh untuk menghindarinya. "Nggak."

"Kamu bohong," katanya.

"Lidia, kita sudah menikah bertahun-tahun. Setiap gerak-gerikmu, bahkan ekspresi wajahmu pun aku tahu dengan sangat jelas."

"Begitu mulutmu merengut, aku langsung tahu apa kamu sedang mau makan roti bakar atau roti lapis."

Aku tidak menyahut, hanya menatapnya dalam waktu yang lama.

Begitu lama hingga Ardian pun mulai merasa agak gelisah, dia terus bertanya apa sebenarnya yang ingin kulakukan.

"Kamu yang paling memahamiku, jadi kamu pasti bisa menebaknya." Aku mulai tersenyum.

Melihatku tersenyum, dia seketika langsung merasa tenang.

Dia langsung duduk di sofa.

"Aku tebak kamu pasti mau aku menemanimu, ‘kan?"

"Kalau begitu aku akan ambil cuti dua hari."

"Kebetulan kamu bilang mau pergi berdoa untuk mohon berkah bagi anak kita, ayo kita pergi bersama."

Aku tidak memedulikannya, lalu kembali ke kamar untuk tidur.

Keesokan paginya sekali, Ardian sudah pergi.

Sepanjang pagi, sosoknya tidak terlihat sama sekali. Baru setelah melihat Story di media sosialnya, aku tahu bahwa Selly minum terlalu banyak tadi malam dan terjatuh saat berjalan pulang.

Ardian sedang berada di rumah gadis itu untuk merawatnya.

Aku tidak ambil pusing. Sendirian di rumah, aku mengemas barang bawaanku dengan santai.

Aku menandatangani surat perjanjian cerai, lalu menindihnya di atas meja kopi. Bersama dengan surat keterangan aborsi menggunakan segelas air.

Setelah semua persiapan selesai, barulah aku menarik koperku dan melangkah keluar dari rumah.

Aku langsung menuju bandara.

Warna langit perlahan-lahan ditelan oleh kepekatan malam.

Sebelum pesawat lepas landas, ponselku berdering.

Pesan-pesan masuk secara beruntun seperti ledakan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 12

    Ardian kembali ke Kota Derada, selama satu bulan penuh dia tidak pernah melangkah keluar dari pintu rumah. Setiap hari, dia hanya berdiam diri di dalam rumah, yang pernah ditinggalinya bersama Lidia. Tirai jendela tertutup rapat, dan dia tidur di antara tumpukan botol minuman keras yang menggunung. Begitu terbangun, dia akan langsung minum dan setelah mabuk dia akan kembali tidur. Ardian tidak sanggup menerima akhir yang seperti ini, sehingga hanya bisa menggunakan alkohol untuk mematikan rasa di hatinya. Setidaknya, di dalam mimpi, dia masih memiliki kemungkinan untuk memimpikan Lidia. Masih bisa berharap bahwa Lidia masih mencintainya. Namun lama-kelamaan, Ardian sangat menyadari bahwa Lidia sepertinya sudah terlalu membencinya. Begitu benci hingga bahkan ke dalam mimpinya pun, wanita itu enggan untuk melangkah masuk. Bahkan sebuah harapan semu pun sepertinya tidak sudi datang kepadanya. Ardian benar-benar runtuh sepenuhnya. Dia mengunci dirinya di masa lalu. Setiap hari, se

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 11

    Ardian mengerahkan segala cara yang dia bisa untuk mengambil hatiku. Seseorang yang biasanya selalu tinggi hati dan angkuh, bersedia merendahkan diri hingga ke tahap ini adalah hal yang tidak pernah kuduga. Dia bahkan sampai tinggal di lorong tangga. Hanya demi mengadu keberuntungan, agar bisa berpapasan denganku yang sesekali kembali ke apartemen. Bahkan saat pergi ke hotel untuk menyewa kamar untuk mandi pun, dia harus berlari kencang. Karena sangat takut melewatkan kesempatan bertemu denganku. Akibatnya, dia sudah terjatuh berkali-kali di jalan itu, dan luka di lututnya tidak pernah sembuh. "Nggak perlu." Aku kembali menghindar dari sarapan yang disodorkannya. Ardian sudah sangat kelelahan, hingga untuk berbicara pun sepertinya tidak memiliki tenaga lagi. Tubuhnya tampak menyusut drastis, membuat pakaiannya tergantung longgar di badannya. Pergelangan tangannya yang terekspos ke luar, hanya menyisakan kulit membungkus tulang, dengan pembuluh darah yang terlihat jelas. "Lidi

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 10

    Aku tidak melihat Ardian selama beberapa hari berturut-turut. Tinggal di rumah sakit di negeri orang, tanpa ada yang merawat, pasti tidak mudah. Aku justru berharap dia tahu diri dan mundur. Namun, tidak lama kemudian, Ardian kembali berkeliaran di depan mataku. Mulai dari bawah gedung kantor, di pinggir jalan, hingga akhirnya dia bahkan berhasil menemukan pintu depan rumahku. Sambil mendekap seekor ikan yang masih segar di dadanya, Ardian berkata ingin memasakkanku makanan. Aku baru saja pulang dari jamuan bisnis dan efek alkohol belum hilang sepenuhnya. Karena tidak sempat menghalanginya, dia berhasil memanfaatkan kesempatan untuk menyelinap masuk ke dalam rumahku. Kepalaku terasa pening dan berat, sehingga aku memilih untuk tidak ambil pusing dengannya. Dengan perasaan tanpa beban, aku mulai memberi perintah kepada Ardian. "Buatkan aku sup pereda mabuk." "Siapkan air rendaman kaki, aku mau cuci kaki." Ardian justru tampak sangat senang. Dia menumpu kakiku, lalu mengeringka

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 9

    Pada sebuah pagi yang biasa. Aku pergi ke kantor untuk bekerja seperti biasanya. Begitu baru berjalan sampai di bawah gedung perkantoran, aku langsung melihat Ardian. Dia sedang duduk berjongkok di bawah pohon Ketapang di pinggir jalan. Dia mengenakan sebuah mantel hitam polos, rambutnya berantakan, dagunya ditumbuhi janggut tipis, matanya terpejam, dan bagian bawah matanya hitam pekat. Aku berjalan melewatinya. Saat kakiku menginjak selembar daun kering hingga berderik, Ardian tersentak bangun seketika. Sisa kantuk di matanya belum sepenuhnya sirna. Begitu melihatku, dia langsung bangkit dan berjalan dengan langkah yang terhuyung-huyung. Namun, dia sempat terjatuh beberapa kali, bahkan pakaiannya pun sampai robek terkoyak oleh ranting pohon. "Lidia ...." "Tunggu, tunggu aku ...!" Dia akhirnya tersadar sepenuhnya, lalu melangkah cepat untuk mengejarku dengan suara yang terdengar sangat serak. Aku sama sekali tidak ingin membuang-buang waktu bersamanya. Tepat saat aku hendak

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 8

    Setelah beristirahat selama satu bulan, aku mulai bekerja di perusahaan baru. Gajinya jauh lebih tinggi daripada di kantor pusat. Sebagai seorang perancang busana yang berpengalaman, tugas utamaku adalah bertanggung jawab untuk melatih karyawan baru. Rutinitas harianku adalah mengajar anak baru. Saat memiliki waktu luang, aku menggambar beberapa sketsa desain yang kusukai. Kehidupanku bisa dibilang cukup santai dan damai. Aku perlahan-lahan terbiasa makan sendirian. Pergi ke supermarket sendirian, dan tinggal di rumah sendirian, menikmati waktu senggang yang jarang didapatkan ini. Pekerjaan dan kehidupanku pun terbagi dengan seimbang. Dua tahun berlalu. Ingatan masa lalu menjadi semakin kabur, dan bayangan Ardian pun perlahan-lahan memudar. Aku dipromosikan menjadi manajer umum. Pada hari promosi jabatan, pihak kantor mengadakan pesta perayaan kecil-kecilan. Saat berdiri di atas panggung dan mendengarkan suara tepuk tangan yang bergemuruh di bawah sana. Aku mendongakkan kepala

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 7

    Saat pesawat mendarat, waktu sudah menunjukkan larut malam. Aku menarik koperku dan berjalan keluar dari pintu kedatangan. Kerumunan orang yang menjemput tampak mengangkat berbagai macam papan nama. Ada sepasang kekasih yang berpelukan, ada pula anggota keluarga yang melambaikan tangan sambil tersenyum. Aku berjalan melewati sela-sela mereka, terasa agak kesepian. Orang yang menghubungiku dari kantor mengirimkan pesan kepadaku, mengatakan bahwa tempat tinggalku sudah diatur dan kuncinya ada di pos pengamanan. Aku membalas dengan “Diterima”, lalu berdiri di pinggir jalan untuk menyetop taksi. Pemandangan jalanan mundur dengan sangat cepat. Lampu-lampu neon menyatu menjadi hamparan cahaya yang kabur, segala hal di sekitar terasa asing. Setibanya di rumah, setelah selesai membersihkan diri, aku langsung berbaring di ranjang dan bersiap untuk tidur. Namun, aku terus membalikkan badan ke sana kemari dan tetap tidak bisa memejamkan mata. Benar-benar tidak bisa tidur. Begitu memeja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status