Share

Bab 6

Author: Anonima
Saat Vanya kembali siuman, Erik sedang menggenggam erat tangannya dengan lingkaran hitam yang menghiasi bawah matanya.

"Vanya, kenapa kamu sama sekali nggak gerak pas di dalam kolam? Kamu tahu nggak seberapa takutnya aku kalau kamu benaran tenggelam?"

Vanya menarik kembali tangannya dengan nada datar.

"Bukannya ini yang kamu mau kamu?"

Tubuh Erik seketika menegang, guratan penyesalan di wajahnya tampak makin jelas.

"Aku cuma mau kasih penjelasan buat Nadia dan Noah. Aku nggak ada niat buat bikin kamu celaka. Tapi, aku nggak menyangka kalau kamu ...."

Semua pembelaan itu terasa begitu hambar. Pada akhirnya, Erik hanya bisa memeluknya erat-erat sambil terus-menerus meminta maaf.

"Maaf, Vanya. Aku nggak akan pernah membiarkan kamu dalam bahaya lagi."

Vanya memejamkan mata, memilih untuk tidak berkata apa-apa.

Selama beberapa hari ke depan, mungkin karena didera rasa bersalah, Erik hampir tidak pernah beranjak sedikit pun dari sisi Vanya.

Mulai dari menghangatkan cairan infus, menyuapinya makan, hingga menyeka wajahnya .... Pria itu mengurus segala kebutuhannya tanpa ada yang terlewat.

Hanya saja, setiap pagi dan malam, Erik selalu pergi selama satu jam penuh tanpa absen.

Vanya tahu betul dalam hatinya, pria itu pasti pergi ke kamar rawat sebelah untuk menemani Nadia dan anaknya.

Begitu Erik kembali setelah sempat pergi lagi, Vanya menatap butiran keringat yang membasahi dahi pria itu, lalu berucap lirih, "Erik, kamu capek, ya?"

Harus terus bolak-balik demi dirinya dan juga demi Nadia beserta anaknya, apa benar dia tidak merasa lelah?

Sejak kembali dirawat di rumah sakit, Vanya selalu memilih bungkam. Ini pertama kalinya dia berinisiatif berbicara kepada Erik.

Erik mengira kemarahan istrinya sudah mereda, lalu tangannya terulur untuk mengusap lembut pipi Vanya.

"Vanya, demi kamu, apa pun yang aku lakuin nggak akan pernah bikin aku capek."

"Kamu tenang aja, tempat tinggal buat Nadia dan Noah udah aku siapin. Begitu mereka pergi, kita jemput Zia pulang, lalu kita bertiga bisa hidup bersama lagi kayak dulu."

Vanya menundukkan kepala, menyembunyikan tatapan matanya yang telah mati.

Zia sudah tidak ada.

Masa-masa dulu tidak akan pernah bisa kembali lagi.

Erik sempat terdiam sejenak, lalu kembali melanjutkan ucapannya, "Aku bakal kirim Noah buat sekolah di luar negeri ditemani Nadia. Setelah ini, mereka nggak akan pernah muncul lagi di depan kamu."

"Cuma ...." Pria itu menghentikan ucapannya sejenak sambil memperhatikan ekspresi Vanya. Setelah melihat wajah istrinya tetap datar tanpa reaksi, dia baru berani melanjutkan, "Aku sudah mutusin buat ganti marga Noah yang tadinya Armani jadi marga Gunawan, biar nama dia masuk ke dalam silsilah keluarga besar dan diakui secara resmi. Nadia juga udah setuju."

Seolah takut Vanya akan mengamuk, Erik buru-buru menambahkan penjelasannya, "Kamu tenang aja, Noah nggak akan mengusik hak waris Zia. Aku cuma bakal kirim uang saku dan biaya sekolah bulanan buat mereka, paling sesekali aja terbang ke sana buat menjenguk."

"Bagaimanapun juga, dia itu anak kandungku. Aku bener-bener nggak bisa kalau harus mutus hubungan total sama mereka berdua."

Vanya tetap menunduk, menyembunyikan senyum ironis yang tersirat di matanya.

Apa bedanya dengan membangun sebuah keluarga baru bersama mereka bertiga di luar negeri?

Hanya saja, Vanya sudah tidak peduli lagi.

Dia pun mengangguk dengan tenang.

Rentetan penjelasan yang belum sempat Erik ucapkan langsung tercekat di tenggorokan, menyisakan kilatan rasa heran di matanya.

Dia sama sekali tidak menyangka Vanya akan setuju begitu saja dengan setenang ini.

Untuk sesaat, dia bahkan sempat tidak percaya.

"Vanya, kamu ... kamu nggak keberatan?"

Vanya menyahut dengan nada datar, "Nggak."

Lagi pula, dia akan segera pergi, jadi bagaimana Erik ingin mengurus Nadia dan anaknya sudah bukan urusannya lagi.

Erik menatapnya lekat-lekat untuk waktu yang cukup lama. Setelah memastikan sama sekali tidak ada gurat kemarahan di wajah istrinya, dia baru bisa bernapas lega.

"Vanya, aku berencana bikin acara pesta buat peresmian nama baru Noah, sekaligus buat mengakui statusnya di depan publik."

"Aku harap ... kamu bisa datang ke acara itu. Bagaimanapun juga, kamu itu istriku. Kalau nggak ada kamu, acara ini bakal terasa kurang sah dan bisa jadi omongan orang."

Menatap raut wajah Erik yang tampak agak cemas, Vanya tiba-tiba tersenyum.

"Boleh."

Erik benar-benar merasa lega sekarang. Dengan tatapan penuh cinta, dia mendaratkan sebuah kecupan hangat di dahi Vanya.

"Vanya, makasih banyak ya udah mau mengerti aku."

Selama beberapa hari ke depan, Erik mulai sibuk mempersiapkan segala urusan untuk acara pesta dan tidak pernah lagi datang ke rumah sakit.

Bahkan di hari Vanya diperbolehkan pulang, pria itu hanya mengutus sopir untuk menjemputnya.

Setelah masuk ke mobil, Vanya mendapat panggilan dari Erik. Suara pria itu di seberang telepon masih tetap lembut seperti dulu.

"Vanya, jangan lupa siapin kado buat Noah, ya. Biar orang-orang luar mikir kalau kamu sebagai istriku emang tulus menerima dia jadi bagian dari keluarga kita."

Mendengar saran suaminya yang begitu penuh pertimbangan, Vanya terkekeh.

"Tenang aja, bakal aku siapin, kok."

Sebuah kado yang dijamin akan membuat semua orang terkenang selamanya.

Begitu mobil melaju, Vanya tidak langsung pergi ke gedung acara, melainkan menyuruh sopir berputar arah menuju ke Kantor Catatan Sipil.

Hari ini kebetulan adalah hari terakhir dari masa jeda 30 hari pencatatan perceraian mereka.

Setelah stempel resmi diketuk, Vanya akhirnya menerima akta cerai mereka.

Hubungan dan kedekatan yang terjalin selama lebih dari 20 tahun, resmi berakhir hari ini.

Dia mengambil sebuah amplop cokelat besar, lalu memasukkan tiga benda ke dalamnya.

Benda pertama adalah surat kematian Zia.

Benda kedua adalah sebuah flashdisk yang berisi rekaman suara Nadia dan anaknya.

Benda ketiga adalah akta cerainya dengan Erik.

Dia ingin membuat Erik sadar bahwa pria itu telah keliru sepenuhnya!

Setelah berpesan kepada sopir agar menyerahkan amplop cokelat itu langsung ke tangan Erik sendiri, Vanya pulang naik taksi, mengambil koper yang sudah dikemas sejak jauh-jauh hari, lalu langsung bergegas menuju bandara.

Di saat pesawat mulai lepas landas, Vanya lamat-lamat seperti melihat sosok Erik yang dulu begitu mencintainya sedang berdiri di hadapannya, tersenyum sambil melambaikan tangan.

"Vanya, kamu hebat. Bawa Zia pergi menjauh dari dia, menjauh dari diriku yang cintanya padamu sudah nggak lagi murni."

Vanya menggenggam erat kalung di dadanya, lalu menyunggingkan senyum tulus pertamanya setelah berhari-hari lamanya.

'Erik, mulai hari ini dan seterusnya, duniamu akan kehilangan aku untuk selamanya!'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 14

    Saat Erik membuka matanya kembali, dia sudah berada di rumah sakit.Dia menoleh dan langsung melihat Vanya yang sedang membelakanginya."Vanya." Suara Erik terdengar sedikit serak menahan tangis. "Kamu akhirnya mau menemuiku."Vanya berbalik, lalu menatapnya dengan raut wajah tenang."Aku menemuimu kali ini cuma ingin menjelaskan semuanya dengan baik-baik."Sebelum Vanya datang menemui Erik, semua anggota keluarganya menentang keras.Dia tahu mereka khawatir dirinya akan teringat kembali pada rasa sakit di lubuk hati yang terdalam setelah melihat Erik.Akan tetapi, dia paham betul watak Erik, jika tidak benar-benar memutus harapannya, pria itu tidak akan pernah menyerah."Erik, sejak Zia meninggal, hubungan di antara kita sudah sepenuhnya berakhir."Sorot mata Erik memancarkan kepedihan, suaranya terdengar serak."Vanya, maafkan aku, aku benar-benar nggak tahu kalau donor ginjal itu akan menyebabkan Zia meninggal."Meski Vanya sudah menerima kenyataan bahwa Zia telah tiada, tetapi saat

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 13

    Kota Adhikari, vila Keluarga Sadewa.Erik berdiri di depan pintu rumah Keluarga Sadewa. Dia mengangkat tangannya beberapa kali, tetapi tidak berani untuk mengetuk pintu.Begitu mengetahui Vanya telah kembali ke Kota Adhikari, dia langsung menyuruh asistennya membeli tiket pesawat paling cepat untuk terbang ke sana.Saat itu, asistennya sempat membujuk dengan cemas, "Pak Erik, para pemegang saham sudah mulai mengadakan rapat umum untuk mengganti posisi CEO. Bagaimana bisa Anda pergi di saat-saat genting seperti ini?""Terlebih lagi, Keluarga Sadewa sudah mengajukan gugatan hukum terhadap Anda. Anda seharusnya secepat mungkin berkomunikasi dan berdiskusi dengan pengacara."Erik mencengkeram akta cerai di tangannya hingga nyaris remuk, dia tetap bersikeras untuk pergi ke Kota Adhikari."Urusan perusahaan kamu yang bantu tangani. Sekarang, aku harus pergi mengakui kesalahanku pada Vanya, memohon agar dia mau memaafkanku."Asistennya tidak bisa membujuk Erik lagi sehingga hanya bisa pasrah

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 12

    Vanya menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat. Tentang bagaimana Erik menyembunyikan rencana operasi Zia darinya, hingga bagaimana pria itu memindahkan seluruh dokter yang berjaga sampai membuat Zia mengalami infeksi pascaoperasi dan meninggal tanpa ada yang menyelamatkannya.Di tengah cerita, dia berulang kali tersedak tangis dan kehilangan kata-kata.Setelah seluruh kejadian itu selesai diceritakan dengan terbata-bata, ruang tamu Keluarga Sadewa seketika jatuh ke dalam keheningan yang mencekam.Bibir Santi tampak bergetar hebat dan wajahnya pucat pasi."Zia itu anak kandungnya sendiri, tega-teganya Erik sekejam itu!"Umar yang biasanya selalu tenang, kini lehernya sampai merah karena menahan amarah."Bagus. Erik benar-benar hebat! Apa dia pikir Vanya nggak punya keluarga yang bisa membelanya?"Jefri mengepalkan tangannya dengan erat hingga buku-buku jarinya berbunyi."Erik menindas Vanya dan membunuh Zia. Utang ini harus kita perhitungkan matang-matang sampai tuntas."...Di si

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 11

    Pesawat mendarat dengan selamat di Kota Adhikari.Begitu Vanya keluar dari bandara sambil membawa koper, dia langsung melihat orang tua dan kakak laki-lakinya yang sudah menunggu sejak tadi.Sang kakak, Jefri Sadewa, menjadi orang pertama yang melihat sosoknya. Pria itu langsung berlari ke depan dengan penuh semangat dan memeluknya erat-erat."Akhirnya, kamu datang juga ke Kota Adhikari buat jenguk aku, Ayah dan Ibu!"Sejak empat tahun lalu, fokus bisnis Keluarga Sadewa memang perlahan-lahan sudah beralih ke Kota Adhikari.Akan tetapi, karena saat itu Vanya sudah menikah dengan Erik dan melahirkan Zia, dia hanya bisa melepas kepergian orang tua dan kakaknya yang memboyong seluruh keluarga pindah ke Kota Adhikari dengan berat hati.Melihat sudut mata orang tuanya yang tampak berkaca-kaca serta tatapan penuh perhatian dari kakaknya, seluruh rasa sesak yang tertahan selama sebulan ini beserta kepedihan atas kepergian putrinya seketika langsung meledak. Begitu membuka mulut, dia langsung t

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 10

    Akta cerai?Jantung Erik rasanya mendadak jatuh dan rasa panik yang belum pernah terjadi sebelumnya langsung menyelimuti seluruh tubuhnya.Dengan tangan gemetar, dia mengambil akta cerai itu lalu membacanya dengan sisa harapan terakhir.Begitu melihat nama yang tertera di sana, pria yang biasanya selalu berwajah dingin itu, matanya seketika merah menahan tangis."Mana mungkin ini terjadi? Mana mungkin Vanya menceraikan aku?"Erik terhuyung mundur beberapa langkah karena tidak percaya, tubuhnya hampir tidak bisa berdiri tegak."Ini pasti palsu! Aku nggak pernah menandatangani surat cerai. Pergi periksa sekarang, siapa yang berani memalsukan akta cerai aku dan Vanya!"Asistennya tetap berdiri di tempat tanpa bergerak, lalu berbicara dengan ekspresi serba salah, "Pak Erik, apa Anda lupa? Lima tahun lalu setelah Bu Vanya melahirkan Nona Zia secara prematur, demi membuat Bu Vanya tenang, Anda sendiri yang menyusun surat cerai dan menandatanganinya ...."Ingatan lima tahun lalu perlahan menj

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 9

    Duar!Kepala Erik seketika berdengung hebat. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.Surat keterangan kematian? Siapa yang meninggal sampai Vanya mengirimkan surat ini?Bayangan seseorang samar-samar terlintas di dalam benaknya.Akan tetapi, di detik berikutnya, dia langsung memaksa dirinya untuk menepis bayangan tersebut.Tidak, tidak mungkin!Zia cuma dipindahkan oleh Vanya ke rumah sakit lain, mana mungkin dia meninggal?Dengan tangan yang gemetar, dia perlahan menarik surat keterangan kematian itu keluar dari kantong.Di kolom nama jenazah, tertera jelas nama Zia!Seakan tidak percaya, dia menggosok tulisan di atas kertas itu dengan kuat, berharap bisa melihat nama lain yang muncul, tetapi tulisan itu sama sekali tidak berubah.Begitu membaca penyebab kematiannya, dia bahkan sampai terhuyung mundur beberapa langkah.Meninggal akibat infeksi pasca-operasi! Waktunya tepat di hari operasi donor ginjal itu berlangsung!Kata-kata tersebut bagaikan hantaman palu be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status