Home / Urban / Menantu Kuli / I. Prolog

Share

Menantu Kuli
Menantu Kuli
Author: Leva Lorich

I. Prolog

Author: Leva Lorich
last update Last Updated: 2024-12-02 10:00:05

Darr!

Suara gebrakan meja menggema di ruang makan kecil itu. Metia berdiri dengan penuh amarah, wajahnya memerah, sementara Willy hanya duduk diam, menatap wanita itu dengan ekspresi datar. Dia sudah terbiasa dengan kemarahan Metia, ibu tirinya yang tak pernah bisa berperilaku sedikit ramah kepadanya.

“Dengar, Willy!” bentak Metia, menatapnya tajam.

“Kau tidak bisa terus seperti ini. Ayahmu, Alden, sudah lama meninggal. Kau hidup di sini hanya dengan makan dan tidur, sementara aku yang memutar otak menjalankan usaha bakery ini. Apa gunanya kau di rumah ini kalau hanya menjadi beban?” raung Metia dengan wajah merah padam.

Willy tak menjawab, hanya menundukkan kepalanya. Alden, ayahnya, meninggal dunia ketika Willy masih kelas satu SMA. Sejak saat itu, kehidupannya berubah drastis. Metia mengambil alih semua, termasuk usaha bakery yang ayahnya bangun dari nol. Willy sering menawarkan diri untuk membantu menjalankan usaha bakery itu, tapi Metia selalu menolak dengan berbagai alasan. Willy tahu, wanita itu takut dia mengambil alih warisan ayahnya.

“Mulai besok, kau cari kerja!” lanjut Metia.

“Aku tidak peduli di mana. Yang penting kau tidak hanya duduk santai di sini! Jangan lupa, kau juga harus mulai memberikan uang kepadaku. Aku ini ibumu, dan kau punya kewajiban untuk memuliakanku!” sorot mata Metia penuh intimidasi.

Willy kembali ke kamarnya dengan langkah gontai. Ia duduk di atas kasur tua yang kini menjadi saksi hari-harinya yang suram. Tatapannya kosong, terpaku pada dinding kusam yang penuh retakan. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan.

“Kerja apa?” gumamnya lirih.

Sejak lulus SMA dua tahun lalu, Willy sudah ratusan kali melamar pekerjaan. Namun, tidak ada satu pun yang menerima. Sebagian besar perusahaan membutuhkan ijazah sarjana, sesuatu yang tak pernah bisa ia raih. Metia menolak membiayainya kuliah, meskipun Willy tahu pendapatan dari bakery itu cukup untuk membiayai hidup mereka berdua. Ayahnya bahkan pernah berkata, “Usaha ini akan jadi tabunganmu di masa depan, Nak.” Tapi nyatanya, sekarang ia merasa seperti orang luar di rumahnya sendiri.

Willy ingat hari-hari ketika ia masih kecil. Alden adalah ayah yang penuh kasih sayang, selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Usaha bakery itu bukan sekedar pekerjaan bagi Alden, melainkan impian yang berhasil ia wujudkan. Setiap malam, Alden selalu berkata, “Willy, suatu hari nanti, bakery ini akan menjadi milikmu. Jaga baik-baik, ya.”

Awalnya dulu, usaha bakery itu adalah gagasan bersama antara Alden dengan Prily, ibu kandung Willy. Namun setelah Prily meninggal karena serangan jantung saat Willy masih SMP kelas 1, impian itu tenggelam bersama keterpurukan Alden akibat kehilangan Prily.

Ide itu kembali mencuat saat Alden akan menikahi Metia. Alden butuh sandaran pekerjaan yang jelas agar Metia bersedia menikah dengannya. Saat bakery dirintis Alden, Willy menginjak kelas 3 SMP, beberapa bulan sebelum pernikahan dengan Metia digelar.

Bukan Alden tak setia pada Prily, namun sejak wanita itu meninggal, keadaan rumah tangga menjadi gersang. Rumah itu butuh figur wanita yang bisa mengatur rumah.

Tapi apa mau dikata, Alden meninggal satu tahun kemudian, di usianya yang menginjak 50 tahun, dengan keluhan penyakit yang sama dengan Prily, serangan jantung mendadak. Saat itu Metia berumur 45 tahun, seumuran dengan Prily jika masih hidup.

Wanita itu awalnya terlihat baik, tapi setelah pernikahan, sikap aslinya mulai muncul. Ia mulai mengambil alih segala hal, perlahan-lahan menjauhkan Alden dari Willy. Dan ketika Alden meninggal karena serangan jantung mendadak, Willy merasa benar-benar kehilangan segalanya.

---

Di zaman modern seperti sekarang, mencari pekerjaan tanpa ijazah sarjana bukan hal yang mudah. Bahkan lulusan universitas saja banyak yang menganggur. Willy telah mencoba melamar ke berbagai tempat, dari minimarket hingga restoran cepat saji, tetapi hasilnya selalu sama, yaitu penolakan.

“Apa yang harus kulakukan?” pikirnya.

Ia membuka laci mejanya, mengambil setumpuk kertas lamaran kerja yang belum terkirim. Ada rasa putus asa yang menyelinap di pemuda tampan berumur 20 tahun itu. Willy tidak ingin menyerah, tetapi ia merasa jalan di depannya begitu terjal, beranjak buntu.

“Ayah, kenapa kau tinggalkan aku di situasi seperti ini?” bisiknya lirih.

Willy tahu ia tidak bisa terus seperti ini. Setiap hari, Metia selalu mengomel, menuntut ini dan itu. Willy merasa seperti penumpang gelap di rumah yang seharusnya menjadi miliknya. Rumah itu adalah peninggalan Alden, dibangun dari jerih payah ayahnya. Tapi sekarang, Willy harus mendengar Metia berkata bahwa ia tak berhak tinggal di sana tanpa memberikan kontribusi. Sangat miris.

Lalu dimana kerabat Alden atau Prily? Apakah Willy tak memiliki sanak keluarga?

Alden adalah anak yatim piatu yang diasuh oleh sebuah panti asuhan. Sedangkan Prily, adalah anak tunggal. Prily dan kedua orangtuanya adalah pengungsi dari bencana tsunami di pulau Roter, 1000 an kilometer dari kota Arsaka. Kedua orangtua Prily meninggal beberapa tahun setelah Prily menikah dengan Alden.

---

Keesokan paginya, Willy memutuskan untuk mencoba satu kali lagi. Ia mengumpulkan keberanian, membawa tumpukan lamaran kerjanya, dan pergi pusat kota. Ia memasuki berbagai toko, perusahaan kecil, dan bahkan pasar untuk mencari pekerjaan apa pun yang bisa ia lakukan.

“Maaf, kami butuh yang berpengalaman,” kata seorang pemilik toko.

“Kami hanya menerima yang minimal lulusan diploma,” ujar manajer sebuah minimarket.

Penolakan demi penolakan kembali ia terima. Rasanya seperti dunia tidak memberinya tempat untuk bertahan. Kota Arsaka yang merupakan ibukota dari negara Traganza, seperti ingin memuntahkan Willy dari kota itu. Persaingan kerja begitu sengit, apalagi untuk orang-orang yang memiliki pendidikan rendah.

Di tengah perjalanan pulang, Willy berhenti di sebuah taman kecil. Ia duduk di bangku kayu, memandang anak-anak yang bermain ceria. Dunia mereka begitu sederhana, begitu bebas dari beban.

“Kenapa hidup harus seberat ini?” pikirnya.

Willy mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan pikirannya. Ia tahu ia tidak bisa menyerah. Alden selalu mengajarkannya untuk tidak mudah putus asa. “Kau hanya kalah kalau kau berhenti mencoba, Nak,” begitu kata ayahnya.

---

Malam itu, Willy kembali ke kamarnya. Ia duduk di depan cermin kecil, menatap bayangannya sendiri.

“Mengapa takdir terasa seperti ini?” bisiknya.

Ia menatap dirinya sendiri, mencoba mencari jawaban di mata yang penuh kelelahan.

“Apakah semua harus dinilai dari ijasah? Aku tahu aku bukan orang bodoh. Aku punya kemampuan. Tapi kenapa rasanya dunia ini tidak adil? Kalau saja Ayah masih ada... Kalau saja aku punya kesempatan... Aku pasti bisa.”

Willy mengepalkan tangannya. Meski hidup terasa seperti menghimpitnya, ia tahu ia harus bangkit. Ia tidak bisa terus menerus merasa kasihan pada dirinya sendiri.

“Mulai besok, aku akan mencoba lagi,” gumamnya.

Meskipun jalannya gelap dan penuh duri, Willy tahu ia harus terus melangkah. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk membuktikan bahwa ia mampu bertahan, meskipun dunia seakan melawannya.

Ia harus menemukan jawaban dari pertanyaan dalam hatinya, "Aku harus kerja apa? Dimana?"

###

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menantu Kuli   L. Berdiri Di Puncak

    Gedung pencakar langit Rumah Sakit Golden Healthy berdiri dengan megahnya di pusat Kota Arsaka, memantulkan cahaya matahari pagi pada dinding kacanya yang berkilauan. Pagi ini, suasana di lobi utama tampak jauh lebih sibuk dan tegang dibandingkan hari-hari biasanya. Barisan dokter spesialis, perawat dengan seragam putih bersih, hingga jajaran direksi berpakaian formal telah berdiri rapi membentuk pagar ayu yang panjang. Mereka semua sedang menunggu kedatangan sosok misterius yang menurut kabar hukum terbaru telah menjadi pemilik tunggal sekaligus Direktur Utama mereka yang baru. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka bahwa sosok yang akan muncul adalah pemuda yang selama ini dianggap tidak memiliki pengaruh apa pun di kota tersebut.Iring-iringan mobil mewah berwarna hitam mengkilap perlahan memasuki pelataran gedung. Mobil paling depan berhenti tepat di depan pintu lobi, dan seorang pengawal dengan sigap membukakan pintu belakang. Willy melangkah keluar dengan setelan jas c

  • Menantu Kuli   XLIX. Lonjakan Drastis

    Pandangan Ben Dino seketika beralih sepenuhnya ke arah Willy, meninggalkan koran yang tadi ia baca di samping meja. "Katakanlah, Nak. Kami semua mendengarkan. Apakah ini mengenai masalah rumah tangga kalian, atau ada hal lain yang mendesak?" tanya Ben Dino dengan sorot mata yang penuh perhatian."Ini bukan soal masalah rumah tangga, Ayah. Ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan masa depanku dan juga kejutan yang baru saja aku terima kemarin," jawab Willy sambil menatap mata ayah angkatnya dengan penuh ketegasan."Kelihatannya sangat serius. Apakah kau sedang butuh modal bisnis atau semacamnya?" tanya Sano sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak tertarik dengan pembukaan Willy yang tidak biasa."Bukan modal, Kak. Ini jauh lebih besar dari itu. Aku sendiri pun masih merasa seperti di dalam mimpi saat pertama kali mengetahuinya," sahut Willy sambil melirik Delia sejenak untuk mencari kekuatan tambahan."Kalau begitu, ceritakanlah sekarang agar kami tidak mati penasaran. Apa yan

  • Menantu Kuli   XLVIII. Sarapan Harmonis

    Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah tirai besar di kamar utama, memantulkan binar keemasan pada lantai marmer yang bersih. Willy terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan dibandingkan malam sebelumnya, seolah beban berat yang sempat menghimpit dadanya telah luruh bersama keringat dan pergumulan hangat bersama Delia. Ia menoleh ke samping, mendapati istrinya sedang merapikan rambut di depan cermin besar setelah mereka berdua selesai mandi bersama untuk membersihkan sisa-sisa kelelahan tadi malam. Ritual mandi pagi itu tidak hanya menyegarkan fisik mereka, tetapi juga semakin mempererat ikatan batin yang sempat tegang karena tekanan rahasia dari sistem cahaya."Apakah kau sudah merasa lebih siap untuk menghadapi Ayah pagi ini?" tanya Delia sambil memulas sedikit lipstik di bibirnya yang ranum.Willy mengangguk mantap sambil mengenakan kemeja santai namun tetap terlihat rapi dan berwibawa. "Berkat ide cemerlangmu semalam, aku merasa jauh lebih percaya diri

  • Menantu Kuli   XLVII. Solusi Delia

    Willy menatap istrinya dengan pandangan yang berusaha terlihat setegar mungkin, meskipun di dalam hatinya ia merasa sangat berdebar karena harus mempertahankan kebohongan besar ini. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali membuka suara dengan nada yang sangat serius."Entah itu terdengar sangat aneh di telingamu atau sama sekali tidak masuk akal bagi logika siapa pun, kenyataannya memang sudah seperti itu adanya, Delia," ujar Willy sambil menatap lekat kedua mata istrinya.Ia menjelaskan bahwa segala bentuk administrasi dan pembuktian hukum sudah berada di tangannya tanpa ada satu pun celah yang bisa diperdebatkan lagi oleh pihak mana pun."Aku tidak sedang mengigau atau mencoba menciptakan lelucon yang tidak masuk akal di malam hari ini. Aku benar-benar pemilik sah Golden Healthy sekarang," tambah Willy dengan nada suara yang sedikit lebih rendah namun sangat menekan.Delia terdiam selama beberapa saat, mencoba mencerna intensitas yang terpancar dari raut wajah suaminya ya

  • Menantu Kuli   XLVI. Pembicaraan Serius

    MOHON MAAF KEPADA SEMUA PEMBACA KARENA SELAMA INI PENULIS VAKUM. TAPI, MULAI HARI INI CERITA AKAN KEMBALI DILANJUTKAN. Langkah kaki Willy terasa berat saat ia menyusuri jalan setapak di taman belakang kediaman mewah milik Ben Dino. Udara malam yang dingin menyapu permukaan kulitnya, namun tidak mampu mendinginkan gejolak pikiran yang sedang melanda. Di dalam kepalanya, sistem cahaya yang bersemayam dalam tubuhnya seolah terus berdenyut, mengingatkan Willy bahwa ia kini bukan lagi sekadar pemuda biasa yang menumpang di rumah orang kaya. Secara hukum dan administratif, ia telah menjadi pemilik tunggal dari Rumah Sakit Golden Healthy, sebuah institusi medis papan atas yang namanya sangat disegani di Kota Arsaka. Namun, kekayaan dan kekuasaan yang datang secara instan itu justru membawa beban moral yang besar. 'Bagaimana mungkin aku menjelaskan hal ini kepada ayah yang telah memberikan segalanya, tanpa membocorkan rahasia tentang sistem yang menjadi sumber kekuatanku?' gumam

  • Menantu Kuli   XLV. Harta Karun

    Bab XLV: Harta KarunWilly menaiki ojek motor dengan cepat, menuju rumah warga tempat mobilnya dititipkan. Sambil menikmati hembusan angin sore yang menyapu wajahnya, ia merasa puas dengan kejadian sore tadi. Willy tak sabar ingin segera menceritakan perkelahiannya dengan anak buah Tomey kepada Delia. Ia ingin istrinya tahu bahwa pria yang selama ini mendekatinya, ternyata tak lebih dari sekedar pengecut yang hanya berani bertindak ketika memiliki banyak anak buah di sisinya.Setelah mengambil mobilnya, Willy meluncur di tengah kemacetan kota Arsaka. Langit sudah mulai gelap dan jalanan padat dengan kendaraan yang berdesakan. Ia menyalakan lampu hazard saat laju kendaraan benar-benar melambat. Tak seberapa lama waktu berjalan, ponselnya bergetar di dashboard, itu adalah panggilan masuk dari Ben Dino."Halo, Ayah?" Willy menjawab panggilan sambil tetap fokus pada lalu lintas."Nak, kamu ada di mana? Malam ini Ayah ingin mengajakmu menjenguk seorang teman lama yang sedang sakit. Ayah s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status