LOGINSaat Erik membuka matanya kembali, dia sudah berada di rumah sakit.Dia menoleh dan langsung melihat Vanya yang sedang membelakanginya."Vanya." Suara Erik terdengar sedikit serak menahan tangis. "Kamu akhirnya mau menemuiku."Vanya berbalik, lalu menatapnya dengan raut wajah tenang."Aku menemuimu kali ini cuma ingin menjelaskan semuanya dengan baik-baik."Sebelum Vanya datang menemui Erik, semua anggota keluarganya menentang keras.Dia tahu mereka khawatir dirinya akan teringat kembali pada rasa sakit di lubuk hati yang terdalam setelah melihat Erik.Akan tetapi, dia paham betul watak Erik, jika tidak benar-benar memutus harapannya, pria itu tidak akan pernah menyerah."Erik, sejak Zia meninggal, hubungan di antara kita sudah sepenuhnya berakhir."Sorot mata Erik memancarkan kepedihan, suaranya terdengar serak."Vanya, maafkan aku, aku benar-benar nggak tahu kalau donor ginjal itu akan menyebabkan Zia meninggal."Meski Vanya sudah menerima kenyataan bahwa Zia telah tiada, tetapi saat
Kota Adhikari, vila Keluarga Sadewa.Erik berdiri di depan pintu rumah Keluarga Sadewa. Dia mengangkat tangannya beberapa kali, tetapi tidak berani untuk mengetuk pintu.Begitu mengetahui Vanya telah kembali ke Kota Adhikari, dia langsung menyuruh asistennya membeli tiket pesawat paling cepat untuk terbang ke sana.Saat itu, asistennya sempat membujuk dengan cemas, "Pak Erik, para pemegang saham sudah mulai mengadakan rapat umum untuk mengganti posisi CEO. Bagaimana bisa Anda pergi di saat-saat genting seperti ini?""Terlebih lagi, Keluarga Sadewa sudah mengajukan gugatan hukum terhadap Anda. Anda seharusnya secepat mungkin berkomunikasi dan berdiskusi dengan pengacara."Erik mencengkeram akta cerai di tangannya hingga nyaris remuk, dia tetap bersikeras untuk pergi ke Kota Adhikari."Urusan perusahaan kamu yang bantu tangani. Sekarang, aku harus pergi mengakui kesalahanku pada Vanya, memohon agar dia mau memaafkanku."Asistennya tidak bisa membujuk Erik lagi sehingga hanya bisa pasrah
Vanya menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat. Tentang bagaimana Erik menyembunyikan rencana operasi Zia darinya, hingga bagaimana pria itu memindahkan seluruh dokter yang berjaga sampai membuat Zia mengalami infeksi pascaoperasi dan meninggal tanpa ada yang menyelamatkannya.Di tengah cerita, dia berulang kali tersedak tangis dan kehilangan kata-kata.Setelah seluruh kejadian itu selesai diceritakan dengan terbata-bata, ruang tamu Keluarga Sadewa seketika jatuh ke dalam keheningan yang mencekam.Bibir Santi tampak bergetar hebat dan wajahnya pucat pasi."Zia itu anak kandungnya sendiri, tega-teganya Erik sekejam itu!"Umar yang biasanya selalu tenang, kini lehernya sampai merah karena menahan amarah."Bagus. Erik benar-benar hebat! Apa dia pikir Vanya nggak punya keluarga yang bisa membelanya?"Jefri mengepalkan tangannya dengan erat hingga buku-buku jarinya berbunyi."Erik menindas Vanya dan membunuh Zia. Utang ini harus kita perhitungkan matang-matang sampai tuntas."...Di si
Pesawat mendarat dengan selamat di Kota Adhikari.Begitu Vanya keluar dari bandara sambil membawa koper, dia langsung melihat orang tua dan kakak laki-lakinya yang sudah menunggu sejak tadi.Sang kakak, Jefri Sadewa, menjadi orang pertama yang melihat sosoknya. Pria itu langsung berlari ke depan dengan penuh semangat dan memeluknya erat-erat."Akhirnya, kamu datang juga ke Kota Adhikari buat jenguk aku, Ayah dan Ibu!"Sejak empat tahun lalu, fokus bisnis Keluarga Sadewa memang perlahan-lahan sudah beralih ke Kota Adhikari.Akan tetapi, karena saat itu Vanya sudah menikah dengan Erik dan melahirkan Zia, dia hanya bisa melepas kepergian orang tua dan kakaknya yang memboyong seluruh keluarga pindah ke Kota Adhikari dengan berat hati.Melihat sudut mata orang tuanya yang tampak berkaca-kaca serta tatapan penuh perhatian dari kakaknya, seluruh rasa sesak yang tertahan selama sebulan ini beserta kepedihan atas kepergian putrinya seketika langsung meledak. Begitu membuka mulut, dia langsung t
Akta cerai?Jantung Erik rasanya mendadak jatuh dan rasa panik yang belum pernah terjadi sebelumnya langsung menyelimuti seluruh tubuhnya.Dengan tangan gemetar, dia mengambil akta cerai itu lalu membacanya dengan sisa harapan terakhir.Begitu melihat nama yang tertera di sana, pria yang biasanya selalu berwajah dingin itu, matanya seketika merah menahan tangis."Mana mungkin ini terjadi? Mana mungkin Vanya menceraikan aku?"Erik terhuyung mundur beberapa langkah karena tidak percaya, tubuhnya hampir tidak bisa berdiri tegak."Ini pasti palsu! Aku nggak pernah menandatangani surat cerai. Pergi periksa sekarang, siapa yang berani memalsukan akta cerai aku dan Vanya!"Asistennya tetap berdiri di tempat tanpa bergerak, lalu berbicara dengan ekspresi serba salah, "Pak Erik, apa Anda lupa? Lima tahun lalu setelah Bu Vanya melahirkan Nona Zia secara prematur, demi membuat Bu Vanya tenang, Anda sendiri yang menyusun surat cerai dan menandatanganinya ...."Ingatan lima tahun lalu perlahan menj
Duar!Kepala Erik seketika berdengung hebat. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.Surat keterangan kematian? Siapa yang meninggal sampai Vanya mengirimkan surat ini?Bayangan seseorang samar-samar terlintas di dalam benaknya.Akan tetapi, di detik berikutnya, dia langsung memaksa dirinya untuk menepis bayangan tersebut.Tidak, tidak mungkin!Zia cuma dipindahkan oleh Vanya ke rumah sakit lain, mana mungkin dia meninggal?Dengan tangan yang gemetar, dia perlahan menarik surat keterangan kematian itu keluar dari kantong.Di kolom nama jenazah, tertera jelas nama Zia!Seakan tidak percaya, dia menggosok tulisan di atas kertas itu dengan kuat, berharap bisa melihat nama lain yang muncul, tetapi tulisan itu sama sekali tidak berubah.Begitu membaca penyebab kematiannya, dia bahkan sampai terhuyung mundur beberapa langkah.Meninggal akibat infeksi pasca-operasi! Waktunya tepat di hari operasi donor ginjal itu berlangsung!Kata-kata tersebut bagaikan hantaman palu be







