Share

Bab 4

Author: Anonima
Saat Vanya tersadar, pikirannya masih terasa kacau dan linglung.

"Vanya, akhirnya kamu bangun juga."

Begitu melihat Vanya membuka mata, Erik langsung menyambar tangannya dan mengecupnya dengan mesra.

"Kamu tahu nggak, pas lihat kamu terkapar pingsan di lantai, rasanya jantungku kayak mau copot. Syukurlah kamu udah sadar."

Seorang Erik yang di dunia bisnis terkenal berdarah dingin dan kejam, saat ini berbicara dengan nada suara yang bergetar samar, bahkan telapak tangannya sampai basah oleh keringat dingin.

Siapa pun yang melihat adegan ini pasti akan terkagum-kagum dengan betapa dalamnya cinta pria itu.

Akan tetapi, Vanya hanya memalingkan wajahnya, enggan menatap pria di hadapannya.

Dia tidak akan pernah lupa, di saat nyawanya sedang di ujung tanduk, seluruh pikiran dan fokus Erik hanya tertuju pada keselamatan Nadia. Pria itu sama sekali tidak melihat dirinya yang terkapar di atas lantai yang dingin.

Hati Erik disergap rasa panik. Dia belum pernah melihat Vanya bersikap sedingin ini kepadanya.

"Vanya, tadi aku benaran nggak lihat kalau kamu juga ikutan pingsan, makanya aku refleks nyelametin Nadia duluan."

Padahal, tempat Vanya jatuh tersungkur jaraknya tidak sampai satu meter dari posisi Nadia.

Apakah pria itu memang langsung buta terhadap sekitar begitu melihat Nadia pingsan, atau pria itu memang benar-benar tidak melihatnya?

Vanya menarik kembali tangannya, lalu memejamkan mata dengan letih.

Tubuhnya yang baru saja siuman masih terasa sangat lemas. Dia sudah tidak punya sisa energi lagi untuk mencari tahu mana yang benar.

Melihat Vanya yang hanya diam membisu, Erik sempat ragu-ragu sebelum akhirnya membuka suara.

"Nadia kondisinya belum pulih, Noah juga masih terbaring di ranjang rumah sakit sehabis operasi, jadi aku ...."

Kalimat itu belum sempat selesai diucapkan. Namun, setelah bertahun-tahun hidup bersama, mana mungkin Vanya tidak paham apa maksudnya.

Sangat menggelikan.

Raga Erik memang berada di sini, tetapi seluruh pikiran dan hatinya sudah lama tertuju kepada Nadia dan anaknya.

"Pergi saja."

Lagi pula, Vanya sudah tidak peduli lagi.

Erik menatap lekat-lekat wajah tenang Vanya untuk waktu yang cukup lama. Setelah memastikan wanita itu tetap memejamkan mata, barulah dia bisa mengembuskan napas lega.

"Aku bakal balik secepatnya. Kamu istirahat yang baik, ya."

Akan tetapi, ucapan "secepatnya" itu berujung pada hilangnya sosok Erik selama tujuh hari penuh.

Pada hari Vanya diperbolehkan pulang dari rumah sakit, dia terpaksa mengurus seluruh administrasinya seorang diri.

Saat berjalan melewati sebuah kamar rawat, sebuah suara yang sangat familier dari dalam, membuat langkahnya terhenti.

"Noah, kamu harus pintar-pintar nempelin Ayah terus, ya? Nasib kita ke depannya bergantung sama kamu sekarang."

"Tapi, Ibu, dia 'kan bukan ayahku."

Jantung Vanya mendadak mencelos seketika.

Apa maksudnya? Anak itu baru saja bilang kalau Erik bukan ayah kandungnya?

Sambil menahan napas, Vanya diam-diam menyalakan fitur perekam suara di ponselnya.

Di dalam sana, Nadia yang biasanya terlihat dingin dan anggun di depan orang lain kini berubah total. Dia memarahi Noah dengan nada penuh kekesalan karena merasa anaknya itu tidak bisa diandalkan.

"Terus kenapa? Mau bagaimanapun, selama Erik yakin kalau kamu itu anaknya, ya kamu tetap anak kandungnya!"

"Memangnya kamu mau balik lagi ke waktu itu, pas kita hidup terlantar, kelaparan, dan kedinginan? Asal kamu tahu ya, Ibu nggak mau lagi hidup menderita!"

Seorang perawat yang kebetulan lewat di dekat Vanya langsung menyapa dengan bingung, "Maaf, Ibu, ada yang bisa aku bantu?"

Menyadari suara obrolan di dalam kamar mendadak senyap, Vanya segera menggeleng, lalu bergegas menyimpan ponselnya dan melangkah pergi dari sana.

Setelah semua urusan administrasinya selesai, Vanya bersiap-siap untuk pulang ke rumah.

Akan tetapi, baru saja dia berjalan sampai ke dekat pintu keluar bangsal, dua orang pengawal langsung menghadang langkahnya.

"Bu Vanya, Pak Erik meminta Anda untuk menemuinya."

Vanya langsung mengernyitkan dahi.

Selama tujuh hari kemarin Erik mendadak hilang tanpa kabar sedikit pun, lalu hari ini, ada urusan apa lagi sampai pria itu mencarinya?

Vanya mengeluarkan ponsel dari tasnya, berniat mengirim pesan kepada Erik, tetapi ponselnya langsung direbut paksa oleh salah satu pengawal.

"Pak Erik berpesan Anda harus segera ke sana, nanti Anda akan tahu sendiri alasannya."

Kedua pria itu mengapit di kiri dan kanan, lalu memaksa Vanya ikut dengan mereka.

Begitu melihat pintu kamar rawat yang familier, Vanya baru sadar mereka membawanya ke kamar Nadia dan anaknya.

Baru saja melangkah masuk.

Plak!

Nadia melayangkan tamparan keras ke pipi Vanya!

Erik berdiri di samping Nadia, hanya menonton kejadian itu dengan tatapan dingin.

Dengan mata merah, Nadia berteriak histeris, "Bu Vanya, aku dan Noah sama sekali nggak tertarik sama Keluarga Gunawan! Aku cuma mau Noah tumbuh dengan aman dan sehat, kenapa kamu masih nggak mau lepasin dia?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 14

    Saat Erik membuka matanya kembali, dia sudah berada di rumah sakit.Dia menoleh dan langsung melihat Vanya yang sedang membelakanginya."Vanya." Suara Erik terdengar sedikit serak menahan tangis. "Kamu akhirnya mau menemuiku."Vanya berbalik, lalu menatapnya dengan raut wajah tenang."Aku menemuimu kali ini cuma ingin menjelaskan semuanya dengan baik-baik."Sebelum Vanya datang menemui Erik, semua anggota keluarganya menentang keras.Dia tahu mereka khawatir dirinya akan teringat kembali pada rasa sakit di lubuk hati yang terdalam setelah melihat Erik.Akan tetapi, dia paham betul watak Erik, jika tidak benar-benar memutus harapannya, pria itu tidak akan pernah menyerah."Erik, sejak Zia meninggal, hubungan di antara kita sudah sepenuhnya berakhir."Sorot mata Erik memancarkan kepedihan, suaranya terdengar serak."Vanya, maafkan aku, aku benar-benar nggak tahu kalau donor ginjal itu akan menyebabkan Zia meninggal."Meski Vanya sudah menerima kenyataan bahwa Zia telah tiada, tetapi saat

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 13

    Kota Adhikari, vila Keluarga Sadewa.Erik berdiri di depan pintu rumah Keluarga Sadewa. Dia mengangkat tangannya beberapa kali, tetapi tidak berani untuk mengetuk pintu.Begitu mengetahui Vanya telah kembali ke Kota Adhikari, dia langsung menyuruh asistennya membeli tiket pesawat paling cepat untuk terbang ke sana.Saat itu, asistennya sempat membujuk dengan cemas, "Pak Erik, para pemegang saham sudah mulai mengadakan rapat umum untuk mengganti posisi CEO. Bagaimana bisa Anda pergi di saat-saat genting seperti ini?""Terlebih lagi, Keluarga Sadewa sudah mengajukan gugatan hukum terhadap Anda. Anda seharusnya secepat mungkin berkomunikasi dan berdiskusi dengan pengacara."Erik mencengkeram akta cerai di tangannya hingga nyaris remuk, dia tetap bersikeras untuk pergi ke Kota Adhikari."Urusan perusahaan kamu yang bantu tangani. Sekarang, aku harus pergi mengakui kesalahanku pada Vanya, memohon agar dia mau memaafkanku."Asistennya tidak bisa membujuk Erik lagi sehingga hanya bisa pasrah

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 12

    Vanya menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat. Tentang bagaimana Erik menyembunyikan rencana operasi Zia darinya, hingga bagaimana pria itu memindahkan seluruh dokter yang berjaga sampai membuat Zia mengalami infeksi pascaoperasi dan meninggal tanpa ada yang menyelamatkannya.Di tengah cerita, dia berulang kali tersedak tangis dan kehilangan kata-kata.Setelah seluruh kejadian itu selesai diceritakan dengan terbata-bata, ruang tamu Keluarga Sadewa seketika jatuh ke dalam keheningan yang mencekam.Bibir Santi tampak bergetar hebat dan wajahnya pucat pasi."Zia itu anak kandungnya sendiri, tega-teganya Erik sekejam itu!"Umar yang biasanya selalu tenang, kini lehernya sampai merah karena menahan amarah."Bagus. Erik benar-benar hebat! Apa dia pikir Vanya nggak punya keluarga yang bisa membelanya?"Jefri mengepalkan tangannya dengan erat hingga buku-buku jarinya berbunyi."Erik menindas Vanya dan membunuh Zia. Utang ini harus kita perhitungkan matang-matang sampai tuntas."...Di si

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 11

    Pesawat mendarat dengan selamat di Kota Adhikari.Begitu Vanya keluar dari bandara sambil membawa koper, dia langsung melihat orang tua dan kakak laki-lakinya yang sudah menunggu sejak tadi.Sang kakak, Jefri Sadewa, menjadi orang pertama yang melihat sosoknya. Pria itu langsung berlari ke depan dengan penuh semangat dan memeluknya erat-erat."Akhirnya, kamu datang juga ke Kota Adhikari buat jenguk aku, Ayah dan Ibu!"Sejak empat tahun lalu, fokus bisnis Keluarga Sadewa memang perlahan-lahan sudah beralih ke Kota Adhikari.Akan tetapi, karena saat itu Vanya sudah menikah dengan Erik dan melahirkan Zia, dia hanya bisa melepas kepergian orang tua dan kakaknya yang memboyong seluruh keluarga pindah ke Kota Adhikari dengan berat hati.Melihat sudut mata orang tuanya yang tampak berkaca-kaca serta tatapan penuh perhatian dari kakaknya, seluruh rasa sesak yang tertahan selama sebulan ini beserta kepedihan atas kepergian putrinya seketika langsung meledak. Begitu membuka mulut, dia langsung t

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 10

    Akta cerai?Jantung Erik rasanya mendadak jatuh dan rasa panik yang belum pernah terjadi sebelumnya langsung menyelimuti seluruh tubuhnya.Dengan tangan gemetar, dia mengambil akta cerai itu lalu membacanya dengan sisa harapan terakhir.Begitu melihat nama yang tertera di sana, pria yang biasanya selalu berwajah dingin itu, matanya seketika merah menahan tangis."Mana mungkin ini terjadi? Mana mungkin Vanya menceraikan aku?"Erik terhuyung mundur beberapa langkah karena tidak percaya, tubuhnya hampir tidak bisa berdiri tegak."Ini pasti palsu! Aku nggak pernah menandatangani surat cerai. Pergi periksa sekarang, siapa yang berani memalsukan akta cerai aku dan Vanya!"Asistennya tetap berdiri di tempat tanpa bergerak, lalu berbicara dengan ekspresi serba salah, "Pak Erik, apa Anda lupa? Lima tahun lalu setelah Bu Vanya melahirkan Nona Zia secara prematur, demi membuat Bu Vanya tenang, Anda sendiri yang menyusun surat cerai dan menandatanganinya ...."Ingatan lima tahun lalu perlahan menj

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 9

    Duar!Kepala Erik seketika berdengung hebat. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.Surat keterangan kematian? Siapa yang meninggal sampai Vanya mengirimkan surat ini?Bayangan seseorang samar-samar terlintas di dalam benaknya.Akan tetapi, di detik berikutnya, dia langsung memaksa dirinya untuk menepis bayangan tersebut.Tidak, tidak mungkin!Zia cuma dipindahkan oleh Vanya ke rumah sakit lain, mana mungkin dia meninggal?Dengan tangan yang gemetar, dia perlahan menarik surat keterangan kematian itu keluar dari kantong.Di kolom nama jenazah, tertera jelas nama Zia!Seakan tidak percaya, dia menggosok tulisan di atas kertas itu dengan kuat, berharap bisa melihat nama lain yang muncul, tetapi tulisan itu sama sekali tidak berubah.Begitu membaca penyebab kematiannya, dia bahkan sampai terhuyung mundur beberapa langkah.Meninggal akibat infeksi pasca-operasi! Waktunya tepat di hari operasi donor ginjal itu berlangsung!Kata-kata tersebut bagaikan hantaman palu be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status