Share

Bab 5

Author: Anonima
Kuku Nadia yang panjang dan ramping menggores pipi Vanya, meninggalkan luka cakar yang cukup dalam hingga berdarah.

Ucapan Nadia barusan membuat Vanya benar-benar bingung.

"Kamu ngomong apa? Aku nggak tahu apa-apa. Lepasin aku!"

"Kamu masih mau bohong?" Nadia menunjuk ke arah Noah yang terbaring pucat di ranjang rumah sakit sambil menangis histeris. "Noah baru empat tahun, dia baru aja selesai operasi cangkok ginjal! Tega-teganya kamu sejahat itu sama dia? Kamu 'kan juga seorang ibu!"

Di depan Erik, Nadia selalu berlagak tegar. Ini pertama kalinya dia memperlihatkan sisi rapuhnya seperti itu.

Erik yang merasa iba langsung mendekap Nadia ke dalam pelukannya, lalu menghapus air mata di sudut mata wanita itu dengan lembut.

"Biar aku yang urus. Aku pasti bakal kasih penjelasan dan keadilan buat kamu dan Noah."

Setelah berkata begitu, dia menatap Vanya. Sorot matanya yang biasa dipenuhi kelembutan kini hanya menyisakan kekecewaan dan rasa dingin yang menusuk tulang. Suaranya pun terdengar menahan amarah.

"Vanya, aku 'kan udah janji sama kamu kalau aku bakal urus mereka berdua dengan baik dan nggak akan pernah mengusik kamu ataupun Zia. Tapi, kenapa kamu bahkan nggak bisa toleransi sama anak kecil umur empat tahun?"

"Tega-teganya kamu menyuruh Zia buat dorong Noah ke kolam air! Kalau aja Nadia nggak datang tepat waktu, Noah pasti udah nggak bernyawa sekarang!"

Vanya menatap Noah yang terbaring dengan mata terpejam di atas ranjang dengan tatapan tidak percaya.

Menyuruh Zia mendorong anak itu ke kolam?

Mana mungkin?

"Aku nggak pernah melakukan itu!" Vanya meronta sambil menjelaskan, "Zia udah ...."

"Aku lihat pakai mata kepalaku sendiri!" sela Nadia dengan suara bergetar menahan tangis. "Mana mungkin aku main-main soal nyawa anakku sendiri?"

Begitu kalimat itu terlontar, suara lemah Noah mendadak terdengar dari atas ranjang.

"Kakak, aku nggak berniat merebut Ayah dari Kakak. Jangan, jangan dorong aku. Ayah, tolong aku."

Nada bicara Noah yang bercampur tangis langsung membuat amarah Erik meledak.

"Zia itu masih kecil, dia nggak mungkin punya pikiran sejahat itu kalau bukan karena dihasut oleh orang yang punya niat terselubung." Sorot mata Erik yang sedingin es langsung tertuju pada Vanya. "Selain kamu, memangnya siapa lagi?"

Ucapan kejam itu bagai sebilah pedang tajam yang menusuk telak ke dalam hati Vanya.

Jahat, punya niat terselubung ....

Lebih dari 20 tahun bersama, Erik ternyata sama sekali tidak memercayai dirinya.

Dia juga seorang ibu, mana mungkin tega mencelakai seorang anak?

Darah menetes dari pipinya ke lantai, tetapi Vanya tetap menatap lurus mata Erik.

"Aku udah bilang, bukan aku yang lakuin."

Kekecewaan di mata Erik makin pekat.

"Vanya, kenapa kamu jadi sejahat ini? Aku sampai kayak nggak kenal kamu lagi."

Sudut bibir Vanya tertarik membentuk senyuman getir. Rasa ironis yang tak berdasar mulai menjalar dari lubuk hatinya ke sekujur tubuh.

Apa benar dirinya yang sudah berubah, atau sebenarnya hati pria itu, yang dulunya hanya mencintai dia seorang, sekarang sudah terisi oleh orang lain?

Suasana di dalam kamar rawat itu pun berangsur-angsur menjadi sangat tegang.

Seorang pengawal melangkah masuk lalu membisikkan sesuatu ke telinga Erik.

Kening Erik langsung berkerut.

"Vanya, kenapa Zia nggak ada di kamar rawatnya?"

Belum sempat Vanya menjawab, Nadia mengepalkan tangannya kuat-kuat dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.

"Bu Vanya, meskipun Anda yang menghasut putri Anda untuk mendorong Noah, tapi dia benar-benar melakukannya. Apa dia nggak seharusnya minta maaf sama Noah?"

"Tapi, Anda malah mengurus kepindahannya ke rumah sakit lain tanpa bilang-bilang."

Sorot mata Erik saat menatap Vanya kembali mendingin.

"Karena Zia udah kamu pindahin, kamu yang gantiin dia buat minta maaf sama Noah."

Meski dadanya terasa sangat sesak, Vanya sama sekali tidak gentar menantang balik tatapan pria itu.

"Sesuatu yang nggak pernah aku lakuin, atas dasar apa aku harus minta maaf?"

Erik menatap cukup lama pipi Vanya yang masih mengalirkan darah. Rasa iba, amarah, dan kekecewaan bercampur aduk, sebelum akhirnya dia bersuara dengan nada dingin.

"Vanya, aku harus adil sama Noah. Dia anakku, aku nggak akan biarkan siapa pun menyakiti dia."

"Masukkan dia ke kolam!"

Menatap Erik yang berdiri dengan wajah sedingin es sambil mendekap erat Nadia dalam pelukannya, Vanya tiba-tiba tertawa.

"Erik, kamu bakal menyesal."

Demi anak yang sama sekali bukan darah dagingnya sendiri, dia tega merenggut ginjal Zia sampai putrinya itu terkena infeksi dan meninggal.

Demi wanita penuh muslihat, dia memerintahkan pengawal untuk menghukum istri yang merupakan teman masa kecilnya ini.

Erik memalingkan wajah, menguatkan hatinya agar tidak melihat sepasang mata Vanya yang kini telah mati dan kehilangan binar kehidupan. Dia pun kembali mendesak dengan suara berat.

"Cepat bawa dia ke kolam!"

Vanya langsung diapit dan diseret oleh para pengawal menuju ke tepi kolam.

Byur!

Air kolam yang sedingin es langsung merendam sekujur tubuh Vanya, berebutan menyumbat hidung dan mulutnya.

Rasa sesak yang mencekik perlahan-lahan mulai menenggelamkan kesadarannya.

Dalam kondisi linglung, dia mendadak teringat masa-masa sekolah dulu. Saat itu, ada seseorang yang baru sekadar menunjuk dan mengancamnya, tetapi Erik langsung mematahkan jari orang itu di tempat, lalu memaksanya menampar pipi sendiri sambil memohon maaf kepada Vanya.

Saat itu, Erik pasang badan di depannya dan berkata, "Siapa pun yang berani menyentuh sehelai rambut Vanya, nggak akan aku lepasin!"

Sekarang, demi Nadia dan anaknya, pria itu sendiri yang memerintahkan orang untuk menceburkannya ke dalam kolam.

Pria yang membuat janji itu adalah dia.

Pria yang mengingkari sumpah itu juga adalah dia.

Vanya tidak lagi meronta, membiarkan tubuhnya pasrah tenggelam makin dalam.

'Erik, aku benar-benar menyesal pernah jatuh cinta padamu.'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 14

    Saat Erik membuka matanya kembali, dia sudah berada di rumah sakit.Dia menoleh dan langsung melihat Vanya yang sedang membelakanginya."Vanya." Suara Erik terdengar sedikit serak menahan tangis. "Kamu akhirnya mau menemuiku."Vanya berbalik, lalu menatapnya dengan raut wajah tenang."Aku menemuimu kali ini cuma ingin menjelaskan semuanya dengan baik-baik."Sebelum Vanya datang menemui Erik, semua anggota keluarganya menentang keras.Dia tahu mereka khawatir dirinya akan teringat kembali pada rasa sakit di lubuk hati yang terdalam setelah melihat Erik.Akan tetapi, dia paham betul watak Erik, jika tidak benar-benar memutus harapannya, pria itu tidak akan pernah menyerah."Erik, sejak Zia meninggal, hubungan di antara kita sudah sepenuhnya berakhir."Sorot mata Erik memancarkan kepedihan, suaranya terdengar serak."Vanya, maafkan aku, aku benar-benar nggak tahu kalau donor ginjal itu akan menyebabkan Zia meninggal."Meski Vanya sudah menerima kenyataan bahwa Zia telah tiada, tetapi saat

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 13

    Kota Adhikari, vila Keluarga Sadewa.Erik berdiri di depan pintu rumah Keluarga Sadewa. Dia mengangkat tangannya beberapa kali, tetapi tidak berani untuk mengetuk pintu.Begitu mengetahui Vanya telah kembali ke Kota Adhikari, dia langsung menyuruh asistennya membeli tiket pesawat paling cepat untuk terbang ke sana.Saat itu, asistennya sempat membujuk dengan cemas, "Pak Erik, para pemegang saham sudah mulai mengadakan rapat umum untuk mengganti posisi CEO. Bagaimana bisa Anda pergi di saat-saat genting seperti ini?""Terlebih lagi, Keluarga Sadewa sudah mengajukan gugatan hukum terhadap Anda. Anda seharusnya secepat mungkin berkomunikasi dan berdiskusi dengan pengacara."Erik mencengkeram akta cerai di tangannya hingga nyaris remuk, dia tetap bersikeras untuk pergi ke Kota Adhikari."Urusan perusahaan kamu yang bantu tangani. Sekarang, aku harus pergi mengakui kesalahanku pada Vanya, memohon agar dia mau memaafkanku."Asistennya tidak bisa membujuk Erik lagi sehingga hanya bisa pasrah

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 12

    Vanya menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat. Tentang bagaimana Erik menyembunyikan rencana operasi Zia darinya, hingga bagaimana pria itu memindahkan seluruh dokter yang berjaga sampai membuat Zia mengalami infeksi pascaoperasi dan meninggal tanpa ada yang menyelamatkannya.Di tengah cerita, dia berulang kali tersedak tangis dan kehilangan kata-kata.Setelah seluruh kejadian itu selesai diceritakan dengan terbata-bata, ruang tamu Keluarga Sadewa seketika jatuh ke dalam keheningan yang mencekam.Bibir Santi tampak bergetar hebat dan wajahnya pucat pasi."Zia itu anak kandungnya sendiri, tega-teganya Erik sekejam itu!"Umar yang biasanya selalu tenang, kini lehernya sampai merah karena menahan amarah."Bagus. Erik benar-benar hebat! Apa dia pikir Vanya nggak punya keluarga yang bisa membelanya?"Jefri mengepalkan tangannya dengan erat hingga buku-buku jarinya berbunyi."Erik menindas Vanya dan membunuh Zia. Utang ini harus kita perhitungkan matang-matang sampai tuntas."...Di si

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 11

    Pesawat mendarat dengan selamat di Kota Adhikari.Begitu Vanya keluar dari bandara sambil membawa koper, dia langsung melihat orang tua dan kakak laki-lakinya yang sudah menunggu sejak tadi.Sang kakak, Jefri Sadewa, menjadi orang pertama yang melihat sosoknya. Pria itu langsung berlari ke depan dengan penuh semangat dan memeluknya erat-erat."Akhirnya, kamu datang juga ke Kota Adhikari buat jenguk aku, Ayah dan Ibu!"Sejak empat tahun lalu, fokus bisnis Keluarga Sadewa memang perlahan-lahan sudah beralih ke Kota Adhikari.Akan tetapi, karena saat itu Vanya sudah menikah dengan Erik dan melahirkan Zia, dia hanya bisa melepas kepergian orang tua dan kakaknya yang memboyong seluruh keluarga pindah ke Kota Adhikari dengan berat hati.Melihat sudut mata orang tuanya yang tampak berkaca-kaca serta tatapan penuh perhatian dari kakaknya, seluruh rasa sesak yang tertahan selama sebulan ini beserta kepedihan atas kepergian putrinya seketika langsung meledak. Begitu membuka mulut, dia langsung t

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 10

    Akta cerai?Jantung Erik rasanya mendadak jatuh dan rasa panik yang belum pernah terjadi sebelumnya langsung menyelimuti seluruh tubuhnya.Dengan tangan gemetar, dia mengambil akta cerai itu lalu membacanya dengan sisa harapan terakhir.Begitu melihat nama yang tertera di sana, pria yang biasanya selalu berwajah dingin itu, matanya seketika merah menahan tangis."Mana mungkin ini terjadi? Mana mungkin Vanya menceraikan aku?"Erik terhuyung mundur beberapa langkah karena tidak percaya, tubuhnya hampir tidak bisa berdiri tegak."Ini pasti palsu! Aku nggak pernah menandatangani surat cerai. Pergi periksa sekarang, siapa yang berani memalsukan akta cerai aku dan Vanya!"Asistennya tetap berdiri di tempat tanpa bergerak, lalu berbicara dengan ekspresi serba salah, "Pak Erik, apa Anda lupa? Lima tahun lalu setelah Bu Vanya melahirkan Nona Zia secara prematur, demi membuat Bu Vanya tenang, Anda sendiri yang menyusun surat cerai dan menandatanganinya ...."Ingatan lima tahun lalu perlahan menj

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 9

    Duar!Kepala Erik seketika berdengung hebat. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.Surat keterangan kematian? Siapa yang meninggal sampai Vanya mengirimkan surat ini?Bayangan seseorang samar-samar terlintas di dalam benaknya.Akan tetapi, di detik berikutnya, dia langsung memaksa dirinya untuk menepis bayangan tersebut.Tidak, tidak mungkin!Zia cuma dipindahkan oleh Vanya ke rumah sakit lain, mana mungkin dia meninggal?Dengan tangan yang gemetar, dia perlahan menarik surat keterangan kematian itu keluar dari kantong.Di kolom nama jenazah, tertera jelas nama Zia!Seakan tidak percaya, dia menggosok tulisan di atas kertas itu dengan kuat, berharap bisa melihat nama lain yang muncul, tetapi tulisan itu sama sekali tidak berubah.Begitu membaca penyebab kematiannya, dia bahkan sampai terhuyung mundur beberapa langkah.Meninggal akibat infeksi pasca-operasi! Waktunya tepat di hari operasi donor ginjal itu berlangsung!Kata-kata tersebut bagaikan hantaman palu be

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 6

    Saat Vanya kembali siuman, Erik sedang menggenggam erat tangannya dengan lingkaran hitam yang menghiasi bawah matanya."Vanya, kenapa kamu sama sekali nggak gerak pas di dalam kolam? Kamu tahu nggak seberapa takutnya aku kalau kamu benaran tenggelam?"Vanya menarik kembali tangannya dengan nada data

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 4

    Saat Vanya tersadar, pikirannya masih terasa kacau dan linglung."Vanya, akhirnya kamu bangun juga."Begitu melihat Vanya membuka mata, Erik langsung menyambar tangannya dan mengecupnya dengan mesra."Kamu tahu nggak, pas lihat kamu terkapar pingsan di lantai, rasanya jantungku kayak mau copot. Syuk

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 3

    Begitu kembali ke vila, Vanya secara refleks melangkah masuk ke dalam kamar Zia.Kamar itu tampak sangat rapi, sama sekali tidak ada yang berubah sejak mereka tinggalkan tadi pagi.Akan tetapi, tempat ini tidak akan pernah lagi dipenuhi oleh gelak tawa seperti dulu.Tatapannya menyapu setiap sudut k

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 2

    Perawat itu menatap Vanya dengan tatapan iba. Dia mencabut semua kabel instrumen medis lalu melangkah pergi, memberikan ruang bagi ibu yang baru saja kehilangan anaknya itu.Begitu pintu ruang operasi tertutup rapat, seluruh kekuatan di tubuh Vanya seakan terkuras habis. Dia mendadak ambruk dan terd

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status