Share

Bab 2

Author: Anonima
Perawat itu menatap Vanya dengan tatapan iba. Dia mencabut semua kabel instrumen medis lalu melangkah pergi, memberikan ruang bagi ibu yang baru saja kehilangan anaknya itu.

Begitu pintu ruang operasi tertutup rapat, seluruh kekuatan di tubuh Vanya seakan terkuras habis. Dia mendadak ambruk dan terduduk lemas di lantai. Tatapan matanya kosong, menyisakan kesunyian yang mematikan.

Bayangan saat Zia baru lahir yang masih begitu mungil, saat Zia pertama kali bisa memanggilnya Ibu, saat Zia pertama kali bisa berdiri ....

Segala kenangan masa lalu terus berputar di benak Vanya, hingga akhirnya ingatan itu terpaku pada sosok Zia yang terbujur kaku dengan wajah pucat pasi di atas meja operasi yang dingin.

Rasa sakit yang teramat sangat menjalar hingga meremukkan seluruh dadanya, tetapi kini dia bahkan tidak bisa mengeluarkan setetes air mata pun.

Entah berapa lama waktu telah berlalu, Vanya perlahan bangkit berdiri. Dia mendekap tubuh dingin Zia ke dalam pelukannya, lalu menimangnya dengan lembut, persis seperti saat dia menidurkan putrinya itu sewaktu bayi.

"Zia, Ibu bawa kamu pergi dari sini."

Kedua kakinya terasa begitu berat bagai dihujani timah. Setiap langkah yang diambilnya terasa sangat sulit dan menyiksa.

Tepat di depan pintu ruang operasi, Vanya berpapasan dengan Erik yang datang dengan tersenyum lebar.

"Vanya, Noah udah keluar dari ruang operasi dengan selamat. Aku ke sini mau jenguk Zia."

Selamat?

Vanya menggigit bibirnya kuat-kuat, hatinya terasa sangat perih hingga membuatnya sesak napas.

Keselamatan anak haram pria itu harus dibayar mahal dengan nyawa Zia!

"Zia nggak butuh Ayah yang nggak sayang sama dia."

Senyum Erik seketika membeku di wajahnya, gurat penyesalan dan kepedihan samar mulai terpancar di wajahnya.

"Vanya, mana mungkin aku nggak sayang sama Zia? Dia itu anak perempuan paling berharga buat aku, putri kecil yang selalu aku jaga sepenuh hati."

"Kalau bisa, aku bahkan rela gantiin dia buat nanggung semua rasa sakit di dunia ini. Zia cuma perlu tumbuh besar dengan bahagia, tanpa beban dan tanpa rasa khawatir."

Kalimatnya terdengar begitu tulus dan meyakinkan, benar-benar memperlihatkan sosok seorang ayah yang sempurna.

Detik berikutnya, Vanya tertawa, tawa getir yang dipenuhi rasa hampa yang teramat sangat di dalam dadanya.

'Tapi, Erik, rasa sakit terbesar dalam hidup Zia itu justru datangnya dari kamu!'

"Sayang? Kalau kamu emang sayang sama Zia, mana mungkin kamu tega nyeret dia ke meja operasi? Kamu tahu nggak ...."

'Sampai detik-detik terakhirnya pun, dia masih mikir kalau dia udah bikin salah makanya kamu buang ke rumah sakit. Dia bahkan masih sempat minta maaf sama kamu.'

Kalimat selanjutnya tertahan di tenggorokan Vanya, menyumbat semua kata hingga tidak ada lagi yang bisa keluar.

Melihat sepasang mata Vanya yang merah, dada Erik berdenyut nyeri. Dengan nada suara panik, dia berusaha membela diri.

"Aku janji ini yang pertama dan terakhir kalinya. Kondisi Noah bener-bener kritis, dia nggak bisa nunggu donor lain lebih lama lagi. Lagian, mereka 'kan kakak adik ...."

Begitu menyadari wajah Vanya yang justru makin pucat, Erik langsung menghentikan kalimatnya dan buru-buru mengalihkan pembicaraan.

"Zia belum sadar dari obat biusnya? Sini biar aku aja yang gendong dia ke kamar rawat, aku bakal jagain dia sampai siuman."

Pelukan Vanya pada tubuh Zia seketika mengetat. Rasa duka yang teramat dalam kini mencekik dirinya layaknya jaring laba-laba raksasa, mengurungnya rapat-rapat hingga dia tidak lagi bisa bernapas.

Siuman?

Pria itu masih belum tahu kalau Zia tidak akan pernah bisa bangun lagi untuk selamanya.

Tepat satu detik sebelum kedua tangan Erik menyentuh tubuh Zia, seorang pengawal berlari tergesa-gesa menghampiri mereka.

"Pak Erik, Tuan Muda sudah sadar. Dia menangis terus mencari Anda. Katanya kalau nggak melihat Anda, dia mau mencabut paksa selang infusnya. Bahkan Nona Nadia pun nggak sanggup menenangkannya."

"Dia baru selesai operasi, kenapa malah bikin ulah begini!" Erik menegurnya dengan nada kesal, tetapi sorot mata dan wajahnya jelas dipenuhi kecemasan.

Dia perlahan menarik kembali tangannya yang menggantung di udara, lalu menatap Vanya dengan tatapan rasa bersalah.

"Vanya, kamu jagain Zia dulu sebentar, ya? Aku janji bakal langsung balik ke sini begitu Noah udah tenang."

"Erik," panggil Vanya dengan nada suara yang luar biasa tenang dan dingin. "Ini kesempatan terakhirmu."

Begitu pria itu melangkah pergi dari sini, seumur hidup dia tidak akan pernah punya kesempatan lagi untuk melihat wajah Zia.

Akan tetapi, Erik justru salah menangkap maksud kalimat itu. Dia mengira Vanya mulai melunak dan memaafkan perbuatannya hari ini, sehingga dia malah bernapas lega.

"Begitu Noah sembuh dan mereka berdua pergi, aku janji bakal luangin waktu penuh buat nemenin kamu sama Zia. Kita bakal kayak dulu lagi, tetap jadi keluarga kecil bertiga yang bahagia."

Sambil mendekap erat tubuh Zia, Vanya hanya berdiri diam di tempatnya. Dia menatap punggung Erik yang melangkah pergi dengan tergesa-gesa, sementara sudut bibirnya membentuk seulas senyum penuh sarkasme.

Keluarga kecil bertiga yang dulu .... Mulai hari ini, tidak akan pernah bisa kembali lagi.

...

Vanya membawa jasad Zia ke rumah duka.

Dia menyaksikan sendiri bagaimana putri kecilnya yang dulu hidup dan ceria itu akhirnya berubah menjadi segenggam abu yang ringan.

Sepanjang proses itu, dia tetap tidak bisa mengeluarkan setetes air mata pun, benar-benar seperti mayat hidup.

Vanya meminta pemilik tempat itu untuk memasukkan abu Zia ke dalam sebuah guci kecil dan merangkainya menjadi kalung untuk dipakai di lehernya.

Dibandingkan sendirian di bawah tanah, Zia pasti lebih ingin selalu bersamanya setiap saat.

Keluar dari rumah duka, Vanya langsung pergi ke kantor pengacara.

"Aku mau menandatangani surat perceraian yang dibuat empat tahun lalu."

Sehari setelah Erik tidur dengan mahasiswi itu, Erik sendiri yang menyusun surat perceraian ini, lalu menandatanganinya tepat di hadapan Vanya.

Saat itu dia berkata, "Vanya, kalau sampai aku mengkhianatimu lagi, kamu tinggal tanda tangani surat ini, ceraikan aku, dan tinggalkan aku untuk selamanya!"

Vanya mengira, seumur hidup dia tidak akan pernah melihat surat perceraian ini lagi.

Siapa yang menyangka bahwa hanya dalam waktu lima tahun, surat ini kembali muncul di hadapannya.

Vanya menerima dokumen tersebut, lalu menorehkan tanda tangannya dengan sangat mantap dan sungguh-sungguh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 14

    Saat Erik membuka matanya kembali, dia sudah berada di rumah sakit.Dia menoleh dan langsung melihat Vanya yang sedang membelakanginya."Vanya." Suara Erik terdengar sedikit serak menahan tangis. "Kamu akhirnya mau menemuiku."Vanya berbalik, lalu menatapnya dengan raut wajah tenang."Aku menemuimu kali ini cuma ingin menjelaskan semuanya dengan baik-baik."Sebelum Vanya datang menemui Erik, semua anggota keluarganya menentang keras.Dia tahu mereka khawatir dirinya akan teringat kembali pada rasa sakit di lubuk hati yang terdalam setelah melihat Erik.Akan tetapi, dia paham betul watak Erik, jika tidak benar-benar memutus harapannya, pria itu tidak akan pernah menyerah."Erik, sejak Zia meninggal, hubungan di antara kita sudah sepenuhnya berakhir."Sorot mata Erik memancarkan kepedihan, suaranya terdengar serak."Vanya, maafkan aku, aku benar-benar nggak tahu kalau donor ginjal itu akan menyebabkan Zia meninggal."Meski Vanya sudah menerima kenyataan bahwa Zia telah tiada, tetapi saat

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 13

    Kota Adhikari, vila Keluarga Sadewa.Erik berdiri di depan pintu rumah Keluarga Sadewa. Dia mengangkat tangannya beberapa kali, tetapi tidak berani untuk mengetuk pintu.Begitu mengetahui Vanya telah kembali ke Kota Adhikari, dia langsung menyuruh asistennya membeli tiket pesawat paling cepat untuk terbang ke sana.Saat itu, asistennya sempat membujuk dengan cemas, "Pak Erik, para pemegang saham sudah mulai mengadakan rapat umum untuk mengganti posisi CEO. Bagaimana bisa Anda pergi di saat-saat genting seperti ini?""Terlebih lagi, Keluarga Sadewa sudah mengajukan gugatan hukum terhadap Anda. Anda seharusnya secepat mungkin berkomunikasi dan berdiskusi dengan pengacara."Erik mencengkeram akta cerai di tangannya hingga nyaris remuk, dia tetap bersikeras untuk pergi ke Kota Adhikari."Urusan perusahaan kamu yang bantu tangani. Sekarang, aku harus pergi mengakui kesalahanku pada Vanya, memohon agar dia mau memaafkanku."Asistennya tidak bisa membujuk Erik lagi sehingga hanya bisa pasrah

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 12

    Vanya menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat. Tentang bagaimana Erik menyembunyikan rencana operasi Zia darinya, hingga bagaimana pria itu memindahkan seluruh dokter yang berjaga sampai membuat Zia mengalami infeksi pascaoperasi dan meninggal tanpa ada yang menyelamatkannya.Di tengah cerita, dia berulang kali tersedak tangis dan kehilangan kata-kata.Setelah seluruh kejadian itu selesai diceritakan dengan terbata-bata, ruang tamu Keluarga Sadewa seketika jatuh ke dalam keheningan yang mencekam.Bibir Santi tampak bergetar hebat dan wajahnya pucat pasi."Zia itu anak kandungnya sendiri, tega-teganya Erik sekejam itu!"Umar yang biasanya selalu tenang, kini lehernya sampai merah karena menahan amarah."Bagus. Erik benar-benar hebat! Apa dia pikir Vanya nggak punya keluarga yang bisa membelanya?"Jefri mengepalkan tangannya dengan erat hingga buku-buku jarinya berbunyi."Erik menindas Vanya dan membunuh Zia. Utang ini harus kita perhitungkan matang-matang sampai tuntas."...Di si

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 11

    Pesawat mendarat dengan selamat di Kota Adhikari.Begitu Vanya keluar dari bandara sambil membawa koper, dia langsung melihat orang tua dan kakak laki-lakinya yang sudah menunggu sejak tadi.Sang kakak, Jefri Sadewa, menjadi orang pertama yang melihat sosoknya. Pria itu langsung berlari ke depan dengan penuh semangat dan memeluknya erat-erat."Akhirnya, kamu datang juga ke Kota Adhikari buat jenguk aku, Ayah dan Ibu!"Sejak empat tahun lalu, fokus bisnis Keluarga Sadewa memang perlahan-lahan sudah beralih ke Kota Adhikari.Akan tetapi, karena saat itu Vanya sudah menikah dengan Erik dan melahirkan Zia, dia hanya bisa melepas kepergian orang tua dan kakaknya yang memboyong seluruh keluarga pindah ke Kota Adhikari dengan berat hati.Melihat sudut mata orang tuanya yang tampak berkaca-kaca serta tatapan penuh perhatian dari kakaknya, seluruh rasa sesak yang tertahan selama sebulan ini beserta kepedihan atas kepergian putrinya seketika langsung meledak. Begitu membuka mulut, dia langsung t

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 10

    Akta cerai?Jantung Erik rasanya mendadak jatuh dan rasa panik yang belum pernah terjadi sebelumnya langsung menyelimuti seluruh tubuhnya.Dengan tangan gemetar, dia mengambil akta cerai itu lalu membacanya dengan sisa harapan terakhir.Begitu melihat nama yang tertera di sana, pria yang biasanya selalu berwajah dingin itu, matanya seketika merah menahan tangis."Mana mungkin ini terjadi? Mana mungkin Vanya menceraikan aku?"Erik terhuyung mundur beberapa langkah karena tidak percaya, tubuhnya hampir tidak bisa berdiri tegak."Ini pasti palsu! Aku nggak pernah menandatangani surat cerai. Pergi periksa sekarang, siapa yang berani memalsukan akta cerai aku dan Vanya!"Asistennya tetap berdiri di tempat tanpa bergerak, lalu berbicara dengan ekspresi serba salah, "Pak Erik, apa Anda lupa? Lima tahun lalu setelah Bu Vanya melahirkan Nona Zia secara prematur, demi membuat Bu Vanya tenang, Anda sendiri yang menyusun surat cerai dan menandatanganinya ...."Ingatan lima tahun lalu perlahan menj

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 9

    Duar!Kepala Erik seketika berdengung hebat. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.Surat keterangan kematian? Siapa yang meninggal sampai Vanya mengirimkan surat ini?Bayangan seseorang samar-samar terlintas di dalam benaknya.Akan tetapi, di detik berikutnya, dia langsung memaksa dirinya untuk menepis bayangan tersebut.Tidak, tidak mungkin!Zia cuma dipindahkan oleh Vanya ke rumah sakit lain, mana mungkin dia meninggal?Dengan tangan yang gemetar, dia perlahan menarik surat keterangan kematian itu keluar dari kantong.Di kolom nama jenazah, tertera jelas nama Zia!Seakan tidak percaya, dia menggosok tulisan di atas kertas itu dengan kuat, berharap bisa melihat nama lain yang muncul, tetapi tulisan itu sama sekali tidak berubah.Begitu membaca penyebab kematiannya, dia bahkan sampai terhuyung mundur beberapa langkah.Meninggal akibat infeksi pasca-operasi! Waktunya tepat di hari operasi donor ginjal itu berlangsung!Kata-kata tersebut bagaikan hantaman palu be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status