Share

Bab 4

Author: Gogo
Dua tahun lalu, karena Selly mengambil cuti. Aku membawa sketsa desainnya untuk melakukan peninjauan di lokasi proyek.

Hari itu hujan turun dengan sangat lebat.

Tidak ada banyak orang di lokasi proyek. Aku mengikuti cetak biru itu, melangkah maju selangkah demi selangkah di dalam lumpur.

Karena terlalu memercayai Selly, aku hanya terus berjalan dengan kepala tertunduk.

Bahkan tidak menyadari bahwa aku telah salah melangkah masuk ke area terlarang.

Suara gemuruh datang.

Tanah longsor yang datang, tiba-tiba menguburku sepenuhnya di bawah sana.

Untung saja, ada sebuah lempengan batu besar yang menahan tanah dan pasir, sehingga aku masih beruntung bisa bertahan hidup.

Pandanganku tertutup, di telingaku hanya ada suara napas berat dan detak jantungku sendiri yang berpacu cepat. Aku tidak bisa membedakan bagian tubuh mana yang terasa sakit.

Lengan kananku sepertinya patah.

Tidak bisa digerakkan, aku hanya bisa menggunakan tangan kiri untuk bergeser perlahan, hingga akhirnya berhasil meraih ponsel.

Ruang yang tersisa begitu sempit, bahkan hanya cukup untuk menggerakkan ujung jari.

Mengandalkan ingatan, aku mengetuk kolom obrolan yang disematkan di paling atas untuk mengetik pesan asal kepada Ardian.

Tenagaku terkuras sedikit demi sedikit.

Aku terisak, menggigit ujung lidahku sendiri hingga berdarah, lalu menelan darah yang bercampur dengan air mata.

Pikiranku terus memikirkannya, mulutku terus menggumamkan namanya, barulah aku bisa bertahan untuk menekan tombol kirim berulang kali.

[Ardian ... aku takut, tolong aku ....]

[Aku nggak mau mati ....]

Setiap menit dan setiap detik adalah siksaan.

Aku pingsan lalu tersadar kembali, menangis lagi saat terbangun, bahkan tidak tahu kapan ponselku kehabisan baterai.

Selama ini aku mengira Ardian melihat pesan-pesan itu.

Aku berharap dia bisa segera membawa orang untuk menyelamatkanku.

Sampai sebelum aku mengalami syok, aku masih terus memanggil nama Ardian.

Masih terus mengira dia akan datang mencariku.

Tujuh puluh dua jam kemudian, petugas penyelamat menyekop gundukan tanah terakhir, barulah aku berhasil ditarik keluar.

Pada saat itu, hanya tersisa detak jantung yang sangat lemah.

Di hadapan semua orang, petugas medis menghubungi kontak daruratku, yaitu nomor telepon Ardian.

Baru pada panggilan kedelapan dia mengangkatnya.

Begitu tersambung, terdengar suara gadis yang tidak sabar, "Ngapain telepon? Dia sudah tidur!"

Petugas mencoba menelepon kembali.

"Halo, apa ini dengan pihak keluarga Lidia Fasmi ...."

Panggilan kembali ditutup, dan kali ini langsung dimasukkan ke dalam daftar blokir.

Nyawaku berada di ujung tanduk, tidak ada yang berani asal menandatangani surat pemberitahuan kondisi kritis.

Pada akhirnya, dokter melihat napas terakhirku yang tersisa sehingga memutuskan untuk mengambil tindakan khusus, yaitu melakukan operasi lebih awal untukku.

Aku dirawat di ICU selama setengah bulan.

Selama kurun waktu tersebut, Ardian terus ditempeli oleh Selly, sehingga tidak terpikir untuk menanyakan kabarku.

Lengan kananku patah. Meskipun sudah disambung kembali, sarafku terkena dampaknya.

Setelah itu, aku membutuhkan waktu rehabilitasi yang sangat lama sebelum akhirnya bisa menggambar sketsa desain lagi dengan susah payah.

Bahkan hingga sekarang, tanganku masih sering gemetar dari waktu ke waktu.

Aku dan Ardian hampir bercerai karena masalah ini.

Aku mengamuk histeris, menghancurkan semua barang di rumah, bahkan hampir membakar rumah ini.

Wajah Ardian penuh dengan bekas tamparan, dan tubuhnya pun penuh dengan luka cakar.

Aku benci, aku dendam, aku menangis mempertanyakan mengapa dia memperlakukanku seperti ini.

"Kenapa kamu pasang balasan otomatis untukku? Kenapa? Ardian, sebegitu cueknya kamu sampai mengabaikanku?"

Emosinya luar biasa stabil.

"Cuma sedang nggak mau balas saja."

"Kamu terlalu banyak ngomong. Seharian penuh, ada banyak foto kucing atau awan yang kamu potret. Aku sama sekali nggak tertarik."

Hatiku mati tepat pada saat itu juga.

Jarak di antara kami menjadi semakin jauh dan menjadi semakin dalam.

Hingga akhirnya aku benar-benar runtuh.

Akhirnya aku mengakui bahwa aku tidak bisa memaksakan diri, aku tidak bisa menjalani sisa hidupku bersamanya yang penuh ketidakjelasan seperti ini.

Jika ditanya apa hal yang paling kusesali.

Itu adalah memberikan kesempatan kepada Ardian berulang kali.

Seharusnya sejak dua tahun lalu, aku sudah memutuskan hubungan dengannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 12

    Ardian kembali ke Kota Derada, selama satu bulan penuh dia tidak pernah melangkah keluar dari pintu rumah. Setiap hari, dia hanya berdiam diri di dalam rumah, yang pernah ditinggalinya bersama Lidia. Tirai jendela tertutup rapat, dan dia tidur di antara tumpukan botol minuman keras yang menggunung. Begitu terbangun, dia akan langsung minum dan setelah mabuk dia akan kembali tidur. Ardian tidak sanggup menerima akhir yang seperti ini, sehingga hanya bisa menggunakan alkohol untuk mematikan rasa di hatinya. Setidaknya, di dalam mimpi, dia masih memiliki kemungkinan untuk memimpikan Lidia. Masih bisa berharap bahwa Lidia masih mencintainya. Namun lama-kelamaan, Ardian sangat menyadari bahwa Lidia sepertinya sudah terlalu membencinya. Begitu benci hingga bahkan ke dalam mimpinya pun, wanita itu enggan untuk melangkah masuk. Bahkan sebuah harapan semu pun sepertinya tidak sudi datang kepadanya. Ardian benar-benar runtuh sepenuhnya. Dia mengunci dirinya di masa lalu. Setiap hari, se

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 11

    Ardian mengerahkan segala cara yang dia bisa untuk mengambil hatiku. Seseorang yang biasanya selalu tinggi hati dan angkuh, bersedia merendahkan diri hingga ke tahap ini adalah hal yang tidak pernah kuduga. Dia bahkan sampai tinggal di lorong tangga. Hanya demi mengadu keberuntungan, agar bisa berpapasan denganku yang sesekali kembali ke apartemen. Bahkan saat pergi ke hotel untuk menyewa kamar untuk mandi pun, dia harus berlari kencang. Karena sangat takut melewatkan kesempatan bertemu denganku. Akibatnya, dia sudah terjatuh berkali-kali di jalan itu, dan luka di lututnya tidak pernah sembuh. "Nggak perlu." Aku kembali menghindar dari sarapan yang disodorkannya. Ardian sudah sangat kelelahan, hingga untuk berbicara pun sepertinya tidak memiliki tenaga lagi. Tubuhnya tampak menyusut drastis, membuat pakaiannya tergantung longgar di badannya. Pergelangan tangannya yang terekspos ke luar, hanya menyisakan kulit membungkus tulang, dengan pembuluh darah yang terlihat jelas. "Lidi

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 10

    Aku tidak melihat Ardian selama beberapa hari berturut-turut. Tinggal di rumah sakit di negeri orang, tanpa ada yang merawat, pasti tidak mudah. Aku justru berharap dia tahu diri dan mundur. Namun, tidak lama kemudian, Ardian kembali berkeliaran di depan mataku. Mulai dari bawah gedung kantor, di pinggir jalan, hingga akhirnya dia bahkan berhasil menemukan pintu depan rumahku. Sambil mendekap seekor ikan yang masih segar di dadanya, Ardian berkata ingin memasakkanku makanan. Aku baru saja pulang dari jamuan bisnis dan efek alkohol belum hilang sepenuhnya. Karena tidak sempat menghalanginya, dia berhasil memanfaatkan kesempatan untuk menyelinap masuk ke dalam rumahku. Kepalaku terasa pening dan berat, sehingga aku memilih untuk tidak ambil pusing dengannya. Dengan perasaan tanpa beban, aku mulai memberi perintah kepada Ardian. "Buatkan aku sup pereda mabuk." "Siapkan air rendaman kaki, aku mau cuci kaki." Ardian justru tampak sangat senang. Dia menumpu kakiku, lalu mengeringka

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 9

    Pada sebuah pagi yang biasa. Aku pergi ke kantor untuk bekerja seperti biasanya. Begitu baru berjalan sampai di bawah gedung perkantoran, aku langsung melihat Ardian. Dia sedang duduk berjongkok di bawah pohon Ketapang di pinggir jalan. Dia mengenakan sebuah mantel hitam polos, rambutnya berantakan, dagunya ditumbuhi janggut tipis, matanya terpejam, dan bagian bawah matanya hitam pekat. Aku berjalan melewatinya. Saat kakiku menginjak selembar daun kering hingga berderik, Ardian tersentak bangun seketika. Sisa kantuk di matanya belum sepenuhnya sirna. Begitu melihatku, dia langsung bangkit dan berjalan dengan langkah yang terhuyung-huyung. Namun, dia sempat terjatuh beberapa kali, bahkan pakaiannya pun sampai robek terkoyak oleh ranting pohon. "Lidia ...." "Tunggu, tunggu aku ...!" Dia akhirnya tersadar sepenuhnya, lalu melangkah cepat untuk mengejarku dengan suara yang terdengar sangat serak. Aku sama sekali tidak ingin membuang-buang waktu bersamanya. Tepat saat aku hendak

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 8

    Setelah beristirahat selama satu bulan, aku mulai bekerja di perusahaan baru. Gajinya jauh lebih tinggi daripada di kantor pusat. Sebagai seorang perancang busana yang berpengalaman, tugas utamaku adalah bertanggung jawab untuk melatih karyawan baru. Rutinitas harianku adalah mengajar anak baru. Saat memiliki waktu luang, aku menggambar beberapa sketsa desain yang kusukai. Kehidupanku bisa dibilang cukup santai dan damai. Aku perlahan-lahan terbiasa makan sendirian. Pergi ke supermarket sendirian, dan tinggal di rumah sendirian, menikmati waktu senggang yang jarang didapatkan ini. Pekerjaan dan kehidupanku pun terbagi dengan seimbang. Dua tahun berlalu. Ingatan masa lalu menjadi semakin kabur, dan bayangan Ardian pun perlahan-lahan memudar. Aku dipromosikan menjadi manajer umum. Pada hari promosi jabatan, pihak kantor mengadakan pesta perayaan kecil-kecilan. Saat berdiri di atas panggung dan mendengarkan suara tepuk tangan yang bergemuruh di bawah sana. Aku mendongakkan kepala

  • Menanti Kabut dan Awan Berpaling   Bab 7

    Saat pesawat mendarat, waktu sudah menunjukkan larut malam. Aku menarik koperku dan berjalan keluar dari pintu kedatangan. Kerumunan orang yang menjemput tampak mengangkat berbagai macam papan nama. Ada sepasang kekasih yang berpelukan, ada pula anggota keluarga yang melambaikan tangan sambil tersenyum. Aku berjalan melewati sela-sela mereka, terasa agak kesepian. Orang yang menghubungiku dari kantor mengirimkan pesan kepadaku, mengatakan bahwa tempat tinggalku sudah diatur dan kuncinya ada di pos pengamanan. Aku membalas dengan “Diterima”, lalu berdiri di pinggir jalan untuk menyetop taksi. Pemandangan jalanan mundur dengan sangat cepat. Lampu-lampu neon menyatu menjadi hamparan cahaya yang kabur, segala hal di sekitar terasa asing. Setibanya di rumah, setelah selesai membersihkan diri, aku langsung berbaring di ranjang dan bersiap untuk tidur. Namun, aku terus membalikkan badan ke sana kemari dan tetap tidak bisa memejamkan mata. Benar-benar tidak bisa tidur. Begitu memeja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status