Share

Bab 3

Author: Anonima
Begitu kembali ke vila, Vanya secara refleks melangkah masuk ke dalam kamar Zia.

Kamar itu tampak sangat rapi, sama sekali tidak ada yang berubah sejak mereka tinggalkan tadi pagi.

Akan tetapi, tempat ini tidak akan pernah lagi dipenuhi oleh gelak tawa seperti dulu.

Tatapannya menyapu setiap sudut kamar inci demi inci, hingga akhirnya terpaku pada sebuah boneka di atas nakas tempat tidur.

Itu adalah hadiah ulang tahun pemberiannya untuk Zia, sebuah boneka yang dilengkapi dengan fitur perekam suara.

Saat tombol perekam itu ditekan, suara yang amat familier pun terdengar.

"Wah, boneka dari Ibu! Aku bakal peluk kamu setiap malam pas tidur. Aku sayang Ibu!"

Setiap kata yang terucap rasanya bagai hantaman palu yang bertubi-tubi meremukkan dada Vanya.

Hingga akhirnya, air mata yang sejak tadi dia bendung pun tumpah ruah tak terbendung lagi.

Dia mendekap boneka itu erat-erat ke dalam dadanya, meringkuk di atas tempat tidur seolah dengan cara begitu dia masih bisa merasakan sisa kehangatan tubuh Zia.

Dia benar-benar menyesal.

Menyesal karena telah memercayakan Zia kepada Erik tadi pagi.

Menyesal karena tidak langsung bercerai lima tahun yang lalu.

Dan yang paling dia sesali adalah karena telah mencintai Erik.

Vanya meremas kuat-kuat liontin guci kecil yang menggantung di dadanya.

"Zia, tunggu sebentar lagi, ya. Ibu bakal segera bawa kamu pergi dari sini."

Air matanya perlahan luruh, mengalir lalu hilang tertelan kegelapan.

...

Keesokan paginya, begitu Vanya turun ke lantai bawah, dia mendapati ada dua orang asing yang bertamu di ruang tamu.

Erik tampak sedang memegangi telapak tangan Nadia yang sedikit tergores, lalu dengan penuh perhatian mengoleskan obat merah ke luka itu.

Kedua mata Nadia tampak agak berkaca-kaca, tetapi dia bersikeras memalingkan wajahnya ke arah lain, enggan menatap pria di hadapannya.

"Pak Erik, jangan pikir kebaikanmu ini bisa bikin aku luluh dan menyerahkan hak asuh Noah begitu aja. Dia cuma anakku, anak Nadia Armani seorang."

Meski ditanggapi dengan ketus, Erik sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda akan marah. Dia justru meniup luka itu dengan lembut, membalutnya hati-hati dengan kain kasa, lalu menatap Nadia dengan sorot mata yang tampak serba salah.

"Aku nggak akan merebut Noah dari kamu. Tapi, bagaimanapun juga, dia itu anak kita berdua, kamu nggak bisa menyangkal hal itu. Sekarang, aku cuma mau menebus waktu lima tahun kemarin, saat kamu dan Noah harus berjuang tanpa ada aku di samping kalian."

Kedua tangan Vanya yang menggantung di sisi tubuhnya seketika meremas kuat-kuat, hingga kuku-kukunya memutih dan menancap dalam ke telapak tangan.

Menebus?

Erik berutang pada ibu dan anak itu, tetapi atas dasar apa nyawa Zia yang harus dijadikan tebusannya?

Sudut mata Erik menangkap sosok Vanya yang sedang berdiri di sana. Dia segera meletakkan kain kasa di tangannya, melangkah maju untuk memeluk Vanya erat-erat, lalu menjelaskan dengan suara lembut, "Vanya, Nadia cuma mau numpang pakai dapur buat bikin sup buat Noah supaya tubuhnya cepat pulih. Tadi dia nggak sengaja melukai tangannya waktu motong, makanya aku bantu obati lukanya. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh."

"Zia mana? Dia udah bangun?"

Bulu mata Vanya tampak bergetar samar.

"Nggak."

Zia tidak akan pernah bisa bangun lagi.

Erik terkejut.

Ini cuma pengaruh obat bius pasca operasi, kenapa sampai keesokan harinya Zia masih belum sadar juga?

Baru saja Erik hendak bertanya lebih lanjut, bunyi denting notifikasi ponsel mendadak mengganggu pikirannya.

Begitu melihat isi pesan yang masuk, Erik langsung mengernyitkan dahi.

"Vanya, aku ada urusan mendadak di kantor, aku pergi sebentar."

Setelah berpamitan, dia kembali berpesan dengan sangat sabar kepada Nadia, "Ingat, lukanya jangan sampai kena air. Nanti kalau supnya udah matang, aku bakal balik ke sini buat jemput kamu, terus kita pergi bareng ke rumah sakit buat jenguk Noah."

Mendengar nada suara Erik yang begitu lembut, dada Vanya rasanya seolah sedang dicengkeram kuat oleh sebuah tangan tak kasatmata hingga membuatnya sesak napas.

Dulu, Erik hanya akan menunjukkan sisi lembutnya itu kepada dirinya dan juga Zia.

Akan tetapi, sekarang, porsi itu sudah terbagi untuk Nadia dan anaknya.

Begitu Erik melangkah pergi, suasana ruang tamu seketika hening, hanya menyisakan Vanya dan Nadia saja.

Raut wajah Nadia kini kembali berubah menjadi dingin.

"Bu Vanya, Anda tenang saja. Meskipun Pak Erik sudah menyelamatkan Noah, aku sama sekali nggak punya niat untuk membiarkan anakku menyandang status sebagai anak haram. Aku nggak akan pernah menyerahkan hak asuh Noah."

"Nggak usah akting lagi, di sini cuma ada kita berdua."

Wajah Vanya langsung berubah dingin, tanpa ampun menguliti topeng dan niat asli Nadia.

"Kamu emang nggak mau dia jadi anak haram. Tapi, yang kamu incar itu sebenarnya adalah menjadikannya pewaris sah Keluarga Gunawan, 'kan?"

Lima tahun yang lalu, selain memberikan uang tutup mulut dan ganti rugi dalam jumlah besar kepada Nadia, Erik juga sengaja menyuruh pengawalnya membelikan obat dan memastikan wanita itu meminumnya.

Akan tetapi, Nadia tidak hanya tetap hamil, dia bahkan melahirkan anak itu.

Lalu, lima tahun kemudian, dia kembali dan melamar kerja di Grup Gunawan, sampai akhirnya membuat Erik tahu tanpa sengaja kalau mereka memiliki seorang anak.

Vanya tumbuh besar di lingkungan keluarga konglomerat, mana mungkin dia tidak paham taktik licik seperti ini.

Ekspresi Nadia sempat membeku sesaat. Namun, di detik berikutnya, dia langsung berdiri dengan raut wajah yang tampak begitu terhina.

"Bu Vanya, tolong jangan pakai cara pandang kotor khas orang kaya untuk menilaiku!"

"Aku cuma nggak tega buat gugurin sebuah nyawa kecil, itu aja! Soal Pak Erik yang akhirnya tahu tentang keberadaan Noah, itu semua di luar dugaanku!"

Vanya hanya menatap dingin ke arah Nadia yang sedang berlagak suci dan terhina itu. Tanpa sepatah kata pun lagi, dia berbalik dan melangkah ke lantai atas.

Apa pun niat asli Nadia yang sebenarnya, sudah tidak ada hubungannya lagi dengan dirinya.

Gelar sebagai istri Erik, kalau memang wanita itu menginginkannya, ambil saja.

Vanya kembali ke kamar Zia dan mulai mengemasi barang-barangnya.

Setiap sudut dan barang di tempat ini masih menyisakan aroma dan jejak keberadaan Zia. Dia ingin membawa semuanya pergi.

Pandangan Vanya tertuju pada album foto milik Zia yang tergeletak di atas meja. Dia melangkah mendekat lalu membukanya.

Di dalamnya penuh dengan foto keluarga mereka bertiga.

Foto saat Erik menggendong Zia dengan satu tangan sementara tangan lainnya menggenggam jemari Vanya di bawah kaki Gunung Ruri. Foto saat dia dan Zia tertawa lepas saling kejar-kejaran di tepi pantai, sementara Erik memperhatikan mereka dari belakang dengan sorot mata yang penuh cinta ....

Di setiap lembar foto itu, wajah mereka bertiga selalu dihiasi oleh senyuman. Kebahagiaan yang terpancar seolah meluap keluar dari lembaran kertas foto tersebut.

Akan tetapi, sekarang, momen-momen penuh kebahagiaan itu tidak akan pernah bisa kembali lagi.

Vanya mengeluarkan semua foto dari dalam album tersebut. Satu demi satu, dia merobek bagian yang menampilkan sosok Erik lalu membuangnya ke tong sampah, hanya menyisakan bagian foto dirinya dan Zia.

Saat proses berkemasnya baru berjalan separuh, sebuah aroma menyengat menusuk hidung.

Vanya mengernyitkan dahi. Begitu dia membuka pintu kamar, bau menyengat itu justru terasa makin pekat.

Baru beberapa langkah, rasa pening yang luar biasa mendadak menyerang kepalanya hingga membuat keseimbangannya limbung. Dia terhuyung beberapa langkah sebelum akhirnya berusaha bertumpu pada dinding agar tidak ambruk.

Di tengah pikirannya yang mulai kacau, otak Vanya mendadak terasa sedikit lebih jernih.

Ini kebocoran gas!

Vanya bergegas membasahi handuk untuk menutupi hidung dan mulutnya, lalu memaksakan sisa tenaganya untuk turun ke lantai bawah.

Begitu sampai di ruang tamu, dia melihat Nadia sudah pingsan di atas sofa.

Rasa pusing di kepalanya kini makin tak tertahankan. Vanya tidak sanggup lagi bertahan, kedua kakinya seketika lemas hingga membuatnya jatuh tersungkur ke lantai.

Vanya berusaha mencari ponselnya untuk menelepon ambulans, tetapi kelopak matanya justru terasa makin berat.

Tepat satu detik sebelum matanya terpejam rapat, terdengar suara pintu depan dibuka dari luar.

Vanya menggigit kuat-kuat ujung lidahnya, berusaha mati-matian mempertahankan kesadaran yang tersisa, lalu mengulurkan tangan ke arah Erik.

"Erik, tolong ... aku."

"Nadia!"

Akan tetapi, Erik tanpa ragu sedikit pun berlari menghampiri Nadia, lalu membopong tubuh wanita itu dalam gendongannya.

"Tahan sebentar! Aku bakal langsung bawa kamu ke rumah sakit sekarang!"

Langkah kakinya begitu tergesa-gesa, hingga dia sama sekali tidak menyadari keberadaan Vanya yang sedang meminta pertolongan tak jauh dari sana.

Terbaring di atas lantai yang dingin, Vanya hanya bisa menatap punggung pria yang dulu pernah berjanji akan melindunginya seumur hidup itu, kini melangkah pergi sambil mendekap wanita lain. Perlahan, kelopak mata Vanya pun tertutup sepenuhnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 14

    Saat Erik membuka matanya kembali, dia sudah berada di rumah sakit.Dia menoleh dan langsung melihat Vanya yang sedang membelakanginya."Vanya." Suara Erik terdengar sedikit serak menahan tangis. "Kamu akhirnya mau menemuiku."Vanya berbalik, lalu menatapnya dengan raut wajah tenang."Aku menemuimu kali ini cuma ingin menjelaskan semuanya dengan baik-baik."Sebelum Vanya datang menemui Erik, semua anggota keluarganya menentang keras.Dia tahu mereka khawatir dirinya akan teringat kembali pada rasa sakit di lubuk hati yang terdalam setelah melihat Erik.Akan tetapi, dia paham betul watak Erik, jika tidak benar-benar memutus harapannya, pria itu tidak akan pernah menyerah."Erik, sejak Zia meninggal, hubungan di antara kita sudah sepenuhnya berakhir."Sorot mata Erik memancarkan kepedihan, suaranya terdengar serak."Vanya, maafkan aku, aku benar-benar nggak tahu kalau donor ginjal itu akan menyebabkan Zia meninggal."Meski Vanya sudah menerima kenyataan bahwa Zia telah tiada, tetapi saat

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 13

    Kota Adhikari, vila Keluarga Sadewa.Erik berdiri di depan pintu rumah Keluarga Sadewa. Dia mengangkat tangannya beberapa kali, tetapi tidak berani untuk mengetuk pintu.Begitu mengetahui Vanya telah kembali ke Kota Adhikari, dia langsung menyuruh asistennya membeli tiket pesawat paling cepat untuk terbang ke sana.Saat itu, asistennya sempat membujuk dengan cemas, "Pak Erik, para pemegang saham sudah mulai mengadakan rapat umum untuk mengganti posisi CEO. Bagaimana bisa Anda pergi di saat-saat genting seperti ini?""Terlebih lagi, Keluarga Sadewa sudah mengajukan gugatan hukum terhadap Anda. Anda seharusnya secepat mungkin berkomunikasi dan berdiskusi dengan pengacara."Erik mencengkeram akta cerai di tangannya hingga nyaris remuk, dia tetap bersikeras untuk pergi ke Kota Adhikari."Urusan perusahaan kamu yang bantu tangani. Sekarang, aku harus pergi mengakui kesalahanku pada Vanya, memohon agar dia mau memaafkanku."Asistennya tidak bisa membujuk Erik lagi sehingga hanya bisa pasrah

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 12

    Vanya menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat. Tentang bagaimana Erik menyembunyikan rencana operasi Zia darinya, hingga bagaimana pria itu memindahkan seluruh dokter yang berjaga sampai membuat Zia mengalami infeksi pascaoperasi dan meninggal tanpa ada yang menyelamatkannya.Di tengah cerita, dia berulang kali tersedak tangis dan kehilangan kata-kata.Setelah seluruh kejadian itu selesai diceritakan dengan terbata-bata, ruang tamu Keluarga Sadewa seketika jatuh ke dalam keheningan yang mencekam.Bibir Santi tampak bergetar hebat dan wajahnya pucat pasi."Zia itu anak kandungnya sendiri, tega-teganya Erik sekejam itu!"Umar yang biasanya selalu tenang, kini lehernya sampai merah karena menahan amarah."Bagus. Erik benar-benar hebat! Apa dia pikir Vanya nggak punya keluarga yang bisa membelanya?"Jefri mengepalkan tangannya dengan erat hingga buku-buku jarinya berbunyi."Erik menindas Vanya dan membunuh Zia. Utang ini harus kita perhitungkan matang-matang sampai tuntas."...Di si

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 11

    Pesawat mendarat dengan selamat di Kota Adhikari.Begitu Vanya keluar dari bandara sambil membawa koper, dia langsung melihat orang tua dan kakak laki-lakinya yang sudah menunggu sejak tadi.Sang kakak, Jefri Sadewa, menjadi orang pertama yang melihat sosoknya. Pria itu langsung berlari ke depan dengan penuh semangat dan memeluknya erat-erat."Akhirnya, kamu datang juga ke Kota Adhikari buat jenguk aku, Ayah dan Ibu!"Sejak empat tahun lalu, fokus bisnis Keluarga Sadewa memang perlahan-lahan sudah beralih ke Kota Adhikari.Akan tetapi, karena saat itu Vanya sudah menikah dengan Erik dan melahirkan Zia, dia hanya bisa melepas kepergian orang tua dan kakaknya yang memboyong seluruh keluarga pindah ke Kota Adhikari dengan berat hati.Melihat sudut mata orang tuanya yang tampak berkaca-kaca serta tatapan penuh perhatian dari kakaknya, seluruh rasa sesak yang tertahan selama sebulan ini beserta kepedihan atas kepergian putrinya seketika langsung meledak. Begitu membuka mulut, dia langsung t

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 10

    Akta cerai?Jantung Erik rasanya mendadak jatuh dan rasa panik yang belum pernah terjadi sebelumnya langsung menyelimuti seluruh tubuhnya.Dengan tangan gemetar, dia mengambil akta cerai itu lalu membacanya dengan sisa harapan terakhir.Begitu melihat nama yang tertera di sana, pria yang biasanya selalu berwajah dingin itu, matanya seketika merah menahan tangis."Mana mungkin ini terjadi? Mana mungkin Vanya menceraikan aku?"Erik terhuyung mundur beberapa langkah karena tidak percaya, tubuhnya hampir tidak bisa berdiri tegak."Ini pasti palsu! Aku nggak pernah menandatangani surat cerai. Pergi periksa sekarang, siapa yang berani memalsukan akta cerai aku dan Vanya!"Asistennya tetap berdiri di tempat tanpa bergerak, lalu berbicara dengan ekspresi serba salah, "Pak Erik, apa Anda lupa? Lima tahun lalu setelah Bu Vanya melahirkan Nona Zia secara prematur, demi membuat Bu Vanya tenang, Anda sendiri yang menyusun surat cerai dan menandatanganinya ...."Ingatan lima tahun lalu perlahan menj

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 9

    Duar!Kepala Erik seketika berdengung hebat. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.Surat keterangan kematian? Siapa yang meninggal sampai Vanya mengirimkan surat ini?Bayangan seseorang samar-samar terlintas di dalam benaknya.Akan tetapi, di detik berikutnya, dia langsung memaksa dirinya untuk menepis bayangan tersebut.Tidak, tidak mungkin!Zia cuma dipindahkan oleh Vanya ke rumah sakit lain, mana mungkin dia meninggal?Dengan tangan yang gemetar, dia perlahan menarik surat keterangan kematian itu keluar dari kantong.Di kolom nama jenazah, tertera jelas nama Zia!Seakan tidak percaya, dia menggosok tulisan di atas kertas itu dengan kuat, berharap bisa melihat nama lain yang muncul, tetapi tulisan itu sama sekali tidak berubah.Begitu membaca penyebab kematiannya, dia bahkan sampai terhuyung mundur beberapa langkah.Meninggal akibat infeksi pasca-operasi! Waktunya tepat di hari operasi donor ginjal itu berlangsung!Kata-kata tersebut bagaikan hantaman palu be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status